Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konferensi Pers, Anjing Hukum Titan, dan Pelukan Pembawa Damai
Perang opini publik bergerak lebih cepat daripada ketukan palu hakim di pengadilan.
Dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam setelah pengumuman pembatalan kontrak dari tiga universitas, Lin Xiao telah mengubah lobi utama gedung PT Campus Relay menjadi arena "press conference" dadakan.
Puluhan jurnalis dari berbagai media ekonomi dan pendidikan ibukota berkumpul. Kilatan blitz kamera menyambar tiada henti. Di depan meja panjang, Lin Xiao duduk dengan postur sempurna, mengenakan setelan "blazer" putih tulang yang memancarkan aura dominasi mutlak. Di sebelahnya, beberapa perwakilan mahasiswa tingkat akhir yang merupakan kurir Campus Relay duduk dengan wajah tegang.
Lu Feng tidak duduk di depan. Ia berdiri di sudut ruangan yang agak gelap, menyandarkan punggungnya di dinding, memperhatikan kekasihnya mengambil alih kendali pertempuran.
"Nona Lin," seorang jurnalis pria berkacamata mengacungkan mikrofon. "Pihak universitas menyatakan bahwa peralihan ke Titan Freight adalah murni untuk standarisasi keamanan. Apa tanggapan Anda?"
Lin Xiao mencondongkan tubuhnya ke arah mikrofon. Ekspresinya sangat tenang, namun matanya memancarkan ketajaman yang bisa merobek kebohongan apa pun.
"Standarisasi keamanan adalah tameng retak yang digunakan untuk menutupi praktik monopoli," jawab Lin Xiao lantang dan presisi. "Kami memiliki data resmi. Selama delapan belas bulan beroperasi, tingkat kehilangan barang di Campus Relay berada di bawah nol koma dua persen. Kami memberdayakan ribuan mahasiswa untuk mendapatkan uang saku tambahan. Namun hari ini, rektorat memaksa mahasiswa untuk menggunakan layanan Titan Freight yang tarifnya tiga kali lipat lebih mahal, hanya karena dana hibah yang secara hukum... sangat patut dipertanyakan."
Lin Xiao mengangkat sebuah dokumen dengan logo firma hukum tempatnya dulu magang. Ia telah menggunakan koneksi lamanya untuk menggali informasi.
"Kami telah mengajukan laporan resmi ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha atas dugaan pelanggaran Pasal 42 Undang-Undang Anti-Monopoli," lanjut Lin Xiao tanpa ragu. "Jika rektorat bersikeras, kami tidak hanya akan menggugat Titan Freight, tapi kami juga akan membawa pihak universitas ke pengadilan tata usaha negara!"
Ruangan langsung bergemuruh oleh suara ketikan para jurnalis. Headline berita hari itu sudah dipastikan: "Startup Mahasiswa Melawan Raksasa Logistik dan Tirani Kampus!"
Di sudut ruangan, Lu Feng menyeringai lebar. Ia melipat tangannya di dada. Wanita itu... Lin Xiao-nya... benar-benar terlihat seperti dewi perang yang turun dari langit untuk membakar musuh-musuhnya.
***
Tiga hari kemudian, efek dari konferensi pers itu meledak.
Ribuan mahasiswa di tiga universitas tersebut menggelar aksi protes. Mereka menolak mengambil paket dari kurir Titan Freight dan membanjiri forum kampus dengan tagar dukungan untuk Campus Relay. Tekanan publik membuat rektorat panik, dan akhirnya, Titan Freight terpaksa mengirimkan tim kuasa hukum mereka untuk mediasi tertutup dengan pihak Campus Relay.
Di ruang rapat lantai 18, Lin Xiao duduk berhadapan dengan tiga pengacara senior dari Titan Freight. Pria-pria beruban dengan setelan jas mahal itu menatap Lin Xiao dengan tatapan meremehkan.
"Dengar, Nona Pengacara Muda," ucap salah satu pengacara Titan dengan nada menggurui. "Klien kami bersedia memberikan kompensasi lima juta yuan agar kalian mencabut laporan di Komisi Pengawas. Ambil uang ini. Perusahaan kecil kalian bisa menggunakan dana ini untuk beroperasi di kampus-kampus pinggiran. Jangan bermain api dengan Titan."
Sebuah cek disodorkan melintasi meja marmer itu.
Lu Feng yang duduk di sebelah Lin Xiao hampir saja meledak dan melempar kursi ke arah pria tua itu, namun Lin Xiao menahan paha Lu Feng di bawah meja dengan tangan kirinya. Genggaman Lin Xiao sangat erat, mengisyaratkan Lu Feng untuk diam.
Lin Xiao menatap cek itu, lalu perlahan... ia mendorongnya kembali ke arah pengacara tersebut menggunakan ujung pulpennya, seolah cek itu adalah sampah berbau busuk.
"Lima juta yuan?" Lin Xiao tertawa pelan, sebuah tawa sinis yang sangat dingin. "Anda pikir Anda sedang membeli permen di minimarket?"
"Jaga bicaramu, Nona!" geram pengacara itu.
Lin Xiao mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam ketiga pria tua itu. "Simpan cek receh Anda. Tuntutan kami tidak berubah. Hentikan praktik monopoli di tiga kampus itu, atau mari kita selesaikan di meja hijau. Saya yakin media akan sangat senang meliput bagaimana raksasa Titan Freight menyuap rektorat demi menindas mahasiswa."
"Kau tidak punya bukti penyuapan!" bentak pengacara yang lain.
"Saya punya bukti penyalahgunaan posisi dominan pasar," balas Lin Xiao cepat, telak, dan tanpa ampun. "Dan saya punya waktu seumur hidup untuk membuat hidup klien Anda sengsara di pengadilan. Silakan keluar dari ruangan saya. Kita bertemu di persidangan."
Ketiga pengacara senior itu bangkit dengan wajah merah padam karena marah dan malu. Mereka tidak menyangka akan diusir oleh kepala legal yang usianya jauh di bawah mereka. Mereka keluar dari ruangan sambil membanting pintu.
Setelah ruangan kembali hening, bahu Lin Xiao yang sedari tadi tegang akhirnya merosot. Ia melepaskan kacamata anti-radiasinya dan memijat pangkal hidungnya dengan keras. Adrenalin yang memompa jantungnya perlahan surut, meninggalkan rasa lelah yang luar biasa.
Lu Feng memutar kursinya, menatap Lin Xiao lekat-lekat. Pria itu tidak mengucapkan terima kasih. Kata terima kasih terlalu murah untuk apa yang baru saja dilakukan wanita ini.
Lu Feng berdiri, menarik kursi Lin Xiao hingga berhadapan dengannya, lalu menarik pinggang wanita itu, menyembunyikan wajah lelah Lin Xiao di perutnya. Lin Xiao melingkarkan lengannya di pinggang Lu Feng, menyandarkan kepalanya di sana dengan pasrah.
"Gue nggak tau harus ngomong apa lagi, Xiao," bisik Lu Feng parau, jemarinya mengusap lembut rambut Lin Xiao yang disanggul rapi, perlahan melepaskan jepitannya agar wanita itu merasa lebih rileks. "Lo bener-bener... gila. Keren banget."
"Kepalaku sakit," gumam Lin Xiao pelan, suaranya teredam di kemeja Lu Feng. "Pengacara tua bangka itu benar-benar menguji kesabaranku."
Lu Feng terkekeh pelan. Ia membungkuk, mengangkat tubuh Lin Xiao begitu saja dari kursinya ala "bridal style".
Lin Xiao terpekik kaget, buru-buru mengalungkan lengannya di leher Lu Feng. "Lu Feng! Apa yang kamu lakukan?! Turunkan aku, kita masih di kantor!"
"Kantor udah sepi, ini udah jam delapan malam, Yang," jawab Lu Feng santai, melangkah keluar dari ruang rapat sambil menggendong pacarnya. "Medan perangnya udah selesai buat hari ini. Sekarang waktunya Jenderal Lin Xiao istirahat. Kita pulang ke penthouse. Gue bakal masakin air anget buat lo mandi, terus gue pijitin kepala lo sampai lo ketiduran."
Lin Xiao merona hebat, namun ia tidak lagi memberontak. Ia menyandarkan kepalanya di bahu lebar Lu Feng, menghirup aroma maskulin yang selalu berhasil menenangkan badai di dalam kepalanya.
Melawan raksasa korporat mungkin terdengar menakutkan bagi banyak orang. Namun bagi Lin Xiao, selama ia memiliki Lu Feng yang siap menopangnya saat ia kelelahan, ia tidak keberatan menghadapi seluruh dunia.