Bayangkan saja jika satu gadis di cinta oleh banyak laki-laki dan mereka adalah para CEO tampan dan kaya. Dan para CEO itu tentunya punya sifat yang berbeda-beda, ada yang membuat gadis itu kagum dan terkesima tapi ada juga yang membuat gadis itu sangat benci padanya.
Entahlah bagaimana ceritanya? Yang jelas akan ada persaingan, perseteruan, antara CEO-CEO itu untuk memperebutkan hati gadis cantik itu.
Bagaimanakah cara mereka mendapatkan hati gadis cantik itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngabisin uang Davin
Davin mengangguk pelan, lalu dia mengajak kedua gadis itu untuk berbelanja. Davin sudah selamat dari kencan buta yang di atur oleh mamanya, tapi dia tidak akan selamat dari Laras dan Nara, karena Laras pasti tidak akan tanggung-tanggung jika di belanjakan oleh Davin.
Setelah selesai berbelanja, Davin dan dua gadis cantik ini pergi makan. Karena habis capek berbelanja tentu saja cacing-cacing di perut mereka pasti sudah demo.
Kini mereka sudah berada di dalam salah satu restoran yang ada di dalam mall.
"Kalian mau makan apa?" Tanya Davin, sambil melihat-lihat buku menu.
"Aku mau kentang goreng sama burger," jawab Laras. Mata Davin melirik ke Nara. "Kalau kamu Ra, mau makan apa?" Tanya Davin, kali ini nadanya begitu lembut pada Nara tidak seperti biasanya.
"Sama saja seperti Laras," jawab Nara. Padahal Nara saja tidak tahu apa saja menu yang ada di situ, lagian Nara juga tidak pernah makan di tempat seperti ini sebelumnya.
Akhirnya Davin memesan 3 menu makanan yang sama.
"Oh iya minumnya apa?" Tanya Davin lagi.
"Jus jeruk, aku air putih saja." Jawab Laras dan Nara.
Davin mengangguk lalu memesan minuman untuk kedua gadis ini, dia juga memesan untuk dirinya sendiri.
Mereka asik mengobrol sambil menunggu pesanan makanan mereka.
"Aku heran, sama Tante Marlin. Apa dia tidak capek, selalu saja menyuruhmu untuk pergi kencan buta?" Kata Laras, sungguh dia tidak percaya mamanya Davin itu tidak pernah berubah dari dulu.
Wajar saja di usia Davin yang sudah menginjak 23 tahun, mamanya ingin sekali Davin segera menikah. Mungkin Davin ini masih terlalu muda, tapi Marlin ingin sekali cepat-cepat menimang cucu.
"Dan hasilnya sama, pasti kamu akan kabur jika tidak, pasti kamu akan menjadikan aku sebagai alat agar kamu bisa meninggalkan kencan buta kamu begitu saja," sambung Laras, dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"Hari ini hanya kebetulan Ras, kamu adalah Dewi penyelamat aku." Kata Davin, terukir senyum yang begitu manis di sudut bibirnya.
"Ahh dasar Davin," Laras hanya mendengus kesal.
Nara hanya diam, dia tidak paham dengan apa yang di obrolkan oleh Davin dan Laras.
Setelah beberapa lama akhirnya pesanan makanan mereka datang, kini mereka menikmati makanan mereka dengan begitu tenang.
Setelah selesai makan, mereka berpisah karena Davin membawa mobil sendiri dan Laras juga membawa mobil sendiri.
*****
Kini Laras dan Nara sudah sampai di rumah, mereka sama-sama membongkar belanjaan mereka hari ini.
"Laras, pasti Davin uangnya habis banyak. Satu baju saja harganya jutaan seperti ini, biasanya kalau di kampung aku tidak pernah membeli baju mahal seperti ini," kata Nara. Dia geleng-geleng kepala, karena baru sadar dress-dress pilihannya ternyata harganya mahal.
Laras hanya tersenyum, bagi dia baju harga segitu itu masih murah. Apalagi Laras biasa membeli yang puluhan juta juga.
"Ra, tenang saja Davin tidak akan miskin dalam sekejap. Uang dia banyak," jawab Laras kini Nara hanya mengangguk pelan.
"Nara, mulai sekarang kamu harus aku rubah dandannya. Kamu harus cantik, terus kamu juga jangan selalu di kuncir dua seperti ini." Laras begitu bawel, dia ingin sahabatnya ini juga cantik dan tampil modis seperti dirinya.
"Laras, biarpun dandan aku seperti ini. Tapi di kampung aku banyak naksir," jawab Nara. Dia terlihat polos, membuat Laras tertawa kecil.
Iya namanya kehidupan di kampung dan di kota itu sangat berbeda, mungkin di kampung Nara berdandan seperti itu sudah sangat cantik, tapi di kota bagi yang melihatnya Nara itu sangat kampungan sekali.
"Itukan di kampung, kalau di kota beda lagi. Pokoknya kamu harus cantik," Laras kekeh dengan keputusannya.
Laras mengajak Nara masuk ke dalam kamarnya, dia ingin membuat Nara menjadi cantik dan modis. Tentunya biar mulut sombong Davin itu tidak menghina sahabatnya ini, sungguh Laras tidak rela.
"Laras, kamu mau apain aku?" Nara terlihat bingung, kini dia sudah duduk di kursi meja rias. Laras juga siap menyulap Nara menjadi cantik.
"Diamlah!" Pinta Laras, dia terus melanjutkan aktivitasnya.
Nara hanya menurut, entah Nara akan secantik apa nanti?
BERSAMBUNG 😊
Terimakasih para pembaca setia 😊
btw nma ig nya pa kk🙏
sblom nikah dah dapet menanam saham duluan pas ngidam istri selalu dapet jatah terus tanpa bisa ditinggalkan....
sedangkan Davin malah zonk boro2 berpelukan, baru dideketin aja malah dah dapet Omelan sang istri...
sabaaarrrrr ya Davin tunggu 2-3bln lagi...🤭🤣🤣🤣