"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."
"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"
Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.
Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.
Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.
Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.
"Via... kita mulai dari awal."
"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Orang Asing di Ruang Tamu
Suara langkah kaki yang terdengar mendekat membuat Vandra yang semula duduk langsung berdiri dan mengangkat kepala. Tatapannya langsung bertemu dengan Levia.
Namun, ada pemandangan yang membuat alisnya sedikit berkerut. Levia berjalan santai sambil memeluk lengan Bram Gultom.
Di wajah wanita itu tak tampak senyum berbunga-bunga seperti biasanya. Tidak ada tatapan berbinar. Tidak ada langkah tergesa-gesa yang selalu menyambut kedatangannya. Seolah-olah, ia benar-benar hanya tamu biasa.
Bram dan Levia menghampiri.
"Malam, Vandra," sapa Bram lebih dulu.
"Malam, Yah."
Vandra mengangguk sopan, lalu tanpa sadar kembali melirik Levia. Biasanya, sebelum ia atau Gultom sempat mengatakan sesuatu, Levia sudah lebih dulu berdiri di depannya. Dan berkata,
"Kak Vandra... akhirnya datang juga."
Namun malam ini hal itu tak terjadi.
"Silakan duduk," ujar Bram.
Vandra kembali duduk.
Sementara Levia melepaskan pelukan di lengan ayahnya, lalu memilih duduk di sisi Bram.
Sebuah meja menjadi pembatas di antara dirinya dan Vandra.
Vandra mengerutkan dahi tipis. Biasanya, wanita itu akan langsung mengambil tempat di sampingnya tanpa diminta. Duduk sangat dekat, memeluk lengannya, bahkan tak jarang menyandarkan kepala di bahunya meski berkali-kali ia melepaskannya. Namun malam ini, Levia bahkan tidak berusaha mendekat.
Bram melirik putrinya sekilas. Sejak pagi tadi, perubahan-perubahan kecil terus ia lihat. Namun baru malam ini ia benar-benar yakin.
Levia tidak lagi menjadikan Vandra sebagai pusat dunianya.
Perasaan hangat perlahan memenuhi dadanya, meski ia sendiri belum mengerti apa yang menjadi penyebab perubahan itu. Dan rasanya ia hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Namun, agar suasana tidak terasa canggung, ia akhirnya berdeham pelan. "Via, kok gak nyapa suamimu," tegurnya lembut.
Levia menoleh sebentar ke arah Vandra. "Malam."
Hanya itu. Bahkan nada suara itu terdengar datar, sopan, dan... terasa asing.
Vandra membalas dengan anggukan singkat. "Malam."
Entah mengapa, sikap Levia itu membuatnya sedikit terusik.
"Kenapa dia bersikap seolah sedang menerima tamu?"
Padahal, selama hampir satu tahun menikah, Vandra memang tidak pernah menganggap rumah Gultom sebagai rumah mertuanya.
Ia tak pernah sekali pun menginap di sana. Setiap datang, tujuannya selalu jelas, mengantar atau menjemput Levia atas permintaan Ratih. Atau membicarakan urusan tertentu dengan Bram Gultom. Setelah itu, ia akan segera pergi.
Karena itulah, setiap berkunjung, ia selalu menunggu di ruang tamu seperti tamu pada umumnya.
Namun malam ini, justru Levia yang memperlakukannya seperti tamu.
Tak lama kemudian, Ninis masuk membawa sebuah nampan. Di atasnya terdapat satu teko teh hangat, tiga cangkir porselen, serta sepiring kecil kue kering.
"Permisi, Pak."
Ia meletakkan nampan itu di atas meja dengan gerakan cekatan. Namun, sebelum menuangkan teh, matanya sekilas melirik ke arah sofa.
Levia tetap duduk di sisi Bram tanpa sedikit pun berusaha mendekati Vandra.
Alis Ninis bertaut. "Biasanya, Levia bakal sibuk nyari perhatian pria itu. Malam ini justru seolah menjaga jarak. Apa benar Levia berubah... atau dia cuma sedang memainkan sandiwara baru?"
Meski dipenuhi tanda tanya, Ninis tetap memasang senyum ramah. Ia menuangkan teh ke dalam ketiga cangkir satu per satu.
"Silakan diminum."
Bram mengangguk pelan. "Terima kasih, Nis."
"Sama-sama, Pak."
Ninis menundukkan kepala dengan sopan, lalu melangkah mundur beberapa langkah sebelum berbalik meninggalkan ruang tamu.
Sesaat sebelum pintu tertutup, ia kembali melirik Levia. Tatapannya semakin dalam.
"Aku harus cari tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu, Levia."
Setelah Ninis pergi, keheningan memenuhi ruangan.
Entah kenapa, suasana itu justru membuat Vandra merasa tidak nyaman.
Biasanya ia selalu kesal karena Levia terlalu banyak bicara. Sekarang ketika wanita itu benar-benar diam, rasanya justru aneh.
Tatapan Vandra tanpa sadar kembali mengarah pada Levia. Wanita itu sama sekali tidak melihat ke arahnya. Sebaliknya, Levia sedang mengambil cangkir teh untuk Bram.
"Yah, tehnya."
"Terima kasih, Via Sayang." Bibir Gultom melengkung ke atas saat menerima cangkir itu.
"Sama-sama." Levia tersenyum tulus.
Setelah itu Levia kembali duduk dengan tenang. Tak ada usaha membuka percakapan dengannya. Tak ada pertanyaan tentang pekerjaannya. Tak ada rengekan agar ia segera pulang bersama.
Tak ada apa-apa.
"Apa dia masih marah karena kejadian kemarin?" pikir Vandra. "Apa kata-kataku kemarin keterlaluan?" Namun ia segera menghapus pikiran itu. "Bagus kalau begitu. Berarti urusannya bakal jadi lebih mudah."
Meski begitu, entah mengapa ada sesuatu yang terasa mengganjal. Wanita yang selama bertahun-tahun selalu berputar mengelilinginya, kini bahkan tidak terlihat tertarik menatapnya lebih dari beberapa detik.
Perubahan itu terlalu mendadak. Dan untuk pertama kalinya, Vandra merasa seperti sedang berhadapan dengan orang yang berbeda.
Vandra akhirnya membuka map cokelat yang sejak tadi dibawanya.
"Aku datang bukan buat jemput Levia."
Kalimat itu membuat Bram dan Levia sama-sama menatapnya.
Vandra mengeluarkan selembar surat berkop resmi, lalu meletakkannya di atas meja.
"Aku dapat penugasan sebagai Satgas Misi Perdamaian PBB."
Bram sedikit terkejut. "Satgas perdamaian?"
"Iya." Vandra mengangguk pelan. "Penugasannya sekitar satu tahun."
Vandra mengira Levia akan langsung panik seperti dulu.
Biasanya, baru mendengar kata pergi saja wanita itu sudah menangis dan memohon agar ia tidak berangkat. Namun kali ini tak ada suara.
Levia hanya berkedip beberapa kali. "Satu tahun?"
Jantung Vivian justru berdebar karena gembira. "Serius? Aku gak bakal ketemu manusia kutup ini selama setahun?"
Di dalam hati, rasanya ia ingin mengangkat kedua tangan ke langit. "Ya Tuhan... ini kabar paling bagus sejak aku jadi Levia!"
Satu tahun. Tiga ratus enam puluh lima hari. Lebih dari cukup untuk menurunkan berat badan, memperbaiki kesehatan, membangun karier sebagai desainer, dan menjauh dari semua kekacauan yang diwariskan Levia.
Susah payah ia menahan senyum agar tidak terlihat terlalu bahagianya.
Di sisi lain, Bram juga sedang berusaha menjaga ekspresinya. Awalnya ia sempat khawatir Vandra datang untuk membawa Levia pulang. Ternyata... pria itu justru akan pergi selama satu tahun.
"Berarti Via bisa tetap di rumah..."
Sudut bibir Bram hampir terangkat. Ia buru-buru meneguk teh untuk menyembunyikan senyum yang nyaris lolos.
"Selamat ya, Vandra," ucapnya setenang mungkin. "Itu penugasan yang membanggakan."
"Terima kasih, Yah."
Vandra kembali menoleh kepada Levia. Ia menunggu. Satu detik. Dua detik. Tiga detik.
Tetap tidak ada tangisan. Tidak ada pertanyaan seperti, 'Kapan pulangnya?'
Tidak ada rengekan agar dirinya membatalkan keberangkatan. Yang terdengar justru...
...✨"Orang yang dulu mati-matian ingin mempertahankanmu, suatu hari bisa menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat jalan tanpa ragu."✨...
.
To be continued
ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.
syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄