Follow IG : renitaria7796
Zivana adalah seorang pelayan di Rumah besar keluarga Pradipta. Karena memiliki wajah yang sangat cantik, Zivana sengaja menyembunyikan kecantikan wajahnya. Dia tidak mau menjadi pusat perhatian laki-laki.
Suatu hari karena sebuah insiden, Zivana di kejar oleh seorang penjahat. Zivana di tolong oleh pemuda tampan bernama Sean Pradipta. Zivana tidak mengetahui jika Sean adalah majikannya.
Sean Pradipta mempunyai calon istri bernama Rissa. karena suatu insiden Rissa tidak hadir di acara pernikahannya bersama Sean. Untuk membantu agar reputasi Sean tidak hancur, Ziva lalu mengantikan Rissa menjadi istri dari Sean.
Namun Zivana tidak mengetahui ada rahasia besar yang telah di sembunyikan oleh Sean. Lalu bagaimana nasib pernikahan Sean dan Zivana di saat kehidupan masa lalu Sean dan Ziva muncul menghadang?
Season 2
Menceritakan kisah Angel anak dari Sean Pradipta. Angel menyukai Jimi sang asisten orangtuanya. Namun Jimi mempunyai kekasih dan akan segera menikah.
Bagaimana cara Angel menaklukkan hati Jimi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Jimi keluar dari dalam mobil lalu masuk ke gedung hotel. Jimi datang membawakan pesanan Sean. Jimi masuk ke dalam lift menuju lantai kamar Sean dan Ziva.
Saat Jimi keluar dari dalam lift, tidak sengaja dia bertemu Rissa. Jimi dan Rissa saling bertatapan muka. Rissa menatap wajah Jimi seolah ingin mencabik-cabiknya.
Rissa menghalangi langkah kaki Jimi. "Di mana, Sean?"
Jimi menatap malas wajah Rissa. "Kenapa ... kamu mau apa lagi?"
Rissa menatap Jimi kesal. Jimi bilang ada apa lagi. Jelas saja mereka ada urusan yang masih belum di selesaikan. Seenaknya saja Sean menggantikan dirinya dengan wanita lain.
Rissa berdecak. "Ck ... apa maksud kalian, mengantikan aku dengan wanita lain untuk menikah."
Jimi terkekeh geli. "Hehehe ...."
Wanita di hadapannya ini masih belum sadar akan perbuatanya. Rissa masih tidak mengetahui jika Sean sudah tahu semua kebusukannya. Selama dua tahun Rissa sudah menipu Sean.
"Kamu itu penipu. Kami sudah tahu kelakuan busukmu itu," ungkap Jimi.
Rissa gelagapan mendengar perkataan Jimi. Apa benar kalau rahasianya selama ini sudah terbongkar. Rissa bersikap pura-pura tidak mengerti.
"Apa maksud dari perkataanmu itu?"
Jimi berdecih. "Cih ... kamu masih tidak mengerti?"
Jimi lalu mengeluarkan ponsel dari balik sakunya. Jimi memperlihatkan foto-foto serta video kebersamaan Rissa dengan Daniel pacarnya.
Rissa melotot melihat foto serta video itu. Rahasianya sudah terbongkar, pantas saja Sean mengantikan dirinya dengan wanita lain.
Rissa masih mencari alasan. "Itu hanya kisah masa laluku. Aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi."
Jimi geleng-geleng kepala. Rissa masih saja berkelit. Kebusukannya sudah terbongkar tetapi Rissa masih berusaha menyangkalnya. Jimi meninggalkan Rissa, dia malas untuk meladeni wanita tidak malu itu.
Rissa memanggil-manggil Jimi tetapi Jimi pura-pura tidak mendengar. Dia terus saja berjalan menuju kamar Sean. Rissa mengikuti langkah kaki Jimi. Dia ingin bertemu Sean dan berbicara.
Jimi mengetuk pintu kamar Sean. Tidak berapa lama Sean datang membuka pintu. "Selamat pagi, Tuan!"
Jimi memberikan paper bag yang dia bawa.
"Pagi, Jim!" balas Sean.
Sean mengambil paper bag dari tangan Jimi. Rissa tiba-tiba datang menabrak tubuh Jimi dan menerobos masuk ke dalam kamar. Jimi hampir saja terjatuh karena hilang keseimbangan.
Jimi sangat geram akan tingah dari Rissa. "Bren**k," umpat Jimi.
Sean juga kesal karena Rissa tiba-tiba saja menerobos masuk. "Rissa ... kamu apa-apaan sih?"
Rissa melihat wanita yang tengah duduk di sofa. Rissa ingat kalau wanita itu adalah kekasih Ken yang datang ke pesta mereka. Rissa melangkah mendekati Ziva.
"Kamu ...." Rissa mengepal geram dengan Ziva. Apalagi saat melihat leher Ziva yang penuh dengan bekas ciuman. "Dasar pelakor ... kamu sudah punya Ken tapi masih menginginkan Sean."
Ziva berdiri berhadapan dengan Rissa. "Nona Rissa ... kamu salah paham. Saya tidak pernah merebut Sean. Tetapi Nona sendiri yang tidak hadir ke acara pernikahan Nona."
Sean mendekati kedua wanita yang bersitegang itu. "Rissa ... saat ini kita tidak punya hubungan lagi. Aku sudah menikahi Ziva, dia istriku. Kamu itu sudah menghianati diriku," hardiknya.
Rissa sangat terkejut mendengar nama yang Sean sebutkan. Rissa berpikir apa dia Ziva pelayan Sean. Rasanya tidak mungkin, Ziva itu sangat jelek dan wanita di hadapanya ini sangat cantik. Pasti nama mereka saja yang sama.
"Kamu juga berkhianat, kamu menikahi kekasih dari adikmu sendiri," hardik Rissa.
Sean malah tertawa. "Hahaha ... kamu salah paham. Ziva bukan kekasih siapa pun."
Sean menjentikan jari di wajah Rissa. "Kamu pasti mengira dia gadis lain. Sebenarnya Ziva adalah pelayanku. Kamu ingat Ziva yang berwajah buluk. Ini ... lihat wajahnya, wajah asli dari Ziva.
Rissa mengeleng tidak percaya. Bagaimana bisa, Ziva yang buluk menjadi cantik. Rissa tidak peduli, mau dia Ziva si pelayan atau Ziva si cantik. Yang terpenting wanita ini sudah merebut Sean darinya.
"Sean ... aku tidak terima di perlakukan seperti ini. Aku ingin kamu tanggung jawab," ujarnya.
Sean berdecih. "Cih ... kamu yang membohongiku lalu kenapa aku harus tanggung jawab. Lebih baik kamu pergi saja."
"Jimi," pekik Sean.
Jimi segera masuk ke dalam kamar saat mendengar suara Sean. "Saya, Tuan!"
Sean menunjuk wajah Rissa. "Cepat ... kamu bawa wanita tidak tahu malu ini. Suruh dia pergi dari kamarku."
Jimi menarik tangan Rissa dan menyeretnya keluar. Tetapi Rissa memberontak, dia mengigit tangan Jimi agar terlepas. Rissa berlari ke arah Ziva saat Jimi melepas pegangan tanganya.
Secara spontan, Rissa menarik kemeja yang di pakai oleh Ziva. Sean kaget akan perbuatan Rissa. Dia lalu berteriak pada Jimi.
"Jimi ... tutup matamu," teriak Sean.
Jimi sontak menutup matanya. Ziva menyilangkan tanganya untuk melindungi dadanya yang terekspos. Sean menarik tangan Rissa lalu menghadiahkan sebuah tamparan.
Plaakk ... !
"Kamu ... jangan keterlaluan." Sean menatap tajam Rissa yang memegang pipinya, akibat tamparan keras dari Sean.
"Pergi ... kalau kamu masih disini. Jangan salahkan, kalau aku akan buat karir kamu hancur."
Rissa segera pergi dari kamar Sean. Ziva secepatnya mengambil selimut untuk melindungi tubuhnya.
"Jim ... kamu boleh buka tanganmu. Pulanglah, kami akan pulang setelah berganti pakaian," ucap Sean.
Jimi mengangguk lalu keluar dari kamar Sean, tidak lupa Jimi juga menutup pintu kamar. Jimi mengusap dadanya yang berdegup kencang. Tadi secara tidak sengaja, dia melihat dada polos Ziva.
Rissa tadi menarik baju Ziva dengan kuat. Kancing kemeja yang di pakai Ziva terlepas. Beruntung saja kancing yang terlepas itu tidak sampai ke bagian bawah.
Jimi segera berlalu dari hotel. Dia perlu menenangkan diri. Dia tidak ingin terbayang-bayang akan dada polos Ziva.
Ziva masih bergelung dengan selimut. Dadanya sedikit nyeri akibat goresan kuku Rissa yang panjang. Sean mendekati Ziva, lalu ingin membuka selimut itu.
Ziva masih mempererat selimut di tubuhnya. "Jangan ... aku malu."
Sean menghela. "Hah ... tadi saat di kamar mandi, aku sudah melihatnya."
Ziva membiarkan Sean membuka selimut yang menutupinya. Sean melihat ada goresan kuku di bagian dada Ziva. Sean lalu menelepon pihak hotel untuk membawakan kotak obat.
"Apa ... terasa perih?"
Ziva mengangguk. "Sedikit saja."
Sean membuka habis kemeja Ziva lalu meniup bagian yang tergores itu. Ziva meringis saat tangan Sean menyentuh lukanya.
Pegawai hotel mengetuk pintu kamar Sean. Segera Sean membuka pintu dan mengambil kotak obat yang dia pinta. Sean membuka kotak obat lalu mengambil salep luka.
"Biar aku oleskan obat di dadamu," ujar Sean.
Sean mulai mengoleskan obat dengan sesekali meniup luka Ziva. Hal lain di rasakan Ziva adalah, tiupan itu terasa nyaman. Tiupan bibir Sean seolah menggoda dirinya. Ziva mengeleng agar tersadar akan pikiran mesumnya.
Tbc
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.
top lah 👍😍😍😍