NovelToon NovelToon
Ada Cinta Di Balai Desa

Ada Cinta Di Balai Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni

Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.

Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.

Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.

Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.

Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"

Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati Yang Patah

Malam semakin sunyi, lampu jalan yang remang-remang seolah ikut meredup menyaksikan langkah gontainya menuju rumah dinas. Dunia yang beberapa hari lalu terasa penuh warna, kini mendadak menjadi abu-abu.

​Di dalam kepalanya, suara Zahwa yang memintanya mundur terus bergema seperti kaset rusak. Arka merasa hancur. Bisikan jahat mulai merayap di pikirannya.

Untuk apa aku belajar mengaji tiap malam sampai kurang tidur? Untuk apa aku memantaskan diri jika pada akhirnya pintu itu ditutup rapat?

Ia merasa semua sujud dan usahanya memantaskan diri hanya sia-sia belaka. ​Tepat di persimpangan jalan menuju Balai Desa, ia melihat sosok yang sangat ia kenal sedang mengunci pintu mushola kecil.

​Melihat cara Arka berjalan dan bahunya yang merosot, Ustadz Yusuf tahu bahwa muridnya ini sedang membawa beban yang melebihi kapasitas manusia biasa. Ia tidak bertanya banyak, hanya mendekat dan merangkul bahu Arka.

​"Ikut ke rumah saya dulu, Pak Arka. Kita minum kopi sebentar," ajaknya singkat.

​Di teras rumahnya yang sederhana, Ustadz Yusuf menyodorkan secangkir kopi hitam tanpa gula. Arka hanya menatap uap yang mengepul dari cangkir itu dengan pandangan kosong.

​"Ternyata memantaskan diri saja tidak cukup ya, Ustadz," ujar Arka dengan nada pahit.

"Saya pikir dengan saya berubah, Allah akan mempermudah jalan saya dengan Zahwa. Ternyata saya salah."

​Ustadz Yusuf menarik napas panjang, ia menatap Arka dengan penuh empati. "Pak Arka, boleh saya bertanya? Pak Arka berubah karena ingin mendapatkan Zahwa, atau karena ingin mendapatkan ridha Allah?"

​Arka terdiam. Pertanyaan itu menghunjam tepat di jantungnya.

​"Dengarkan saya baik-baik," lanjut Ustadz Yusuf. "Jangan pernah berubah karena seseorang, Pak Arka. Karena manusia itu dinamis, hari ini mereka mencintaimu, besok bisa jadi mereka menjauhi kita. Jika Pak Arka berubah karena Zahwa, maka saat Zahwa pergi, alasan Pak Arka untuk menjadi baik pun akan ikut hilang. Pak Arka akan kembali menjadi Arka yang dulu, yang kosong."

​Ustadz Yusuf menepuk lutut Arka.

"Berubah lah karena Allah. Jika Bapak menjadi baik karena Allah, maka meski seluruh dunia menolak Bapak termasuk Zahwa Bapak tidak akan merasa sia-sia. Karena Allah tidak pernah mengecewakan hamba-Nya yang datang bersimpuh."

​Suasana menjadi semakin hening, hanya suara jangkrik yang menemani obrolan mendalam itu.

​"Jangan mencintai seseorang secara berlebihan, Pak Arka. Letakkan cintamu pada Allah terlebih dahulu. Karena jika Allah sudah kamu nomor satukan, maka Allah pulalah yang akan menggerakkan hati-hati manusia yang keras. Allah yang memegang hati ayahmu, Allah pula yang memegang hati Zahwa."

​"Tapi Zahwa meminta saya mundur, Ustadz. Dia tidak mau tanpa restu," keluh Arka dengan suara serak.

​"Itu adalah cara Allah menguji ketulusanmu. Apakah kamu mencintai Zahwa karena nafsumu untuk memiliki, atau karena kamu ingin memuliakannya dalam pernikahan yang berkah? Kalau memang berkah yang kamu cari, maka kamu harus sabar mengikuti aturan-Nya, termasuk soal restu orang tua."

​Ustadz Yusuf tersenyum tipis. "Pulanglah. Perbaiki niat Pak Arka malam ini. Berhenti mengejar Zahwa, mulailah mengejar Pemilik hati Zahwa. Nanti, biar Allah yang menuntun kaki Zahwa atau bahkan kaki ayah Pak Arka untuk berjalan menuju jalan yang sama."

​Nasihat Ustadz Yusuf seperti sebuah tamparan sekaligus pelukan hangat bagi Arka. Ia menyadari satu kesalahan besarnya, selama ini ia menjadikan Zahwa sebagai Tuhan kecil dalam tujuannya berubah, bukan Allah.

​Arka berdiri, menyalami tangan gurunya dengan takzim.

"Terima kasih, Ustadz. Saya hampir saja tersesat lagi."

​Arka pulang ke rumah dinasnya, di kamar rumah dinasnya, Arka tidak langsung tidur. Ia mengambil wudhu, lalu bersujud lama. Kali ini, ia tidak menangis karena kehilangan Zahwa. Ia menangis karena merasa selama ini telah memanfaatkan agama hanya untuk mendapatkan cinta manusia.

Ia berjanji, mulai detik ini, ia akan tetap menjadi Arka yang taat, tetap membangun desa, dan tetap mencintai ilmu agama, meski tanpa ada bayang-bayang pernikahan di depannya.

***

Hari-hari Arka lalui kembali menjadi Sang Kepala Desa Idola, dengan proyek pembangunan Wisata Kebun Teh yang masih berjalan.

Badai seolah datang tanpa memberi jeda bagi Arka untuk sekedar menarik napas. Belum kering luka di hatinya akibat penolakan Zahwa, sebuah surat resmi mendarat di mejanya pagi ini. Isinya cukup membuat kepala Arka kembali berdenyut: "Pembangunan Wisata Kebun Teh Sukamaju diminta dihentikan sementara karena kendala perizinan alih fungsi lahan yang belum turun dari pusat."

Arka tahu ini bukan sekedar urusan birokrasi. Benar saja, di balik surat resmi itu, terselip selembar kertas tanpa nama, surat kaleng yang ia yakini berasal dari Hermawan. Isinya singkat namun mengerikan, "Ini baru permulaan. Serahkan proyek ini ke tangan kami, atau aku pastikan kariermu hancur dan proyek ini hanya akan jadi monumen kegagalanmu di Sukamaju."

Rasanya kepala Arka ingin pecah. Di titik ini, ia teringat satu-satunya tempat bersandar yang masih ia miliki selain Tuhan. Yaitu Kakeknya.

Kakek Rajasa, Ayah dari Pak Baskara. Ia adalah seorang purnawirawan yang memilih untuk tinggal di desa yang sunyi, mengasingkan diri dari dunia yang ramai namun penuh dusta.

Setelah pelayanan di kantor desa selesai ia akan pergi menuju desa tempat tinggal kakeknya, berjarak sekitar 2 jam dari Desa Sukamaju.

...🌻🌻🌻...

1
Suherni 123
bagai simalakama ya pak kades,,,
Suherni 123
lanjut
Suherni 123
cakep kek,,,aku padamu 🥰
Suherni 123
semoga kakek ada di pihak mu ya pak kades
Suherni 123
ada benarnya juga Zahwa,, jangan sampai tidak diridhoi orang tua
Suherni 123
adakah bab yang hilang kah kak othor,
Ayuni (ig/tt : author.ayuni ): iya kakak, satu bab kelewat gak aku apdet, hari ini diperbaharui yaa.. maafkan 😍
total 1 replies
demoet..
hadeuhhh.. bner2 c papa pengen diserbu!!
Suherni 123
semangat Arka ....
Suherni 123
waduuh... badai mulai menerjang
Bun cie
semoga niat baik arka disambut baik juga oleh mama papanya mau merestui arka
Bun cie
bismillah semangat pak kades👍
Bun cie
cie..cie..pak kades memanfaatkan suasana..goog job pak kades👍
Suherni 123
semoga pak Bhaskara tak menghalangi niat tulus mu pak kades
Suherni 123
pak kades nembak nih😁
Suherni 123
masih anteng ka,, sebentar lagi badai datang 😁
Bun cie
goodjob pak sugeng👍
Suherni 123
yes pak Sugeng 😚
Suherni 123
aku juga uhuyyy 😁
Suherni 123
mantap pak kades,, lanjutkan
Suherni 123
sip pak kades,, lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!