Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
Lalu datanglah Mori.
Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Suasana kelas 10-B di jam terakhir benar-benar tidak kondusif. Meskipun Pak Broto sedang sibuk menuliskan soal-soal latihan di papan tulis, suara bisik-bisik di barisan belakang terdengar seperti lebah yang sedang berpesta.
Agnes, yang tadi lari terbirit-birit, ternyata tidak bisa menahan beban rahasia sebesar itu sendirian. Begitu sampai di kelas, ia langsung membisikkan apa yang dilihatnya kepada teman sebangkunya, yang kemudian menjalar ke bangku depan, samping, dan akhirnya menyebar ke seluruh penjuru kelas.
Mori duduk di bangkunya dengan kepala yang hampir menyentuh meja. Ia menutupi seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasanya ingin sekali ia menghilang atau berubah menjadi butiran debu saat itu juga. Ia bisa merasakan tatapan mata seluruh teman sekelasnya tertuju padanya.
"Gila, Mor... gue nggak nyangka lo seberani itu di ruang guru," bisik Jessica sambil menyenggol lengan Mori dengan nada menggoda.
"Jes, diem nggak?! Itu nggak kayak yang Agnes ceritain!" Mori membalas tanpa mengangkat wajahnya, suaranya teredam oleh telapak tangannya sendiri.
Berbanding terbalik dengan Mori yang merasa harga dirinya sedang dipertaruhkan, Lian yang duduk di samping Mori justru terlihat sangat menikmati suasana. Ia bersandar santai di kursinya, sesekali memainkan pulpen di jemarinya.
Setiap kali ada siswa laki-laki yang meliriknya sambil memberikan jempol atau senyum penuh arti, Lian hanya membalas dengan senyum miring—senyum penuh kemenangan yang seolah mengonfirmasi semua gosip yang beredar. Visual Gabriel Guevara-nya hari ini benar-benar memancarkan aura "sang pemenang".
Jojo, yang duduk di belakang mereka, mulai melancarkan aksinya. Ia condong ke depan, mendekatkan wajahnya ke arah Lian dan Mori.
"Gimana, Li? Dingin nggak ruang guru tadi? Atau malah panas karena ada 'pemanas' alami?" tanya Jojo dengan suara yang sengaja dikeraskan.
"Panas banget, Jo. Hampir aja gue lupa kalau kita masih di sekolah," jawab Lian santai, melirik Mori yang semakin menenggelamkan wajahnya ke meja.
"Cieeeeeeee!" Sahabat-sahabat Mori—Jessica, Nadya, dan Alissa—langsung menyahut serentak. Mereka tidak peduli lagi dengan Pak Broto yang ada di depan.
"Gila ya, Mori yang kelihatannya kalem, ternyata kalau di ruang guru mainnya 'pojok-pojokan'!" ledek Alissa sambil tertawa kecil.
Di tengah keriuhan yang semakin tidak terkendali, pintu kelas terbuka. Vano masuk membawa buku agenda OSIS. Wajahnya yang biasanya teduh kali ini terlihat sedikit tegang. Dia sudah mendengar selentingan kabar yang beredar di koridor saat dia berjalan menuju kelas 10-B.
Vano berjalan melewati barisan meja, mengabaikan siulan beberapa siswa. Dia berhenti tepat di depan meja Mori. Dia mendengar dengan jelas godaan Jojo dan tawa sahabat-sahabat Mori tadi.
"Mori?" panggil Vano lembut.
Mori akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya sedikit sembab karena malu, dan rambutnya agak berantakan. Melihat Vano berdiri di depannya, Mori merasa semakin tidak enak hati. "Eh... iya, Kak Vano?"
Vano menatap Mori dengan tatapan yang sangat dalam, mencari kebenaran di balik mata gadis itu. "Aku tadi dengar sesuatu di koridor... soal kejadian di ruang guru. Itu... itu nggak bener, kan?"
Mori terdiam, lidahnya mendadak kelu. Dia ingin membantah, tapi fakta bahwa Lian memang menghimpitnya di pojokan memang benar terjadi, meskipun tidak sampai terjadi hal yang aneh-aneh.
Lian, yang tidak suka melihat Vano menginterogasi Mori, langsung berdiri. Ia merangkul pundak Mori dengan gerakan yang sangat posesif, seolah sedang memasang pagar berduri di sekitar gadis itu.
"Emang kenapa kalau bener, Van? Masalah buat lo?" tantang Lian dengan suara yang rendah namun tajam.
Vano tidak melayani tantangan Lian. Dia tetap fokus pada Mori. "Mori, aku cuma nggak mau reputasi kamu rusak karena gosip murahan. Kamu anak baik-baik, jangan biarkan orang lain—" Vano melirik Lian dengan tajam, "—memanfaatkan keadaan buat menjatuhkan nama kamu."
"Gue nggak memanfaatkan keadaan, Van. Gue cuma menikmati waktu berdua sama 'Baby Girl' gue. Lo mending urusin aja rapat OSIS lo yang ngebosenin itu," balas Lian sinis.
Mori melepaskan rangkulan Lian dengan kasar. Dia berdiri, menatap kedua cowok itu bergantian. "Bisa nggak kalian berhenti bahas itu?! Gue capek! Gue cuma mau pulang!"
Mori menyambar tasnya, mengabaikan Pak Broto yang sedang berteriak menanyakan ada apa di barisan belakang. Dia berjalan cepat keluar kelas, menembus kerumunan siswa yang mulai berhamburan pulang karena bel sudah berbunyi.
Lian langsung menyambar tasnya juga dan mengejar Mori. Vano hanya bisa berdiri terpaku di kelas, melihat Mori yang kembali "diculik" oleh aura merah Lian.
Di parkiran yang mulai ramai oleh suara motor, Lian berhasil menahan lengan Mori. "Mor! Tunggu!"
"Apalagi, Lian?! Puas lo bikin satu sekolah ngomongin gue?!" Mori berteriak dengan air mata yang mulai menetes. "Gara-gara lo, Agnes jadi ember! Gara-gara lo, Kak Vano jadi mikir yang macem-macem tentang gue!"
Lian memegang kedua bahu Mori, memaksa gadis itu menatapnya. Visualnya kali ini tidak lagi main-main. "Gue nggak peduli Agnes ngomong apa, gue nggak peduli Vano mikir apa. Yang gue peduli cuma fakta kalau tadi di ruang guru, lo nggak nolak pas gue deketin, Mor. Lo jujur sama perasaan lo sendiri, kan?"
Mori bungkam. Dia tidak bisa membalas kalimat itu. Kejujuran Lian terasa sangat menamparnya.
"Ayo pulang. Gue anter," ucap Lian lembut sambil memakaikan helm ke kepala Mori.
Mori tidak lagi berontak. Dia naik ke atas motor Lian di tengah tatapan ratusan pasang mata yang masih membicarakan mereka. Di atas motor, Mori memeluk pinggang Lian dengan erat—bukan karena dia ingin, tapi karena dia merasa hanya punggung lebar ini yang bisa menyembunyikannya dari dunia yang sedang menertawakannya.
Tanpa Mori sadari, di lantai dua, Alina sedang meremas pagar koridor dengan sangat kuat sampai kukunya memutih. "Mori... lo bakal nyesel udah masuk ke ruang guru itu sama Lian," desisnya penuh dendam.