Kehidupan rumah tangga Yuda dan Afifah mendapat gangguan dari mantan pacar Yuda, sehingga Yuda terpaksa harus keluar dari pekerjaannya.
Dulu sang mantan meninggalkan Yuda karena harta. Saat mengetahui Yuda sudah mapan, dia kembali dengan segala drama untuk menghancurkan rumah tangga Yuda.
Setelah mendapatkan pekerjaan baru, kesetiaan Yuda kembali di uji, Yuda dihadapkan pada dua pilihan sulit, harus menikah lagi atau menolak menikah dan beresiko kehilangan pekerjaan barunya.
Apakah Nindi berhasil menghancurkan rumah tangga Yuda dan Afifah? Siapa yang akhirnya harus dinikahi Yuda? Apakah Yuda akan menolak atau menerima pernikahan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myatra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 14
Nindi berhenti berjalan. Berfikir sejenak,
"Apa mungkin ini cuma akal-akalan Yuda dan Afifah saja supaya aku menyerah. Aku tak bisa semudah itu untuk percaya, aku harus memastikannya lagi."
Tak jauh dari Nindi ada warung jajanan, Nindi berjalan menuju warung tersebut.
"Permisi..."
"Mau beli apa mbak?"
"Beli air mineral satu dan roti isi coklatnya satu, bu."
"Ini, mbak."
"Boleh ikut duduk disini bu?"
"Silahkan mba."
Nindi memakan roti yang barusan dia beli. Perutnya sudah sangat lapar. Pemilik warung tiba-tiba keluar, dan duduk di sebelah Nindi.
"Mbak, bukan warga komplek ini ya?"
"Bukan, bu. Saya mau berkunjung ke rumah teman, tapi ternyata mereka sudah pindah. Ibu kenal dengan pasangan suami istri, pak Yuda dan mbak Afifah?"
"Oh.... Mas Yuda dan mbak Afifah yang guru ngaji itu ya? Kemarin katanya mereka pindah, mendadak pindah sepertinya, padahal ibu-ibu di sini, sudah senang di ajar ngaji sama mbak Afifah. Mbak Afifah orangnya baik, ngajinya pintar."
Nindi tersenyum meskipun dalam hatinya kesal, mendengar pemilik warung malah memuji-muji Afifah.
"Ngomong-ngomong, mbak temannya mas Yuda atau mbak Afifah?" Sambung ibu pemilik warung, sambil menilik penampilan Nindi dari atas ke bawah.
"Saya, teman kerja pak Yuda, bu." Cepat Nindi menjawab, karena merasa risih dilihat terus oleh ibu pemilik warung.
"Oohh.. Pantesan cara berpakaiannya beda dengan mbak Afifah. Tapi mbak bukan pelakor, yang berniat merebut mas Yuda dari mbak Afifah kan?"
Pertanyaan pemilik warung yang tiba-tiba, membuat Nindi tersedak roti yang sedang dia kunyah.
"Hati-hati makannya mba, pelan-pelan saja. Ini minum dulu airnya!" Pemilik warung membantu membukakan botol air mineral yang tadi Nindi beli.
Nindi meminumnya dengan sedikit tergesa-gesa, sehingga airnya tak sempurna masuk ke dalam mulutnya, terciprat membasahi bajunya.
"Minum ko kaya anak kecil sih, mbak." Pemilik warung tertawa lirih, meledek cara minum Nindi dan melupakan pertanyaannya tadi yang menyebabkan Nindi tersedak.
Nindi hanya tersenyum, sedikit bernafas lega, karena pemilik warung melupakan pertanyaan frontalnya tadi.
"Terima kasih, bu. Saya permisi dulu."
"Iya, mba. Sama-sama."
Nindi memilih pergi dari warung tersebut, dari pada terus-terusan dinyinyirin ibu tadi. Lelah hati karena keinginannya tak tercapai berefek pada lelah badannya juga. Nindi memilih pulang ke kostannya, dia akan mencari tahu tentang Yuda dan Afifah di lain hari.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Afifah sedang memakai jilbabnya saat ponsel di sampingnya berbunyi pop-up, menandakan ada pesan masuk di aplikasi hijau miliknya.
Penasaran, Afifah langsung membuka pesan masuk tersebut. Pesan dari bu Midah ternyata,
"Beres, neng. Perempuan itu sudah pergi." Diikuti emoticon senyum yang banyak.
Tak memberi jeda, Afifah langsung membalas pesan dari bu Midah,
"Terima kasih banyak informasinya, bu. Titip rumah saya ya bu!"
"Iya, neng. Semoga neng Afifah bisa kembali ke rumah ini lagi."
"Aamiin,, Aamiin. Sekali lagi terima kasih. Nanti dilanjut lagi chat nya ya bu, Saya mau ke rumah mertua dulu."
"Iya, neng. Hati-hati di jalan neng."
Afifah menyimpan kembali ponselnya. Teringat saat Afifah pamitan kemarin, bu Midah sampai menangis, sangat menyayangkan kepindahan Afifah. Sebagai tetangga yang rumahnya bersebelahan, mereka cukup dekat.
Bu Midah sudah menganggap Afifah sebagai anaknya sendiri. Sikap ramah Afifah, sering membantu dan tak segan memberi membuat Afifah banyak disukai tetangga sekitar.
Bu Midah bertanya alasan kepindahan Afifah. Afifah hanya memberitahu, jika di tempat kerja suaminya yang baru, suaminya harus tinggal di sana, jadi sementara Afifah tinggal dulu dengan mamahnya.
Lalu bu Midah bertanya tentang perempuan yang akhir-akhir ini sering terlihat bolak-balik ke rumah Afifah. Mendengar itu, Afifah hanya tersenyum.
Sebagai seorang istri yang sudah berpengalaman, bu Midah menarik kesimpulan, jika perempuan tersebut pasti mengancam kelangsungan rumah tangga Afifah dan Yuda.
Akhirnya Afifah menceritakan secara singkat siapa perempuan yang ditanyakan bu Midah, karena bu Midah terus mendesak Afifah.
Afifah meminta tolong bu Midah untuk memberi kabar, jika perempuan tersebut datang ke rumah Yuda dan Afifah. Untuk memastikan tujuan Nindi memdekati Yuda kembali, Afifah meminta bu Midah mengatakan jika mereka hanya mengontrak di rumah tersebut.
Afifah juga meminta perihal Yuda sudah kembali bekerja untuk tak diberitahukan kepada siapapun.
"Dek udah selesai siap-siapnya?" Tiba-tiba Yuda membuka pintu kamar.
Pertanyaan Yuda sedikit mengagetkan Afifah yang sedang melamun. Keasikan melamun, Afifah sampai lupa apa yang tengah di kerjakannya.
"Sebentar lagi, mas."
"Mas tunggu dari tadi, ternyata adek malah melamun. Ngelamunin mas ya?"
"Ish,,, mas ini, jadi suami ko percaya diri sekali." Afifah menjawil pipi suaminya.
"Makanya jangan melamun aja! Ayo cepetan siap-siapnya, mas tungguin aja, nanti mas tinggal, malah melamun lagi."
"Nggak,, mas. Ini sudah ko, tinggal masang bros."
Afifah terlihat menyampirkan ujung kerudungnya dan menyematkan bros mutiara di bahu sebelah kanannya. Terlihat sederhana, namun dimata Yuda penampilan Afifah sangat menarik, bersahaja.
Yuda memperhatikan penampilan istrinya dari kepala hingga ujung kaki, semuanya tertutup. Riasan tipis diwajahnya, menambah aura kecantikan istrinya. Dirinya merasa beruntung mendapatkan istri seperti Afifah. Kesempurnaan tubuh istrinya hanya dapat dilihat oleh dirinya saja.
"Sekarang giliran mas yang melamun. Ada yang salah dari pakaian Afifah?" Afifah melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Yuda.
"Nggak ada sayang, semuanya indah. Ayok kita langsung berangkat saja, makin lama, entar nggak jadi berangkatnya!"
"Kenapa nggak jadi berangkat?" Afifah bertanya dengan mimik polosnya, menambah kegemasan Yuda.
"Nanti mas buat, adek keramas siang-siang."
Afifah yang mendengar perkataan Yuda, malah tertawa dengan renyah. Buru-buru Yuda menyambar tas yang berisi salin pakaian dan menuntun istrinya, agar segera keluar kamar. Lebih lama lagi di dalam kamar, pikirannya bisa kacau.
Yuda berpamitan pada ibu mertuanya, dan langsung berangkat, menuju rumah ibunya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Sudah neng, piring kotornya simpan, besok saja dicucinya!" Bu Sri melarang Afifah yang akan mencuci piring bekas makan malam mereka.
"Nggak apa-apa, bu. Cuma sedikit." Afifah tetap meneruskan kegiatan mencuci piringnya, karena begitu Afifah tunda, justru ibu mertuanya yang akan meneruskan mencuci piring.
Yuda sudah memberitahu kedua orangtuanya jika dirinya telah menerima pekerjaan sebagai perawat. Dan Afifah untuk sementara akan tinggal dengan Mamahnya, sebelum nanti ikut bersamanya.
Pak Rahmat dan ibu Sri bahagia mendengar Yuda kembali bekerja. Keduanya hanya bisa mendoakan agar Yuda dimudahkan pekerjaannya.
Bu Sri juga meminta Afifah untuk sering main ke rumah ibunya, jangan di rumah mamahnya saja.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Yuda dan Afifah sudah di dalam kamar Yuda saat belum menikah dahulu. Berbaring di atas tempat tidur, bercengkrama. Baik Yuda maupun Afifah ingin menciptakan moment indah kebersamaan mereka sebelum jarak memisahkan.
Yuda mencurahkan hasratnya kepada kekasih halalnya, berharap sekali benih yang dia tanam menjadi sesuatu yang mereka nantikan selama ini.
Raga mereka menyatu, tak ada jarak yang memisahkan, bahkan untuk sehelai kain.
Afifah belum menceritakan kepada Yuda tentang kedatangan Nindi ke rumah mereka. Afifah tak ingin merusak indahnya malam yang mereka lalui dengan menghadirkan sosok perempuan lain dalam pembicaraan mereka.
BERSAMBUNG.
asaran, eeeh kok jd tertarik bc trus💪💪💪 mantul abizzz
apa kamu fikir Luna itu barang yg bs kamu atur kepemilikannya?? stelah kamu sakiti begitu dalam dtg minta rujuk, nunjuk org yg hrus di nikahi walau harus menyakiti hati istri dan anaknya skrg stelah ada laki2 yg jelas2 berstatus bukan suami siapa2 kamu menolak hanya krn kamu tdk suka Mario akrab dgn keluarga Luna.. bener2 sinting kamu sakti, kalau aku Luna walau u/ anak ga bakalan ikhlas aku di gilir jadi istri macam piala.
bagaimanapun kalau sakti mau rujuk tetap dengan syarat yuda menjalankan kewajibannya lahir dan bathin walau akan diceraikan kembali bukan hanya sekedar akad gimana skitnya Afifah kalau tau suaminya mendua. ga ikhlas thor kalau bnr2 yuda nikah ma Luna mending mario setidaknya mario blm berstatus suami wanita lain.