Judul Novel: TUMBAL 1000 NYAWA
Sinopsis:
Sekte ghaib Kala Hitam berniat membangkitkan sosok Penguasa Abadi yang haus darah. Untuk mewujudkannya, sekte ini menebar teror Sumpah Sewu—sebuah ritual kelam yang menuntut seribu tumbal nyawa manusia di tujuh cabang wilayah terisolasi di Pulau Jawa.
Arya, seorang pemuda wewaris kekuatan kuno Minyak Naga Sakti, mendapati takdirnya terikat pada ancaman besar ini. Didampingi oleh Baskara—ayahnya yang merupakan petarung veteran penuh trauma masa lalu, Mbak Sekar—seorang praktisi mystik senior, serta Kirana—putri pakar gaib yang dibekali rajah ular beracun, Arya memulai perjalanan berbahaya untuk memutus rantai sumpah terlarang tersebut.
Satu per satu jangkar ritual harus mereka hancurkan: mulai dari teror ilmu pelet di Desa Alas Mayit, ilusi ingatan Pasang Tuwuh di Hutan Kelabu Gunung Lawu, gending nyanyian kematian Langgam Sukma di Lembah Rawa Bangkai, hingga kekejaman tempaan pusaka jiwa di Kawah Candradimuka. Baca untuk melanjutkan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banjoriuga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Luar Ambang Pintu
Cengkeraman panas yang membakar di bahu Arya terasa kian menusuk, meresap menembus serat kain jaketnya hingga membakar kulit dagingnya seperti tempelan besi membara. Dalam cengkeraman ketakutan yang melumpuhkan seluruh refleks tubuhnya, Arya dapat merasakan deru napas berat di tengkuknya—napas yang beraroma seperti daging busuk yang dibiarkan membusuk di dasar sumur tua. Udara di sekitarnya mendadak menjadi begitu berat dan pekat, seolah-olah oksigen di dalam rumah kayu tua itu telah habis terhisap oleh keberadaan makhluk gaib yang berdiri menempel di punggungnya.
Dengan sisa keberanian yang lahir dari insting murni untuk bertahan hidup, Arya tidak memutar tubuhnya untuk melihat wujud mengerikan itu. Sebaliknya, ia menyiku ke belakang menggunakan lengan kirinya sekuat-kuatnya, menghantam bagian tengah dari sosok tegap di belakangnya. Siku tangannya menerpa sesuatu yang padat namun terasa seperti gundukan lumpur tebal yang dingin dan lengket. Hantaman itu diiringi oleh raungan nyaring melengking yang menggetarkan kaca-kaca jendela di sekeliling ruangan, memaksa cengkeraman panas di bahunya terlepas seketika.
Arya tak membuang waktu sedetik pun. Ia menjatuhkan diri ke depan, berguling menembus ambang pintu kayu yang terbuka, dan jatuh tersungkur di atas tanah halaman yang basah dan licin oleh lumpur. Angin malam yang dingin menusuk langsung menyambar wajahnya yang mandi keringat dingin, memberikan sedikit rasa lega meskipun teror di belakangnya belum usai. Bau tanah basah dan hujan gerimis terasa jauh lebih menyegarkan dibandingkan udara busuk yang terperangkap di dalam rumah Sumpah Sewu.
Sewaktu Arya memutar tubuhnya sambil merangkak mundur di atas tanah, ia menatap ke arah pintu rumah tua yang terbuka lebar. Di balik remang cahaya bulan yang tertutup awan mendung tebal, berdiri sebuah bayangan hitam tinggi menjulang yang memenuhi seluruh bingkai pintu. Bayangan itu tidak memiliki wujud wajah yang jelas, hanya dua titik merah menyala seperti bara api yang tertanam di bagian kepalanya, menatap lurus ke arah Arya dengan kebencian abadi yang tak terpadamkan.
Dari balik kegelapan di dalam rumah, terdengar suara bisikan beruntun yang merambat keluar, bukan hanya dari satu mulut, melainkan dari puluhan suara manusia yang berbeda—suara pria, wanita, hingga anak-anak yang menangis meraung-raung secara bersahutan:
"Kembalilah, Arya... darahmu adalah bagian dari angka yang belum genap..."
Tiba-tiba, dari dalam semak belukar di sisi kiri halaman rumah, sebuah sosok berkerudung kain hitam melangkah keluar secara perlahan, memegang sebuah lentera minyak tua yang memancarkan cahaya oranye temaram. Sosok itu menghentikan langkahnya beberapa meter dari tempat Arya tergeletak panik, lalu mengangkat lenteranya sedikit lebih tinggi untuk menyinari wajah Arya yang pucat pasi.
"Kau sudah menyentuh kain mori itu, bukan?" suara wanita tua dari balik kerudung hitam tersebut terdengar datar, tanpa nada terkejut sedikit pun, namun mengandung getaran kecemasan yang teramat sangat. "Garis keturunan keluargamu tidak pernah bisa lari dari perjanjian ini, Arya. Kakekmu berbohong padamu selama puluhan tahun."
Arya mencoba berdiri dengan kaki yang masih gemetar hebat, menatap wanita tua yang wajahnya tertutup bayangan kerudung tersebut dengan rasa curiga bercampur panik. "Siapa kau?! Dan apa yang sebenarnya terjadi di rumah tua ini?!"
Wanita tua itu menarik napas panjang, lalu perlahan mengarahkan pandangannya ke arah rumah tua yang kini mendadak hening dan pekat kembali, seolah-olah teror beberapa detik lalu hanya halusinasi belaka. "Nama saya Sekar. Dan jika kau ingin bertahan hidup melewati malam ini, kau harus ikut denganku sebelum tumbal ke-22 dipanggil oleh tanah ini."
Langkah kaki Mbak Sekar yang terbungkus kain jarik tua menyapu rumput basah tanpa menimbulkan suara sedikit pun, bergerak cepat menembus kegelapan lorong Hutan Mayit yang kian pekat. Arya menyusul dari belakang dengan napas memburu, langkahnya terengah-engah berusaha menyeimbangi kecepatan wanita tua yang seolah telah menyatu dengan rimba raya tak bertuan ini. Setiap kali lentera minyak di tangan Mbak Sekar berayun ke kiri dan ke kanan, cahaya oranye yang temaram membiaskan bayangan pohon-pohon tua yang meliuk-liuk seperti jemari raksasa yang siap mencengkeram tubuh mereka.
Aroma amis darah yang sebelumnya menguar tajam dari rumah tua kini perlahan berganti dengan bau kemenyan yang dibakar bersama gumpalan belerang basah. Arya mengusap bahu kirinya yang masih terasa panas meradang, bekas cengkeraman makhluk bersisik itu meninggalkan jejak ruam kehitaman yang menjalar menyerupai urat kayu lapuk di bawah permukaan kulitnya. Rasa nyeri menusuk-nusuk hingga ke persendian, menuntut jawaban atas kegilaan yang baru saja dihantamkan ke dadanya secara bertubi-tubi.
"Mbak Sekar, tunggu!" panggil Arya seraya menahan langkahnya di dekat sebuah batang pohon jati yang tumbang terbelah dua. "Jelaskan padaku apa arti dari semua ini! Mengapa kakekku menyimpan kain mori berisi tulisan beracun itu? Dan mengapa namaku seolah-olah sudah tercatat di dalam tanah iblis ini?"
Mbak Sekar menghentikan langkahnya secara mendadak tanpa memutar badan. Cahaya lentera mendadak meredup, menyisakan nyala api seukuran biji jagung yang menari-nari ditiup angin dingin. Suara helaan napasnya terdengar begitu berat, memantul samar di antara barisan pohon raksasa yang membisu.
"Kakekmu tidak sekadar menyimpan kain mori itu, Arya," jawab Mbak Sekar dengan nada suara yang bergetar penuh duka. "Dia adalah salah satu dari tiga pimpinan Sumpah Sewu yang mengikat janji dengan Sang Penguasa Sumur Bangkai pada tahun 1965. Ketika desa ini dilanda wabah dan kelaparan hebat yang menewaskan ratusan jiwa, kakekmu dan dua tetua desa lainnya memilih menjual seribu nyawa keturunan mereka demi memulihkan kesuburan tanah ini."
Pernyataan itu menghantam dada Arya seperti pukulan godam raksasa. Langkah kakinya mundur satu tapak, memijak ranting lapuk hingga patah terbelah. "Tidak mungkin... Kakek adalah orang yang paling taat beribadah. Dia yang mengajariku tentang kebaikan!"
"Kebaikan yang berdiri di atas pondasi darah ratusan jiwa bukanlah kebaikan, Arya, melainkan penundaan eksekusi," Mbak Sekar berbalik perlahan, menyingkap sedikit kain kerudung hitamnya hingga memperlihatkan separuh wajahnya yang dipenuhi bekas luka bakar memanjang dari pelipis hingga ke dagu. "Sembilan ratus sembilan puluh delapan nyawa telah ditumbalkan selama enam puluh tahun terakhir—satu per satu warga desa mati dengan leher patah, tenggelam di sumur tua, atau mendadak hilang tanpa jejak di tengah hutan. Kakekmu mengorbankan sanak saudaranya sendiri demi menunda giliran keluargamu... sampai akhirnya kini, tersisa dua nyawa terakhir untuk menggenapkan angka seribu."
Seketika itu pula, tanah di bawah telapak kaki mereka bergetar hebat. Dari arah kejauhan, di balik bukit batu tempat Sumur Bangkai berada, dentang gong perunggu gaib bergema sebanyak tiga kali. Suara dengung berfrekuensi rendah itu membuat telinga Arya berdenging hebat hingga cairan hangat berwarna merah meleleh keluar dari lubang telinganya.
Angin puting beliung kecil tercipta di tengah jalan setapak, menerbangkan daun-daun kering dan menyingkap sebuah kuburan tanpa patok di samping mereka. Tanah di kuburan itu mendadak ambles, memperlihatkan sebuah rongga hitam yang memancarkan bau busuk luar biasa.
"Perjanjian itu menuntut bagian akhirnya malam ini," bisik Mbak Sekar seraya menggenggam erat pergelangan tangan Arya yang dingin menegang. "Dan orang yang memegang kunci untuk menutup atau menggenapkan tumbal seribu nyawa itu... adalah kau sendiri."
mampir juga diceritaku yah😊