NovelToon NovelToon
Duka Yang Ternoda

Duka Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Janda / Obsesi / Keluarga / Trauma masa lalu / Penyelamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Lampu neon koridor rumah sakit berpijar dingin, saksi bisu kembalinya Swari ke ruang perawatan dengan kondisi yang lebih memprihatinkan dari sebelumnya.

Dokter Ramlan berdiri di depan pintu ICU dengan raut wajah murka sekaligus kecewa.

"Anda semua gila!" bentak Dokter Ramlan sambil menunjuk selang infus Swari yang tercabut dan rembesan darah di kain bajunya.

"Pasien ini baru saja melalui prosedur drainase infeksi dan gagal napas. Membawanya keluar dalam kondisi seperti ini sama saja dengan melakukan percobaan pembunuhan!"

Baskara hanya diam dan membiarkan perawat mengambil alih kursi roda Swari untuk dibawa kembali ke dalam. Namun, begitu pintu ICU tertutup, sebuah hantaman keras mendarat di rahang Baskara.

BUGH!

Tubuh Baskara tersungkur menghantam deretan kursi tunggu plastik.

Navy berdiri di sana dengan napas memburu, tangan kanannya mengepal kuat hingga gemetar.

"Bajingan kau, Baskara!" raung Navy.

Ia melangkah maju, mencengkeram kerah kemeja Baskara yang sudah berlumuran debu dan air mata, lalu mengangkatnya paksa.

"Selama ini aku menghormatimu sebagai investor, sebagai pria yang menyelamatkan adikku di Puncak! Tapi ternyata kau adalah binatang yang menghancurkan hidupnya!"

BUGH!

Satu pukulan lagi mendarat di perut Baskara. Baskara tidak melawan.

Ia bahkan tidak mencoba melindungi wajahnya. Ia menerima setiap hantaman Navy seolah itu adalah obat bagi rasa bersalahnya.

"Pukul lagi, Mas," bisik Baskara parau dengan sudut bibir yang pecah.

"Hancurkan aku. Aku pantas mendapatkannya."

Navy yang sudah kalap kembali menarik tangan untuk melayangkan pukulan ketiga, namun sebuah suara lemah namun tajam menghentikannya.

"Mas Navy, sudah, Mas..."

Swari terlihat dari balik kaca kecil pintu ICU, ia berusaha duduk di atas brankar nya meski dicegah oleh dua perawat.

Matanya yang sayu menatap Navy dengan permohonan yang dalam.

"Jangan kotori tanganmu untuk pria seperti dia, Mas," ucap Swari, suaranya terdengar melalui interkom ruangan.

"Biarkan dia hidup. Karena mati atau masuk penjara terlalu mudah baginya. Aku ingin dia melihat setiap hari bagaimana lukaku berdarah karena perbuatannya. Itu adalah hukuman yang jauh lebih kejam."

Navy perlahan melepaskan cengkeramannya dan menatap Baskara dengan jijik sebelum akhirnya berbalik membelakangi pria itu.

Beberapa jam kemudian ruang perawatan VIP itu sunyi, hanya diisi oleh suara halus monitor jantung yang kini nadanya lebih stabil.

Swari telah dipindahkan dari ICU setelah masa kritisnya lewat pasca pelariannya ke kantor polisi. Namun, wajahnya masih sepucat pualam, kontras dengan seprai putih yang menyelimutinya.

Baskara duduk di kursi samping ranjang dengan penampilannya yang berantakan.

Sudut bibirnya membiru dan bengkak akibat pukulan Navy, kemejanya kusut, dan matanya merah karena kurang tidur dan air mata.

Ia tidak berani melepaskan genggaman tangannya pada jemari Swari, seolah jika ia melepasnya sedetik saja, wanita itu akan hilang lagi selama enam tahun.

"Aku minta maaf, Swa," bisik Baskara untuk kesekian kalinya.

Suaranya pecah, sarat dengan beban dosa yang kini ia pikul secara terbuka.

"Aku tahu kata maaf adalah hal paling tidak berguna di dunia ini sekarang."

Swari membuka matanya perlahan sambil menatap Baskara dengan pandangan yang sulit diartikan antara benci, luka, tapi ada juga keterikatan yang aneh.

Ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Baskara, sebuah gerakan kecil yang terasa seperti tamparan bagi pria itu.

"Jangan menyentuhku dengan tangan yang sama yang menyumpal mulutku malam itu, Bas," desis Swari pelan.

Setiap kata yang keluar terasa seperti belati yang menusuk dada kiri Swari yang masih dibalut perban pasca operasi.

Baskara tersentak, ia menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh api.

"Swa..."

"Kamu bilang kamu ingin menebus dosa? Baiklah,"

Swari menoleh, menatap lurus ke dalam mata elang Baskara yang kini redup.

"Jangan pergi ke polisi. Itu terlalu mudah bagimu. Kamu akan punya waktu tenang di sana. Aku ingin kamu tetap di sini. Aku ingin kamu melihat anak-anakmu tumbuh, dan setiap kali kamu melihat Alex, aku ingin kamu ingat betapa kejinya kamu pada ibunya."

Baskara menundukkan kepala, membiarkan air matanya jatuh ke atas tangannya sendiri.

"Aku akan melakukannya. Aku akan menjadi bayanganmu, pelayanmu, apa pun yang kamu minta. Tapi tolong, jangan biarkan kebencian ini membunuhmu, Swa. Dokter bilang tumor itu, kita masih menunggu hasil biopsi."

"Kalau itu tumor ganas, mungkin itu adalah caraku untuk lepas darimu, Bas," jawab Swari dingin, meski air matanya mengalir membasahi bantal.

Swari memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap langit Jakarta yang mendung, namun pikirannya terbang jauh ke sebuah apartemen sempit di pinggiran Toronto enam tahun yang lalu.

Suaranya bergetar, bukan karena takut, tapi karena rasa sakit yang akhirnya meledak setelah sekian lama dipendam sendiri.

"Kamu jahat, Bas..." bisik Swari, air matanya kini mengalir deras, membasahi bantal rumah sakit yang dingin.

"Apa kamu tahu bagaimana rasanya mengandung dua nyawa dalam kondisi jiwamu sudah mati? Setiap pagi aku terbangun dengan rasa mual yang hebat, memuntahkan cairan kuning karena perutku kosong."

Baskara terdiam, tubuhnya kaku seolah ia baru saja dikutuk menjadi batu.

"Aku bekerja di sebuah kedai kopi kecil sebagai tukang cuci piring hanya agar aku bisa mendapatkan sisa makanan dari piring pembeli yang tidak habis. Itulah yang aku makan untuk memberi nutrisi pada anak-anakmu di dalam perutku," ucap Swari terisak.

"Aku mengumpulkan koin demi koin dari tip yang jatuh di lantai hanya untuk membayar pemeriksaan kandungan yang sangat mahal di sana. Aku sendirian, Bas! Di tengah badai salju, aku berjalan kaki ke rumah sakit karena tidak punya uang untuk naik bus!"

Baskara jatuh berlutut di samping tempat tidur. Ia menyembunyikan wajahnya di kasur, tangannya mencengkeram kain seprai hingga urat-urat di lengannya menonjol.

Setiap kata Swari seperti cambuk yang menguliti harga dirinya.

"Aku benci saat Alex lahir dan dia memiliki mata yang persis sepertimu," lanjut Swari dengan napas yang tersengal.

"Setiap kali aku melihatnya, aku diingatkan pada malam hitam itu. Tapi di saat yang sama, dialah satu-satunya alasanku untuk tidak melompat dari balkon apartemen. Dan sekarang kamu datang dengan segala hartamu, mencoba membeli masa lalu yang sudah hancur?"

Baskara mendongakkan kepalanya dengan wajahnya yang biasanya angkuh kini hancur total.

Ia tidak peduli lagi pada martabatnya sebagai pemimpin BSG. Dengan keberanian yang tersisa dari rasa malunya, ia bergerak maju.

"Swa, kumohon..."

Tanpa menunggu izin, Baskara merengkuh tubuh Swari yang rapuh.

Ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya yang sangat erat, seolah-olah ia sedang mencoba menyatukan kembali kepingan jiwa Swari yang pecah melalui detak jantungnya sendiri.

"Maafkan aku, Swa." tangis Baskara pecah di bahu Swari.

Ia mendekapnya dengan sangat hati-hati, takut menyakiti luka di dada kiri Swari, namun juga sangat posesif.

"Aku pengecut. Aku binatang. Seharusnya aku yang kelaparan di jalanan itu, bukan kamu. Seharusnya aku yang mati di badai salju itu, bukan kamu yang berjuang sendiri."

Swari awalnya mencoba mendorong dada Baskara dengan tangannya yang lemah, namun kehangatan tubuh pria yang sama yang dulu ia benci namun secara tidak sadar selalu ia rindukan untuk melindungi anak-anaknya, membuat pertahanannya runtuh.

Swari akhirnya mencengkeram kemeja Baskara, menyembunyikan wajahnya di leher pria itu, dan meraung sekeras-kerasnya.

Ia melepaskan semua beban enam tahun di Toronto, semua rasa lapar, semua kesepian, dan semua dendam yang membeku.

Baskara terus memeluknya, membiarkan bajunya basah oleh air mata dan sisa infeksi dari luka Swari.

"Jangan pernah pergi lagi, Swa. Pukul aku, injak aku, ambil semua hartaku, tapi biarkan aku menebus setiap detik rasa laparmu dulu dengan seluruh sisa hidupku."

Di balik pintu kaca, Navy dan Ratri hanya bisa terpaku.

Mereka melihat bagaimana dua jiwa yang saling menghancurkan itu kini sedang mencoba saling menyembuhkan dalam sebuah pelukan yang penuh duka.

1
Esti 523
lha ko bisa masuk rumah
kymlove...
sebagus ini kenapa sepi



kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor
my name is pho: terima kasih sudah mampir kak🥰
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kaka aku mampir 🤗
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!