ALVINA ....
Itu namaku. Gadis berumur 17tahun baru lulus SMA. Aku yatim piatu yang diasuh oleh seorang wanita berhati mulia bernama Ardhina Devi. Wanita yang rela menghabiskan seluruh hidupnya untuk membesarkanku, mengorbankan kebahagiaannya demi merawatku dan merelakan cintanya untuk menyayangiku.
Hidupku berubah setelah kepergiannya, ditinggal untuk selamanya oleh satu-satunya orang yang aku sayangi, membuatku seperti kehilangan sebagian diriku.
Ini bukan kisah tentang anak angkat yang mencari siapa dan darimana dia sebenarnya. Tapi ini tentang diriku dan cintaku.
Maaf, jika ada kesamaan nama, karakter dan penggambaran tokoh yang aku ambil. Semua hanya buat pelengkap saja. Semoga suka dan menarik kalian baca sampai akhir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sita Azzaky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
•Sarapan bareng Mas Rizal•
"Lagi nunggu telpon dari seseorang?" Pria dewasa itu membawa nampan berisi dua teh hangat dengan gula dan irisan lemon terpisah, juga beberapa roti isi.
"Nggak kok Mas." jawabku.
Eh, Mas? Pantes nggak sich? Tapi kayaknya dia **ng**gak keberatan dengan panggilan itu.
Aku masukkan dua sendok gula dan satu irisan lemon ke dalam teh hangatku, dan Mas Rizal ngelakuin hal yang sama tapi kayaknya dia nggak pakai gula. Ih, pahit dan asem banget hidupmu Mas.
"Minum teh lemon juga?" tanyanya. Aku ngangguk. Terlihat kekakuannya. Dia berusaha mencari topik untuk mengajakku bicara.
"Makan rotinya." ucapnya. Jari tanganku menindih jari tangannya, aku dan Mas Rizal sama-sama mau ambil roti isi keju. Dengan cepat aku menarik tanganku.
"Ambil aja!" Aku mempersilahkan. Hanya ada satu roti isi keju. Sebenarnya aku mau, tapi Mas Rizal nggak ambil roti yang lain, jadi aku ambil yang rasa coklat.
"Kayaknya kita punya selera makan yang sama." Ujar Mas Rizal tertawa pelan mendengar omonganku.
"Kamu baru lulus SMA kan?" tanyanya. Aku ngangguk sambil ngunyah roti isi coklat.
"Lagi sibuk apa?" tanyanya lagi.
"Nunggu ijazah kelulusan, tadinya aku pengen kerja, tapi Kak Dhina pengen aku kuliah. Kalau Mas Rizal?"
"Aku Dirut di Bhirawa group. Aku juga punya usaha kecil bergerak di bidang kontruksi. Baru sih, tapi hasilnya lumayan lebih banyak dari gajiku." Dia berhenti sebentar meminum tehnya.
"Terus?" Aku pura-pura tertarik.
"Bukan itu yang mau aku bahas dengan kamu. Itu nggak penting kan buat kamu?"
Aku hanya diam.
"Keluargaku ingin aku segera menikah, dan mereka ingin kamu yang jadi istriku." ujarnya. Ternyata Dokter Arifin nggak cuma becanda, dan sekarang lamaran itu datang langsung dari mempelainya.
"Aku?"
Aku bingung, harus ngomong apa?
"Namaku Afrizal Syahputra, umurku dua puluh lima tahun. Aku punya rumah di perumahan elite, apartment dan mobil dari hasil keringatku sendiri. Yang aku butuhkan sekarang adalah seorang istri. Apa kamu mau jadi istriku, apa kamu mau menikah dengan ku?" Mas Rizal memiringkan kepalanya mencari jawaban dariku. Dia menohokku dengan pertanyaannya.
"Mas Rizal pasti sudah tahu siapa aku dari Dokter Arifin, aku baru lulus SMA. Umurku baru tujuh belas tahun. Masih banyak impian dan cita-cita yang ingin aku capai. Untuk sekarang aku masih belum mau ninggalin Kak Dhina, apalagi dengan kondisinya yang seperti ini. Aku ingin membalas semua kebaikannya padaku, meski aku nggak akan mampu. Aku hanya ingin selalu ada di samping Kak Dhina. Jadi maaf, untuk sekarang aku masih belum mau menikah, aku cuma ingin buat Kak Dhina bahagia." Aku rasa itu cukup halus untuk sebuah penolakan.
"Katakan itu pada Ibuku, terutama pada Mas Arifin. Katakan kalau kamu belum mau menikah, apalagi denganku." Ucapnya dengan nada antara kesal dan memerintah.
Aku jadi bingung, sebenarnya apa maunya?
Ponselku berbunyi, nama Fathir terlihat di layar ponselku. Aku minta izin untuk menjawabnya. Mas Rizal ngangguk, dia berdiri dari duduknya.
"Assalamualaikum Fath." sapaku. Akhirnya yang dari tadi aku tunggu kabarnya, telpon juga. Mas Rizal juga beranjak dari duduknya, dia ke arah kasir membayar sarapan kami.
"Waalaikumsalam ... Maafin aku Al, aku baru bangun, aku kesiangan. Kemaren habis nganter Mami jenguk adikku di pesantren. Aku jemput saja ya?"
"Nggak usah, nggak papa kok. Lagian aku sudah mau pulang. Oh ya Fath, hari ini hasil ujian seleksi beasiswaku keluar."
"Oh ya? Apapun hasilnya, semoga itu yang terbaik."
"Aamiin ...." selorohku. Aku lihat Mas Rizal udah berdiri di luar depot, dia membawa sesuatu, mungkin buat Kak Dhina. Aku beranjak dari dudukku.
"Ketemu di kampus ya ... Kamu beneran nggak papa?" Tanyanya penuh kekhawatiran.
"Aku udah biasa sebelumnya, jadi nggak usah khawatir." Aku melirik ke arah Mas Rizal di sampingku. Dia matikan rokoknya dengan menginjaknya, lalu meraih tanganku. Sekali lagi dia menggandengku menyeberang jalan.
"Ketemu di kampus ya ...." Sekali lagi Fathir memastikan.
"Iya, Assalamualaikum ...."
"Waalaikumsalam."
Setelah menjawab salamku Fathir mematikan sambungan telponnya. Aku matikan ponselku.
Aku masukkan ke tas kecilku.
"Pacarnya ya?" Aku cuma tersenyum menanggapinya.
"Kita belum selesai dengan yang kita omongin tadi" lanjutnya.
"Jadi, maunya Mas Rizal datang nemuin aku kesini itu apa?" tanyaku.
"Ikut aku, temui Ibuku, jelaskan padanya kalau kamu nggak mau menikah denganku."
"Sekarang?"
"Terserah, kapanpun sebisamu. Ini nomerku, hubungi aku, nanti aku jemput." katanya sambil menjulurkan kartu namanya. Aku ambil kartu namanya. Lalu aku meninggalkannya masuk ke ruang dialisis.
#######
HBD 😘😘🎉🎉🎂🎂🎁🎁🦀♋🦀♋🌷🌷💜💜😂😂
Welcome Cancer ♋🦀♋HBD Author 🎉🎉🎉🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎂🎂🎂🎉🎉🎁🎁🎁
HBD 🎂🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎁♋♋♋♋♥️♥️♥️♥️🦀🦀🦀🦀💜💜💜💜🌷🌷🌷🌷🎂🎂🎂🎂🎁🎁🎁🎉🎉🎉🎉
HBD
🎂🎂🎂💜💜💜♋♋♋🦀🦀🦀
🎂🎂🎂♥️♥️♥️🎁🎁🎁🌷🌷🌷
HBD ♋♋♋💜💜💜🎁🎁🎁♥️♥️♥️