Sinopsis:
Choi Daehyun—penyanyi muda terkenal Seoul yang muncul kembali setelah 5 tahun menghindari dunia hiburan.
“Aku hanya ingin memintamu berfoto denganku sebagai kekasihku,” kata Choi Daehyun pada diriku yang di depannya.
Namaku Sheryn alias Lee Hae-jin—gadis blasteran Indonesia-Korea yang sudah mengenali Choi Daehyun sejak awal, namun sedikit pun aku tidak terkesan.
Aku mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu, lalu berkata, “Baiklah, asalkan wajahku tidak terlihat.”
Awalnya Choi Daehyun tidak curiga kenapa aku langsung menerima tawarannya. Sementara aku hanya bisa berharap aku tidak akan menyesali keputusanku terlibat dengan Choi Daehyun.
Hari-hari musim panas sebagai “kekasih” Choi Daehyun dimulai. Perubahan rasa itu pun ada. Namun aku ataupun Choi Daehyun tidak menyadari kebenaran kisah lima tahun lalu sedang mengejar kami.
🌸𝐃𝐈𝐋𝐀𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐊𝐄𝐑𝐀𝐒 𝐂𝐎𝐏𝐘
🌸𝐊𝐀𝐑𝐘𝐀 𝐀𝐒𝐋𝐈 𝐀𝐔𝐓𝐇𝐎𝐑/𝐁𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐏𝐋𝐀𝐆𝐈𝐀𝐓
🌸𝐇𝐀𝐏𝐏𝐘 𝐑𝐄𝐀𝐃𝐈𝐍𝐆
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Olivia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Aku terkejut. Astaga! Lagi-lagi aku mengambil ponsel yang salah. Aku memutar kepala ke sekeliling ruangan dan melihat ponselku tergeletak di meja makan. Bagaimana ini?
“Oh... Benar, ini memang ponsel Choi Daehyun,” kataku agak gugup.
“Akan saya panggilkan dia.”
Wanita di ujung sana tiba-tiba menahannya. “Tunggu sebentar. Anda ini nona yang ada di foto bersama Daehyun itu, ya?”
Aku menahan napas dan berpaling ke arah tangga, berharap Jung Tae-Woo segera muncul.
“Anu... saya...” Aku sungguh tidak tahu apa yang harus kukatakan. Aku tidak pernah diberitahu bagaimana cara menghadapi orang-orang yang menanyakan hubunganku dengan Choi Daehyun.
“Tidak apa-apa,” suara wanita itu berubah ramah.
“Aku ibu Choi Daehyun.”
Astaga! Ibunya? Pengetahuan ini malah membuatku panik.
“Ah, apa kabar, Bibi?” kataku berusaha terdengar tenang meski sebenarnya aku bergerak-gerak gelisah. Kemudian aku menutup ponsel dengan tangan dan berseru memanggil Daehyun dengan suaraku yang masih sedikit serak.
“Choi Daehyun ssi!”
Aku kembali menempelkan ponsel ke telinga dan berkata, “Sebentar lagi Choi Daehyun ssi akan turun.”
Ibu Choi Daehyun tertawa pelan. “Senang sekali bisa mendengar suaramu walaupun Daehyun belum memperkenalkan kita. Dasar anak itu. Tadi kau bilang namamu Lee Hae-jin, bukan? Kedengarannya kau sedang flu. Kau tidak apa-apa?”
“Oh, saya tidak apa-apa.” Tepat pada saat itu aku melihat Choi Daehyun menuruni tangga, aku cepat-cepat berlari ke arah laki-laki itu.
“Choi Daehyun ssi sudah di sini. Silakan Anda bicara dengannya,” kataku di telepon, lalu menyodorkan ponsel ke Daehyun.
Choi Daehyun menerima ponsel itu dengan bingung. “Siapa?”
“Ibumu,” bisikku panik.
Daehyun mengangkat alis karena terkejut dan menjawab telepon. “Halo, Ibu?”
Lalu tiba-tiba ia menjauhkan ponsel dari telinganya. Bahkan aku bisa mendengar suara ibu Choi Daehyun yang berteriak keras.
Akhirnya Choi Daehyun menempelkan ponsel kembali ke telinga dan berkata, “Bukannya aku tidak mau menceritakannya pada Ayah dan Ibu, hanya saja menurutku… Aku tahu… Apa? Aku di rumah. Ya, baiklah. Akan ku jelaskan kepada Ayah nanti. Apa? … Dia?”
Aku agak bingung ketika laki-laki itu menatapku.
“Sebentar,” kata Choi Daehyun, lalu mengulurkan ponsel ke aku. Aku menatap Choi Daehyun dan ponsel itu bergantian.
“Ibuku mau bicara denganmu,” kata Choi Daehyun sambil meletakkan ponsel ke tanganku.
“Tidak apa-apa.”
Aku menggigit bibir dan menatap Choi Daehyun. Kemudian aku menempelkan ponsel itu ke telinga dan menyapa ibu Choi Daehyun lagi. Aku mendengarkan perkataan wanita yang lebih tua itu sebentar sambil mengangguk-angguk dan sesekali berkata
“baik” dan “saya mengerti”. Akhirnya ia mengucapkan “sampai jumpa” dan menutup ponsel.
“Ibuku bilang apa?” tanya Choi Daehyun ketika aku mengembalikan ponselnya.
Aku balas bertanya, “Apa yang kau katakan pada ibumu tentang aku?”
“Aku bahkan belum sempat mengatakan apa-apa,” jawab Choi Daehyun.
“Ayahku melihat foto-foto kita di internet dan ibuku menelepon untuk menanyakan kebenarannya.”
Aku hanya mengangguk-angguk. “Oh, foto-foto kita ada di internet juga?”
“Lalu ibuku bilang apa padamu?” tanya Choi Daehyun lagi.
Aku tersenyum. “Katanya aku harus mengawasi makanmu karena kau sering lupa makan kalau sudah sibuk bekerja. Katanya aku harus banyak bersabar kalau menghadapimu, apalagi kalau kau sedang uring-uringan. Katanya sebenarnya kau anak yang baik dan tidak akan membuatku kecewa. Ibumu juga bilang ingin bertemu denganku dan memintamu membawaku ke Amerika untuk menemuinya.”
Choi Daehyun mengerang. “Cerewet sekali. Kenapa ibuku begitu baik padamu? Padaku tadi dia malah berteriak-teriak.”
Aku mengangkat bahu. “Mungkin ibumu lebih suka anak perempuan. Hei, kalau tidak salah, ibumu penulis buku, ya? Aku pernah membaca salah satu bukunya dan aku suka sekali. Ibumu benar-benar berpikir aku pacarmu, ya? Wah, hebat.”
Choi Daehyun tidak mengacuhkan kata-kataku dan bertanya, “Kenapa kau menjawab teleponku?”
Aku berdeham dan menjawab, “Kupikir ponselku yang berbunyi. Tadi kan memang ada yang meneleponku. Sewaktu ponselmu berbunyi, kukira dia menelepon lagi. Sudah kubilang kau harus mengganti nada deringmu.”
“Siapa yang menelepon?”
“Teman,” sahutku sambil memalingkan wajah.
“Oh, coba lihat. Sudah waktunya makan siang. Pantas saja aku mulai lapar. Kau juga belum makan, kan?”
Choi Daehyun berkacak pinggang dan menunduk menatap lantai. Kemudian ia mengangkat kepala dan berkata, “Kalau begitu, kita pergi makan di luar saja.”
“Hei, kau mau kita berdua dilihat orang? Kau mau membuat hidupku susah?” tanyaku.
“Lalu bagaimana?”
“Kita pesan pizza saja,” usulku cepat.
“Sudah lama aku tidak makan pizza. Oke?”
“Sakit tenggorokan malah mau makan pizza?” tanya Choi Daehyun.
“Kau makan bubur saja.”
“Tenggorokanku sudah sembuh,” protesku.
.
.
.
.
.
“Kapan kau akan membawaku menemui ibumu?”
Daehyun mengangkat kepala dan menatap gadis yang sedang menggigit potongan pizza di hadapannya itu dengan kaget.
Lalu aku tertawa dan berkata, “Bercanda. Tidak usah bingung begitu.”
Daehyun kembali memakan pizza-nya tanpa berkata apa-apa.
“Bulan lalu sewaktu kau ke Amerika, apakah kau pergi untuk mengunjungi orangtuamu?” tanyaku sambil lalu.
“Bagaimana kau bisa tahu aku pergi ke Amerika bulan lalu?” Daehyun balik bertanya.
Aku mengedikkan bahu. “Semua orang juga tahu,” kataku.
“Di masa sekarang ini, tidak ada yang bisa disembunyikan selebriti. Orang-orang punya banyak cara untuk mencari tahu. Dari hal-hal yang mendasar, misalnya soal ibumu yang penulis, ayahmu komponis, dan soal mereka tinggal di Amerika Serikat, sampai ukuran bajumu dan jam berapa kau tidur di malam hari.”
“Benarkah?” Daehyun tersenyum dan menambahkan, “Jadi menurutmu tidak ada yang tidak diketahui orang-orang tentang aku?”
Aku terdiam sebentar untuk berpikir. Lalu, “Eh, ada,” kataku tegas.
“Apa?”
Aku tersenyum bangga dan menjawab, “Orang-orang tidak tahu kau mengenalku.”
Entah kenapa aku bisa melihat senyuman di wajah Daehyun. Manis juga. Eh- apa yang ku pikirkan sih.
“Ada yang ingin kutanyakan padamu,” kata Daehyun tiba-tiba. Aku menatapnya, menunggu kata-katanya.
“Aku ingin tahu siapa orang yang meneleponmu tadi,” kata Daehyun.
Ia melihat raut wajahku berubah maka ia cepat-cepat menambahkan, “Jangan katakan lagi dia itu teman dan jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan.”
Aku membuka mulut dan menutupnya kembali. Sepertinya Daehyun menyadari aku sedang bimbang.
“Dia mantan pacarmu yang pernah kau ceritakan?” tanya Daehyun hati-hati.
Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya. Lalu aku mengangguk. Daehyun tiba-tiba merasa tidak bersemangat. Ia bertanya lagi, “Untuk apa dia meneleponmu lagi setelah apa yang dilakukannya padamu?”
Aki mengangkat bahu. “Entahlah. Aku juga tidak mengerti. Dia hanya mengajak ngobrol, makan, dan hal-hal kecil seperti itu.”
Daehyun tidak menyadari suaranya bertambah keras. “Lalu kenapa kau masih mau menemuinya?”
Aku sampai menatapnya heran. “Kurasa aku… aku… entahlah.”
Daehyun bisa melihatku agak bingung menjawab pertanyaannya.
“Lagi pula… memangnya setelah berpisah harus bermusuhan?” kataku akhirnya.
“Sampai sekarang… kau masih menyukainya?” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Daehyun tanpa ku perkirakan. Lalu tanpa disadarinya, aku melihat tubuhnya menegang menunggu jawabanku.
Aku terlihat ragu-ragu, lalu akhirnya menjawab, “Mungkin.”
“Apa?”
Aku menatapnya dengan agak bingung. “Mungkin,” kataku sekali lagi.
“Mungkin aku memang masih punya perasaan terhadapnya. Entahlah.”
Entah kenapa aku merasa mendadak Daehyun merasa susah bernapas. Matanya tertuju ke meja tapi tatapannya kosong. Pikirannya juga kosong. Lalu ia mendengar suaraku lagi.
“Ini masalah pribadiku dan tidak ada hubungannya denganmu dan Paman. Tidak perlu cemas. Aku berjanji tidak akan mengatakan apa pun mengenai kalian berdua pada orang itu. Aku orang yang bisa membedakan masalah pribadi dengan pekerjaan.”
Daehyun tertawa masam. “Begitu?”
“Ada yang ingin kutanyakan padamu,” kataku tiba-tiba.
Daehyun menatap wajah gadis itu berubah serius, “Apa?”
Aku tidak menatap Daehyun, tapi memandang pizza di tangannya. “Kejadian empat tahun lalu… Bisa kau ceritakan?”
Daehyun tertegun. Ia pasti tidak menyangka aku akan menanyakan hal itu. Aku meliriknya sekilas dan menambahkan, “Aku hanya ingin mendengar ceritanya dari sisimu… kalau kau tidak keberatan.”
Entah kenapa aku bisa melihat Daehyun merasa agak gelisah. Mungkin sampai sekarang ia masih belum bisa melupakan kejadian tersebut. Kecelakaan yang seakan-akan baru terjadi kemarin.
“Apa yang ingin kau ketahui?”
“Semuanya.”
Daehyun menarik napas dalam-dalam. Pandangannya menerawang. Kata-katanya meluncur pelan dan datar. “Saat itu acara sudah berakhir. Hujan turun. Aku sudah berada di dalam mobil yang menunggu di pintu utama. Para penggemar masih berkerumun di sekeliling mobilku."
"Mereka berteriak-teriak, berdesak-desakan. Sopirku nyaris tidak bisa menjalankan mobil. Para petugas keamanan juga kewalahan membuka jalan agar mobil bisa lewat. Akhirnya mereka berhasil menahan para penggemar. Mobil pun mulai bergerak. Pelan, tidak cepat, karena aku masih melambaikan tangan kepada para penggemar. Lalu hal itu terjadi begitu saja.”
Daehyun mengernyitkan dahi mengingat saat-saat itu.
“Mobil direm mendadak. Ketika aku bertanya pada sopirku apa yang terjadi, dia berkata salah seorang penggemarku tertabrak. Seperti mimpi buruk. Semua orang jadi panik dan gadis itu cepat-cepat dilarikan ke rumah sakit. Kami tidak diizinkan melihatnya karena dokter harus melakukan pemeriksaan di ruang gawat darurat."
“Aku sendiri tidak tahu pasti bagaimana kejadian sesungguhnya, tapi menurut beberapa saksi mata, para penggemar saling mendesak dan gadis ini terdorong jatuh ke depan tepat ketika mobilku lewat. Walaupun mobil tidak melaju kencang, kepala gadis itu membentur aspal sehingga…”
Daehyun mendengar napasku tersentak. Namun ketika mengangkat wajah, ia melihatku mengangguk kecil, meminta Daehyun melanjutkan cerita. Apa yang ada dalam benak gadisku? Pasti Daehyun ingin tahu.
Masih dengan agak enggan, Tae-Woo melanjutkan, “Kudengar gadis itu bukan dari Seoul. Ia datang dari jauh untuk… Aku bahkan tidak sempat menjenguknya di rumah sakit karena ia langsung dibawa pulang entah ke mana. Kami hanya bisa menyampaikan ucapan turut berdukacita melalui media.”
Aku hanya diam.
“Bagaimana menurutmu?”
Aku tersentak dari lamunan. “Eh, apa?”
“Bagaimana menurutmu?” ulang Daehyun.
“Oh… entahlah… tapi kurasa… kau tidak salah.”
Daehyun pasti menduga aku gugup karena tidak tahu apa yang harus dikatakan setelah mendengar cerita itu. Tapi Daehyun pasti merasa sikap itu lebih baik daripada berpura-pura memahami perasaannya.