Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Kontrak Baru
“Kenapa dia terus bilang Ibu akan kembali bersamanya?”
Pertanyaan Elden membuat langkah Mireya terhenti.
Arven yang baru saja hendak membuka pintu mobil ikut diam.
Mireya berjongkok di hadapan Elden. “Dia hanya orang dari masa lalu Ibu.”
Elden mengerutkan kening. “Masa lalu itu seperti apa?”
“Seperti orang yang pernah ada dalam kehidupan Ibu, dulu.”
“Oh…” Elden tampak berpikir.
“Jadi dia teman Ibu dulu ya?”
“Bukan.”
“Musuh?”
Mireya hampir tertawa. “Bukan juga.”
“Terus siapa?”
Arven yang sejak tadi diam akhirnya menjawab, “Dia mantan suami Ibumu.”
Mata Elden langsung membesar. “Mantan suami?” Lalu ia menunjuk Arven. "Kalau ayah suami Ibu, berarti Ibu punya suami dua?"
Mireya mendelik menatap Arven. “Mas…? Ulahmu nih?”
“Apa?”
“Tidak perlu menjelaskan sesuatu yang tak penting.”
“Dia kan bertanya.”
Elden langsung mengangkat tangan. “Aku mau tahu!”
Mireya mengusap kepalanya. “Kamu tidak perlu memikirkan masalah orang dewasa.”
“Tapi aku kan sudah besar.” Elden tak mau kalah.
Arven menatap putranya. “Umurmu berapa?”
“Lima.”
“Baru lima tahun," ucap Arven dengan penuh penekanan.
Elden melirik Arven dengan mata sedikit menyipit. “Sebentar lagi enam,” tambahnya tak mau kalah.
“Kalau sudah sepuluh tahun, baru bisa disebut sudah besar," ucap Arven lagi.
Elden langsung memasang wajah cemberut.
Mireya menahan tawanya.
Raut cemberut itu hanya beberapa detik. Kemudian anak itu kembali bertanya.
“Ayah kan sudah menikah dengan Ibu. Berarti Ayah suami Ibu. Orang tadi juga bilang suami Ibu. Tapi Ibu tidak boleh tinggal dengan orang itu."
Mireya tidak tahu lagi harus menjelaskan seperti apa. Ia mengela nepas melirik Arven.
Arven hanya memperhatikan reaksi Mireya yang tampak padanya. “Tidak ... ibumu tak akan kemana-mana. Ibumu tetap bersama kita.”
Elden langsung tersenyum lega. “Horeeee.”
Mireya menatap Arven sekilas. Pria itu membuka pintu mobil. “Masuk.”
Mireya hanya diam dan mengangguk. Lalu masuk ke dalam mobil, memutar kepala kembali. Syahzan terlihat melipat kedua tangan di dada.
Arven melirik Syahzan melalui kaca spion.
“Masih belum move on?” gumamnya.
Mireya pura-pura tidak mendengar.
“Pak Can?” panggilnya, sengaja mengalihkan pembicaraan.
“Ya, Nyonya?”
“Biarkan dia pulang sendiri. Dia juga membawa mobil.”
.
.
Pada malam harinya, rumah Zarretti terasa begitu tenang.
Setelah makan malam, Mireya mengantar Elden ke kamar. Anak itu tidak lagi bertanya tentang kejadian siang tadi. Ia hanya sibuk menceritakan rencana mereka untuk menanam semangka keesokan harinya.
Setelah Elden tertidur, Mireya hendak mematikan lampu bersiap untuk tidur juga. Saat itu juga terdengar ketukan pintu dari luar.
Tok. Tok.
Mireya membuka pintu. Arven berdiri di depan sana.
Tangannya memegang beberapa lembar kertas. “Ada apa, Mas?”
“Baca ini.” Arven menyerahkan kertas tersebut.
Mireya mengerutkan kening. “Kontrak? Untuk apa? Kan kemarin udah."
“Kontrak baru.”
Mireya menatapnya beberapa saat, lalu menyalakan lampu kembali. “Kenapa tiba-tiba diganti?”
Arven tidak langsung menjawab. Ia masuk dan duduk di kursi meja rias. “Kontrak sebelumnya sudah tidak sesuai.”
“Tidak sesuai?”
“Banyak hal yang berubah.”
Mireya menunduk membaca lembar pertama. Matanya bergerak perlahan mengikuti setiap pasal.
Tidak ada lagi kalimat yang melarang mereka saling bertanya. Tidak ada lagi batasan bahwa mereka hanya perlu berhubungan karena Elden.
Sebaliknya, ada beberapa aturan baru.
Pertama.
Mireya tetap menjadi istri Arven Zarretti seutuhnya dan ibu bagi Elden. Keduanya akan tinggal dalam satu kamar sebagai suami istri.
Kening Mireya langsung berkerut. 'Satu kamar?'
Ia perlahan mengangkat wajah. “Mas... ini bagian mana yang berubah?”
Kedua.
Keduanya diperbolehkan melakukan kegiatan bersama sebagai keluarga.
Ketiga.
Jika berada di rumah pada waktu makan, mereka diharapkan makan bersama.
Mireya berhenti membaca.
Ia menatap Arven. “Kenapa ada aturan makan bersama segala?”
“Supaya kita benar-benar seperti keluarga sesungguhnya.”
“Bukankah kita bisa makan sendiri-sendiri?”
“Bisa.”
“Lalu untuk apa ditulis?”
Arven diam.
Mireya menyipitkan mata. Sudut bibirnya naik sebelah. Namun ia memilih melanjutkan membaca kembali.
Keempat.
Mireya diperbolehkan bertanya mengenai keadaan Arven selama tidak menyangkut urusan bisnis yang bersifat rahasia.
Kelima.
Jika ada seseorang dari masa lalu yang mengganggu atau mengancam Mireya, ia wajib memberitahu Arven.
Mireya terdiam lebih lama. Ia langsung teringat Syahzan. “Ini karena kejadian tadi?”
“Sebagian.”
Mireya kembali membaca.
Keenam.
Segala keputusan penting mengenai Elden akan dibicarakan bersama.
Ketujuh.
Mireya diperbolehkan mengelola lahan yang selama ini ia rawat dan meminta bantuan pekerja apabila diperlukan.
Mireya langsung mengangkat wajah. “Ini juga?”
“Kau kan suka berkebun.”
“Saya memang suka.”
“Kalau begitu, lanjutkan.”
Mireya tersenyum kecil. Ia kembali membaca sampai bagian terakhir.
Kedelapan.
Keduanya tetap memiliki ruang pribadi.
Namun tidak boleh menggunakan isi kontrak sebagai alasan untuk sengaja menjauh satu sama lain.
Mireya berhenti. Ia menatap kalimat itu cukup lama. Kemudian perlahan mengangkat wajah.
“Mas.”
“Hm?”
“Kenapa rasanya kontrak ini justru membuat kita lebih dekat?”
“Tidur di kamar yang sama, makan bersama, berkegiatan bersama... Mas sebenarnya sedang mengubah kontrak ini menjadi apa?”
*bersambung*
ayooo belajar galak
perlu aku kesana ga?
bantuin jambak🫣🤣🤣🤣
kepercayaan itu ga tumbuh dalam semalem..
dia udah pernah mencoba mempercayai seseorang dengan segenap jiwa dan raganya ,dan endingnya menyakitkan.
jadi cobalah kau bangun kepercayaan nya dulu
ambil simpatinya, dan sembuh kan lukanya
baru dia akan bisa membuka hatinya🥹
lucu amet si mereka🤣🤣
kontrak oh kontrak🤔
mending jujur daripada mantan mertua yang mengacaukan semua greget sama Mire
trauma diselingkuhi itu kyk kangker dufalam tubuh,ga keliatan tapi sakitnya nyata. merasuk Ampe kedalam aliran darah dan otak kita tanpa kita sadari
selalu mempertanyakan apakah kita cukup baik
apakah ini semua karena salah kita?
apakah ada g kurang dr kita?
sampai mati pasti kebawa🥹🥹
Mau nya lupa
maunya ga dipikirin
tapi...🫣🥹🥹
Dia takut nasib pernikahannya akan sama dgn sebelumnya
bahkan sekelas artis sebelah aj yg lagi rame
ketemu yg baru,setengah mampus nyerein istrinya 🤣🤣.
katanya yg baru dipilih karena lemah lembut.
hei...kami juga awalnya kembang desa
pas lama nikah jadi kembang api🤣🤣🤣
apalagi pengalaman mireya yg paket komplit...🥹
hatinya aja ga ada gerbang nya di KK
ga ada yg jagain🤣🤣🤣
Iddah itu berlaku pas suami ngucapin talak kan?
nah...si b4ngs4t itukan nalak nya udah lama...lebih dr 3 bulan kali
di pengadilan mah tinggal ketik pali doank
wahhhh....begini orang yg ga ngerti agama sok sok an mau pake dalili agama
tapi bener Lo
kita yg terbiasa di sajikan pisau didepan mata,tetibaan dikasih bunga
pasti bingung kan ya🫣🥹🥹