NovelToon NovelToon
AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

AKU BUKAN WARTEGMU, MAS!

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Balas Dendam
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

Senja, seorang Arsitek berbakat dengan karier gemilang di Bali, memilih melepaskan proyektor dan penggarisnya demi sebuah janji suci. Ia jatuh cinta pada Rangga, mantan pengamen jalanan yang ia temui di tikungan parkir kantornya.

Demi "merajakan" sang suami, Senja resign dari firma arsitek, menguras tabungan untuk memodali karier Rangga menjadi DJ, hingga rela belajar memasak demi memanjakan lidah suaminya. Bagi Senja, rumah pribadinya adalah istana tempat ia mengabdi sepenuhnya.

​Namun, saat Rangga mulai sukses dan dipuja banyak orang, dia lupa siapa yang membangun panggungnya. Rumah hanya dijadikan tempat "numpang makan" dan ganti baju, sementara hatinya jajan di kamar hotel setiap luar kota.

Senja tidak akan menangis bombay. Jika Rangga hanya butuh pelayanan gratis tanpa kesetiaan, dia salah alamat. Senja siap menendang benalu itu dari rumahnya!

​"Aku istrimu, Mas. Bukan Warteg tempatmu numpang makan saat lapar, lalu kau tinggalkan setelah kenyang!"

Jam update:07:00-12:00-20:00

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Tagihan yang Tertunda

Pagi itu, Senja bangun lebih awal dari biasanya. Bukan untuk menyiapkan sarapan mewah seperti hari-hari sebelumnya, melainkan untuk duduk di depan laptopnya dengan secangkir kopi hitam tanpa gula.

Senja menatap layar yang menampilkan draf kontrak-kontrak lama dan rincian mutasi rekeningnya selama setahun terakhir. Sebagai seorang arsitek, Senja sangat terbiasa dengan detail biaya. Kali ini, ia sedang menghitung "biaya renovasi hidup"—berapa banyak uang yang telah ia buang untuk membangun sosok "DJ Rangga".

​Rangga keluar dari kamar dengan wajah mengantuk, tangannya menggaruk perut di balik kaos tipisnya. Rangga berjalan menuju dapur, berharap menemukan piring penuh nasi goreng dan telur mata sapi yang hangat. Tapi, meja makan itu kosong melompong. Hanya ada sebuah folder berwarna biru di sana.

​"Lho, Ja? Belum masak? Aku lapar banget nih, semalam main sampai subuh," keluh Rangga dengan nada manja yang kini terdengar sangat memuakkan di telinga Senja.

​Senja tidak menoleh dari laptopnya. "Ada mie instan di lemari kalau kamu lapar. Aku lagi sibuk."

​Rangga tertegun. Ia mendekat, mencoba merangkul bahu Senja, tapi Senja menggeser kursinya dengan halus. "Sibuk apa sih? Tumben banget. Itu folder apa di meja makan?"

​"Itu tagihan, Mas," jawab Senja tenang, matanya tetap tertuju pada layar.

​"Tagihan apa? Listrik? Kan biasanya kamu yang bayar?" Rangga membuka folder itu dengan santai, tapi sedetik kemudian wajahnya berubah pucat.

​Di dalam folder itu bukan tagihan listrik biasa. Senja telah menyusun rincian biaya yang sangat detail: dari mulai modal alat DJ standar internasional, biaya servis motor sport, biaya iklan media sosial, hingga cicilan kemeja-kemeja bermerek milik Rangga. Di bagian bawah, ada total angka yang mencapai ratusan juta rupiah.

​"Apa-apaan ini, Ja? Kamu hitung-hitungan sama suamimu sendiri? Kamu sudah kayak rentenir saja," suara Rangga meninggi, rasa paniknya mulai tertutup oleh kemarahan.

Senja menutup laptopnya perlahan, kemudian berbalik menatap Rangga dengan tatapan yang sangat datar. "Aku bukan hitung-hitungan, Mas. Aku cuma sedang melakukan audit. Sebagai orang yang membiayai seluruh operasional 'proyek' bernama DJ Rangga, aku berhak tahu ke mana saja larinya investasiku. Ternyata, investasiku dipakai untuk beli kalung buat perempuan lain, ya?"

​Duar!!!! Rangga seperti disambar petir di siang bolong. Ia mencoba membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.

​"Ja... itu... kamu pasti salah paham. Aku sudah bilang itu punya—"

​"Jangan sebut nama Kevin lagi, Mas. Kasihan dia, namanya dipakai terus untuk menutupi busuknya kamu," potong Senja dengan suara yang sangat rendah namun tajam. "Aku sudah punya semua buktinya. Foto-foto kamu, pesan-pesan kamu yang menyebut aku 'warteg', sampai bukti reservasi hotel kamu. Semuanya sudah tersimpan rapi."

​Rangga mundur selangkah, napasnya mulai memburu. "Jadi kamu memata-matai aku? Istri macam apa kamu, Senja?"

​Senja tertawa pendek, tawa yang kering tanpa rasa bahagia sedikit pun. "Istri macam apa? Istri yang bodoh, Mas. Istri yang harusnya cukup kasih kamu uang dua ribu perak di lampu merah, tapi malah kasih kamu istana. Tapi tenang saja, kesalahan aku itu sedang aku perbaiki sekarang."

​Siang itu, Senja tidak lagi berada di dapur. Ia mengenakan setelan kerjanya yang paling elegan—kemeja blazer yang dulu sering ia pakai saat presentasi di hadapan para taipan properti di Bali. Ia duduk di sebuah kafe, berhadapan dengan seorang pria berkacamata yang merupakan pengacara sekaligus teman lama ayahnya.

​"Semua aset ini atas nama kamu, kan, Senja?" tanya pria itu sambil menunjuk dokumen rumah dan mobil.

​"Semuanya atas nama aku, Om. Termasuk studio musik di depan dan motor yang dia pakai. Aku ingin semuanya ditarik kembali. Tanpa pengecualian," jawab Senja mantap.

​"Bagaimana dengan status pernikahannya?"

​"Aku sudah menyiapkan gugatan cerai. Tapi sebelum itu, aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya kembali ke titik nol. Kembali ke trotoar tempat aku menemukannya dulu."

​Setelah urusan hukum selesai, Senja pergi ke firma arsitek lamanya yang memiliki cabang di Semarang. Ia menemui mantan atasannya. Senja ingin kembali bekerja. Ia butuh kembali ke dunianya yang logis, dunia di mana setiap inci bangunan punya aturan yang pasti, bukan dunia perasaan yang penuh tipu daya.

​"Senja! Kami selalu punya tempat untuk kamu. Klien villa di Bali itu bahkan masih menanyakan desainmu," sambut sang atasan dengan hangat.

​Senja tersenyum tulus untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan. "Terima kasih, Pak. Saya siap kembali ke lapangan."

​Malam harinya, saat Rangga pulang dengan harapan Senja sudah luluh dan menyiapkan makan malam, ia menemukan kejutan lain. Pintu studio musiknya digembok dengan rantai besar. Motor sport-nya juga sudah tidak ada di garasi.

​"SENJA! APA-APAAN INI?!!!" Rangga berteriak sambil menggedor pintu rumah.

​Senja membuka pintu, ia berdiri dengan melipat tangan di dada. Di belakangnya, sudah ada dua orang pria berbadan besar yang merupakan petugas keamanan dari agen penarikan aset.

​"Barang-barang di dalam studio itu sudah aku jual kembali ke vendor, Mas. Lumayan untuk menutupi kerugian ku selama ini. Dan motor itu? Itu sudah dibawa ke diler karena cicilannya aku hentikan atas namaku," ucap Senja tanpa ekspresi.

​"Kamu gila ya? Itu alat-alatku buat cari makan! Kamu mau membunuh karierku?" Rangga menghampiri Senja, wajahnya memerah karena emosi.

​"Cari makan? Maksud kamu cari makan buat selingkuhan kamu? Mas, kamu bilang aku ini 'warteg', kan? Nah, sekarang wartegnya sudah bangkrut dan bangunannya mau aku renovasi total. Kamu bukan lagi pelanggan di sini."

​Senja melemparkan sebuah tas ransel besar ke arah kaki Rangga. "Itu baju-baju kamu. Kemeja-kemeja batik yang aku belikan juga ada di sana. Silakan pergi. Dan oh, hampir lupa..."

​Senja mengeluarkan selembar uang dua ribu rupiah dari sakunya, lalu menjatuhkannya tepat di depan kaki Rangga yang mengenakan sandal bermerek pemberian Senja.

​"Ini bayaran kamu karena sudah menghiburku selama setahun ini. Nilai kamu memang cuma segini, Mas. Nggak lebih."

​Rangga ternganga. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak sampai ke dasar bumi. Pria yang biasanya dipuja-puja di klub malam itu kini berdiri gemetar di halaman rumah yang dulu ia banggakan sebagai "istananya".

​"Kamu nggak bisa usir aku begitu saja, Senja! Ini rumah kita!" teriak Rangga putus asa.

​"Ini rumahku, Mas. Dibangun dengan keringatku sebagai arsitek, bukan dengan hasil DJ-mu yang cuma habis buat hura-hura. Petugas di belakangku ini akan memastikan kamu keluar dari gerbang dalam lima menit, atau mereka akan membawa kamu ke kantor polisi atas tuduhan penggelapan aset rumah tangga."

​Rangga menatap dua pria berbadan besar itu, lalu menatap Senja yang berdiri tegak bak menara yang kokoh. Ia baru sadar, Senja yang lembut sudah mati. Yang ada di depannya sekarang adalah Arsitek Senja, wanita yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan gedung yang ia bangun sendiri jika fondasinya terbukti cacat

Dengan tangan gemetar, Rangga memungut tas ranselnya. Ia melangkah keluar gerbang dengan langkah gontai, meninggalkan kemewahan yang selama ini ia nikmati secara cuma-cuma. Di bawah lampu jalan yang temaram, ia terlihat kembali seperti pria yang Senja temukan di tikungan parkir dulu: kecil, lusuh, dan tak punya apa-apa.

​Senja menutup pintu rumahnya dengan rapat. Ia berjalan menuju dapur, mengambil segelas air putih, dan menatap pantulan dirinya di jendela.

​"Wartegnya sudah tutup, Mas," bisiknya pada kegelapan. "Dan mulai besok, aku akan membangun gedung yang jauh lebih tinggi, di mana orang sepertimu bahkan tidak akan diizinkan untuk masuk ke area parkirnya."

1
Yayang Suami Risa
Rangga Axel itu mencintai Senja makanya mau melindungi Senja ngga kayak kamu yang cuma manfaatkan Senja
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
kuliah byr sndri doni🤣
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
jangan ambil pusing senja
ksh pelajaran aja buat rangga
🧡⃟ᴀғᷫғᷤαη∂нι⁵ᴸ
ibu anak SMA aja parasit🤣
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
udah ga ada hrpam sinta sembuh dari bucin
dh stadium akut😭
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
dlu sinta sibuk nasehati senja, skrng dia jilat ludah sndri 😭
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
semua habis sin
saking bucinnya ke mas dj dj
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
sinta dh dnger semua msh ga sadar😭
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
udah jelas bnget tpi egonya tinggi sisinta
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
sampah dipungut sin ga salah🤣
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
tetap seamangat senja🤗
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
nyusahin bnget si rangga😆
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
enak bnr suruh bayarin uang kuliah
wkwk doni mulutnya minta disambelin🤣
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
kan kan berulah lagi si serangga😌
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
jngn mau balikan senja😌
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
nah enak kan semua disita
wwk jdi gembel lg kamu😆
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
bagus kumpulin bukti" selingkuhan rangga buat bukti
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
wow chatnya rangga smaa cwe lain😌
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
wah udah mulai maen" si serangga ini
🧡⃟ɢᴏᷫɴᷤтєɴɢ ƈιʅιƙ¹ᴸ
istri yang baik selalu doain suaminya eeh malah disuami asyik smaa yang lain astaga
kasian senja😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!