Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.
Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.
Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.
Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.
Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.
Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eksekusi Basemen Dua
Pagi itu, langit Jakarta tampak cerah, seolah mengejek awan gelap yang sedang bergelung di atas kepala Andrian.
Tepat pukul setengah delapan, Andrian melangkah memasuki lobi NSM Company. Ia merapikan kemeja birunya yang sudah disetrika licin, menempelkan ID card magangnya pada pemindai turnstile gerbang masuk utama.
Biasanya, lampu hijau akan menyala diiringi bunyi beep riang. Namun pagi ini, layar pemindai itu berkedip merah dengan bunyi peringatan yang nyaring. Akses Ditolak.
Andrian mengerutkan kening. Ia mencoba menempelkan kartunya lagi. Merah. Ia mencoba mesin di sebelahnya. Merah.
Beberapa karyawan yang antre di belakangnya mulai berbisik-bisik. Tepat saat Andrian berniat mendatangi meja resepsionis, seorang pria berkacamata dengan kemeja abu-abu rapi menghampirinya. Dimas, dari Departemen HRD. Wajahnya sedingin batu, lebih kaku dari hari pertama orientasi.
"Andrian Pratama," panggil Dimas, suaranya datar tanpa intonasi. "Tinggalkan gerbang utama. Ikuti saya ke ruang HRD sekarang."
Jantung Andrian berdegup satu ketukan lebih cepat. Eksekusi dari keluarga Puspasari ternyata datang lebih cepat dari jam masuk kantor. Tanpa membantah, ia mengikuti Dimas melewati jalur samping menuju ruangan tertutup di lantai dasar.
Di dalam ruangan itu, Dimas duduk di balik mejanya, melipat tangan. Ia menatap Andrian dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan profesionalisme yang dipaksakan.
"Saya tidak akan bertanya masalah personal apa yang kamu buat dengan petinggi di atas, Andrian," Dimas memulai, langsung pada intinya. "Tapi pagi ini, jam enam tepat, HRD menerima email langsung dari Tuan Arman, Pendiri dan Pemegang Saham Utama perusahaan ini."
Andrian menelan ludah. "Tentang saya, Pak?"
"Benar. Aksesmu ke semua lantai operasional di atas lantai dasar resmi dicabut. Kamu dilarang menginjakkan kaki di lantai VIP, lantai rapat, bahkan lantai lima belas tempat divisimu berada. Jika kamu melanggar, satpam diinstruksikan untuk mengusirmu secara paksa dari gedung ini."
Andrian terdiam. Otaknya memproses hukuman ini. Mereka benar-benar mengisolasinya. "Lalu, pekerjaan saya bagaimana? Mas Fajar masih menunggu rekap laporan vendor."
Dimas menghela napas panjang, mengeluarkan selembar kertas mutasi. "Fajar harus mencari anak magang lain. Mulai detik ini, tugasmu dialihkan. Kamu ditempatkan di Basement 2."
"Basemen dua? Itu kan ruang arsip fisik bawah tanah, Pak."
"Tepat," jawab Dimas. "Tugasmu adalah membersihkan, menyortir ulang, dan mengangkat ribuan kotak arsip dari lima tahun terakhir yang berdebu ke rak-rak baru. Sendirian. Tidak ada pendingin ruangan sentral di sana, hanya kipas angin tua. Kamu punya waktu satu bulan untuk menyelesaikannya sebelum masa magangmu berakhir. Jika kamu tidak sanggup, pintu resign terbuka lebar."
Dimas menyodorkan selembar surat peringatan dan surat pemindahan tugas. "Tanda tangani. Atau kemasi barangmu."
Andrian menatap kertas itu. Ini bukan sekadar hukuman; ini adalah upaya sistematis untuk mematahkan mentalnya. Tuan Arman dan Nyonya Puspasari ingin melihatnya menyerah, merangkak keluar dari gedung ini karena tidak tahan dengan siksaan fisik dan gengsi yang dihancurkan. Mereka ingin membuktikan kepada Elena bahwa pria pilihannya hanyalah pemuda lemah yang akan lari saat diberi tekanan.
Satu telepon saja sebenarnya cukup untuk menghentikan semua ini.
Tapi Andrian menahan diri.
Bukan karena dia tidak mampu.
Justru karena dia mampu.
Andrian mengambil pena, lalu menandatangani kertas itu tanpa keraguan sedikit pun.
"Saya ambil tugasnya, Mas Dimas," jawab Andrian tenang, menatap mata manajer HRD itu.
Dimas tampak sedikit terkejut, namun segera menutupi ekspresinya. "Silakan menuju ke Basemen 2. Kunci ruangannya sudah ada di tangan petugas kebersihan di sana."
Tiga puluh menit kemudian, Andrian berdiri di tengah ruangan bawah tanah yang minim cahaya. Udara di Basemen 2 terasa pengap, berbau jamur, kertas tua, dan debu pekat yang langsung membuat hidungnya gatal. Ribuan kotak kardus cokelat menumpuk tidak beraturan seperti gunung rongsokan. Tidak ada sinyal internet yang bagus, tidak ada kursi empuk, apalagi mesin pembuat kopi.
Andrian membuka jas almamaternya, menggulung kemejanya hingga ke siku, dan mengikat sapu tangan di wajahnya sebagai masker darurat.
"Oke, Ndri. Anggap aja lagi gym gratis," gumamnya menyemangati diri.
Ia mulai mengangkat kotak pertama yang beratnya nyaris lima belas kilogram.
Di lantai tertinggi gedung yang bermandikan cahaya matahari, Elena sedang berdiri di depan jendela kaca ruangannya. Wajahnya sangat pucat. Ia baru saja menerima notifikasi dari sistem internal bahwa akses ID card Andrian telah diubah menjadi kode merah.
Pintu ruangannya terbuka. Maya masuk dengan raut wajah yang lebih tegang dari biasanya.
"Bu Elena, saya baru saja mendapat konfirmasi dari Dimas. Andrian dipindahkan secara paksa ke Basemen 2. Ia ditugaskan menyortir arsip fisik sendirian. Instruksi dari Tuan Arman."
Elena memejamkan matanya erat-erat. Tangannya terkepal kuat hingga bergetar. "Papa benar-benar melakukannya. Dia menghukum Andrian karena aku."
Maya terdiam sejenak. "Bu, Basemen 2 itu tempat yang sangat tidak layak. Berdebu dan tidak ada ventilasi yang memadai. Jika Andrian bekerja di sana seharian penuh, fisiknya tidak akan bertahan lama."
"Hubungi Dimas," perintah Elena, memutar tubuhnya dengan mata menyala marah. "Katakan padanya, sebagai CEO, saya membatalkan mutasi itu! Andrian kembali ke lantai lima belas!"
"Saya tidak bisa, Bu," jawab Maya pelan, menundukkan pandangannya. "Sistem kepegawaian HRD telah dikunci oleh otorisasi Dewan Komisaris Utama. Tuan Arman memberikan catatan khusus bahwa intervensi dari jajaran direksi, termasuk Ibu, tidak akan diproses."
Elena menggebrak mejanya. "Ini perusahaanku! Aku yang menjalankannya setiap hari!"
Napas Elena memburu. Ia tidak bisa diam saja melihat pria yang membelanya semalam disiksa di ruang bawah tanah. Elena mengambil ponselnya, mengetik pesan dengan jari gemetar.
Karena sinyal di basemen sangat buruk, pesan itu baru masuk sepuluh menit kemudian ketika Andrian sedang beristirahat sebentar di dekat kipas angin tua.
> Elena: Andrian, naik ke ruanganku sekarang. Abaikan aturan ID card itu. Biar aku yang menjemputmu di lobi. Aku akan melawan keputusan Papa. Kamu tidak pantas diperlakukan seperti ini.
Andrian membaca pesan itu sambil mengusap keringat di dahinya yang bercampur debu. Ia tersenyum tipis. Sang Ratu Es benar-benar mau mengamuk demi dirinya.
> Andrian: Nggak usah, Len. Gue betah di sini kok. Adem, nggak ada Mas Fajar yang teriak-teriak nanyain deadline.
Elena di lantai atas mendengus frustrasi membaca balasan santai itu.
> Elena: Ini bukan waktunya bercanda! Kamu bisa sakit kalau terus di sana! Aku akan turun sekarang.
> Andrian: Jangan. Please, Len, jangan.
Balasan cepat Andrian menghentikan langkah Elena yang sudah setengah jalan menuju pintu.
> Andrian: Kalau lu turun, intervensi HRD, dan ngelawan bokap lu demi gue... itu cuma bakal ngebuktiin omongan nyokap lu. Mereka bakal mikir gue cowok benalu yang bisanya sembunyi di balik kekuasaan lu. Biarin gue di sini. Biarin gue buktiin ke mereka kalau mental gue nggak selembek itu.
Mata Elena memanas membaca kalimat panjang tersebut. Pemuda ini... kenapa harus keras kepala sekali?
> Elena: Tapi kamu menderita di sana karena aku.
> Andrian: Gue nggak menderita. Gue lagi investasi. Ini bukti kalau gue pantas buat lu. Jadi, lu fokus aja kerja di atas sana. Pimpin perusahaan ini dengan baik. Jangan sampai bokap lu mikir lu hilang fokus gara-gara anak magang.
Elena menempelkan punggungnya ke pintu kayu ruangannya. Sebuah perasaan hangat yang luar biasa kuat merasuki hatinya, mengalahkan seluruh rasa marah dan bersalahnya. Pria ini melindunginya dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh siapa pun.
Menjelang jam makan siang, Andrian sudah memindahkan sekitar lima puluh kotak. Kemeja birunya kini berubah menjadi abu-abu kotor. Rambutnya penuh debu. Ia duduk di atas salah satu kotak, meminum air mineral bekalnya dengan rakus.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi menuruni tangga beton basemen.
Andrian menoleh. Matanya membelalak melihat sosok yang berjalan mendekat dari balik remang cahaya lampu basemen.
Itu Maya.
Sekretaris utama yang selalu tampil elegan itu kini menyusuri lorong basemen yang berdebu dengan setelan blazernya, membawa sebuah tas kertas kecil bermerek restoran mahal dan kotak P3K portabel.
"Bu Maya? Ngapain ke tempat kumuh begini?" tanya Andrian bingung, buru-buru berdiri dan membersihkan celananya yang kotor.
Maya berhenti dua meter dari Andrian. Matanya memindai keadaan pemuda itu. Biasanya, Maya akan mengeluarkan sindiran tajam. Namun kali ini, ekspresinya sangat berbeda. Ada rasa hormat yang tersembunyi di balik sorot mata elang itu.
"Bu Elena tidak bisa turun karena jadwal rapatnya sengaja dipadatkan oleh Tuan Arman dari jarak jauh," kata Maya datar. Ia menyodorkan tas kertas dan kotak P3K itu ke atas tumpukan kardus bersih di dekat Andrian. "Ini makan siangmu. Dan tisu basah anti-bakteri."
"Makasih, Bu," jawab Andrian sedikit canggung. "Bu Elena yang nyuruh?"
"Tentu saja," balas Maya. Ia berbalik, bersiap untuk pergi. Namun baru tiga langkah, Maya menghentikan kakinya. Ia menoleh sedikit melalui bahunya.
"Andrian."
"Ya, Bu?"
"Saya telah membaca laporan investigasi pribadi saya. Dan setelah mendengar insiden semalam..." Maya berdeham pelan, suaranya sedikit melembut. "Saya harus mengakui, untuk ukuran anak magang biasa... kamu memiliki tulang punggung yang jauh lebih kokoh dari pada para direktur berjas mahal di atas sana."
Andrian tertegun. Detektif Maya baru saja memujinya?
"Tetaplah bertahan. Jangan buat pengorbanan Bu Elena semalam menjadi sia-sia," pungkas Maya sebelum kembali menaiki tangga.
Andrian tersenyum lebar. Ia telah memenangkan satu sekutu penting di medan perang ini.
Pukul satu siang, Andrian sedang memakan nasi bento mahal kiriman Elena di sudut ruangan. Ponselnya bergetar pelan. Sinyalnya kembang-kempis, namun pesan itu akhirnya masuk.
> Elena: Maya sudah mengantarkan makanannya? Tangga darurat basemen tidak terpantau CCTV. Jika kamu berjalan ke bordes tangga antara Basement 1 dan Basement 2, tidak akan ada yang melihat.
Andrian mengerutkan kening. Ia segera menutup kotak makannya, berjalan mengendap-endap menuju pintu tangga darurat beton yang lembap. Ia menaiki setengah anak tangga hingga tiba di bordes pendaratan.
Pintu dari arah Basement 1 terbuka.
Elena melangkah masuk. Ratu Es itu tidak peduli bahwa ujung celana palazzo mahalnya menyapu lantai beton darurat yang berdebu. Matanya langsung menemukan Andrian yang berdiri kaku dengan kemeja kotor dan wajah cemong oleh debu.
Tanpa mempedulikan status, tanpa mempedulikan aturan perusahaan, Elena setengah berlari menuruni anak tangga dan langsung menghambur ke pelukan Andrian.
"Astaga, Len! Jangan peluk! Baju gue kotor penuh debu!" Andrian panik, berusaha menjauhkan tubuhnya dengan mengangkat kedua tangannya ke udara agar tidak mengotori baju mahal Elena.
Namun Elena tidak peduli. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Andrian dengan erat, menyandarkan wajahnya ke dada pemuda itu.
"Aku tidak peduli," bisik Elena, suaranya sedikit bergetar. "Aku hanya ingin melihatmu."
Andrian menghela napas pelan, menyerah. Ia perlahan menurunkan tangannya, balas memeluk Elena dengan sangat hati-hati, memastikan debu di lengannya tidak terlalu banyak menempel di baju wanita itu.
"Gue masih hidup kok," bisik Andrian di telinga Elena, tersenyum lembut. "Debu doang mah nggak akan bikin gue mati."
Elena mundur selangkah, menangkup wajah Andrian yang kotor dengan kedua tangannya yang lembut. Ia menggunakan ibu jarinya untuk mengusap noda debu di pipi Andrian. Mata cokelatnya menatap Andrian penuh kebanggaan dan cinta yang tidak lagi bisa disembunyikan.
"Kemeja biru berdebu ini..." gumam Elena pelan, menatap lurus ke mata Andrian, "...jauh lebih tampan daripada jas Tom Ford kemarin malam."
Jantung Andrian bergemuruh hebat. Di tempat yang paling gelap, kotor, dan tersembunyi di seluruh gedung NSM Company ini, mereka justru menemukan terang yang paling jujur.
Tuan Arman dan Nyonya Puspasari mengira membuang Andrian ke basemen akan menghancurkan hubungan ini. Mereka mengira tekanan itu akan membuat Andrian dan Elena menjauh.
Mereka justru tidak sadar bahwa setiap tekanan membuat keduanya semakin yakin pada pilihan masing-masing.
Bersambung...
Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥
Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆
Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥
Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨