NovelToon NovelToon
Batal Cerai Setelah Suami Mendengar Isi Pikiran Sang Istri

Batal Cerai Setelah Suami Mendengar Isi Pikiran Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:61.9k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.

Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.

Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.

Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.

Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.

Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”

Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Sore itu, Alina akhirnya sampai di rumah setelah seharian bekerja. Dia menghela napas panjang karena ada tugas rumah yang menantinya.

Alina berjalan menuju ruang keluarga sambil menggulung lengan kemejanya. Baru beberapa langkah, ia melihat Lorenzo duduk di ruang keluarga.

Pria itu sedang membaca sesuatu di tablet, tetapi dari cara matanya beberapa kali melirik ke arah pintu, jelas ia sudah mengetahui Alina pulang.

"Kamu sudah pulang?" tanya Lorenzo.

Alina menoleh. "Sudah."

Wanita itu kemudian berjalan menuju dapur. "Kamu sudah bisa mandi sendiri, kan? Aku mau masak."

Lorenzo menurunkan tabletnya. Mulutnya terbuka ingin membalas ucapan istrinya, tetapi dia urungkan

"Kenapa langsung masak?"

Alina membuka lemari es. "Karena kalau tidak masak, kita makan apa?"

Lorenzo diam.

Alina mengambil beberapa bahan makanan dan meletakkannya di atas meja dapur. Ia mulai mencuci sayuran.

Lorenzo masih berdiri di ambang pintu dapur memperhatikan istrinya yang sibuk.

Alina bisa merasakan tatapan pria itu. Ia akhirnya menoleh. "Ada apa?"

"Aku mau bicara."

Alina mematikan keran. "Ngomong saja, aku dengarkan."

Lorenzo masuk beberapa langkah. "Kenapa tadi kamu menolak video call-ku?"

Alina langsung mengerti. Ia menghela napas sambil mengambil talenan.

"Karena aku sedang makan."

"Itu bukan alasan."

"Itu alasan."

"Kamu bisa keluar sebentar."

Alina menatapnya. "Lorenzo, aku sedang makan bersama banyak orang."

"Memangnya kenapa?"

"Kalau aku tiba-tiba keluar hanya untuk menerima video call dari suamiku, mereka pasti bertanya."

Lorenzo menyilangkan tangan di dada. "Biarkan mereka bertanya."

Alina menatapnya seolah pria itu baru saja mengatakan sesuatu yang sangat tidak masuk akal. "Mudah sekali kamu bicara."

"Memangnya apa yang sulit?"

Alina kembali memotong sayuran. "Kamu tahu sendiri aku tidak pernah membicarakan pernikahan kita di kantor."

Lorenzo diam.

"Teman-temanku bahkan tidak tahu aku sudah menikah."

Kalimat itu membuat ekspresi Lorenzo berubah.

"Tidak tahu?"

Alina menggeleng.

"Tidak."

"Kenapa?"

Alina berhenti memotong. Ia menatap potongan sayuran di atas talenan.

"Karena apa? Karena kita menikah bukan karena cinta. Kamu juga ingin menceraikan aku."

"Kalau aku cerita bahwa suamiku adalah Lorenzo Romano, semua orang pasti akan penasaran. Dan aku malas menjelaskan semuanya."

"Aku cuma tidak suka urusan pribadi dibawa ke kantor," jawab Alina.

Lorenzo mengerutkan kening. "Tapi aku suamimu."

"Iya."

"Kenapa terdengar seperti kamu sedang menyembunyikanku?"

Alina mendengus. "Bukan menyembunyikan."

"Terus?"

"Menjaga privasi."

Lorenzo hampir membantah.

Namun suara pikiran Alina terdengar lebih dulu.

"Kalau sampai mereka tahu, aku bisa ditanya macam-macam. Belum lagi kalau mereka tahu suamiku cucu pemilik perusahaan. Pasti ada yang mengira aku masuk perusahaan karena koneksi keluarga. Padahal aku benar-benar masuk lewat jalur biasa.

Lorenzo terdiam. Ia baru menyadari sesuatu. Selama ini Alina tidak pernah menggunakan statusnya sebagai istri Lorenzo untuk mendapatkan keuntungan. Bahkan rekan-rekan kerjanya tidak tahu.

Lorenzo menatap istrinya beberapa saat. Namun, rasa kesalnya terhadap penolakan video call belum sepenuhnya hilang.

"Aku tetap tidak suka kamu menolak panggilanku."

Alina kembali memotong sayuran. "Ya, sudah. Maaf."

"Maaf?"

"Iya."

"Sesederhana itu?"

Alina mengangguk. "Kamu mau aku bagaimana?"

Lorenzo membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Ia sendiri tidak tahu kenapa merasa tidak senang. Padahal sebelumnya, selama bertahun-tahun, Alina tidak pernah meneleponnya kecuali ada urusan penting.

Sekarang ketika dirinya mulai ingin mendengar suara wanita itu, justru Alina yang sibuk. Dan yang lebih menyebalkan, Alina sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang merasa kehilangan perhatian.

Lorenzo menghela napas. "Aku cuma ingin melihat wajahmu."

Tangan Alina berhenti. Pisau yang dipegangnya menggantung beberapa sentimeter di atas talenan. Ia menoleh perlahan.

"Apa?"

Lorenzo terlihat sedikit salah tingkah. "Aku bilang, aku ingin memastikan kamu baik-baik saja."

"Oh."

Alina kembali bekerja. Dalam hati, ia mulai mengomel.

"Kenapa sekarang jadi begini? Dulu kalau aku sakit, dia paling cuma tanya sudah minum obat atau belum. Sekarang aku pergi kerja beberapa jam saja dicari. Jangan-jangan amnesianya membuat otaknya berubah."

Lorenzo menahan senyum. Ia tahu persis apa yang sedang dipikirkan istrinya.

Namun sebelum ia sempat menjawab, Alina sudah bertanya, "Kamu sudah minum obat sore?"

"Sudah."

"Jangan bohong."

"Aku tidak bohong."

Alina mengangguk. "Bagus."

Lorenzo memperhatikannya memasak. Ia merasa ada sesuatu yang lucu dari situasi ini.

Alina bisa mengomel dalam pikirannya, tetapi tetap saja tangannya sibuk menyiapkan makanan untuknya.

Lorenzo kemudian melihat kesempatan untuk menjahilinya. "Alina."

"Hm?"

"Besok aku masuk kerja ke kantor."

Pisau di tangan Alina berhenti lagi. Alina mengangkat wajah. "Kamu masih sakit."

"Aku sudah lebih baik."

Alina tidak membalas. Dia melanjutkan kegiatan memasaknya.

Malam mulai turun ketika makan malam selesai disiapkan. Alina membawa satu per satu hidangan ke meja.

Lorenzo sudah duduk di sana. "Baunya enak," katanya.

Alina meletakkan mangkuk terakhir. "Sudah. Makan."

Lorenzo mengambil sendok dan Alina duduk di seberangnya. Beberapa saat mereka makan dalam diam. Tidak ada suasana canggung seperti dulu.

Setelah selesai makan, Alina berdiri untuk membereskan meja.

Lorenzo langsung berkata, "Biar aku."

Alina menoleh. "Kamu?"

"Iya."

"Kamu bisa?"

Pertanyaan itu membuat Lorenzo tersinggung. "Tentu saja."

Alina menyerahkan satu piring. "Baik. Hati-hati."

Lorenzo mengambilnya.

Baru dua langkah, Alina sudah berkata, "Pelan-pelan."

"Aku tahu."

"Jangan sampai jatuh."

"Aku tahu."

"Kalau sakit, bilang."

Lorenzo menoleh. "Kamu cerewet."

Alina tersenyum. "Baru tahu?"

Lorenzo tidak menjawab. Tetapi senyum tipis muncul di wajahnya.

Malam semakin larut. Setelah semua selesai, Alina masuk ke kamarnya untuk mandi.

Lorenzo kembali ke kamarnya. Namun beberapa waktu kemudian, pria itu keluar lagi. Ia mencari Alina. Tidak ada di ruang keluarga. Tidak ada di kamar utama.

Lorenzo berjalan menuju kamar yang selama beberapa tahun ditempati Alina. Ia mengetuk pintu.

"Alina?"

Lorenzo membuka pintu sedikit. Dari dalam kamar mandi terdengar suara air. Ia tahu Alina sedang mandi.

Bukannya pergi, Lorenzo justru masuk. Ia duduk di tepi ranjang. Kemudian, karena merasa lelah, ia merebahkan tubuh.

Awalnya hanya ingin menunggu sebentar. Namun, kasur terasa nyaman. Lorenzo menyandarkan kepala pada bantal. Matanya menatap langit-langit. Ia tidak tahu mengapa dirinya menunggu.

Bukankah ia bisa kembali ke kamar sendiri? Tetapi kakinya tidak bergerak.

Beberapa menit kemudian, suara air berhenti. Lorenzo mengangkat kepala.

Pintu kamar mandi terbuka. Alina keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Langkahnya berhenti.

Lorenzo juga berhenti bernapas sesaat.

Wanita itu mengenakan setelan tidur sederhana. Celana pendek sebatas paha dan tank top yang memperlihatkan garis bahunya serta lekuk tubuhnya dengan jelas. Rambutnya masih basah. Wajahnya polos tanpa riasan. Alina terlihat sangat berbeda dari perempuan yang tadi sore pulang dengan pakaian kerja.

Lorenzo hanya bisa menatap. Mulutnya sedikit terbuka. Ia bahkan lupa berkedip.

"Astaga! Apa yang kamu lakukan di sini?!" pekik Alina yang terkejut dengan kehadiran Lorenzo di kamarnya.

Lorenzo tidak menjawab.

"Kamu kenapa melongo?" Alina mengerutkan keningnya.

Lorenzo buru-buru menutup mulut. "Tidak."

"Terus kenapa bengong?"

"A-aku..." Lorenzo berhenti. Tidak menemukan alasan yang masuk akal.

Alina melihat dirinya sendiri. Kemudian menatap Lorenzo lagi.

"TIDAAAAAK!" Alina mencoba menutup tubuhnya dengan handuk yang tadi dipakai di kepala.

"Kenapa kamu berteriak kencang seperti lihat setan?" Lorenzo menyeringai jahil.

"Ya, setannya itu kamu!"

Lorenzo kembali mencuri pandang. Kenapa istrinya terlihat seksi seperti itu? Ia sudah serumah dengan Alina selama tiga tahun. Tetapi baru sekarang ia benar-benar memperhatikan perempuan itu. Dan semakin ia memperhatikan, semakin sulit baginya untuk berpura-pura biasa saja.

"Kenapa dia masih di sini?"

Lorenzo menelan ludah. "Jangan-jangan dia memang sengaja menunggu."

Alina menoleh.

"Kalau kamu tidak ada urusan, sana kembali ke kamarmu."

Lorenzo terdiam. Ia hampir menjawab "Aku ingin bersama kamu". Namun, pikirannya sendiri justru sibuk mencari alasan.

"Aku tunggu kamu di kamar utama," ucap Lorenzo tersenyum manis dan itu membuat jantung Alina berdetak kencang.

1
Noor hidayati
kok dirumah lorenzo ga ada ART,di awal awal bab waktu lorenzo bilang mau menceraikan alina,terus alina saking senangnya sampai jingkrak jingkrak kan ada ART yang ngeliat alina heboh sendiri
Maulidia Okta
baru menyesal bang, kemarin2 kemana....
aku
beehhh!! 3 tahun ndul. selama itu pula kau manjakan jg gundikmu. gk adil bgt
aku
ini pada gak sadar apa bgmn? kata amnesia kok lgsg tau MAMA 😌😌
aku
🤣🤣🤣🤣 jangan mati dulu soale urusane cere lom kelar 🤣🤣🤣 aduhai 🤣🤣
Atik Kiswati
kalau apa.....nanggung ih...../Smug/
Felycia Fernandez
Bianca mau menjatuhkan mental Alina,malah dia yang sekarang terkejut dengar kenyataan semuanya 😆😆😆😆
Alina di lawan
Felycia Fernandez
karena itu ciuman pertama Alina...
pasti membekas di hati
Felycia Fernandez
😆😆😆😆😆😆
Pudkeciput
good job Al kamu cewek yg tdk mudah di intimidasi..👍
Felycia Fernandez
mulai sayang istri ya...bagus deh
Sastri Dalila
😅😅
Ita rahmawati
bagus lah Alina bukan tipe yg mudah di tindas 😍
Ita rahmawati
makanya lerenzo jgn sok sok GK doyan sekalinya coba ketagihan,, heeh 3 THN loh dianggurin itu istri 🤣
Ita rahmawati: bener LG 🤣🤣
total 4 replies
Lianty Itha Olivia
caritanya diakhir...kau...kugantung 😆😆😆 thoor ngomongnya kok setengah sih diakhir kalimat
Inooy
aq kira Alina akan mudah terintimidasi ama Bianca,,ternyata Alina modelan senggol bacok niih 😆

bagus Aal, kamu jangan mudah terprovokasi oleh kata2 Bianca..walaupun ada kata2 Bianca yg sedikit nya benar, tp kamu jangan takut..karena status kamu lebih tinggi dr pada Bianca yaitu seorang istri,,skali pun terjadi nya pernikahan karena perjodohan..tp kamu lebih kuat kedudukan nya, apalagi skarang Lorenzo nya udh mulai membuka hati dn membuka mata..klo selama ini dia udh d berikan berlian berkat perjodohan....
Inooy
hayooo..klo apa niiih!?? 🤔
Inooy
kamu y Reen mulai nakal kamuu,,kasian tau jantung Alina pasti g bisa d kondisikan gara2 serang ngedadak kamu 😆
Uthie
Kalaauuuuu... ?!???
penasaran niii Thor 😆😍🙏🙏
Inooy
itu kamu tau sendiri,,ada yg udh halal knapa masih ngurusin yg lain..nyesel kan kamu Ren!? 🤦‍♀️
Inooy: beneran kaa aq suka gedek sendiri klo liat istri2 yg cuma manut2 aj teh..🤭
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!