NovelToon NovelToon
Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Legenda Tabib Gila: Dari Gelandangan Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Razif Tanjung

Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!

Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.

Namur, takdir berkata lain.

saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.

" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "

Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : Teman masa lalu

Rembulan Januari menggantung pucat di atas kaca-kaca gedung, seolah sedang mengintip sebuah konspirasi yang sedang dimasak di lantai tertinggi Menara Alkimia Nusantara.

Di sana, di tengah kepulan uap berwarna ungu yang sesekali mengeluarkan bunyi letupan seperti kentut naga, Bara berdiri mematung layaknya seorang detektif, Matanya yang tajam menatap deretan tabung reaksi, mencari jawaban atas kehancuran keluarganya yang terbungkus rahasia kelam, sementara otaknya sibuk menghitung apakah ia masih punya cukup uang receh untuk membeli kopi saset di kantin bawah.

Tangannya yang gesit mulai memasukkan botol-botol kecil berisi cairan fluoresens ke dalam koper kulit yang tampak tua namun memiliki lapisan arti peluru buatan laboratoriumnya sendiri.

"Tiga hari lagi, ayah, ibu. Aku akan terbang melintasi benua untuk mencari tahu siapa bajingan yang membuat kita menderita," bisik Bara dengan nada rendah yang dipenuhi aura misteri.

Lantai marmer yang mengilat di Menara Alkimia kini terasa dingin, seolah-olah setiap ubinnya menyimpan rahasia beku yang merenggut nyawa keluarganya bertahun-tahun silam.

Untuk mengetahui kebenaran ini, Bara menghampiri Darmawan yang mendekam di penjara, nama yang keluar dari mulut Darmawan adalah Macan besi, nama yang membuat Bara merasakan kenangan masa lalu.

Bara melangkah melintasi bayang-bayang pilar raksasa, menuju sebuah distrik di pinggiran kota yang tak pernah tersentuh oleh cahaya lampu jalanan—sebuah labirin beton tempat hukum rimba masih bernapas melalui moncong senjata dan kepulan asap cerutu murahan.

Di sanalah bersemayam seorang pria yang namanya sangat ditakuti, seorang tiran bawah tanah yang konon memiliki jantung sekeras baja namun pernah bersulang gelas anggur bersama ayahnya dalam aliansi yang kini terkubur debu sejarah.

"Kita tidak sedang mencari musuh hari ini, Jago, kita sedang mencari saksi bisu yang mungkin punya ingatan tentang musuh yang akan kita hadapi." gumam Bara . Ia mengenakan jaket kulit yang ukurannya terlalu besar—mungkin sisa kejayaan tahun 90-an—dengan pin gambar ayam jago di kerahnya sebagai bentuk penghormatan pada asisten berbulunya.

Sersan Jago sendiri tampak waspada, matanya yang tajam memindai sekitar seolah sedang bersiap untuk melakukan smackdown pada siapa pun yang berani menginterupsi perjalanan "diplomatik" tuannya yang lebih mirip penyamaran intelijen yang gagal total ini.

Gerbang distrik bawah tanah itu tampak seperti rahang raksasa yang siap mengunyah keberanian siapa pun yang nekat mendekat, diselimuti kabut jelaga yang berbau seperti perpaduan antara oli mesin dan dendam lama. Di tengah kesunyian yang mencekam, Bara berdiri dengan angkuh sambil mengunyah permen jahe, menatap deretan preman bertato yang otot-otot lengannya lebih besar daripada masa depan mereka sendiri.

Meskipun suasananya kental dengan aroma maut, Bara justru sibuk membetulkan letak tali celana kolor macan tutulnya yang melintir, memberikan pemandangan absurd di hadapan para jagal yang biasanya hanya mengenal darah dan air mata.

"Siapa kamu?, berani-beraninya kamu masuk kawasan kami" tanya salah satu orang yang memiliki otot yang atletis dan tato yang amat memukau, dia adalah tangan kanan dari orang yang sedang dia cari, nama pria ini adalah Marco

"Mohon maaf nih para om-om sekalian, saya sedang ada janji temu dengan Bos Besar kalian untuk membicarakan nostalgia masa lalu yang lebih manis daripada janji kampanye," ucap Bara dengan nada yang tenang namun bergetar karena menahan tawa saat melihat salah satu penjaga memiliki tato gambar Hello Kitty di balik lipatan lemak lehernya.

Sersan Jago yang bertengger di bahu Bara tidak mau kalah; ayam itu membusungkan dada, memberikan tatapan maut pada seekor anjing pitbull yang mendadak ciut nyalinya seolah tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan unggas yang memiliki sertifikat hitam dalam dunia bela diri unggas.

Langkah kaki Bara yang dibalut sandal Swallow ungu-emas itu akhirnya membawanya masuk ke dalam ruang utama yang remang, di mana cahaya lampu gantung tembaga hanya mampu menerangi kepulan asap cerutu dari singgasana kayu jati di ujung ruangan.

Di sana duduklah Sang Macan Besi, sang tiran bawah tanah yang konon sekali berbisik bisa membuat harga pasar gelap bergejolak, namun kini tampak seperti kakek-kakek yang sedang menderita sembelit kronis akibat terlalu banyak mengonsumsi ego dan sedikit serat.

Atmosfer ruangan itu begitu berat seolah gravitasi telah berlipat ganda, memaksa setiap rahasia untuk merangkak keluar dari celah-celah dinding beton yang dingin dan lembap.

"Bos ada orang yang ingin bertemu" ucap Marco saat sampai di hadapan sang macan besi.

Macan besi itu hanya mengernyitkan matanya sedikit lalu mengingat teman lamanya.

"Mahendra... darah dari seorang pria yang terlalu jujur untuk dunia yang penuh lubang ini akhirnya kau menemui ku, setelah ayah mu mengusir ku, karena tidak di perbolehkan membantunya, layaknya seorang pengecut" suara Sang Macan menggelegar, namun Bara justru dengan santai mengambil kursi plastik di sudut ruangan dan duduk sambil menyilangkan kaki tanpa permisi.

"Napasmu berat, Kek, sepertinya ada penyumbatan di katup jantung akibat terlalu sering menahan amarah dan jarang bersedekah pada fakir miskin di pasar," balas Bara dengan senyum.

"Apakah kau tidak tau, ayah tak mengizinkanmu membantu karena mengingat apa yang terjadi dengan keluarga Alisa, dia tidak ingin lagi ada sahabatnya yang lain menderita akibat musuhnya sendiri."

"Huh... Dia membiarkan ku lari seperti pengecut, apa peduli ku tentang musuh, dia pikir aku tidak bisa menghadapi mereka hah...."

"Kalau kau ikutan mati, siapa yang akan memberikanku informasi, ayah sudah memperhitungkannya, kau pikir ayah bakalan mati hanya gara-gara dia jatuh miskin lalu depresi hah, dia...dia dan ibu mati mengorbankan diri mereka untuk menyembunyikan keberadaanku apakah kau paham itu."

Sang macan hanya bisa terdiam membeku tidak bisa menjawab apa-apa lagi, musuh mereka terlalu kuat, dan Bara hanya mengetahui kebenaran ini baru-baru ini setelah Bara bertanya ke Darmawan yang telah mendekam di penjara.

Saat mengetahui ini hati bara terasa perih, semua kebenaran yang ada menyayat hatinya, dan dia juga mengingat sang macan besi dari seorang Darmawan, tapi Darmawan tidak bisa memberikan informasi yang jelas tentang organisasi itu karena pergerakan mereka sangat rahasia.

Maka dari itu Bara mencari sang macan besi untuk bertanya apakah dia mengetahuinya.

"Ayahmu adalah pria pembisnis dan ilmuan yang hebat bersama ibumu, mereka menyimpan kunci untuk perubahan yang dicari oleh seluruh dunia, dan kau, bocah tengil bersandal karet, sepertinya adalah lubang kuncinya yang paling berisik, ayah mu menyimpan sebuah rahasia ya amat dalam, kamu cari lah sendiri dimana letaknya aku tidak tau soal itu, yang jelas kata kuncinya adalah Rumah." gumam Sang Macan sambil menenggak minuman kerasnya dengan sekali teguk.

Suasana misteri kembali menyelimuti mereka, sebuah tabir masa lalu mulai tersingkap perlahan.

Tepat saat Bara hendak menanyakan tentang organisasi itu, pintu rahasia di balik rak buku kayu jati tua itu terbuka perlahan, mengeluarkan aroma parfum melati yang begitu kuat hingga mengalahkan bau tembakau di ruangan tersebut.

Dari balik kegelapan muncul seorang wanita anggun bergaun hitam yang wajahnya tampak seperti patung porselen yang tak lekang oleh waktu, namun matanya memancarkan kesedihan yang sudah membeku selama puluhan tahun, Bara merasakan getaran yang tak bisa di jelaskan saat dia menatap wanita ini

1
anggita
penampilan yg wouu...😯
Razif Tanjung
kak apakah ada disini yang bisa memberikan saya saran, saya merasa novel ini kurang bagus, adakah dari teman-teman bisa menyebutkan kesalahan saya, atau adakah yang bisa saya perbaiki, saya mohon dengan sangat harap jika teman-teman memberikan saya kritikan Tetang karya saya.🙏🙏🙏🙏
Razif Tanjung: di bagian mana nya kak, apakah ada saran kak🙏🙏🙏
total 2 replies
Aman Wijaya
tambah lagi updatenya Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
gaaas terus
Aman Wijaya
gaaas pooolll Thor lanjut
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Aman Wijaya
mantul Thor semangat semangat semangat
Gege
koleksi mulu ga ada adegan kulit bertemu kulit dan bulu bertemu bulu ya sama aja MC nya Kasim..🤣🤭
Razif Tanjung: Tidak... Nanti jdi novel 18+🤣🤣🤣, belum ada kepikiran buat bikin nya, kalau ada ide lain boleh tuh aku tampung saran nya dong kak🤭🤭
total 1 replies
Aman Wijaya
jooooz jooooz gandos lanjut terus Thor semangat semangat semangat
Achmad
semangat Thor
Achmad
gasss
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut
Aman Wijaya
top top markotop bara lanjut terus
Achmad
keren Thor semangat
Achmad
semangat dan semangat Thor
Achmad
hebat sekali Thor
Achmad
bintang lima untukmu thor
Razif Tanjung: Terimakasih kak dukungannya🙏🙏🙏
total 1 replies
Achmad
aku suka Thor
Razif Tanjung: Terimakasih udah mampir kak🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
jooooz pooolll lanjut
Razif Tanjung: terimakasih kak semngatnya, tinggal kan ide dong kak, barangkali nanti otak ku buntu 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Aman Wijaya
lanjut terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!