Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.
Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.
Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keinginan yang muncul
… Luna…”
Genggaman Darian memang lembut, namun cukup erat untuk menahan tangan Queenora.
Nama itu, diucapkan dalam tidur, terasa seperti bisikan dari dimensi lain, sebuah mantra duka yang mengikat Darian pada masa lalu. Queenora menarik tangannya perlahan, hati-hati agar tidak membangunkan pria itu.
Sebuah sensasi aneh menjalar di kulitnya, bukan jijik, bukan kemarahan, hanya… kesadaran akan jurang yang masih membentang di antara mereka. Duka Darian untuk Luna adalah sebuah samudra yang tak bisa ia selami, dan Queenora, dengan segala lukanya sendiri, merasa seperti perahu kecil yang hanyut di tepian.
Quuenora bangkit, meregangkan tubuh yang kaku akibat tidur di lantai. Cahaya pagi yang lembut mulai menyusup melalui jendela, menerangi kamar Elios dengan nuansa keemasan.
Elios sendiri masih terlelap pulas, napasnya teratur dan damai, demamnya telah turun. Queenora menatapnya, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Keajaiban kecil, pikirnya, bagaimana seorang bayi bisa menyatukan dua jiwa yang begitu hancur. Ia memandang Darian yang masih tertidur di kursi goyang, selimut tipis yang tadi ia pakaikan masih melilit tubuh pria itu.
Wajah Darian, tanpa topeng dinginnya, terlihat jauh lebih muda, lebih rentan. Ada bekas air mata kering di pipinya, bukti kekhawatiran yang ia rasakan semalam.
Queenora membereskan selimut Elios, memastikan bayi itu nyaman. Ia memutuskan untuk ke dapur, membuatkan sarapan ringan untuk Darian, atau setidaknya secangkir teh hangat. Saat ia melangkah keluar, ia melirik Darian sekali lagi.
Sebuah kerinduan aneh muncul di hatinya, kerinduan untuk bisa memahami duka pria itu, untuk bisa menyentuh dan menyembuhkan luka yang begitu dalam, sama seperti Darian yang semalam nyaris menyentuh lukanya.
***
Darian terbangun beberapa saat kemudian, kepalanya terasa pusing dan lehernya kaku. Ia mengerjap, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya.
Ingatan akan malam yang panjang dan penuh kekhawatiran itu perlahan kembali. Elios. Demamnya. Dan Queenora, yang duduk di sampingnya sepanjang malam, menjadi pelabuhan terakhir bagi putranya. Ia teringat samar-samar saat Queenora menyelimutinya.
Lalu, ia merasakan sebuah kekosongan di tangannya. Ia ingat memegang tangan gadis itu dalam tidur. Sebuah rasa malu dan canggung menyerbu dirinya.
Pria itu segera bangkit, merapikan rambutnya yang berantakan. Elios masih tidur. Queenora tidak ada. Ia berjalan ke dapur, menemukan Queenora sedang menyiapkan teh. Aroma melati dan roti panggang memenuhi ruangan.
“Selamat pagi, Tuan,” sapa Queenora tanpa menoleh, suaranya tenang, seolah tidak ada yang terjadi semalam.
Darian berdeham, merasa tidak nyaman.
“Pagi. Elios… bagaimana?”
“Demamnya sudah turun, Tuan. Ia tidur nyenyak sekali,” jawab Queenora, menuangkan teh ke dalam cangkir.
“Tuan pasti lelah sekali. Duduklah, biar saya siapkan sarapan.”
Darian duduk di kursi, menatap punggung Queenora.
“Queenora, tentang semalam…”
Gadis itu menoleh, raut wajahnya datar.
“Iya, Tuan. Apa saya melakukan kesalahan semalam?”
“Tidak, bukan… maksudku, aku… aku minta maaf,” kata Darian, suaranya kaku, tidak terbiasa mengucapkan kata-kata seperti itu.
“Aku… aku tertidur dan…” Ia tidak tahu bagaimana melanjutkan. Memegang tangannya. Memanggil nama Luna. Semua terasa seperti pelanggaran dalam kontrak kerja mereka.
Queenora meletakkan cangkir teh di depannya.
“Tuan tidak perlu minta maaf. Kita berdua kelelahan. Elios membutuhkan kita.” Ia berhenti sejenak, menatap Darian lurus-lurus.
“Tapi jika boleh, ada satu hal yang ingin saya tanyakan, Tuan.”
Darian menelan ludah. Ia tahu ini akan datang. Pertanyaan tentang kebohongannya. Atau tentang Luna.
“Apa?”
“Saya tidak pernah takut pada kekayaan Tuan,” kata Queenora pelan, suaranya serius.
“Atau pada posisi Tuan. Tapi saya takut pada kemarahan Tuan. Pada penghakiman Tuan.” Ia mengambil napas dalam-dalam.
“Dan… saya harus tahu ini. Jujur. Apakah Tuan masih membenci Elios?”
Pertanyaan itu menghantam Darian seperti pukulan telak. Ia terdiam, matanya melebar karena terkejut.
Membenci Elios? Kata itu begitu kuat, begitu kejam. Tapi ia tidak bisa menyangkal bahwa di awal, ada semacam penolakan, rasa bersalah yang ia alihkan menjadi kemarahan pada bayi tak berdosa itu.
“Tidak,” jawab Darian, suaranya serak, nyaris tidak terdengar. Ia membuang pandangannya, menatap cangkir teh di depannya, uapnya mengepul.
“Tidak, Queenora. Aku… aku tidak membencinya.”
“Tapi Tuan tidak mencintainya, kan?” Queenora melanjutkan, nadanya lembut, tanpa penghakiman.
“Seperti yang seharusnya seorang ayah mencintai putranya.”
Darian mengepalkan tangannya di bawah meja. Pengakuan itu terasa seperti merobek lapisan kulitnya.
Itu adalah kebenaran yang paling gelap, yang paling memalukan, yang ia sembunyikan dari semua orang, bahkan dari dirinya sendiri. Tapi setelah malam yang panjang itu, setelah melihat Queenora rela begadang, kelelahan, hanya demi Elios… ia merasa ada sesuatu yang pecah dalam dirinya.
“Aku… aku mencintainya,” bisik Darian, suaranya pecah.
“Aku sangat mencintainya, Queenora.” Ia mengangkat kepalanya, matanya merah dan berkaca-kaca, menatap Queenora dengan kejujuran yang menelanjangi jiwanya.
“Tapi… tapi aku takut.”
Queenora mencondongkan tubuh sedikit.
“Takut apa, Tuan?”
“Takut kehilangan,” jawab Darian, sebuah emosi yang begitu mentah dan jujur keluar dari bibirnya.
“Luna… dia meninggal di hari Elios lahir. Aku… aku melihat Elios, dan aku melihat apa yang telah hilang. Aku melihat… kematian.” Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.
“Aku merasa bersalah, Queenora. Bersalah karena tidak bisa mencintai Luna sepenuhnya saat dia hidup. Bersalah karena merasa lega saat dia… pergi.” Kata-kata itu terasa seperti pisau yang mengoyak-ngoyak hatinya.
“Dan aku takut. Takut jika aku mencintai Elios dengan sepenuh hatiku, takdir akan mengambilnya dariku juga. Aku… aku tidak akan sanggup hidup lagi.”
Queenora mendengarkan dengan hatinya terasa teremas. Pria di depannya bukan lagi majikan yang dingin, bukan lagi penghakim yang angkuh.
Pria itu hanya seorang ayah yang terluka, seorang suami yang dihantui rasa bersalah, seorang manusia yang dilumpuhkan oleh ketakutan yang sama dalamnya dengan dirinya. Ia melihat dirinya di mata Darian bayangan duka yang menolak untuk pergi.
“Tuan,” kata Queenora lembut, mengulurkan tangannya di atas meja, hampir menyentuh tangan Darian.
“Mencintai seseorang, itu berarti berani mengambil risiko untuk terluka. Tapi juga berarti berani menerima kebahagiaan. Elios tidak ingin Tuan hidup dalam ketakutan. Dia hanya ingin Tuan mencintainya. Dia membutuhkan Tuan.”
Darian menatap tangannya yang hampir menyentuh tangan Queenora, lalu ke mata gadis itu. Di sana, ia melihat bukan penghakiman, melainkan pemahaman.
Sebuah pemahaman yang begitu mendalam, seolah Queenora telah merasakan setiap kata yang ia ucapkan. Air mata yang selama ini ia tahan, kini mengalir tak terbendung di pipinya. Ia tidak peduli. Ia hanya menunduk, membiarkan air mata itu membasahi cangkir tehnya.
Queenora tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya membiarkan Darian mengeluarkan semua yang selama ini ia pendam.
Keheningan di antara mereka kali ini terasa berbeda, bukan lagi dinding yang memisahkan, melainkan ruang yang dipenuhi empati dan pengertian.
Setelah beberapa saat, Darian mengangkat kepalanya, menyeka air matanya dengan punggung tangan.
“Terima kasih,” bisiknya, suaranya masih serak.
“Terima kasih sudah… mendengarkan.”
Queenora tersenyum kecil.
“Sama-sama, Tuan.”
“Dan… tentang kehamilanmu,” Darian mulai lagi, nadanya jauh lebih lembut, penuh penyesalan.
“Aku minta maaf atas kata-kataku waktu itu. Aku… aku tidak seharusnya menghakimu.”
Queenora mengangguk.
“Tidak apa-apa, Tuan. Saya mengerti. Saya juga… saya juga minta maaf karena tidak jujur sepenuhnya.”
Sebuah ganjalan besar di antara mereka seolah terangkat. Udara di dapur terasa lebih ringan, lebih bersih.
“Elios… dia sangat menyukaimu,” kata Darian, mengalihkan pandangannya ke jendela, sebuah senyum tipis akhirnya muncul di wajahnya.
“Aku belum pernah melihatnya sebahagia itu.”
“Dia anak yang baik, Tuan,” sahut Queenora, hatinya menghangat.
“Dia hanya butuh banyak cinta.”
“Dia memang butuh,” Darian mengangguk. Ia menatap Queenora, sebuah ide melintas di benaknya.
“Aku… aku punya kolam kecil di belakang rumah. Biasanya Elios belum pernah kesana, apa kau mau mengajak dia bersamamu.”
Queenora menatap Darian, matanya berbinar.
“Tuan mengizinkan saya?” Ini adalah sebuah langkah besar. Sebelumnya, Darian sangat membatasi interaksi Queenora dengan Elios di luar menyusui dan merawat dasar.
“Tentu saja,” jawab Darian, senyumnya kini lebih lebar, lebih tulus.
“Elios perlu bermain. Dan aku… aku ingin melihatnya bahagia.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Aku ingin melihat kalian bahagia."
***
Beberapa jam kemudian, Queenora dengan hati-hati membawa Elios yang sudah berpakaian renang mungil ke tepi kolam kecil di belakang rumah. Air kolam tampak berkilauan di bawah sinar matahari pagi. Elios, yang biasanya rewel saat didekatkan ke air, kini tertawa-tawa dalam pelukan Queenora.
Darian berdiri agak jauh, di bawah naungan pergola, berpura-pura membaca laporan di ponselnya. Namun, matanya tak bisa lepas dari pemandangan di depannya. Queenora, dengan senyum lebar yang belum pernah ia lihat sebelumnya, perlahan menurunkan Elios ke dalam air yang dangkal. Percikan kecil membasahi wajahnya, tapi Queenora tidak peduli. Ia tertawa bersama Elios, menciumi pipi bayi itu, dan mengajarinya menepuk-nepukkan air.
Darian melihat bagaimana Elios, yang semalam begitu sakit dan lemah, kini berseri-seri di tangan Queenora. Tawa Elios yang nyaring, suara cekikikan Queenora yang lepas, semua itu adalah melodi baru yang mengisi rumah yang selama ini sunyi. Ia melihat bagaimana cahaya matahari memantul di rambut Queenora yang basah, bagaimana kebahagiaan murni terpancar dari setiap gerakannya.
Sebuah perasaan aneh merayapi hati Darian, bukan lagi duka, bukan lagi ketakutan akan kehilangan, melainkan… kehangatan. Kehangatan yang begitu kuat, begitu menenangkan, yang perlahan mulai mencairkan es yang membekukan hatinya selama ini.
Ia menurunkan ponselnya, sepenuhnya melupakan laporan yang ia pegang. Pandangannya tidak lagi tertuju pada Elios saja, melainkan pada Queenora. Pada kebahagiaan gadis itu yang menular, yang membanjiri seluruh area kolam itu.
Sebuah pikiran melintas di benaknya, sebuah kesadaran yang tajam dan tak terduga.
Dia… dia pantas mendapatkan ini. Dia pantas mendapatkan kebahagiaan ini.
Dan saat Darian menatap senyum Queenora yang begitu cerah, begitu bebas di bawah sinar matahari, ia menyadari bahwa kebahagiaan itu… entah mengapa, terasa seperti miliknya juga. Ia tiba-tiba ingin… ingin melangkah lebih dekat. Ingin merasakan percikan air itu di wajahnya.
Ingin menjadi bagian dari tawa itu. Ia ingin… Ia ingin… sebuah keinginan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sebuah keinginan yang begitu kuat, begitu menariknya, hingga ia tanpa sadar melangkah maju, kakinya bergerak sendiri, seolah ditarik oleh kekuatan tak terlihat menuju tepi kolam, menuju sumber kebahagiaan itu, seolah… seolah ada sesuatu yang kini harus ia kejar, sesuatu yang kini harus ia miliki, sesuatu yang harus ia dekap...