NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Putri asli/palsu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masih Ingat Jalan Pulang

Bagas langsung meludah ke tanah begitu melihat mereka. "Aksa! Dasar cowok nggak guna, beraninya bawa cewek buat tameng! Kalau gue jadi lo, mending gue gantung diri aja, ngabisin oksigen doang lo hidup!"

Karena takut pada Salma, Bagas melampiaskan amarahnya pada Aksa.

"Ka-kalian ini keroyokan... apa p-pantas ngatain aku? Se-senggaknya aku berani datang sendiri," balas Aksa, kembali ke mode gagapnya, namun matanya menatap tajam.

Geng Bagas tertawa terbahak-bahak.

"Denger tuh! Si banci lagi ngelawak!"

"Hahaha, mau pamer keberanian, Mas?"

Salma sudah tidak tahan. "Heh, kalian kalau beraninya cuma keroyokan mending pakai rok aja! Cowok kok mulutnya lemes kayak emak-emak komplek!"

"Salma, lo minggir! Ini urusan cowok!" bentak Bagas. "Gue nggak mau nyakitin lo demi Manda. Tapi si cupu ini harus gue kasih pelajaran!"

Tiba-tiba, aura di sekitar Aksa berubah drastis. Suhu udara seolah turun beberapa derajat. Ia melepas kacamatanya perlahan.

"Maju semua," ucap Aksa. Suaranya tidak lagi gagap. Nada bicaranya dingin, datar, dan mengerikan. "Satu-satu buang waktu."

Bagas dan teman-temannya terdiam sejenak, merasakan tekanan yang aneh dari sosok kurus di depan mereka. Tapi ego mereka terlalu besar.

"Sombong banget lo! Habisin dia, guys! Bikin dia nyesel pernah lahir!" Teriak Bagas.

Bagas memimpin serangan, mengayunkan tinjunya ke wajah Aksa. Teman-temannya menyusul dari segala arah.

Salma menahan napas. Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuatnya melongo.

Aksa bergerak secepat kilat. Dengan gerakan efisien yang nyaris tak terlihat mata, ia menghindari tinju Bagas, lalu menyapu kaki lawannya itu dengan satu gerakan memutar yang indah.

Bruk! Buk!

Bagas dan dua temannya jatuh bertumpukan di tanah, mengerang kesakitan. Aksa berdiri tegak, tak tersentuh sedikitpun, menatap mereka seperti raja menatap semut.

"Bangun," perintah Aksa dingin. "Lanjut lagi."

Melihat sosok Aksa Abhimana yang berdiri tegak di tengah lapangan, Salma Tanudjaja seolah melihat kilasan masa lalu. Bukan Aksa si kutu buku yang gemetar, melainkan bayangan pria dingin dan berkuasa yang pernah ia lihat di detik-detik terakhir kehidupan sebelumnya.

Perbedaannya bagaikan bumi dan langit.

Bagas dan gerombolannya kini terkapar di tanah, mengerang kesakitan. Mereka tak percaya baru saja dihajar habis-habisan oleh cowok yang selama ini mereka panggil "banci".

"Lo... lo berani nyentuh kita?" Bagas berusaha bangkit, wajahnya merah padam menahan sakit dan malu. "Gue nggak bakal biarin hidup lo tenang!"

"Sebelum ngancem, ngaca dulu," cibir Aksa. Aura intimidasi menguar kuat darinya. "Selama ini gue ngalah, tapi kalian makin ngelunjak. Silakan kalau mau cari gara-gara lagi, gue bakal ajarin kalian caranya jadi manusia!"

Bagas gemetar. Ia belum pernah mendengar nama Aksa dalam daftar orang berbahaya di kota ini, tapi kebrutalan barusan sudah cukup jadi bukti. "Awas lo ya! Kali ini gue lepasin!" teriaknya sambil lari terbirit-birit, diikuti anak buahnya yang sempoyongan.

Begitu mereka hilang dari pandangan, Salma baru saja hendak membuka mulut untuk memuji. "Wah, kamu—"

Bruk.

Aksa tiba-tiba merosot duduk di rumput, menepuk-nepuk dadanya dengan napas memburu. Wajah dingin tadi lenyap seketika, berganti dengan ekspresi panik yang... menggemaskan?

"Huh... sumpah, aku takut banget! Kalau mereka tadi manggil temen-temennya yang di gerbang, tamatlah riwayatku. Niat jadi pahlawan malah jadi perkedel nanti!"

Salma mengerjap, otaknya loading. Perubahan dari Raja Iblis kembali ke Kelinci Penakut ini terlalu drastis.

Aksa menoleh, menggaruk kepalanya canggung. "Itu... sebelum SMA, aku sempat belajar bela diri. Guruku bilang itu buat kesehatan, bukan buat sok jagoan. Aku aslinya nggak suka berantem, Sal. Tapi hari ini mereka beneran bikin aku emosi."

Melihat wajah polos itu, Salma tak tahan untuk tidak tertawa. "Tapi tadi kamu beneran keren banget, lho. Kalau sehari-hari kamu kayak gitu, aku yakin satu sekolah bakal sujud panggil kamu 'Bos'."

Aksa tersenyum malu-malu. "Jangan ngeledek deh. Aku nggak bakat jadi bos. Itu tadi karena... yah, mereka keterlaluan."

Karena mereka mengganggumu, Salma, batin Aksa. Kamu adalah garis batasku. Siapa pun yang melewatinya, harus bayar mahal.

"Oke deh, mulai sekarang kamu harus lebih percaya diri," Salma menepuk bahu Aksa. "Dan sebagai gantinya, aku bakal lindungin kamu. Cewek itu gampang disogok kok, asal kamu sering-sering traktir aja."

Aksa baru mau menjawab dengan semangat ketika ponsel Salma berdering nyaring. Salma melirik layar. Panjang umur, si Manda telepon.

"Bentar ya." Salma memberi isyarat. Aksa mengangguk dan membuang muka, memberi privasi.

"Halo, Kak?"

"Salma, kamu di mana?! Bukannya aku suruh tunggu?" Suara Manda melengking panik. "Aku baru lihat Bagas, katanya kamu berantem? Kamu itu cewek, kok kelakuan kayak preman? Kalau orang tua Bagas nuntut, kamu mau bilang apa sama Papa?"

Omelan itu bertubi-tubi. Di latar belakang, Salma mendengar suara napas orang lain. Ah, pasti di-loudspeaker, batinnya sinis. Manda sedang pamer akting "kakak bijak" di depan teman-teman OSIS-nya.

Salma langsung mengubah mode suaranya. Bergetar, serak, penuh drama.

"Kak... Bagas itu ngeroyok aku, kenapa Kakak malah nyalahin aku duluan? Kenapa Kakak nggak mikir gimana kalau tadi aku yang patah tulang?"

Di ujung sana, Manda terdiam.

"Jelas-jelas mereka yang salah, kenapa aku yang dimarahin? Kalau Kakak emang anggep aku adik, harusnya Kakak tanya dulu aku kenapa-napa nggak. Hati aku sakit banget, Kak..." Salma membiarkan satu isakan lolos.

Aksa yang menguping hanya bisa menahan senyum. Gadis pintar.

Sementara di ruang OSIS, Manda mati kutu. Teman-temannya menatapnya dengan pandangan menghakimi. Niat hati mempermalukan Salma, malah dia yang terlihat seperti kakak tiri jahat.

"Salma, maaf... aku cuma terlalu panik," suara Manda melembut paksa. "Kamu di mana sekarang?"

"Aksa luka gara-gara dihajar Bagas, aku mau antar dia ke klinik," bohong Salma lancar. "Kak, tolong bilangin ke OSIS, jangan mentang-mentang Bagas anak donatur terus dilindungi. Kasihan siswa lain."

Skakmat. Manda ingin membanting ponselnya. "Iya, kamu hati-hati. Nanti Pak Asep jemput kamu. Jangan pulang malem, Papa khawatir."

"Papa itu lebih khawatirin Kakak. Udah ya Kak, aku udah suruh Pak Asep jemput Kakak dulu biar Papa tenang. Dah!"

Salma memutus sambungan dan tersenyum miring pada Aksa. "Yuk jalan. Aku harus antar 'pasien' ini berobat."

Aksa tertawa kecil. "Kamu bohong kayak gitu, nggak takut dia marah?"

"Mau aku jujur atau bohong, dia tetap benci aku," jawab Salma enteng. "Udahlah, males bahas dia. Katanya mau nyogok aku?"

"Oh iya! Sebagai tanda terima kasih, aku traktir dessert. Aku tahu tempat enak yang tersembunyi."

Mereka menyeberangi separuh kota hingga tiba di sebuah kedai kecil yang ramai. Begitu masuk, kecantikan Salma langsung menyita perhatian, bahkan pelayan sampai bengong.

"Mau pesen apa, Cantik? Menu andalan kami..."

"Jangan pakai pisang," potong Aksa tegas. "Sedikit pun nggak boleh ada pisang. Saya alergi."

Salma menoleh kaget. Aksa buru-buru menggaruk tengkuknya. "Sori, aku nggak bisa makan pisang."

Hati Salma berdesir. Meskipun Aksa bilang dia yang alergi, Salma merasa cowok itu sengaja melakukannya karena tahu Salma-lah yang alergi parah pada pisang. Tatapan Aksa begitu lembut, membuat pipi Salma memanas.

Aksa memesan lima jenis dessert sekaligus. Saat pesanan datang, Salma makan dengan lahap, sementara Aksa hanya menontonnya sambil tersenyum.

"Kamu nggak makan?"

"Takut kamu nggak doyan, jadi pesen dikit dulu. Nanti gampang aku pesen lagi," jawab Aksa. Tatapannya begitu memuja, membuat Salma salah tingkah dan buru-buru menunduk.

Saat Aksa pergi ke kasir untuk memesan tambahan, seorang cowok ganteng dengan senyum maut menghampiri meja Salma.

"Hai, gue Rian. Boleh minta nomor WA lo nggak?"

Salma mendongak. Rian Mahesa dari SMA sebelah. Ganteng, tapi tipe buaya.

"Boleh ya?" desak Rian.

Dari kejauhan, wajah Aksa langsung mendung. Matanya menggelap. Berani-beraninya.

Aksa berjalan cepat kembali ke meja. Tepat saat Rian menyodorkan ponselnya, Aksa "tidak sengaja" menabrak bahu Rian.

Byurr!

Nampan berisi milkshake stroberi dan kue cokelat tumpah ruah membasahi kemeja putih mahal Rian.

"Woy! Baju gue!" Rian melompat histeris. Dia punya OCD parah terhadap kebersihan.

"Aduh, maaf... gue nggak sengaja," ucap Aksa datar, sambil menatap Rian tajam.

Rian mau memaki, tapi begitu melihat wajah Aksa, nyalinya ciut. Dia kenal siapa Aksa Abhimana yang sebenarnya.

"Sini gue bersihin," Aksa mengambil tisu dan mulai mengelap baju Rian dengan kasar. Bukannya bersih, noda cokelat itu malah makin menyebar ke mana-mana.

"Stop! Lepasin! Gue bersihin sendiri!" Rian nyaris menangis.

"Beneran gue nggak sengaja lho, Bro," kata Aksa dengan wajah tanpa dosa, terus menggosok noda itu.

"Minggir! Jangan sentuh gue!" Rian mendorong Aksa, menatap bajunya dengan horor, lalu lari terbirit-birit keluar kafe seolah dikejar setan.

Salma tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit. "Kamu sengaja kan? Jahat banget sih, dia kayaknya clean freak gitu."

"Lihat mukanya aja udah kelihatan bukan cowok baik-baik. Takutnya kamu diculik," kata Aksa serius, lalu kembali memasang wajah polos. "Eh, makanannya tumpah. Aku pesen lagi ya."

Salma menatap punggung tegap itu dengan lembut. Aksa... kamu ini beneran unik.

Langit sudah gelap saat mereka keluar. Salma menawarkan tumpangan karena Pak Asep sudah menjemput di dekat stasiun MRT, tapi Aksa menolak halus dengan alasan mau mampir ke rumah tantenya, padahal aslinya dia takut ketahuan kalau dijemput mobil mewah keluarganya.

Sambil menunggu Pak Asep, mereka mengobrol tentang buku. Salma terkejut mengetahui wawasan Aksa yang sangat luas tentang sastra klasik. Cara Aksa bercerita sangat hidup dan lucu, jauh dari imej culunnya di sekolah.

Saat mobil Pak Asep datang, Salma merasa berat hati untuk berpisah.

"Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Hati-hati ya," kata Aksa.

"Oke, dah Aksa!"

Begitu mobil Salma menjauh, postur tubuh Aksa yang tadinya agak membungkuk kini tegak sempurna. Aura wibawanya kembali muncul. Ia berbalik, berjalan menuju mobil hitam mewah yang sudah menunggunya di tikungan gelap.

Di dalam mobil, Pak Asep melirik lewat spion. "Non Salma, itu tadi cowok yang dansa sama Non pas ulang tahun Non Manda kan?"

"Iya, Pak."

"Non, Bapak cuma ngingetin. Cari teman harus hati-hati. Bapak takut Non yang polos ini dimanfaatin orang."

"Tenang aja Pak, Salma udah gede. Salma bisa bedain mana orang baik mana jahat sekarang."

Pak Asep tersenyum lega. "Syukurlah. Oiya, Non, nanti di rumah ngomongnya pelan-pelan ya sama Bapak. Jangan gengsi."

"Iya Pak, Salma janji." Salma tersenyum pahit, mengingat betapa bodohnya dia di masa lalu yang selalu ribut dengan orang tuanya.

Sesampainya di rumah pukul tujuh malam, Salma membuka pintu dengan riang. "Pa, Ma, Salma pulang!"

Pemandangan di ruang tamu membuatnya terpaku. Papa Seno duduk dengan wajah merah padam, Manda duduk di sebelahnya dengan mata sembab pura-pura menangis.

Papa Seno langsung berdiri, membentak keras hingga bahu Salma tersentak.

"Kamu masih ingat jalan pulang?! Seharian ini kamu keluyuran ke mana saja bikin orang tua jantungan hah?!"

1
sahabat pena
aksa terlalu lambat.. sdh tau ada barang bukti bukan di serahkan ke kantor polisi atau di viral kan. jd di manfaat kan sama rival nya pak rahmat kan? untuk menjatuhkan pak rahmat
mom SRA
pagi thoor
INeeTha: Pagi kaksk🙏🙏🙏
total 1 replies
kriwil
harusnya manda yang kejebak sama laki laki lain atau sama riko sekalian biar hancur nya tambah seru
Kembae e Kucir
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kriwil
apa di sekolahan ini ga ada guru dan kepala sekolah ,sampai tentang soal ujian di bobol maling yang maju hanya sosok ketua osis 😄
mom SRA
pagi thor
kriwil
seno itu dapat anak pungut sezan dari mana ya😄
kriwil
awal mula seno mungut siluman ular itu knp ya
mom SRA
mpm thor
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Diah Susanti
thor, buat tanudjaja, kalo si manda cuma anak pungut, biar dia merasakan dibully 1 sekolahan.
mom SRA
malem thor
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
ealah moduse kang Aksa, lancar kayak jalan tol bebas hambatan
penampilan cupu ternyata suhu 😂
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Diah Susanti
ini apa hubungannya dengan rahasia manda? apa karena cucu orang hebat makanya mudah dapat info? 🤔🤔🤔🤔
Diah Susanti
padahal bolu pisang enak lho, aq suka tak bisa bikinnya/Grin//Grin//Grin/
mom SRA
seru critanya.... semangat thoor
tutiana
hadirrrr, suka huruf s ya Thor,
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!