Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama Persis
"Heh keparat! Sialan! Siapa lo memangnya bisa bicara begitu?" Leon menarik kerah kemeja Agra.
Agra menepisnya dan membenarkan pakaiannya. "Sifat arogan mu yang membuat hidupmu akan hancur."
Leon mendorong Agra dan lekas pergi dari hotel itu, tentu saja Agra sangat kesal sekali karena punya sepupu yang sombong. Jadi Agra atau Sagara Alfath adalah sepupu yang ditakuti Leon kala itu dan juga kandidat menjadi penerus perusahaan Kakek Alfred? Benar, Leon memang menghalalkan segala cara supaya Agra tidak masuk ke jajaran perusahannya.
"Sial! Aku harus bagaimana? Alya maupun triplet F juga tidak bisa didekati dengan mudah. Kesalahanku di masa lalu juga sangat fatal kepada Alya," gumam Leon sambil masuk ke dalam mobilnya.
Di satu sisi.
Alya mencoba fokus bekerja dan tidak mau memikirkan kejadian tadi, baru 2 hari bekerja saja sudah sangat melelahkan karena kemunculan Leon yang membuat ulah.
"Alya?"
Wanita itu menoleh dan melihat Jardon ada di belakangnya, Alya mundur perlahan dan ketakutan karena pria itu hendak melecehkannya.
"Jangan mengatakan apapun tentang hal tadi kepada Pak Agra!" ancam Jardon.
"Pak Jardon melakukan hal yang mesum padaku, bagaimana aku tidak boleh melapor?"
"Heh! Kamu ini pegawai baru di sini dan aku sudah lama bekerja di sini, tentu saja Pak Agra akan lebih percaya ucapanku," jawab Jardon.
"Baik," ucap Alya mengalah, walau sebenarnya dia masih was-was pada pria di depannya itu.
Jardon pergi dari sana sementara Alya langsung berjongkok lemas, sepertinya serangan paniknya kambuh karena hal tadi. Kepalanya mendadak pening serta jantungnya berdebar kencang, tak hanya itu saja bahkan tangannya serasa dingin dan berkeringat.
"Jangan kambuh! Kumohon jangan kambuh!"
Tentu saja akibat KDRT yang dilakukan oleh Leon membuat psikologisnya juga terguncang, dia juga menjadi trauma dekat dengan pria manapun, maka dari itu Leon tidak ada pikiran untuk menikah lagi dan hanya ingin fokus pada anak-anaknya.
"Hah... hah... hah..."
"Kamu kenapa?" Agra mendekat dan membantu Alya berdiri.
"Tak apa, Pak."
"Badanmu dingin sekali."
"Saya gapapa, Pak. Saya permisi dulu."
Alya memutuskan menghindar dan menuju ke kamar mandi.
Dia lekas menuju ke wastafel dan mencuci wajahnya, sepertinya Alya salah memutuskan untuk kembali ke ibu kota ini karena harus bertemu dengan masa lalunya.
"Semangat, Alya! Ingatlah biaya Fairy Care dan makan ketiga anakmu sangat mahal. Kamu harus tetap mencari uang untuk mereka," ucap Alya.
Setelah serangan paniknya menghilang, dia lekas bekerja kembali dan menghindari Alya. Semua ini demi anak-anaknya supaya mereka bisa sekolah yang layak serta bisa membeli apa yang mereka inginkan.
Di satu sisi.
Farad, Fared dan Farid belajar bersama teman-temannya yang lain, teman-temannya menceritakan ayah serta ibu mereka. Ketiga kembar itu hanya mendengarkan saja apalagi mereka tidak punya ayah.
"Papaku polisi lho."
"Papaku dokter, dia sangat hebat."
"Papaku kerja di kapal."
"Kalo kalian apa?" tanya mereka kepada 3 kembar.
"Nggak tau sih," ucap Farad."Kok nggak tau, nggak punya ayah ya?"
Fared menyahut. "Punya lah, tapi kami nggak tau."
"Udah meninggal?"
"Kata Mama kami begitu," ucap Farid.
Mereka terus berbincang-bincang sampai salah satunya menyeletuk. "Terus mama kalian kerja di mana?"
"Mama kerja di hotel," sahut Farad.
"Ihhh... Mamaku loh kerjanya keren, Mamaku guru."
"Keren Mamaku dong, kerjanya main tok-tok banyak penggemarnya."
Fared yang merasa percakapan ini sangat tidak sehat lekas menjauh dari mereka, diikuti oleh kedua kembarnya yang lain.
"Fared?" ucap Farad.
"Kenapa sih kita nggak punya Papa? Foto Papa aja kita nggak punya," sahut Fared dengan kesal.
"Yang penting kan kita punya Mama," sahut Farad."Tapi kan kita juga mau punya Papa," ucap Fared kesal.
Sudah terlihat jelas jika Fared memiliki sifat menurun dari Leon yang mudah kesal dan emosian.
"Sudahlah, Fared! Mereka juga hanya cerita kok," ucap Farad.
"Terus kita mau cerita apa sama mereka?" tanya Fared masih ngotot.
"Kita main di sini aja bertiga," ucap Farad.
Mereka lalu bermain bersama-sama tanpa mau mendekati teman-temannya, untung saja mereka kembar jadi tidak kesepian.
Saat bersamaan sebuah mobil mewah datang, Bu Yanti lekas menghampiri orang itu.
"Kamu lagi?" tanya Bu Yanti.
"Saya bawa makanan untuk anak-anak."
"Sudah saya katakan jika anda tidak boleh datang kemari jika tidak ada keperluan."
"Saya hanya ingin melihat anak-anak saya! Bayangkan selama 5 tahun berpisah dengan tiga kembar. Bagaimana perasaan ibu?" tanya Leon.
Bu Yanti hanya diam beberapa saat lalu berbicara lagi. "Tapi Bu Alya mengatakan...."
"Saya bayar, anda minta berapa? Saya hanya ingin ketemu anak saya, saya papa kandung mereka yang sedang berjuang bertemu dengan mereka," kata Leon sangat manis.
"Tapi ini amanah dari Bu Alya."
"15 menit saja, kebetulan saya juga membawa makanan dan mainan untuk semua anak-anak di sini," ucap Leon.
"Baiklah, silahkan masuk!"
Alya senang, ia masuk dan beberapa anak memperhatikan mereka, dia dan Rick lantas membagikan makanan serta mainan itu. Anak-anak tersebut sangat senang tapi si kembar tiga ternyata tidak se-senang itu, mereka masih dendam kepada Leon karena sempat mendapat perlakuan kasar beberapa hari yang lalu.
"Hai Farad, Fared, Farid," ucap Leon setelah membagikan semua makanan.
"Om salah," ucap Farad."Salah bagaimana?" tanya Leon.
"Om bilangnya Farad, Fared, Farid, padahal jika diurutkan dari posisi kami berdiri yang benar adalah Fared, Farid, Farad." jelas Farad dengan wajah datarnya.
"Oh, kalian sangat mirip sehingga Om belum bisa mengenali kalian. Emh, suka tidak sama mainan serta makanannya?" tanya Leon.
"Biasa aja tuh," jawab Fared ketus.
Ternyata begini di jutekin oleh orang, biasanya Leon yang jutek sekarang giliran dia yang di jutekin anak-anaknya sendiri.
"Om hanya ingin dekat dengan kalian," ucap Leon.
"Oh!" sahut Farid sambil mengunyah makanan itu.
Leon menelan ludahnya kasar, dia bingung harus bicara apa lagi karena sifat mereka ternyata menurun darinya.
"Rick, aku harus bagaimana lagi?" bisik Leon.
"Bos terus saja dekati mereka dan tawarkan hal-hal yang disukai anak-anak," bisik Rick.
"Apa itu?"
"Ajak mereka beli mainan di toko mainan atau ajak jalan-jalan kemana gitu."
Leon menghela nafas panjang lalu mencoba melihat ke arah mereka.
"Om akan ajak kalian ke toko mainan, tapi kalian harus izin kepada bundamu dulu. Mau? Yakinkan bundamu jika Om baik dan hanya ingin membelikan kalian mainan," ucap Leon.
"Bukan bunda tapi Mama!" ucap Fared ketus.
"Ah iya, bunda atau Mama sama saja.
Bagaimana? Nanti sore bujuk Mama kalian karena Om mau belikan kalian mainan baru."
Ketiga kembar itu berjalan menjauh lalu saling berbisik dan terus melirik Leon, Leon menelan ludahnya kasar karena takut mereka tidak mau.
"Deal, Om!" ucap Farad sambil mengulurkan tangan."Benarkah?" tanya Leon.
"Iya, Om."
Leon merasa lega. "Jika begitu sore nanti sepulang dari sini Om akan jemput lagi dan kalian harus bujuk bundamu."
Mereka mengangguk.
"Baiklah, Om mau pulang dulu." Leon mulai melangkah.
"Tunggu, Om!" ucap Farid.
"Ada apa?"
"Resleting Om kebuka tuh sejak tadi, terus ada yang mengembung tuh" ucap Fared.
Leon melihat ke arah celananya dan benar saja resletingnya terbuka dan ada sesuatu yang sedang tidur sedikit keluar mungkin karena terlalu besar walau sedang tidur, ia cepat-cepat menaikkannya sementara tiga kembar malah menertawainya bersama teman-temannya yang lain.
Sialan! Harga diriku langsung turun. batin Leon.
Sementara Rick menahan tawanya.
Setelah itu Leon dan Rick memutuskan kembali ke kantor, Leon masih merasa sangat malu dengan kejadian tadi. Bisa-bisanya resleting celananya terbuka bahkan diketawain bocah-bocah itu.
"Jika mereka bukan anak-anakku pasti sudah aku lempar ke got," ucap Leon kesal. "Mereka sangat menyebalkan sekali."
"Bos tak perlu tes DNA karena mereka sangat mirip denganmu," ucap Rick sambil menyetir mobil.
"Maksudmu aku menyebalkan?"
"Biasanya sih begitu, bos."
Leon merasa kesal sekali, tapi dia harus bersabar demi bisa membuktikan apakah mereka anak kandungnya atau tidak.
***
Sore hari.
Setelah lelah seharian bekerja di hotel, Alya segera meluncur menuju FairyCare untuk menjemput ketiga buah hatinya.
Sesampainya di sana, Alya terkejut bukan main karena Leon sudah ada di sana. Merasa terkejut dan tidak ingin menghadapi pria yang pernah menghancurkan hidupnya itu, Alya segera berjalan mendekati anak-anaknya yang sedang bermain. Dengan senyum yang dipaksakan, Alya memanggil mereka.
"Farad, Fared, Farid, yuk kita pulang," ujar Alya pelan sambil menggandeng tangan mereka satu per satu.
Ketiga anaknya tampak keheranan melihat wajah ibu mereka yang berubah tegang, namun mereka tidak menggugat dan ikut berjalan bersama Alya.
Sementara itu, Leon yang menyadari kehadiran Alya mencoba untuk menghampiri mereka. Ia tersenyum tipis dan berbicara dengan nada yang mencoba ramah.
"Alya, kita bisa bicara sebentar? Tentang anak-anak..."
"Tidak, Leon. Kamu tidak punya hak atas anak-anak ini. Biarkan kami hidup tenang tanpamu."
Mendengar itu, Leon terdiam.
Sementara itu, Farad, Fared, dan Farid hanya bisa saling bertukar pandang, merasa bingung dengan situasi yang terjadi.
Alya segera melanjutkan langkahnya, membawa anak-anaknya pulang secepat mungkin tapi tiba-tiba....
"Mama, Om itu mau belikan kami mainan," ucap Farid.
"Apa? Dia orang jahat, Mama sudah bilang pada kalian 'kan?" tanya Alya.
"Orang jahat bisa kok berubah jadi baik," jawab Farad.
Alya menghela nafas panjang, dia terus mencoba menarik tangan anak-anaknya tapi mereka malah melepaskan gandengan sang mama.
"Om itu udah janji mau belikan kami mainan," ucap Fared ngotot.
Alya lalu melangkah dengan cepat menghampiri Leon yang sedang berdiri di dekat anak-anaknya. Wajahnya merah padam, kesal dan marah akan tindakan Leon yang berani mendekati anak-anaknya tanpa izin.
"Leon , apa-apaan ini? Kenapa kamu mendekati anak-anakku?" teriak Alya dengan nada tinggi.
"Aku hanya ingin melakukan tes DNA. Apa yang salah dengan itu?"
"Kamu pikir aku akan membiarkanmu melakukan tes DNA begitu saja? Mereka anak-anakku dan bukan anak-anakmu!" balas Alya dengan marah.
"Kalau kamu takut, berarti ada yang disembunyikan. Mungkin mereka memang anakku. Bukankah itu yang kamu takutkan?" ucap Leon sambil menatap mata Alya.
Alya terdiam sejenak, kemudian menjawab dengan nada tegas.
"Mereka bukan anakmu dan aku tak akan membiarkan kamu mendekati mereka lagi. Jangan coba-coba mengganggu kehidupan kami!"
Leon tersenyum sinis, lalu berkata, "Kita lihat saja nanti."
Pria itu lantas mundur perlahan tapi dia tidak menyadari jika salah satu kembar berada di belakangnya, Fared tertabrak tubuh Leon sampai terjatuh ke got."Huaaaaaa.... Mama! Mama! Mama!" teriak Fared.
Alya sangat terkejut dan segera menolong anaknya, tubuh Fared dipenuhi lumpur hitam sementara Leon juga tak kalah terkejut.
"Alya, aku tidak sengaja," ucap Leon.
Fared terus menangis dan tubuhnya hitam terkena lumpur. Alya menatap tajam Leon . "Pergi kamu! Jangan temui kami lagi!"