NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:461
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 - WAJAH SANG PENGKHIANAT

Matahari baru aja ngintip dari ufuk timur, tapi langit kota masih diselimuti awan mendung sisa badai semalam. Konvoi tiga peleton pasukan elit klan melaju tanpa suara, mengepung sebuah mansion mewah bergaya Eropa klasik di kawasan elit sektor barat. Ini rumah Tetua Haris.

Valeria turun dari mobil, menginjak genangan air hujan dengan sepatu bot kargonya. Di sampingnya, Kael berdiri tegap. Jas dan kemejanya yang berdarah udah diganti dengan perlengkapan tempur taktis warna hitam legam, lengkap dengan rompi anti peluru dan senapan serbu MP5 di tangannya. Sang bayangan nggak lagi nyembunyiin taringnya.

"Dobrak," perintah Valeria pelan, nadanya sedingin es.

Kael cuma ngangguk sekali. Pria raksasa itu melangkah maju memimpin pasukan. Nggak ada negosiasi, nggak ada ketukan sopan. Kael menendang pintu kayu jati raksasa itu dengan satu hentakan brutal sampai engselnya jebol dan pintunya roboh berdebum ke lantai marmer.

Belasan penjaga rumah Haris yang lagi asyik ngopi di ruang tamu langsung kocar-kacir ngambil senjata. Tapi mereka telat.

Kael melesat masuk kayak malaikat maut. Pria itu nggak nembak membabi buta. Tembakannya presisi, terukur, dan mematikan. Dua tembakan di dada, satu di kepala untuk setiap penjaga yang berani ngangkat senjata. Pasukan elit klan yang masuk di belakang Kael bahkan nyaris nggak perlu ngeluarin peluru karena Kael udah ngeratain jalan di depan mereka.

Valeria berjalan santai melintasi lobi yang sekarang dipenuhi mayat dan genangan darah. Matanya menatap punggung tegap Kael yang bergerak efisien menghabisi sisa perlawanan. Senyum tipis terukir di bibirnya. Ini pedangnya. Monster yang udah bersumpah bakal ngancurin dunia buat dia.

"Lantai satu bersih, Nyonya!" lapor Bastian yang ikut masuk dari pintu belakang.

"Haris pasti ada di ruang kerjanya di lantai dua. Dia terlalu pengecut buat turun," ucap Valeria melangkah menaiki tangga pualam.

Kael berjalan tepat di depannya, menutupi tubuh Valeria dengan tubuh besarnya sebagai tameng hidup. Sesampainya di depan pintu ganda ruang kerja Haris yang terkunci rapat dari dalam, Kael nggak repot-repot nendang. Dia langsung menembak engsel dan kenop pintunya pakai MP5, lalu mendobraknya masuk.

Di dalam ruangan itu, Tetua Haris lagi panik masukin gepokan uang tunai dan emas batangan ke dalam koper besar. Wajah pria tambun itu pucat pasi ngeliat pintu ruangannya hancur.

"V-Valeria! Berani-beraninya kau menyerang rumahku!" teriak Haris gemetar, mundur sampai punggungnya nabrak meja kerja. Tangannya meraba-raba laci nyari pistol, tapi Kael udah lebih dulu melangkah maju dan menendang meja kayu solid itu dengan sangat keras.

Meja itu terdorong mundur, menjepit tubuh gempal Haris ke dinding.

"AARGH! Kakiku!" jerit Haris kesakitan, tulang keringnya nyaris remuk terjepit ujung meja.

Kael melangkah mendekat, moncong MP5-nya masih berasap, ditodongkan tepat di antara kedua mata pria tua itu. "Satu gerakan lagi, dan isi kepalamu akan berceceran di dinding mahal ini."

Valeria melangkah masuk dengan anggun. Dia melirik koper berisi emas dan uang di atas meja yang berantakan, lalu mendengus sinis.

"Mau liburan ke mana, kakek tua? Bukannya kamu harusnya sibuk nyiapin karpet merah buat nyambut Klan Viper di gudang senjata kita?" sindir Valeria, berdiri di sebelah Kael sambil melipat tangan di dada.

Haris menelan ludah kasar. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Bekas cekikan Kael kemarin siang masih tercetak jelas keunguan di lehernya, dan sekarang dia harus berhadapan langsung dengan monster itu lagi.

"A-aku nggak tahu apa yang kau bicarakan, Valeria! Ini kudeta! Kau melanggar aturan klan dengan menyerang tetuamu sendiri!" bantah Haris dengan suara bergetar, masih berusaha ngeles.

Valeria memutar bola matanya malas. Dia menoleh ke arah Kael. "Kael, kayaknya dia butuh sedikit bantuan buat ngingat."

"Dengan senang hati, Val," jawab Kael datar.

Tanpa ragu sedikit pun, Kael menurunkan laras senapannya ke arah paha kiri Haris, lalu menarik pelatuknya.

*DOR!*

"AAAAAAARRRGGHH!" jeritan melengking Haris memenuhi ruangan. Pria tua itu menangis sejadi-jadinya, memegangi pahanya yang kini berlubang dan memancarkan darah segar.

"Itu buat ledakan konvoi di jalan tol utara yang nyaris ngebakar kami semalam," bisik Valeria mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap jijik ke arah Haris. "Sekarang, mending kamu mulai nyanyi. Gimana caranya kamu bisa ngejual rute rahasiaku ke Viper? Dan berapa harga yang mereka bayar buat dapetin kunci gudang sektor barat malam ini?"

Haris tersengal-sengal menahan sakit. Matanya melotot horor ngeliat Kael yang udah siap nembak paha kanannya kalau dia berani bohong lagi.

"A-ampun! Ampun, Valeria! Kumohon, jangan bunuh aku!" tangis Haris histeris. "A-aku mengaku! Aku memang membocorkan rute itu! Tapi bukan aku otak utamanya! Sumpah demi Tuhan, bukan aku!"

Kening Valeria berkerut tajam. "Bukan kamu? Jangan ngarang cerita. Siapa lagi yang punya akses dan seberani kamu buat ngehancurin klan dari dalam?"

Haris memuntahkan sedikit darah dari mulutnya, napasnya makin pendek. "Kau pikir... kau pikir Klan Viper mau bernegosiasi dengan pria tua sepertiku? Kau pikir aku punya wewenang sebesar itu untuk memanipulasi jadwal logistik dan membuka pintu gudang utama dari dalam tanpa ketahuan keamanan?"

"Katakan siapa dalangnya, atau lidahmu saya potong sekarang," ancam Kael menekan laras senapannya yang masih panas ke pipi Haris, membuat pria itu memekik kepanasan.

"P-Pamanmu! Paman Surya!" jerit Haris pecah, meneriakkan nama itu dengan putus asa. "Surya yang merencanakan semuanya! Dia yang menghubungi bos Viper! Aku cuma pion yang disuruh ngalihin perhatianmu di dewan tetua!"

Hening langsung merayap di ruangan itu. Cuma terdengar suara isak tangis kesakitan Haris dan rintik hujan sisa badai dari luar jendela.

Valeria mematung. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama sedetik.

Paman Surya? Adik kandung mendiang ayahnya? Pria tua ramah yang selalu ngasih dia hadiah ulang tahun dan ngedukung dia naik takhta waktu semua tetua lain menolak?

"Kamu bohong," desis Valeria pelan, tangannya mengepal sangat kuat sampai kuku-kukunya memutih. "Paman Surya lagi ada di luar negeri buat ngurusin bisnis properti klan. Dia nggak mungkin nusuk aku dari belakang."

"Dia ada di sini, Valeria! Dia nggak pernah pergi ke luar negeri!" balas Haris panik, takut Valeria nggak percaya dan nyuruh Kael nembak kepalanya. "Dia ada di kota ini! Dia yang nyuruh aku ngirimin paket tangan berdarah itu buat mancing emosimu! Dia sengaja ngebiarin kamu sibuk ngurusin serangan-serangan kecil Viper, sementara dia nyiapin pukulan mematikan!"

"Untuk apa?!" bentak Valeria, emosinya mulai lepas kendali. "Aku ngasih dia segalanya! Aku bagi hasil bisnis ini secara adil! Kenapa dia mau ngehancurin klan keluarganya sendiri?!"

"Karena dia merasa takhta itu miliknya!" tawa Haris sumbang di sela rintihannya. "Sejak awal ayahmu mati, Surya selalu merasa klan ini haknya! Dia muak melihat perempuan kemarin sore sepertimu duduk di kursi kekuasaan! Dia janji padaku... kalau Viper berhasil menyingkirkanmu dan anjing penjagamu ini, Viper akan mengangkat Surya jadi bos boneka, dan aku akan dapat jatah sektor barat!"

Dada Valeria naik turun dengan cepat. Rasa sakit akibat pengkhianatan ini jauh lebih perih daripada luka tembak. Kalau musuh dari luar yang nyerang, Valeria bisa ngebantai mereka sambil senyum. Tapi ini darah dagingnya sendiri. Keluarga satu-satunya yang tersisa.

Melihat raut wajah ratunya yang terluka, rahang Kael mengeras. Kael tahu betul seberapa rapuhnya Valeria kalau udah menyangkut keluarga. Pria itu mengangkat tangannya perlahan, lalu menyentuh pelan punggung Valeria, memberikan kehangatan dan dukungan dalam diam. Sentuhan kecil itu berhasil menarik Valeria kembali ke realita.

"Nyonya, jangan biarkan emosi menguasai Anda. Kalau Surya benar-benar dalangnya, berarti informasi tentang serangan balik kita malam ini ke gudang pelabuhan juga udah bocor ke telinganya," bisik Kael rasional, otaknya langsung memproses ribuan skenario buruk.

Valeria menarik napas panjang, menelan semua kekecewaan dan rasa sakitnya dalam-dalam. Ratu mafia itu kembali memasang topeng esnya. Matanya menatap Haris dengan tatapan kosong yang jauh lebih mengerikan dari sebelumnya.

"Di mana Surya sekarang?" tanya Valeria dingin.

"A-aku nggak tahu pasti. Tapi dia bilang malam ini... dia akan memimpin langsung pasukan Viper untuk mengambil alih gudang pelabuhan saat kau lengah," jawab Haris terbata-bata. "A-aku sudah memberitahumu semuanya, Valeria. Aku mohon... ampuni nyawaku. Aku akan pergi jauh, aku nggak akan kembali lagi."

Valeria menatap pria tua yang merintih menyedihkan itu. "Pengkhianat yang udah ngerasain darah nggak akan pernah bisa jinak, Haris."

Valeria memutar tubuhnya, berjalan menuju pintu keluar tanpa menoleh lagi ke belakang.

"Kael, beresin sampah ini. Aku tunggu di mobil," perintah Valeria mutlak.

"Sesuai keinginan Anda, Val," sahut Kael.

Haris melotot ngeri melihat Valeria meninggalkannya. "T-tunggu! Valeria! Kau sudah berjanji! Tidaaaak—!"

*DOR!*

Satu tembakan tajam mengakhiri jeritan Haris untuk selamanya. Kael mengeksekusi pria itu dengan wajah sedatar tembok, tanpa setitik pun rasa kasihan. Darah segar memercik ke dinding, menambah lukisan kematian di ruangan mewah itu.

Kael menyusul Valeria turun ke lobi. Wanita itu berdiri di teras depan, menatap ke arah gerbang mansion yang hancur. Hujan gerimis menerpa wajahnya, tapi Valeria sama sekali nggak bergerak.

"Val," panggil Kael pelan, berdiri di belakangnya.

"Paman Surya tahu semua sandi keamanan kita, Kael. Dia tahu kelemahan anak-anak buahku. Dia bahkan tahu taktik seranganku," gumam Valeria tanpa menoleh. "Serangan balik kita ke gudang pelabuhan malam ini... itu jebakan, kan?"

"Peluangnya sembilan puluh persen, Val. Surya pasti sudah menyiapkan pasukan gabungan Viper yang jauh lebih besar untuk membantai kita di sana," analisis Kael objektif. "Kita harus membatalkan serangan malam ini dan menyusun ulang strategi."

Valeria menoleh, menatap Kael dengan senyum sinis yang memancarkan aura kehancuran. Mata cantiknya berkilat penuh dendam yang membara.

"Batalin? Nggak, Kael. Kita tetap berangkat," desis Valeria kejam. "Kalau pamanku yang tersayang mau main jebakan, kita bakal masuk ke dalamnya, lalu kita hancurin jebakan itu dari dalam. Aku mau lihat sendiri wajah pengecutnya waktu kamu motong lehernya."

Kael menatap senyum mematikan itu, dan darahnya langsung mendidih oleh adrenalin dan pemujaan. Ini adalah ratunya. Ratu yang nggak pernah lari dari peperangan.

Kael menundukkan kepalanya sedikit, tersenyum miring yang tak kalah buas. "Kalau begitu, mari kita siapkan panggung berdarah yang pantas untuk paman Anda, Nyonya."

1
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!