Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.
Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.
Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Restoran elit di pusat Melbourne itu terasa tenang meski di jam makan siang. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar yang menghadap taman dalam, melembutkan suasana ruang makan yang didominasi kayu gelap dan linen putih. Di salah satu meja di sudut yang lebih privat, Erlan dan Naya sudah duduk berhadapan hampir tiga puluh menit.
Seorang pelayan mendekat dengan langkah tenang, membawa dua piring hidangan utama. Ia meletakkannya rapi di atas meja, lalu tersenyum profesional. “Selamat menikmati, Nona… Tuan.”
“Terima kasih,” jawab Erlan singkat, mengangguk sopan.
Naya membalas senyum pelayan itu, tapi matanya tidak fokus pada makanan. Sejak mereka tiba, ia terus melirik ke arah pintu masuk, ke meja-meja sekitar, bahkan ke arah bar. Ia mencari sosok klien yang seharusnya hadir. Catatan kecil di tasnya sudah siap, pulpen sudah dipegang, tapi orang yang ditunggu tidak kunjung muncul.
Waktu terus berjalan. Makanan di depan mereka mulai mengeluarkan uap tipis, dan suasana semakin canggung bagi Naya. Akhirnya ia tidak tahan.
“Mana kliennya?” tanyanya pelan, mencoba tetap menjaga nada profesional. “Kenapa belum datang juga? Kita sudah hampir setengah jam di sini.”
Erlan yang sejak tadi mengamatinya dengan tenang akhirnya tersenyum kecil. Ia meletakkan serbet di pangkuan, lalu menjawab dengan suara ringan. “Oh ya… aku lupa mengatakannya padamu. Pertemuan ini gagal. Beliau ada keperluan mendesak yang harus diselesaikan.”
Naya mengerutkan kening, masih belum sepenuhnya lega. “Berarti tidak jadi meeting-nya?”
“Tidak jadi. Meetingnya batal” jawab Erlan sambil tersenyum lagi, kali ini lebih lembut.
Naya terdiam sejenak. Di dalam hatinya, rasa kesal sempat muncul. Kenapa tidak diberitahu sejak awal? tapi segera digantikan oleh kelegaan yang jauh lebih besar. Jujur saja, sejak tadi dadanya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ini hari pertamanya secara resmi menjalankan tugas sebagai sekretaris, dan ia sudah membayangkan harus mencatat poin-poin penting di depan klien penting. Ketegangan itu membuatnya hampir tidak bisa menikmati suasana restoran.
Ia menghela napas pelan, bahu yang sejak tadi tegang sedikit menurun. “Kalau begitu… syukurlah,” gumamnya hampir tidak terdengar.
Erlan memperhatikan perubahan itu. Ia tidak langsung berbicara, hanya mendorong piringnya sedikit lebih dekat. “Makanlah. Makanannya akan dingin.”
Naya mengangguk. Ia mengambil sendok dan garpu, lalu mulai memotong makanannya dengan gerakan hati-hati. Suapan pertama terasa hambar di lidah karena pikirannya masih berputar, tapi perlahan ia memaksa diri untuk menikmati. Di seberang meja, Erlan juga mulai makan dengan tenang, sesekali melirik Naya tanpa membuatnya merasa diawasi.
Suasana di antara mereka berubah menjadi lebih longgar. Tidak ada lagi ketegangan menunggu klien. Hanya dua orang yang dulu saling kenal di bangku kuliah, kini duduk di restoran mewah di Melbourne, dengan jarak waktu bertahun-tahun di antara mereka.
Naya mengunyah pelan, lalu memberanikan diri mengangkat wajah. “Lain kali… kalau ada perubahan jadwal, kabari saya lebih awal, ya. Saya sempat deg-degan.”
Erlan tertawa kecil, tawa yang rendah dan hangat. “Maaf. Lain kali aku akan memberitahumu.”
Di meja itu, percakapan mulai mengalir pelan, masih hati-hati, masih menjaga jarak, tapi jauh lebih mudah daripada saat mereka bertemu di pantry kemarin. Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Australia, Naya merasa siang itu tidak hanya tentang pekerjaan.
Ada sesuatu yang lebih personal yang pelan-pelan mengisi ruang di antara mereka.
Suasana di meja mereka sempat mengalir cukup ringan setelah makanan disantap. Erlan sengaja memilih topik yang terkesan biasa, mencoba menjaga percakapan tetap aman. Ia meletakkan sendoknya, lalu menatap Naya dengan ekspresi tenang.
“Bagaimana kabar Aslan? Dia ikut pindah kesini juga?” tanyanya, nada suaranya terdengar seperti basa-basi semata.
Padahal di dalam hatinya, Erlan sudah tahu jawabannya. Ia sudah membaca kabar perceraian itu. Pertanyaan itu hanya cara untuk membuka ruang, untuk memberi Naya kesempatan berbicara jika ia mau.
Naya yang sejak tadi makan dengan tenang langsung berhenti. Ia menghela napas dalam, meletakkan sendok dan garpu di samping piring, lalu mengambil serbet dan mengelap mulutnya pelan. Gerakannya tertata, seolah memberi waktu pada dirinya sendiri sebelum menjawab.
“Aku tidak tahu, aku ke sini sendiri. Dia tetap di Jakarta.” jawabnya lirih. Suaranya pelan, hampir tenggelam di tengah suara restoran yang ramai.
Erlan mengangguk pelan, seolah baru mendengar informasi itu. Ia tidak langsung menyerah. “Aslan pasti berat meninggalkan perusahaannya, ya? Perusahaan sebesar itu sulit ditinggalkan begitu saja.”
Naya menggelengkan kepala. Kali ini ia mengangkat wajah, menatap Erlan langsung. Matanya tenang, tapi ada bayangan lelah yang jelas di baliknya. “Sebenarnya aku dan Aslan sudah pisah,” ucapnya akhirnya, setiap kata diucapkan dengan hati-hati. “Saat ini kami masih dalam proses cerai. Aku pindah ke sini karena ingin melanjutkan pendidikanku yang sempat tertunda. Sekalian… menjalani hidupku yang baru tanpanya.”
Keheningan sejenak mengisi meja mereka. Erlan terdiam, wajahnya memperlihatkan rasa tidak enak hati yang tulus. Ia menunduk sedikit, lalu berbicara pelan. “Maaf. Aku tidak tahu. Seharusnya aku tidak bertanya seperti itu.”
Naya tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. Ia mengangguk kecil, menerima permintaan maaf itu. Lalu, setelah beberapa detik, ia menambahkan dengan suara yang lebih pelan, hampir seperti gumam.
“Dia mengkhianatiku. Itu kenapa aku memutuskan berpisah darinya.”
Kalimat itu jatuh sederhana, tanpa drama, tanpa air mata. Tapi justru karena kesederhanaannya, kalimat itu terasa sangat berat. Erlan menatap Naya dalam diam. Ia bisa melihat bahwa wanita di hadapannya sudah tidak lagi ingin menjelaskan detail. Cukup sudah, pengkhianatan itu menjadi alasan, dan ia menghormati batas itu.
Erlan mengangguk pelan. “Kamu tidak perlu menjelaskan lebih jauh kalau tidak mau,” ucapnya lembut. “Kamu sudah tepat memilih keputusan itu. Pria seperti itu memang harus di tinggalkan"
Naya terdiam, lalu mengalihkan pandangan ke jendela. Di luar, orang-orang berjalan dengan langkah santai di bawah sinar matahari Melbourne. Ia menarik napas pelan, mencoba melepaskan rasa sesak yang sempat naik ke dada.
“Aku masih belajar,” jawabnya akhirnya. “Belajar hidup tanpa dia. Belajar berdiri sendiri. Kadang mudah, kadang tidak.”
Erlan tidak membalas dengan kata-kata manis atau janji kosong. Ia hanya duduk di seberang, hadir, dan membiarkan Naya mengatur napasnya kembali. Di meja restoran yang tenang itu, percakapan yang semula basa-basi berubah menjadi ruang kecil di mana luka lama sempat tersingkap, lalu ditutup kembali dengan hati-hati.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Erlan merasa bahwa jarak di antara mereka tidak lagi terasa mustahil untuk dijembatani. Asalkan ia cukup sabar untuk tidak memaksa.