Sedikit tentang Arderos, geng motor dengan 172 kepala di dalamnya. Geng yang menjunjung tinggi solidaritas, pertemanan, dan persaudaraan di atas segalanya. Sama seperti slogan mereka yang berbunyi "Life in solidarity, solidarity for life." Kuat dan tangguh itulah mereka. Selain itu makna logo Arderos juga tak kalah keren dari slogannya.
• Sayap, yang memiliki simbol kebebasan, kekuatan, dan kecepatan. Bisa juga mewakili perlindungan atau penjagaan.
• Pedang, simbol kekuatan, keberanian, dan ketegasan.
Semua elemen itu saling melengkapi, dan tak akan lengkap jika salah satunya hilang. Sama halnya dengan Arderos yang tidak akan lengkap jika tak bersama.
"Solidaritas tanpa syarat, persaudaraan tanpa batas!"
"Riding bebas, tapi jangan kebablasan!"
Dengan lima pilar utama yang menjadikan pondasi itu kokoh. Guna mempertahankan rumah mereka dari segala macam badai.
Akankah lima pilar itu bisa bertahan hingga akhir tanpa luka atau kehilangan?.
~novel yang ku pindah dari wp ke sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Im Astiyy_12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
paket misterius
THE ETERNALLY; our home
Banyak typo bertebaran :-D
Happy reading...
...Buat kebahagiaan mu sendiri, jika tak ada yang bisa membuatmu bahagia....
.......
........
.........
...💫...
Astra menghempaskan tubuhnya di kasur, dia masih tinggal di kontrakan. Malas sekali rasanya jika harus bertemu sang ayah di saat mood nya belum benar-benar baik.
Ting!
Satu pesan masuk kedalam ponsel Astra, lantas dia membuka pesan dari nomor yang mengiriminya pesan barusan.
Vio
Kamu sibuk nggak Astra?
Astra
ngk knp?
Vio
Bisa anterin aku ke taman nggak sekarang?
Astra
ok.
Setelah membaca pesan dari Vio barusan, Astra lantas mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian santai nya.
Di waktu yang sama namun di tempat berbeda, Vio berteriak dengan girang karena bisa mengajak Astra jalan berdua.
"Aaaaa! Demi apa! Dia mau jalan sama aku!" seru nya.
Brayan yang mendengar teriakan adiknya lantas masuk dengan tergesa-gesa ke dalam kamar adiknya, "Vio lo kenapa?" tanyanya panik.
Vio berhambur ke pekukan abangnya, "Abang kayaknya Vio jatuh cinta," kata Vio, membuat Brayen menatap adiknya bingung, "Lo jatuh cinta, sama siapa?" tanyanya tak ramah.
Brayen memang tipe Abang posesif, apalagi setelah ayahnya meninggal dan ibunya meninggalkan mereka berdua tanpa kata. Dia ingin selalu membahagiakan adiknya, apapun akan dia lakukan.
Vio menggulirkan matanya malas, "Abang, Vio tuh cuma jatuh cinta, kenapa ekspresi nya ngeselin banget si!" rajuk nya.
Brayen mengelus pucuk rambut adiknya, "Iyaa, Vio jatuh cinta sama siapa? adik abang yang paling manis." tanyanya dengan nada yang di buat buat.
Pipi Vio memerah dengan senyum malu-malu, "E-em, itu sama kak A-astra," ucapnya lirih.
Brayan membulatkan matanya mendengar ucapan adiknya barusan, ekspresi nya berubah 180 drajat, "Vio lo yakin?"
Vio mengangguk dengan antusias, "Iya, bang, Vio yakin," katanya penuh keyakinan.
Brayen menghela nafasnya kasar, "Lo jangan terlalu berharap sama dia." peringat Brayen sebelum keluar dari kamar Vio.
Vio menatap abangnya tak paham, apa maksudnya?. Namun Vio tak peduli dia lantas mengganti bajunya untuk segera pergi menemui Astra.
Bukannya tak senang adik nya bisa jatuh cinta dan bahagia di masa remajanya. Tapi masalahnya dia tidak yakin dengan cowok itu, kehidupannya terlalu tertutup dan misterius. Ahh.. entah lah dia pusing, biar waktu yang menunjukan.
Waktu menunjukkan pukul 17.30, namun Vio masih asyik menulis puisi di bukunya. Sedangkan Astra sibuk dengan ponselnya.
Suasana taman juga mulai ramai dengan para anak muda yang menghabiskan sore nya di sana.
Sesekali Vio melirik ke arah Astra, pipinya masih bersemu merah, "A-astra kamu suka apa?" tanya Vio hati-hati.
Astra mengalihkan pandangannya dari ponsel yang dia genggam, "Gue benci semuanya." balasnya singkat, membuat Vio sedikit menyesal menanyakan itu.
"Terus kalo tipe cewek, kamu mau yang kaya apa?" tanyanya lagi tak gentar.
"Nggak ada."
"Kamu punya pacar?"
Astra kembali menatap Vio, "Lo bawel ternyata," ucapnya lalu bangkit dari kursi taman meninggalkan Vio di sana sendirian.
'Apa pertanyaan aku barusan kelewatan ya?' tanyanya pada diri sendiri.
"Lo mau gue tinggal?!" seru Astra membuyarkan lamunan Vio, gadis itu bergegas memasukan buku dan pulpennya ke dalam tas. Sebelum menghampiri Astra.
...★★★★...
Prangg!
Lemparan dari sesuatu yang keras menghantam kaca jendela markas Arderos, membuat anggotanya langsung keluar dari markas mencari siapa pelakunya.
"Wah! Siapa ni yang berani main-main sama kita?! " ujar Satya berkacak pinggang menatap pecahan kaca yang berserakan di lantai.
"Bener Sat! Nggak tau aja mereka kita siapa!" timpal Jaya.
"Emang kita siapa?"
Satya dan Jaya menjitak kepala Arka, "Manusia lah kocak!"
Bumi menatap pecahan-pecahan kaca itu dengan perasaan aneh, ini cukup janggal menurutnya.
"Ada apa?" tanya Astra yang baru turun dari lantai dua markas, tidurnya terganggu karena keributan anggotanya ini.
Arka menunjuk kaca yang pecah, "Kaca nya pecah Tra," ucapnya polos.
Astra menggulirkan matanya malas, seperti ini ni jika Arka mode polos nya kumat.
"Ada yang aneh Tra," Bumi masih mengamati pecahan kaca itu.
"BANG ADA PAKET NIH, PAKET SIAPA YANG NYASAR KE SINI?" seru salah satu anggota Arderos yang baru saja masuk.
Kepala mereka sontak menoleh kearah sumber suara, mereka menatap Riyan yang masuk dengan membawa paket kotak berwarna hitam, "Paket siapa yan?" tanya Jaya.
Riyan menggeleng, "Ini bukan paket kalian? Gue tadi nemu ini di halaman, " balasnya.
Astra mengambil kotak itu lalu membawanya ke meja, dengan perlahan Astra menyobek lapisan Hitam itu.
Semua menyaksikan ikut terkejut kala melihat apa yang berada di dalam kotak hitam tersebut.
Brakk!
"Satya! Cek CCTV! " perintah Astra dengan tegas.
Dengan cekatan Satya mengambil laptopnya untuk mengecek CCTV luar markas. Setelah mendapatkan rekaman yang dia cari Satya memberikannya pada Astra dan yang lainnya.
Perlu di ketahui bahwa Satya si playboy ini memiliki kelebihan di bidang IT, dia cukup mahir bermain dengan kode-kode rumit serta memusingkan itu.
"Nggak ada yang jangal Tra," ujar Satya yang tak melihat sesuatu aneh dari rekaman CCTV itu.
Astra mengusap wajahnya kasar, matanya menatap kotak berisi burung gagak yang sudah mati dengan bagian-bagian tubuh terpisah.
"Cek CCTV jalan! " ujar Astra lagi.
Satya kembali mengotak-atik laptopnya, mengetikan kode-kode rumit.
Cukup lama Satya berkutat dengan laptopnya, "Ini Tra, gue lihat orang ini cukup mencurigakan," kata Satya menunjuk seseorang yang cukup mencurigakan di matanya.
Astra menatap orang dengan stelan hitam mondar-mandir di depan markas Arderos, "Shit! " geramnya.
"Gue yakin Tra, pasti ini ada hubungannya sama... dia," kata Bumi membuat Astra menganggukan kepalanya.
Suasana markas menjadi menegangkan, dengan aura keempat inti yang tiba-tiba menjadi berbeda dari biasanya.
"Dia siapa?" celtuk Arka, dia sedari tadi memperhatikan tapi otaknya belum konek.
Jaya membekap mulut Arka, "Shutt, nanti gue jelasin oke." katanya berbisik, Arka dengan patuh menganggukan kepalanya.
"Kalian semuanya harus berhati-hati, karena mereka sudah mulai bergerak." peringat Astra pada seluruh anggotanya.
Mereka semua mengangguk, "Siap Tra!"
"Gue balik duluan ya, adek gue sendirian di rumah," Satya mengambil kunci motor serta jaketnya, tak lupa tos ala 'lakik'.
"Oke, hati-hati Sat! " seru Jaya.
"Jangan nyangkut di rumah janda sebelah," tambahnya lagi membuat Satya mengacungkan jari tengahnya pada Jaya.
"Kalian juga tidur," kata Astra sebelum naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.
"Lo duluan Tra, gue belum ngantuk."
...💫TBC💫...
...Jangan lupa bahagia kalian★...
...Haii, apa kabar?...
...Jangan lupa follow....
...ig. Arderos_22...
...aiysti.bear...