Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 14
Arumi segera dibawa menggunakan ambulan oleh Anita, di bantu oleh karyawan restoran. Di sepanjang jalan Arumi menangis menahan rasa sakit. Anita kebingungan harus bagaimana lalu ia melihat tas Arumi yang sedari tadi di pegang olehnya.
"Aku hubungi pak Kenan pinjam ponselmu ya," pinta Anita.
"Terserah kau saja aku sudah tidak kuat, Anita rasanya sakit sekali," rintih Arumi.
Berulang kali Anita menelpon Kenan, tetapi ia tidak mengangkatnya membuat Anita bertambah bingung harus menghubungi siapa karena tidak ada nomor lain di keluarga Dirgantara selain Kenan. Anita akhirnya pasrah dan menunggu Arumi sampai rumah sakit karena harus cepat ditangani.
Di sisi lain Kenan memang mengetahui jika ada yang menelpon nya, tetapi karena tertera nomor saja jadi dia mengabaikannya takut hanya penelpon iseng.
Saat ini ia sedang meeting di luar kantor bersama klien ia sesekali menatap ponselnya menunggu kabar dari bodyguard yang mengikuti sang istri, tetapi Kenan tidak tau jika bodyguard tersebut telah di buat pingsan oleh Helen sebelum wanita itu melabrak Arumi.
"Kemana dia kenapa sampai sekarang tidak mengabari ku?" batin Kenan.
"Ada apa Pak Kenan, seperti nya kau sedang menunggu pesan, apa dari kekasihmu?" tanya pak Adi.
"Ah, tidak pak Adi aku hanya melihat jam saja," gugup Kenan lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
Pak Adi merasa bingung padahal di tangannya ada jam yang melingkar, kenapa harus melihat ponselnya.
Mereka melanjutkan meeting nya membicarakan proyek yang tengah berjalan dan hampir selesai, tetapi mereka semua terkejut dengan kedatangan satu bodyguard yang menghampiri Kenan.
"Tu, Tuan ... Nona hilang. Saya kehilangan jejak," ujar bodyguard tersebut yang mana membuat Kenan marah.
Kenan masih meredam emosinya karena saat ini ia masih bersama kliennya,"Maaf pak Adi meeting kita tunda karena aku harus mencari istri ku," pinta Kenan yang hanya di anggukki Adi.
Walaupun dalam kebingungan Adi hanya bisa mengiyakan selebihnya ia bertanya dalam hati ada apa sebenarnya kenapa Kenan mengatakan mencari istrinya, apa dia itu sudah mempunyai istri? karena yang ia tau Kenan belum menikah.
"Aku jadi tambah bingung dengan Kenan, memang dia itu orang misterius sampai punya istri pun misterius. Menikah saja tidak banyak orang tau," ujar Adi.
Di parkiran dengan sangat marah Kenan bertanya pada bodyguard nya yang dirasa tidak becus mengikuti satu orang saja.
"Maaf kan saya, Tuan saya tidak tau tiba-tiba ada yang memukul saya dari belakang hingga saya pingsan dan pas sudah sadar Nona sudah menghilang," terang Bodyguard itu.
"Oh ya, siapa yang memukul mu? Apa kau sedang becanda denganku, hah!" pekik Kenan.
Bodyguard itu malah menggeleng membuat Kenan bertambah geram, kepalanya pusing dan entah mengapa sedari tadi perasaannya mendadak tidak enak.
Dreet
Dreet
Ponsel berdering dan itu dari nomor yang sama dengan sangat kesal akhirnya Kenan menerima telepon itu.
"Kau siapa, hah dari tadi menelpon ku!" teriak Kenan.
"Pak Kenan ini saya Anita, cepat lah ke rumah sakit Cempaka Arumi mau melahirkan," terang Anita.
"Apa?! Baiklah kau tunggu aku akan kesana,"
tut
tut
Kenan menutup telponnya menyuruh bodyguard nya untuk ikut dengannya. Sedangkan di rumah sakit Anita mengusap dadanya karena sangat terkejut di awal menelpon Kenan membentaknya.
"Galak juga ya pak Kenan, mengerikan sekali saat marah," Anita merinding membayangkan wajah marah sang mantan bos, sejenak ia berpikir bagaimana bisa Arumi menikah dengan Kenan di saat dia baru saja menikah dengan Natan.
"Apa jangan-jangan mereka sudah ada hubungan sebelumnya, jadi mereka selingkuh begitu?" ucap Anita berbicara sendiri.
"Siapa yang kau sebut selingkuh?"
Degh
***
"Mami ...." teriak Riana yang baru saja kembali ke rumah menemui kedua orang tua nya.
Kedua orang tua nya pun terkejut dan hampir tersedak makan siangnya,"Ada apa, Riana baru saja pulang sudah berteriak," tanya Arsyad.
bruugh
Riana menarik kursi dan langsung duduk dengan Manarik napas sangat dalam ia meraih segelas air yang berada di depannya lalu segera meminum nya.
Kemudian ia memberikan ponselnya pada kedua orangtuanya yang sedari tadi memperlihatkan wajah bingung nya.
Setelah beberapa menit melihat sebuah vidio yang beredar Meraka terkejut, terlebih lagi dengan Tiara yang langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya menggelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Itu Helen pih, aku tidak menyangka jika dia bisa melakukan hal itu pada Arumi," lirih Tiara meletakkan kembali ponsel Riana.
"Iya, mih papi juga tidak percaya," ujar Arsyad.
"Lalu bagaimana keadaan, Arumi? Apa kakak mu tau masalah ini?" lanjut Arsyad.
Riana menggelengkan kepalanya ia menjelaskan jika dirinya sudah beberapa kali menghubungi Kenan, tetapi ponselnya tidak aktif.
"Aku menyuruh Jimmy ke kantor tapi kakak tidak juga ada di sana," lanjut Riana.
"Yasudah, kita tunggu saja info dari kakak mu. Yang harus kita khawatir kan sekarang bagaimana jika Kenan tau vidio itu dan mengetahui jika Helen berbuat itu pada istrinya," ujar Tiara.
"Ya, sudah dipastikan dia akan melaporkan nya ke polisi," sambung Arsyad.
Apa yang dikatakan suaminya benar tapi ada rasa tidak enak di hati Tiara karena baginya keluarga Nugraha dan keluarganya sudah dekat sedari dulu. Bahkan sejak kecil memang Helen dan Kenan sudah di jodohkan karena kedua keluarga mengira keduanya saling tertarik satu sama lain, tetapi kenyataannya hanya Helen lah yang sedari sekolah yang menyukai Kenan.
***
"Sakit, sakit sekali ... Aku sudah tidak kuat," rintihan itu selalu keluar dari mulut Arumi, sambil memegangi tangan Kenan.
Pria itu menangis tidak tega melihat Arumi yang sangat kesakitan, banyak sekali darah yang keluar dokter menjelaskan jika memilih lahiran normal sangatlah beresiko jadi dokter meminta agar Kenan menandatangani persetujuan untuk melakukan operasi sesar pada Arumi.
"Tidak ... Aku tidak mau di operasi, Mas Kenan aku mau lahiran normal," teriak Arumi yang mendengar nya.
Kenan terkejut bukan karena permintaan Arumi, tetapi tanpa sadar Arumi memanggil namanya dengan kata 'Mas'. Kenan menghampiri Arumi dan segera mendekati nya.
"Arumi, barusan kau memanggil aku apa? katakan ... tolong katakan sekali lagi aku ingin mendengarnya," lirih Kenan.
"Mas ... Mas Kenan," lirih Arumi.
Betapa bahagianya Kenan mendengar kata itu dengan sangat lembut keluar dari mulut istri yang sangat dicintainya air matanya terus saja menetes membasahi pipinya ia terus saja menciumi wajah istrinya yang penuh keringat menahan sakit.
"Baiklah, tunggu aku akan berbicara pada dokter dan akan ku usahakan kau melahirkan secara normal," ujar Kenan yang langsung menemui dokter kembali.
Akan tetapi, kali ini mereka berbicara di luar. Dokter mengatakan tetap tidak bisa karena saat terjatuh perut Arumi sedikit terbentur dan sebenarnya perkiraan dua Minggu lagi Arumi harusnya melahirkan karena ia kecelakaan jadi harus dilakukan operasi agar bisa menyelamatkan keduanya.
"Selamat kan ibunya saja dokter," ucap Kenan dengan sudah lirih.
"Apa anda yakin, tuan? Karena jika anda memilih menyelamatkan ibunya anda akan sulit punya anak kembali karena ada kerusakan pada rahim akibat benturan keras saat istri anda terjatuh," terang dokter.
Dengan berat hati Kenan mengangguk kan kepalanya,"Akan aku terima resikonya," ucap Kenan.
Suster pun datang dengan menandatangani surat pernyataan jika dirinya mengizinkan para dokter untuk menyelamatkan ibunya walaupun ujungnya mereka akan melakukan operasi. Walaupun operasi tersebut juga beresiko untuk keduanya bisa selamat.
"Maafkan ayah, anak ku bukan ayah tidak memilih mu mungkin ini karma yang harus ayah terima karena kesalahan ayah di masa lalu. Mungkin juga kau tidak ingin aku menjadi Ayahmu,hiks" Isak Kenan dalam penyesalan.
*
*
Bersambung.