NovelToon NovelToon
Menikahi Gadis Badung

Menikahi Gadis Badung

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Paksaan Terbalik / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Roman-Angst Mafia / Gadis nakal / Tamat
Popularitas:267.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Menikah karena kecelakaan? Akay tak pernah membayangkan hidupnya berubah setelah menabrak nenek Aylin—dan menerima syarat gila: menikahi cucunya yang suka tawuran dan balapan liar.
Perjanjiannya jelas: jika Akay menceraikan Aylin, ia harus bayar seratus miliar. Tapi jika Aylin yang minta cerai, seluruh warisan neneknya jadi milik Akay.

Setelah sang nenek meninggal, Aylin kabur. Ia hidup bebas di jalanan, menantang maut di lintasan balap ilegal. Tapi takdir mempertemukan mereka lagi—dan Aylin menawar hidup masing-masing meski tetap menikah.

Namun Akay punya rencana lain. Saat bahaya mengintai dan perasaan mulai tumbuh, keduanya harus memilih: bertahan dalam pernikahan pura-pura, atau menghadapi kenyataan bahwa mungkin... cinta datang dari arah yang tak pernah mereka duga.

Akankah pernikahan ini tetap menjadi perjanjian konyol? Atau berubah menjadi cinta yang berani menerobos batas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Menyenangkan dan Menyebalkan

Aylin menatapnya curiga. Nada suara pria itu terdengar terlalu berbahaya. "Tugas istri itu… euh…," dia berpikir sejenak, berusaha mencari jawaban yang bisa menyudahi pembicaraan ini dengan cepat. "Pokoknya bukan cuci piring atau bersihin meja. Itu tugas ART!"

Akay mengangguk pelan, masih dengan seringai misteriusnya. "Baiklah, kalau bukan beres-beres, berarti tugas istri yang lain?"

Aylin menatapnya dengan ekspresi semakin waspada. "Apa maksudmu?"

Akay bersandar ke meja, mendekatkan wajahnya sedikit. "Ya, tugas istri. Yang lebih… spesifik." Suaranya rendah, dalam, penuh penekanan.

Aylin langsung mundur dengan wajah memerah. "Kamu mesum, ya?! Maksudmu yang kayak di drama-drama gitu? Mimpi aja!" serunya panik.

Akay tertawa kecil, menikmati bagaimana wajah gadis itu berubah merah padam. "Kamu sendiri yang bilang tugas istri bukan beres-beres. Aku cuma memastikan, siapa tahu kamu tiba-tiba sadar kewajiban," katanya dengan nada menggoda.

Aylin mendengus, lalu melipat tangan di dada dengan ekspresi kesal. "Dengarkan aku baik-baik, Tuan Akay Riandi. Aku nggak akan melakukan ‘tugas istri’ dalam bentuk apa pun!"

Akay hanya terkekeh, lalu berdiri dari kursinya. "Baiklah," ujarnya santai, lalu meraih piring kotor di hadapannya. "Kalau gitu, aku juga nggak akan menjalankan tugas suami."

Aylin mengerutkan dahi. "Tugas suami?"

Akay menoleh, menatapnya sambil mengangkat bahu. "Ya, seperti… menafkahi istri, membiayai kebutuhannya, atau bahkan memastikan dia punya tempat tinggal yang nyaman," katanya dengan nada santai, lalu beranjak ke wastafel.

Aylin melongo, baru sadar ke mana arah pembicaraan ini. "Hei! Aku 'kan masih jadi istrimu! Kamu nggak bisa tiba-tiba berhenti menjalankan tugas suami!"

Akay terkekeh. "Oh? Tapi kamu juga menolak tugas istri. Adil, 'kan?" katanya sebelum mulai mencuci piring dengan santai.

Aylin mendengus kesal, menatap pria itu dengan penuh amarah. "Dasar menyebalkan!" gerutunya, sebelum akhirnya bangkit dengan wajah merengut dan mulai mengumpulkan piring kotor.

Akay tersenyum menang, menikmati kemenangan kecilnya malam ini.

Beberapa menit kemudian, Aylin mengerutkan kening, tangannya masih sibuk mencuci piring saat sesuatu terlintas di kepalanya.

"Tunggu... Kenapa aku harus takut kalau dia nggak menjalankan tugasnya sebagai suami?" pikirnya. "Menafkahi? Sudah. Membiayai kebutuhanku? Sudah. Memberi tempat tinggal yang nyaman? Jelas sudah! Bahkan tanpa dia repot-repot bertindak sebagai suami, aku tetap mendapatkan semuanya."

Rahang Aylin mengeras. "Terus kenapa aku jadi tulalit tiap kali bareng dia? Kenapa aku selalu GeEr kalau dia bilang sesuatu?"

Matanya membelalak saat kesadaran menghantamnya telak. "Sial! Aku baru saja melakukan apa yang dia suruh! Bukan cuma beresin meja makan, sekarang aku malah cuci piring segala! Dasar bodoh, Aylin! Kamu ini apa? Robot yang bisa disuruh-suruh seenak jidat?"

Ia menghela napas kasar, meletakkan piring terakhir dengan sedikit hentakan di rak piring, lalu mengusap wajahnya sendiri dengan frustrasi.

Akay, yang sejak tadi bersandar di meja dapur dengan tangan terlipat, menyaksikan semua itu dalam diam. Mulai dari ekspresi kosong Aylin, alis yang bertaut, lalu perubahan drastis ketika gadis itu tampak marah... entah pada siapa, mungkin pada dirinya sendiri.

Sudut bibirnya sedikit terangkat. "Kenapa? Menyesal sudah nurut?" tanyanya santai.

Aylin menoleh dengan tatapan tajam. "Aku lagi marah sama diriku sendiri, jangan ikut-ikutan!"

Akay tertawa kecil, tak terpengaruh. "Aku sih nggak nyuruh kamu buat GeEr. Itu murni kesalahanmu sendiri."

Aylin mendengus kesal. "Sial! Dasar cabai setan!" gumamnya, lalu buru-buru pergi sebelum otaknya semakin kusut karena pria menyebalkan itu.

Tapi.

Aylin menghentikan langkahnya secara refleks saat mendengar teriakan Akay. "Bau kencur! Kamu menggemaskan saat marah."

Matanya membulat sesaat sebelum ia menoleh dengan percaya diri. "Baru tahu kalau aku menggemaskan, hah?" Bibirnya membentuk senyum penuh kemenangan.

Namun sebelum ia bisa menikmati momen itu lebih lama, Akay melanjutkan dengan nada santai, "Sayangnya, kamu cuma hiburan buatku."

Senyum Aylin seketika kaku. "Hah?"

Otaknya langsung memproses kata-kata itu dengan cepat. Hiburan? Hanya hiburan?!

"Arrrgh, sial! Kenapa aku selalu ke-GeEr-an tiap kali dia ngomong?" Aylin merutuki dirinya sendiri. "Kenapa otakku langsung berpikir positif kalau dia memuji?"

Rahangnya mengatup, lalu ia mendengus, berusaha menutupi rasa malunya. "Hah! Kayak aku peduli aja!" ujarnya ketus sebelum berbalik, berjalan lebih cepat.

Di belakangnya, Akay tertawa kecil, jelas menikmati reaksinya. "Bau kencur, kamu lucu sekali."

Aylin mengepalkan tangannya. "Demi apa pun, aku harus lebih tahan mental! Jangan sampai ke-GeEr-an lagi!" batinnya, tapi ia tahu, itu hanya harapan kosong.

"Dasar cabai setan!" geram Aylin, wajahnya memerah menahan amarah.

Alih-alih merasa terintimidasi, Akay justru terkekeh pelan. Matanya menyipit, menikmati bagaimana ekspresi istrinya berubah-ubah dalam hitungan detik.

Melihat senyum menyebalkan itu, Aylin semakin kesal. "Kenapa ketawa?! Hah?! Emangnya aku badut buat hiburan?"

Akay menyandarkan tubuhnya ke dinding, kedua tangannya terlipat di dada. "Nggak juga sih, tapi... ekspresimu itu priceless." Senyum liciknya makin melebar. "Kamu kayak bom waktu, gampang meledak."

Aylin mendengus, kedua tangannya terkepal di sisi tubuh. "Mau meledak sekarang juga?! Mau?! Aku nggak akan ragu buat—"

"Tenang, Bau Kencur. Kasihan nanti kalau kamu tambah keriput karena kebanyakan marah."

Aylin hampir melempar sandal ke kepalanya. "Dasar cabai setan! Nyebelin banget, tahu nggak?!"

Sementara Aylin sibuk menggerutu, Akay hanya mengamatinya, lalu mendesah. Jujur saja, ia sendiri tak mengerti kenapa menggoda gadis ini terasa begitu menyenangkan. Meskipun, pada saat yang sama, juga seperti ujian kesabaran paling berat.

Saat bersama Aylin, ia merasa berbeda. Tidak sekaku biasanya. Tidak terlalu serius.

Menjengkelkan? Iya. Menyenangkan? Juga iya.

Sial. Dia harus mulai berhati-hati. Sebab, ia tak yakin bisa bertahan lama jika terus menikmati kehadiran istrinya seperti ini.

Malam semakin larut.

"Ayo, tidur!" ujar Akay sambil melangkah menuju kamarnya.

Saat melirik ke belakang, ia mendapati Aylin mengekor tanpa sadar. Sudut bibirnya terangkat, menahan tawa. "Dia pasti belum sadar mengikuti aku," batinnya, menikmati momen kecil ini.

Sebentar lagi, Aylin pasti akan tersadar dan bereaksi seperti yang ia duga—mata melebar, ekspresi terkejut, lalu merengut sebal. Istrinya ini benar-benar menggemaskan.

Setelah duduk di tepi ranjang, Akay menatap Aylin yang masih berdiri di ambang pintu. "Kenapa bengong di situ?" tanyanya santai, tapi nada menggoda jelas terasa.

Aylin menelan ludah, pandangannya tertuju pada ranjang besar di tengah kamar dengan kewaspadaan penuh. Perlahan, kesadarannya kembali, dan seperti yang Akay duga, matanya melebar, ekspresi terkejut terpampang jelas, lalu berubah merengut sebal.

"Kenapa aku ngikutin dia kayak anak ayam ngikutin induknya?" batinnya mengutuk diri sendiri. Wajahnya memerah karena malu, dan refleks ia mundur selangkah. Namun, sudah terlambat. Akay yang kini tersenyum puas, jelas tidak akan melewatkan kesempatan untuk menggodanya lebih jauh.

Akay yang sudah bersandar santai di kepala ranjang, mengenakan kaus lengan pendek dan celana tidur, menyunggingkan senyum jail. "Kau mau berdiri di situ semalaman? Atau perlu aku gendong ke ranjang?"

Aylin langsung menegang, wajahnya merona. "Siapa juga yang mau tidur sama kamu!" sergahnya cepat.

Akay mengangkat alis. "Oh? Jadi mau tidur di sofa? Atau di lantai?" Ia menghela napas dramatis, lalu menepuk kasurnya. "Di sini lebih empuk, tahu?"

Aylin mengerjap. Ini jebakan, kan? Pasti jebakan!

"Aku tidur di sofa!" putusnya cepat sebelum pria itu bisa menjebaknya lebih jauh.

Namun sebelum ia sempat berbalik, Akay sudah turun dari ranjang dan menarik pergelangan tangannya.

"Siapa bilang kamu punya pilihan?" bisiknya tepat di telinga Aylin.

Gadis itu membeku. Jantungnya mendadak berdebar tak keruan.

"Sial!" batinnya. "Kenapa aku jadi gugup?! Dasar setan menyebalkan!"

...🌟...

..."Kadang sisi diri kita yang jarang kita tunjukan pada orang lain muncul saat bersama seseorang yang spesial bagi hati kita tanpa kita sadari."...

..."Mata bisa tertipu, logika bisa berdebat, tapi hati selalu tahu pada siapa ia menemukan kenyamanan."...

..."Nyaman itu sederhana. Hati yang memilih, bukan logika yang menghitung."...

..."Kebahagiaan tak perlu dicari, kenyamanan tak bisa dipalsukan. Hati selalu tahu ke mana ia ingin pulang."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Lusiana_Oct13
Gk tau mau komen apa pokoke keren lah
Lusiana_Oct13
Akhirnya tamat lagi novel nana saya baca makasih sekali lg na 🙏😍❤️
Lusiana_Oct13
lah aneh adek nya yg kalah kok nyalahin si aylin ?? berati adek mu masih di bawah standar aylin 🤭 lagian aylin tak nyruh adek mu untk latihan sampai dia kecelakan dasar oon🤣🤩
Lusiana_Oct13
Lah dia mau balas dendam sama aylin kenapa ya apa adek nya kalah balap cintanya di tolak lgsg bunuh diri 🤭
Lusiana_Oct13
Ngaaaak usaaahhh ngenyellll sok bisa melindungi diri sendiri ay si akay aja pake ank buah ny yg banyak apa lg km cm sendiri gk usah byk gaya nurut sama akay sudah 🤣🤣🤣😤😤😤
Lusiana_Oct13
lah pintu kamr mandi bukan nya di kunci ta sama ay kok bisa masuk akay ???
Lusiana_Oct13
Alaaaahhhhh cape dech basik di lepasin terus dah tau bini nya da mau mati di tangan ank buah winda 😤😤😤😤
Lusiana_Oct13
Lah kapan ayline mengahalang jalan dia emg sakit jiwa ni si winda 😤😤😤
Lusiana_Oct13
Uhuuuuuyyyyyyyyy yg di tunggu² akhirnya muncullll🤣🤣🤣🤣
Lusiana_Oct13
Pernah baca kisah mereka tapi lupa di novel apa 🤭
Lusiana_Oct13
Ini kanaya yg sama gk sich Na dgn di novel km yg judulnya DIBELI TAKDIR ???
🌠Naπa Kiarra🍁: Nggak, Kak.🤗
total 4 replies
Lusiana_Oct13
Na kok aylin sekolah terus gk ada hari libur nya ya 😃😃😃 di akay juga sama kyk ni novel kerja rodi ya na 🤣🤣🤣🤣
Lusiana_Oct13
Lah winda da emak nya jdi pelakor ank nya juga mau jadi palkor 🤭🤭🤭
Lusiana_Oct13
😃😃😃😃😃😃😃😃
Lusiana_Oct13
Kenepa lah si nenek gk bikin surat juga buat si aylin klo dia meningakin akay ato kabur wasiat ilang 😃😃😃
Lusiana_Oct13
Kenapa nenek cepat kali pergi nya 😢
Lusiana_Oct13
maaf ya na sekarang baru saya gaskennn baca nya 😃😃😃
🌠Naπa Kiarra🍁: Makasih, Kak🤗🙏🙏
total 1 replies
Lusiana_Oct13
Padahal NOVEL Nana saya sudah baca yg pertama KUPU² MALAM TAPI MASIH PERAWAN itu saya baca thn lalu kok saya gk lanjut ke novel berikut nya ya ah jadi neselll
limah
bagus🥰
🌠Naπa Kiarra🍁: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Diana Dwiari
begitulah wanita,harus terjawab semua yg ada di pikiran nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!