"Tuan, ayo tidur denganku?" Kalimat gila itu Dea ucapkan pada sang boss di bawah kendali alkohol.
Namun Dea pikir semuanya akan berakhir malam itu juga, namun siapa sangka satu sentuhan membuatnya dikejar selamanya oleh sang boss playboy.
"Dea, kamu harus tanggung jawab padaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim.nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Tuan, Ayo tidur denganku
“Tuan, ayo tidur denganku,” ajak Dea sambil menepuk-nepuk sisi ranjang kosong, lidahnya sudah nyaris tak sinkron dengan otaknya sendiri. Gara-gara memergoki tunangannya berselingkuh dengan sang sepupu, kini Dea jadi kehilangan kendali seperti ini.
Dalam sebuah acara bukanya bekerja sebagai sekretaris dengan benar, Dea malah mabuk dan menarik sang boss ke kamar hotel.
Tapi kini hati Dea benar-benar tengah hancur, dia telah mengorbankan banyak hal untuk kekasihnya tersebut. Bahkan Dea ikut membantu perekonomian keluarganya, sebagian gaji Dea selama ini larinya ke sang kekasih.
Tapi pria badjingan itu malah menghianatinya dengan cara paling kejam, memiliki hubungan dengan sepupunya sendiri.
Astaga, tiap kali mengingat hal itu hati Dea hancur sekali. Sampai rasanya dia ingin mengakhiri hidupnya sendiri.
Karena itulah kini Dea mabuk, Dea ingin melupakan semuanya meski hanya sebentar.
Alex yang sejak tadi berdiri bersandar di kusen pintu kamar hotel itu mendengus pelan. Bibirnya terangka dan senyumnya tipis penuh maksud, jelas itu adalah senyum tanda berbahaya.
Diluar pekerjaannya sebagai sekretaris, Dea adalah wanita yang memang cantik, juga memiliki fisik yang indah.
Jujur saja sebagai seorang pria, Alex juga memiliki ketertarikan pada sekretarisnya tersebut. Tapi selama ini mereka pure bekerja secara profesional.
Namun siapa sangka, pada akhirnya ada kejadian menakjubkan seperti malam ini.
“Kamu sadar sedang bicara dengan siapa?” tanya Alex santai, lalu mendekat ke arah wanita yang kini sudah seperti cacing kepanasan.
Dea menyipitkan mata, menatap wajah Alex yang terasa terlalu dekat, terlalu tampan dan terlalu menggoda untuknya saat ini.
“Bosku,” jawabnya cepat. “Sekaligus pria menyebalkan yang bikin aku lembur lima tahun tanpa kenaikan gaji emosional.”
“Gaji emosional?” Alex terkekeh. “Itu jenis tunjangan baru?”
Dea tertawa sendiri, lalu tiba-tiba wajahnya mengeras. “Aku dibohongi,” gumamnya. “Dia selingkuh sama sepupuku sendiri.”
Alex terdiam sesaat. Tatapannya berubah, tak lagi bercanda.
“Dan kamu memilih mabuk sendirian?”
“Tidak sendirian,” Dea menunjuk Alex dengan jari gemetar. “Aku mabuk sama kamu.”
Alex menghela napas panjang. “Dea, kamu tidak waras sekarang.”
“Makanya temani aku,” sahut Dea cepat. “Bos kan selalu bilang, ‘Sekretaris harus siap dalam kondisi apa pun’.”
Alex menggeleng, setengah ingin tertawa, setengah ingin mengutuk dirinya sendiri. “Aku tidak pernah bermaksud kondisi apa pun yang ini.”
Namun ketika Dea berdiri lalu hampir jatuh, Alex refleks menahannya. Tubuh Dea bersandar ke dadanya, hangat, dan bau alkohol bercampur parfum lembutnya menyerang indera Alex tanpa izin.
“Ups,” Dea terkikik. “Sekarang aku nabrak bos.”
Alex menatap wajah Dea dari jarak sedekat itu. Sekretarisnya. Perempuan yang selalu rapi, cerewet soal jadwal, galak soal kopi. Kini berdiri di hadapannya dengan mata berkaca-kaca dan bibir bergetar.
“Alex…” panggil Dea pelan, tanpa embel-embel “Tuan” untuk pertama kalinya malam ini. “Aku capek jadi perempuan baik-baik.”
"Jadi maumu jadi perempuan seperti apa?"
"Perempuan nakal, ayo tidur denganku."
"Tidak mau, aku tidak sembarangan tidur dengan wanita."
"Aku bukan wanita sembarangan kan, aku masih perawaan, kamu akan jadi yang pertama menyentuhku."
"Justru karena masih pertama bagimu, aku tidak mau."
"Akh! sentuh aku sentuh aku!" rengek Dea, dia bahkan mulai melepaskan diri dari pelukan sang boss. Lalu dengan sendirinya mulai melepaskan kancing bajunya sendiri.
Alex menatap pemandangan dan menikmatinya. "Dea," panggil Alex kemudian.
"Apah? sudah mau menyentuh ku sekarang? bantu aku lepas baju," pinta Dea, bahkan menatap dengan sorot mata nakal.
"Kamu pasti akan menyesal setelah ini."
"Tidak, aku tidak akan pernah menyesal," balas Dea mantap.
Namun Alex terkekeh dan menggeleng pelan. "Tunggu dulu ya, aku akan merekam aksimu malam ini agar aku tidak disalahkan," balas Alex kemudian, dia benar-benar cari aman tapi juga tak ingin kehilangan kesempatan.
Toh Alex merasa dia tak pernah memaksa, justru dia yang dipaksa.
Dea mengerutkan dahi saa melihat bossnya malah mengambil ponsel dan membuka kamera.
"Alex, kamu mau buat video mesyum?" tanya Dea, "Apa dengan begitu kamu lebih bergairrah?" tanyanya lagi yang juga sudah kehilangan akal.
"Kita akan buat video mesyum, tapi ini adalah bukti bahwa kamu yang memperkossaku," tegas Alex.
Dea malah terkekeh, "Ya ampun, aku akan meniiduri bossku sendiri," balas Dea.
Alex sudah merekam semua pembicaraan absurd mereka, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Kameranya mengarah jelas ke arah ranjang dimana kini Dea duduk di atas pangkuan sang boss.
Besok setelah menunjukkan bukti itu pada Dea, Alex akan langsung menghapusnya.
Alex hanya tak ingin apa yang terjadi malam ini membuat hubungannya dengan sekretaris jadi runyam.
Dan entah siapa yang lebih dulu bergerak, malam itu pun melenceng dari rencana siapa pun.
Yang biasanya hanya bekerja secara profesional, kini justru berakhir saling bergumul di atas ranjang.
Saat pertama kali Alex menyatukan diri, rasa sakitnya membuat Dea tersentak kecil hatinya. Kesadarannya sedikit pulih dan dia merasa perih.
Namun di detik berikutnya, Alex langsung bergerak mengalirkan nikmat yang tak terkira bagi Dea.
Akhirnya Dea gagal menyesal, malah menikmati semuanya sebagai cara untuk bersenang-senang.
Keesokan paginya Dea terbangun dengan kepala berdenyut dan perasaan asing yang menampar begitu saja. Apa yang terjadi semalam menjadi kepingan kenangan yang sulit untuk disatukan.
Sebagian terasa seperti mimpi, sebagiannya lagi seperti kenyataan. Namun rasa sakit hatinya atas pengkhianat sang kekasih kembali dia rasakan dengan jelas.
“Kenapa langit-langitnya mahal begini?” gumamnya sambil menatap plafon hotel berbintang tersebut.
Ia bergeser sedikit dan tiba-tiba membeku. “Ya Tuhan,” bisiknya.
Di sampingnya Alex tidur menyamping, satu tangan bertumpu di bawah kepala, wajahnya terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang telah melewati malam pannas dengan sekretarisnya sendiri.
'Ya ampun,' batin Dea mulai was-was, sedikit ingatan dia dapatkan saat merayu Alex agar tidur dengannya.
'Bodohnya kamu De,' batin Dea lagi, karena sungguh selama ini hubungan mereka benar-benar hanyalah hubungan profesional antara sekretaris dan boss.
Tapi dengan tak tahu malunya, Dea malah melakukan kesalahan ini.
Dea kemudian bangkit pelan dan meraih selimut lebih tinggi untuk menyelimuti seluruh tubuhnya yang masih pollos, jantungnya berdegup kacau sekali.
“Tidak, tidak, tidak,” Ia menepuk pipinya sendiri. “Anggap saja ini semua mimpi. Ini pasti mimpi.”
“Kalau ini mimpi,” suara Alex terdengar malas, “aku berharap mimpi ini tidak dibangunkan dengan teriakan.”
Dea menjerit tertahan. “Tuan!”
Alex membuka mata, menatapnya penuh arti. "Kamu ingin menyalahkan aku?" tanya Alex detik itu juga.
Dea buru-buru menggelengkan kepala. "Ti-tidak Tuan, saya tahu saya yang salah. Anggap saja semua ini tidak pernah terjadi!"
Awalnya Alex juga berpikir demikian, dia bahkan sudah menyiapkan barang bukti jika Dea menuntut. Tapi entah kenapa kini dia seperti tak rela jika semuanya selesai sampai di sini.
Diluar kendalinya, Alex justru kecandduan dengan tubuh sang sekretaris. "Enak saja, kamu harus tanggung jawab padaku."
lupe you pull😍😍
biar bang Al tantrum sdri🤣
tapi sayang tak digubris🤭..