"Tinggalkan putraku dan ambil ini! Ingat jangan kau injakkan kaki kotor mu itu di mansion keluarga Xie." Xie Lihua
"Baik Nyonya, saya akan pergi dari sini. Dan ini amplop dari anda, saya bukan seperti apa yang anda pikirkan." Lin Wu
"Shit! Beraninya dia pergi meninggalkanku, lihat saja aku akan menghukumnya dan membawanya kembali ke sisiku." Xie Yanshen
Dua insan yang terpaksa menikah karena sebuah scandal dan juga tuntutan dari Tuan Jin Hao, Ayah Yanshen. Pernikahan yang tak diinginkan itu membawa Lin Wu ke dalam neraka kehidupan. Lihua, Ibu Yanshen begitu membencinya hingga suatu hari dia sukses menyingkirkan Lin Wu.
Tanpa ada seorang pun tahu, bahwa Lin Wu pergi membawa rahasia besar. Dan kepergiannya membuat Yanshen murka.
Akankah Yanshen tahu rahasia besar Lin Wu? Dan berhasilkah Yanshen membawa kembali wanita yang masih sah menjadi istrinya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBSK 14
"Lin Wu, kemarin ada salah satu staf dari Perusahaan Shen Wu untuk mengajak bekerja sama dengan rumah makan kita. Mereka ingin kita menjadi penyedia catering untuk para pekerja mereka. Tapi ...."
"Tapi kenapa Ze?"
"Euuummm, itu bos dari Perusahaan Shen Wu ingin bertemu langsung dengan mu. Dia ingin membicarakan kerja sama, dan bertanya mengenai harga per porsi makan siang juga menu makanan disini," jawab Zeze menerangkan sesuai dengan keinginan salah satu staf dari perusahaan besar itu.
"Astaga Ze aku kira ada apa. Kenapa tidak langsung kau putusi saja, bukan kah kamu tahu berapa harga per porsinya dan apa saja menu makanan disini. Lagi pula kamu pernah menghandle hal semacam ini, bukan?"
"Tapi Lin Wu, jujur saja aku tidak enak padamu. Meskipun disini posisiku sebagai asisten mu, tetap hal semacam itu harus aku beritahu padamu karena kamu selaku pemilik dari rumah makan J-TWIN'S," ucap Zeze mengungkapkan segala unek-uneknya yang bersarang di benaknya.
Lin Wu tersenyum menatap perempuan cantik di hadapannya. Sungguh dia beruntung memiliki sahabat baik seperti Zeze, sudah pintar, baik, cekatan, dan paling utama adalah jujur. Dia adalah tipe perempuan yang cocok menjadi rekan kerja untuk menghandle rumah makan miliknya yang telah berdikari dari nol.
"Terima kasih Ze. Kamu memang sahabat dan asistenku yang paling baik, tanpamu ... mungkin saja aku tidak bisa sampai seperti ini," ucap Lin Wu yang sekilas teringat bagaimana susahnya dirinya waktu pertama kali mendirikan usaha rumah makan kecil-kecilan hingga berkembang pesat sampai saat ini.
"Ah ... jangan terlalu memujiku seperti itu nanti bisa besar kepala aku," balas Zeze yang di akhiri dengan gelak tawa membuat Lin Wu pun ikut tertawa dengan ucapan sahabatnya.
"Baiklah, baiklah ... kalau begitu hubungi mereka mengenai pertemuan dengan bos dari perusahaan itu," seru Lin Wu dan kemudian diangguki kepala oleh asistennya.
Zeze pun pamit undur diri dan berjalan keluar meninggalkan Lin Wu seorang diri. Sementara Lin Wu kembali bergelut dengan setumpuk berkas yang ada di atas meja kerjanya.
🥕🥕🥕
Disisi lain tepatnya di sebuah mansion megah nampak seorang lelaki yang baru saja turun dari lantai atas. Memakai setelan kemeja berwarna hitam dengan balutan jas navy membalut tubuh kekar lelaki itu, siapa lagi kalau bukan Yanshen. Dengan langkah lebar dia berjalan menuju pintu utama. Namun, baru beberapa langkah tiba-tiba langkahnya terhenti seketika.
"Yanshen, kamu mau kemana Nak? Kamu kan baru sembuh, lebih baik beristirahatlah dulu," tanya Mommy Lihua yang kebetulan sedang berada di ruang tamu.
"Aku mau ke kantor," jawab Yanshen dingin tanpa menoleh ke arah wanita paruh baya itu.
"Tapi, kamu kan masih sakit sayang," balas Mommy Lihua yang mengkhawatirkan kondisi putranya.
"Heh' justru aku tinggal disini terus-terusan membuatku semakin sakit. Lebih baik aku ke kantor, masih banyak pekerjaan yang sedang menungguku," ucap Yanshen sinis.
"Sementara biarkan Fen Ang yang menghandle pekerjaan mu, Nak. Kamu fokuslah memulihkan kembali kondisimu itu." Tak hentinya Mommy Lihua terus membujuk putranya agar tetap beristirahat di rumah.
"Dan satu lagi, kenapa kamu mengusir Xiwei? Kasihan dia susah payah meluangkan waktunya untuk datang menjenguk kamu, tapi kamu malah mengusirnya," lanjut Mommy Lihua menatap putranya dengan penuh tatapan intimidasi.
Yanshen memutar tumitnya menatap pada wanita paruh baya yang ada di belakangnya.
"Cukup Mom! Berhenti mengurusi hidupku lagi. Aku bukan anak kecil yang setiap saat harus Mommy kendalikan sesuai keinginan Mommy. Apa Mommy belum puas sudah membuat hidupku hancur seperti ini, hah? Atau jangan-jangan Mommy ingin melihatku mati perlahan?" bentak Yanshen dengan sorot mata menyala. Otot-otot di lehernya pun terlihat menonjol, kedua tangannya pun mengepal erat menandakan bahwa lelaki itu sedang menahan amarah yang membuncah.
"Tujuh tahun, Mom ... tujuh tahun aku mencari istri ku seperti orang gila. Tapi takdir sama sekali tidak memihak ku, justru membiarkanku terbelenggu dalam rasa penyesalan yang sangat menyakitkan ini. Aku adalah suami yang kejam, selama ini aku sudah banyak menyakitinya Mom, dan itu semua karena ulah Mommy yang telah menghasut ku untuk membencinya. Mommy juga yang telah mengusirnya dari mansion ini, memisahkan aku darinya," lanjut Yanshen berapi-api kala mengingat setiap perbuatan kejamnya pada sang istri.
Ya, Yanshen akhirnya mengetahui perbuatan sang Mommy dimana wanita paruh baya itu yang mengusir istrinya dari kediaman keluarga Xie.
"Satu hal lagi, berhenti menerima perempuan sialan itu Mom! Aku tidak ingin melihatnya lagi di hadapanku," ucap Yanshen dengan tegas memperingati Mommy nya. Lelaki itu sangat kesal mendengar nama perempuan di masa lalunya itu.
"Yanshen, kamu sebenarnya kenapa sih ... bukankah dulu kamu sangat mencintainya. Bahkan kamu sangat cocok dengan Xiwei. Untuk perempuan itu ... biarkan saja dia pergi, tidak perlu kamu repot-repot mencarinya. Tidak ada gunanya juga dia disini. Dia hanya perempuan parasit yang hanya mengandalkan kekayaan suami. Lagi pula keluarga kita sudah berbaik hati membiayai semua pengobatan Ibunya sampai sembuh, dan rumah itu ... kamu juga yang merenovasinya bukan? Heh' jangan pikir Mommy tidak tahu apa yang telah kamu perbuat untuk keluarga miskin itu, Yanshen. Mommy tahu semua yang kamu lakukan di luar sana, bahkan sebelum kamu pergi ke luar negeri pun kamu rela menurutinya yang minta jalan-jalan denganmu."
Yanshen terkekeh sebelum kemudian membalas ucapan pedas Mommy nya.
"Lalu salahnya dimana, Mom? Ayo, katakan padaku, apa aku salah menuruti istri ku yang minta jalan-jalan sebelum aku pergi ke luar negeri? Atau aku salah memanjakan istriku dengan mengabulkan keinginannya itu? Mommy bilang apa tadi ... istri ku parasit? Parasit darimana nya Mom, jelas-jelas selama dia menjadi istriku tak pernah sekalipun dia meminta apapun. Tidak seperti Mommy dan Xiwei yang kerjaannya minta uang terus buat shopping, beli barang-barang yang tidak berguna. Asal Mommy tahu, semua barang-barang yang melekat di tubuh istriku itu pemberianku Mom. Aku lah yang memaksanya untuk memakai segala macam model baju, dan perhiasan. Selama dia menjadi istriku, tidak pernah dia pergi shopping, maka dari itu aku lah yang berinisiatif membelikan itu semua untuknya. Dan untuk renovasi rumah, itu juga aku yang berinisiatif melakukannya. Istriku tidak ada kaitannya dengan hal itu, Mom. Selain itu, uang bulanan yang aku kirimkan untuk mertuaku pun mereka menolaknya. Tidak sepeserpun mereka memakainya, justru mereka lebih memilih mengembalikan uang itu dalam keadaan utuh. Mereka bukanlah orang yang serakah atau haus kekayaan, tidak seperti Mommy dan Xiwei yang hanya mementingkan uang, uang dan uang. Jadi ... disini Mommy lah yang miskin, bukan mereka. Berhenti mengatai mereka seperti itu karena aku tidak segan-segan akan membungkam mulut pedas Mommy dengan caraku sendiri," pekik Yanshen menggebu-gebu dengan dada yang naik turun.
"Maafkan aku Mom yang telah menyakiti Mommy. Tapi memang itu faktanya, Mommy harus tahu kebenarannya seperti apa. Jangan pernah menyebut ataupun menerima perempuan sialan itu di rumah ini. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali kepadanya, karena aku sudah memiliki istri yaang sangat aku cintai seumur hidupku." Tegasnya sebelum kemudian dia kembali melangkah kakinya menuju pintu utama.
'Yanshen! Kamu berani sekali Nak sama Mommy, bahkan demi wanita itu kamu bicara kasar pada Mommy. Asal kamu tahu ... Mommy melakukan itu demi kebaikan mu, Nak. Mommy hanya ingin yang terbaik untuk masa depan mu, menikah dengan perempuan yang sepadan dengan keluarga kita, perempuan yang memiliki martabat dan bisa menjunjung kehormatan keluarga kita. Dan tentunya perempuan itu pintar, memiliki wawasan luas, bukan seperti dia yang hanya bisa menggerogoti harta kita, berpura-berpura sok polos padahal faktanya dia adalah seorang j*lang yang rela menjajakan tubuhnya di luaran sana.' Mommy Lihua menatap nanar kepergian putranya, sampai punggung lebar itu semakin menjauh hingga menghilang dari pandangannya.
Mommy Lihua tersentak kaget mendengar ucapan putranya itu. Untuk kesekian kalinya, dia kembali melihat Yanshen murka padanya. Wanita paruh baya itu terdiam mematung di tempatnya dengan perasaan yang susah dijabarkan.
🥕🥕🥕
"Selamat Pagi Tuan, barusan saya mendapat kabar dari rumah makan J-TWINS kalau mereka menerima ajakan anda siang ini untuk membicarakan kerja sama sebagai penyedia catering." Fen Ang dengan sopan memberitahu kabar baik itu kepada Yanshen mengenai keinginannya beberapa hari yang lalu.
"Baiklah, segera kirim lokasi kita untuk mendiskusikan hal ini secepat mungkin. Aku ingin semuanya berjalan dengan lancar tanpa ada kendali apapun," titah Yanshen yang sudah tidak sabar ingin segera menyelesaikan persiapan untuk proyek barunya ini.
"Siap Tuan."
🥕🥕🥕
"Ze, kamu yakin ini tempatnya?" tanya Lin Wu ragu sambil menyapu pandang ke seluruh ruangan tersebut.
Ya saat ini dua perempuan cantik itu sedang berada di sebuah restoran bintang lima. Zeze menatap takjub pada setiap sudut dalam ruangan itu yang begitu banyak ornamen mewah terpajang di dinding. Berbeda dengan Lin Wu yang entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa resah. Namun, sebisa mungkin Lin Wu menguasai dirinya berusaha mengusir jauh-jauh perasaan itu dari benaknya.
"Mana Ze? Apa mereka tidak jadi datang?" tanya Lin Wu.
"Tidak mungkin. Barusan saja dia mengirimkan ku chat mengenai nomor meja mereka kok. Tunggu, apa mungkin itu dia ya ...."
"28 ... ya benar. Ayo Lin kita kesana, sepertinya mereka sudah datang," seru Zeze yang kemudian berjalan menuju meja tersebut.
"Maaf, Tuan sudah membuat anda menunggu kami lama. Kenalkan saya ...."
.
.
.
🥕Bersambung🥕
Hai kesayangan othor, hari ini othor update banyak nih yuk like komen nya dong biar othor makin semangat nulisnya, lempar gift juga othor terima dengan senang hati 😊
Peluk cium jauh buat kalian semua 🤗😘
ga gentleman