NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Era Majapahit

Terlempar Ke Era Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Kota Bata Merah

Sekar berangkat sebelum matahari terbit.

Ia sudah berkemas sejak dini hari, bungkusannya kecil dan rapi, kain cokelatnya diganti dengan yang lebih bersih. Di tepi sungai yang masih berkabut, ia berdiri menunggu Raka, tangan terlipat, wajah tanpa ekspresi seperti orang yang sengaja menahan sesuatu.

"Kampung Pandean," katanya tanpa pembukaan. "Rumah pandai besi bernama Paman Landep, tak jauh dari pasar utama. Kalau kau perlu aku, kirim kabar ke sana. Jangan ke tempat lain."

"Kampung Pandean, Paman Landep," ulang Raka. "Saya hafal."

"Kau akan lupa."

"Saya akan menulisnya."

"Itu lebih baik." Sekar menatapnya sebentar, lalu mengeluarkan sesuatu dari balik kainnya, sehelai sapu tangan kecil dari kain katun yang disulam sederhana dengan benang merah. Ia menyodorkannya tanpa menatap. "Untuk keberuntungan. Ibuku yang menyulam."

Raka menerimanya dengan hati-hati. Sulaman itu sederhana, hanya bunga kecil berkelopak lima, tapi jahitannya rapi dan penuh perhatian.

"Terima kasih," katanya, suaranya lebih rendah dari yang ia maksudkan.

"Jangan mati," kata Sekar. Itu saja. Lalu ia berbalik dan berjalan cepat menyusuri jalan setapak menuju kota, bungkusannya bergoyang di punggung, tanpa menoleh sekali pun.

Raka memandangi punggung itu sampai hilang di balik kabut, dan baru sadar bahwa ia masih menggenggam sapu tangan itu terlalu erat.

"Kalau mau, aku bisa menyuruh Tarub mengawalnya," kata Wirabhaya dari belakang, nada suaranya terlalu datar untuk tidak sengaja.

"Tarub punya tugas lain."

"Aku tahu." Wirabhaya menyeringai tipis. "Aku hanya ingin melihat apakah kau akan menjawab begitu."

Mereka masuk Trowulan menjelang pagi, ketika matahari baru menyentuh puncak gapura.

Raka sudah berkali-kali membayangkan kota ini. Sebagai pemandu, ia bahkan pernah membawa turis berjalan kaki mengelilingi situs-situsnya, menunjuk gundukan tanah dan pecahan bata sambil berkata, "Di sini dulu berdiri pendopo raja," atau, "Di bawah tanah ini ada saluran air yang masih utuh."

Tak satu pun penjelasannya sanggup menandingi kenyataan.

Kota itu hidup. Ribuan bata merah tersusun menjadi tembok, gapura, dan rumah-rumah dengan atap sirap dan genteng terakota. Kanal-kanal lebar membelah jalan, airnya jernih memantulkan cahaya pagi, perahu-perahu kecil bergerak malas membawa muatan kain dan guci. Kolam-kolam besar berderet dengan teratai bermekaran, dan di tepi-tepinya anak-anak berlarian tanpa alas kaki.

Jalan-jalannya penuh. Pedagang menjajakan rempah, ikan asin, kain tenun, dan gula aren. Bau asap kayu bercampur dengan wangi kembang dan kemenyan. Di satu sudut, seorang pandai emas sedang membuat perhiasan di depan kiosnya, di sudut lain, sekelompok pendeta berjubah putih melantunkan doa di depan sebuah candi kecil. Suara-suara berbagai bahasa bertabrakan di udara, bahasa Jawa, Melayu, sesuatu yang mungkin Khmer, sesuatu yang mungkin Cina.

"Tutup mulutmu," bisik Mpu Kalandara pelan di sampingnya. "Kau menganga seperti ikan."

"Saya tidak bisa menahannya," balas Raka, nyaris berbisik. "Ini... ini sempurna. Lebih sempurna daripada yang pernah saya bayangkan."

"Tunggu sampai kau melihat sisi lainnya." Suara Mpu terdengar muram. "Setiap kota megah punya lorong gelap. Trowulan tidak berbeda."

Mereka berjalan menembus keramaian, Wirabhaya di depan membuka jalan dengan wibawa tenang seorang prajurit elit. Orang-orang menyingkir otomatis, banyak yang membungkuk saat melihat selempang Bhayangkara di dadanya. Raka mencoba menenangkan diri dengan menghafal jalan, tapi labirin kanal dan gang itu terlalu rumit.

Lalu, di sebuah lapangan luas di depan gerbang istana, langkah Wirabhaya tiba-tiba terhenti. Ia menegakkan badan dan menaruh tangan di dada, memberi hormat.

Dari arah gerbang, serombongan pejabat keluar. Di tengah mereka berjalan seorang lelaki bertubuh kekar dan agak pendek, berpakaian sederhana namun penuh wibawa. Wajahnya persegi, seperti dipahat dari batu; rahangnya kokoh, dan sepasang matanya menyapu sekeliling dengan ketajaman yang membuat orang menahan napas tanpa sadar. Orang-orang di sekitarnya menunduk dalam-dalam.

Raka tidak perlu bertanya siapa dia.

Gajah Mada.

Hanya sekejap. Lelaki itu berjalan lewat tanpa berhenti, tanpa melirik, tetapi sesaat pandangannya menyapu rombongan kecil mereka, berhenti sepersekian detik pada Mpu Kalandara, lalu bergeser pada Raka.

Raka merasa seperti disentuh es.

Lalu lelaki itu berlalu, dan kerumunan pun kembali bergerak, seakan tak terjadi apa-apa.

"Kau bernapas?" bisik Mpu Kalandara.

"Entahlah."

"Bagus. Teruskan."

Mereka ditempatkan di sebuah pasanggrahan tamu di dekat pasar utama, bangunan kayu dengan taman kecil yang sejuk dan tiga bilik tidur. Wirabhaya meninggalkan mereka untuk mengurus urusan kedinasan, berjanji kembali sore hari.

Mpu Kalandara menghabiskan siang dengan bersemedi di taman, sementara Raka berjalan mondar-mandir di serambi, menghafal ulang pelajaran etiket dalam hati. Menjelang senja, mereka mandi, berganti pakaian bersih, dan menunggu.

"Mpu," kata Raka akhirnya. "Kalau dia meminta saya bicara, bagaimana?"

"Jawab sedikit mungkin. Jangan berbohong terang-terangan, tapi jangan juga berkata jujur." Mpu Kalandara merapikan kainnya. "Dan jangan lupa: dia tidak tahu apa yang kau tahu."

"Saya harap begitu."

Wirabhaya kembali tepat saat matahari menyentuh cakrawala, kali ini dengan pakaian resmi dan wajah tegang. "Sudah waktunya. Kereta menunggu."

Pendopo itu milik seorang pejabat tinggi istana, dikelilingi taman dengan obor-obor yang menyala di setiap sudut. Puluhan tamu berpakaian mewah berdiri berkelompok, bercakap-cakap pelan. Aroma kemenyan dan dupa menguar tebal di udara, bercampur dengan wangi minyak kelapa dan bunga melati.

Di tengah ruangan, di atas sebuah panggung rendah, seorang lelaki duduk bersila dengan tenang di atas tikar sutra.

Raka tidak langsung mengenalinya sebagai orang dari zamannya. Lelaki itu mengenakan pakaian Jawa yang disesuaikan dengan sempurna, kain batik, ikat kepala, jubah putih tipis. Ia berusia mungkin lima puluhan, rambut tipis disisir rapi ke belakang, janggut pendek berwarna abu-abu. Wajahnya tenang, nyaris bijak, seperti seorang kakek yang menyenangkan.

Tapi ketika ia mengangkat wajah dan matanya bertemu Raka, Raka merasakan sesuatu di perutnya mengencang.

Mata itu. Ia mengenalnya.

Sebelum otaknya sempat memproses, lelaki itu berdiri, menepuk-nepuk jubahnya, dan berjalan menghampiri mereka dengan senyum hangat. Para tamu menyingkir memberi jalan, diam-diam menatap.

"Pak Kalandaru," katanya dalam bahasa Indonesia modern yang jelas, lembut, tanpa aksen. "Saya penggemar berat Bapak. Sungguh suatu kehormatan akhirnya bisa bertemu langsung."

Mpu Kalandara tak bergerak. Wajahnya sekeras batu.

"Anda mengenalku," katanya pelan.

"Tentu." Lelaki itu tersenyum lebih lebar. Lalu ia menoleh, perlahan, dan menatap Raka tepat di mata.

"Dan ini pasti murid Bapak. Selamat datang, Raka Aditya."

Dunia di sekitar Raka seakan berhenti berputar.

Karena sekarang ia ingat di mana ia pernah melihat mata itu.

1
mimief
berarti...jalan nya waktu sama disana dengan yg disini
jadi emang mesti buru" kembali. apakabar sama gurunya ya.. berarti dia juga udah hilang lebih dari 20 th juga🥹
mimief
cemburu dia rak..
perempuan mah gitu kalau merajuk 🤣🤣
mimief
wah....siapa kah itu?
Kam1la
tuntutan sama dengan syarat...
mimief
mang sial
pinter bet dia🫣
mimief
ya..mau sebesar apapun jabatan mu
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
mimief
oooooooo....MG
wahhhhhh
mimief
sang ratu bukan?
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
mimief: mungkin beliau yg nyari ya, bagaimana pun ttp darah dari saudara sendiri 🥹
total 2 replies
mimief
tapi kayaknya,kalau bukan sama yg punya
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
Kam1la
Sekar akhirnya bakal menemukan keluarga kandungnya
Kam1la
Hendar punya ambisi yg membahayakan seseorang
Ranti Calvin
👍
mimief
wah....pulang Raka
apakah ada yg kebawa juga🥹
Kam1la
apakah akan terbuka seperti duaan, malam jumat Kliwon..
Kam1la
Sekar diculik. kebakaran modus nya untuk pengalihan saja...
Kam1la
Pernikahan itu akhirnya bakal tetap terjadi...
Kam1la
Raka berhadapan langsung dengan hayam Wuruk....
mimief
apakah Raka akan membawa sekar ke masa depan?
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
mimief
apakah sebenarnya Hayam Wuruk tau keberadaan Sekar
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
mimief
tapi emang pada saat itu
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!