Disarankan untuk baca season pertamanya dulu ya!
****
Tiga tahun setelah bangkit dari kematian dengan kekuatan Batu Es yang terkutuk, Han Seol menjelma menjadi penyihir terkuat yang ditakuti sekaligus kesepian. Di tengah bayang-bayang arwah jahat dan luka masa lalu atas hilangnya Seol Ah, ia dipertemukan kembali dengan Jin So Hwa—putri sulung rahasia dari Jinyowon yang jiwanya menyimpan misteri besar.
Demi lolos dari kurungan ibunya, So Hwa nekat mengajukan pernikahan gila kepada Han Seol. Dan demi membungkam seisi kerajaan, sebuah kebohongan konyol terucap: "Saksi pernikahan kami adalah anak di dalam perutku!"
Saat takdir lama mulai terajut kembali dengan identitas baru, akankah es di hati Han Seol mencair, ataukah rahasia tiga tahun lalu justru akan menghancurkan mereka sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Rahasia Takhta
Di kedalaman benteng Jinyowon, sisa ketegangan malam tadi belum juga memudar. Jin Hwa Young berdiri di depan ruang tahanan bawah tanah yang kini telah kosong melompong dengan rantai yang putus.
Wajah sang ibu pemimpin tampak pucat pasi, guratan kecemasan tercetak jelas di keningnya saat ia mengetahui bahwa Soi telah berhasil melarikan diri secara misterius.
"Sialan! Bagaimana bisa tikus pasar itu lolos dari penjagaan ketat?!" bentak Jin Hwa Young pada komandan pengawalnya.
Jauh di dalam lubuk hatinya, rasa khawatir yang teramat sangat mulai merongrong pikirannya. Ia takut jikalau nantinya Soi akan membeberkan identitas asli Jin So Hwa kepada publik atau—yang lebih buruk lagi—kepada Han Seol. Rahasia manipulasi jiwa yang ia simpan rapat-rapat selama tiga tahun ini kini berada di ambang kehancuran.
****
Keesokan harinya, fajar menyingsing dengan kesibukan yang luar biasa di area pelabuhan Kota Niskala. Paman Do Hyun, Do Kwang, yang belakangan ini giat menyelidiki kejanggalan di pasar, akhirnya berhasil menemukan sebuah tembikar aneh yang bentuk, warna, serta rajahan sihirnya persis dengan tembikar temuan Master Lee di sumur-sumur warga.
Menyadari tingkat bahaya dari benda tersebut, Do Kwang segera mengerahkan otoritasnya. Ia memerintahkan pasukan penyihir muda Cheon Gi Won untuk memeriksa secara ketat semua kapal dagang yang diduga berasal dari tempat tembikar terkutuk itu dibuat.
Di sudut dermaga yang tersembunyi, Baek Yun O yang sedang mengawasi jalannya penyelidikan Cheon Gi Won langsung panik. Ia menyadari bahwa pergerakan Do Kwang dan pasukannya sudah terlampau dekat dengan kapal kargo yang membawa barang kiriman rahasia pesanan Jin Wu.
"Celaka! Mereka memeriksa setiap sudut lambung kapal!" bisik Yun O dengan peluh dingin menetes di pelipisnya.
Demi menyelamatkan dirinya dari tuduhan pengkhianatan dan mengamankan jejak Cheonbugwan, Yun O segera bertindak nekat. Ia menyuruh anak buahnya agar membuang semua sisa tembikar mistis tersebut ke dalam kedalaman Danau Cheon Gi sebelum para penyihir Cheon Gi Won berhasil menyitanya sebagai barang bukti.
****
Sementara itu, di tempat yang sunyi di pinggiran padepokan, Han Seol telah menyelesaikan tugas penyelidikannya. Setelah bermalam di Jinyowon dan memeriksa secara langsung keadaan telur Hwajo bersama Jin So Hwa, ia segera menemui Master Lee untuk menceritakan masalah tersebut.
"Aku sudah memeriksa ruang pusaka Jinyowon, Master," ucap Han Seol serius, jubah hitamnya berkibar rendah ditiup angin.
"Keadaan telur Hwajo saat ini masih terjaga dengan baik. Namun, kecurigaanku terbukti nyata. Benda pusaka pembawa bencana kekeringan itulah yang saat ini sedang diincar dan direncanakan oleh Ratu bersama Jin Wu untuk direbut."
Han Seol menatap gurunya dengan pandangan menuntut. "Oleh karena itu, aku ingin meminta pendapatmu, Master. Apa yang sebenarnya harus kulakukan untuk menghentikan mereka sebelum gerbang langit dibuka?"
Master Lee tidak langsung menjawab. Pria sepuh itu mengelus janggutnya perlahan, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Han Seol yang memancarkan energi Batu Es yang teramat masif.
"Han Seol, konspirasi ini melibatkan lingkaran dalam istana," tutur Master Lee dengan nada suara yang teramat berat dan bijaksana.
"Jika kau memilih untuk maju bertarung secara terbuka dan melawan gerakan Ratu serta Jin Wu, maka di mata hukum kerajaan, tindakanmu bisa langsung dicap sebagai sebuah bentuk pemberontakan besar terhadap takhta yang sah. Dan jika kau menang dalam perang tersebut... ujung-ujungnya hal itu bisa memaksamu untuk naik tahta menjadi seorang Raja yang baru di negeri ini."
Master Lee menjeda kalimatnya sejenak, menatap Han Seol kian dalam. "Nah, sampai di titik ini... aku ingin memastikan satu hal kepadamu. Apakah kau sudah mengetahui tentang garis keturunan dan identitas dirimu yang sebenarnya, Han Seol?"
Han Seol tersenyum getir, sebuah senyuman datar yang sarat akan beban takdir. "Kau tidak perlu menyembunyikannya lagi, Master. Aku sudah mengetahui fakta bahwa aku adalah putra mahkota kandung yang sah dari mendiang Raja sebelumnya. Do Kwang sudah menceritakan seluruh kebenaran darahku sejak tiga tahun yang lalu, tepat setelah aku bangkit dari kematian di altar."
Mendengar pengakuan tersebut, Master Lee tampak tertegun namun juga merasa lega.
Han Seol melanjutkan dengan suara rendah penuh penekanan. "Bahkan... aku juga tahu dari catatan kuno bahwa aku terlahir dengan naungan Bintang Kerajaan yang agung. Garis takdir langit yang sama persis seperti yang dimiliki oleh Master Seo Gyeong—sang pendiri Cheon Gi Won sekaligus gurumu di masa lalu."
Mendengar kenyataan besar yang diucapkan langsung oleh muridnya, Master Lee melangkah maju, lalu meletakkan tangannya di atas pundak Han Seol dengan penuh rasa takzim dan harapan yang luar biasa besar.
"Jika kau sudah tahu, maka tugasmu jauh lebih besar daripada sekadar dendam pribadi, Han Seol," ucap Master Lee dengan nada khidmat.
"Dengan kekuatan Batu Es dan Bintang Kerajaan di dalam dirimu, lakukanlah yang terbaik untuk melindungi keselamatan dunia ini dari kehancuran bencana kekeringan, sebagaimana guruku, Master Seo Gyeong, melakukannya dua ratus tahun yang lalu."
Akan tetapi, meskipun ia memegang kekuatan spiritual tertinggi yang ditakuti seluruh negeri, Han Seol sendiri masih berdiri terpaku di dalam keheningan hutan. Dadanya terasa sesak oleh beban takdir ganda sebagai pewaris takhta dan pelindung dunia. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia masih didera kebingungan yang teramat sangat mengenai langkah konkret apa yang harus ia ambil tanpa perlu menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah.
****
Di dalam ruang kerja istana yang megah, Jin Wu berdiri di hadapan Raja Go Haneul dengan raut wajah yang dipenuhi kepura-puraan yang teramat rapi. Ia membungkuk hormat, menyunggingkan senyum yang sarat akan muslihat politik tingkat tinggi.
"Yang Mulia Raja," ucap Jin Wu, suaranya menggema rendah namun penuh wibawa yang meyakinkan.
"Hamba ingin mengusulkan sebuah bentuk apresiasi tertinggi bagi Penyihir Agung Han Seol. Selama tiga tahun terakhir ini, ia telah mempertaruhkan nyawanya dan sukses menyingkirkan ratusan pemindah jiwa berbahaya demi kedamaian takhta. Hamba rasa, sangat pantas jika Yang Mulia mengangkat Han Seol menjadi Jenderal Agung di Kota Pertahanan Utara."
Raja Go Haneul mengangguk-angguk sejenak, menimbang usulan tersebut dengan saksama.
Padahal, di balik dalih apresiasi yang terkesan mulia itu, Jin Wu melakukannya semata-mata demi melancarkan rencana busuknya bersama Ratu untuk menurunkan kembali Batu Es dari langit.
Jin Wu tahu betul bahwa menyingkirkan Han Seol secara fisik dari Kota Niskala adalah harga mati. Dengan tidak adanya Han Seol di sisi para penyihir Cheon Gi Won, maka pertahanan batin kota akan melemah.
Hal itu akan membuat jalan Jin Wu menjadi jauh lebih mudah untuk menyusup dan merebut Hwajo—artefak berbentuk telur burung api dari dalam ruang pusaka Jinyowon yang bisa memicu bencana kekeringan massal.
Jika Hwajo sudah berada di tangannya, ritual pemanggilan hujan spiritual atau yang biasa disebut dengan Ritual Gyeongcheon bisa segera dilaksanakan untuk membuka gerbang langit.
Lantas, atas desakan Jin Wu yang terstruktur, Raja akhirnya mengeluarkan titah mutlak. Beliau memerintahkan Putra Mahkota, Pangeran Go Si Woo, untuk pergi menyampaikan langsung keputusan Raja tersebut mengenai pengiriman Han Seol ke perbatasan utara sebagai seorang jenderal.
Sore harinya, kereta kuda kerajaan berhenti di depan pelataran asrama Cheon Gi Won yang sunyi. Pangeran Go Si Woo melangkah masuk ke dalam koridor dengan kawalan beberapa kasim dan pengawal pribadi. Wajah sang Pangeran tampak muram, dadanya sesak oleh dilema politik yang ditanamkan oleh Jin Wu kemarin malam.
Saat melangkah masuk ke dalam ruang belajar utama yang kosong, pandangan mata Pangeran tanpa sengaja tertuju pada sebuah meja kayu besar. Di atas meja itu, terbentang sebuah buku kuno dalam keadaan terbuka lebar.
Pangeran Go Si Woo melangkah mendekat, menatap halaman buku yang memperlihatkan lukisan tangan yang sangat detail mengenai gambar sebutir telur merah membara serta sesosok burung api raksasa bernama Hwajo.
DEG!
Jantung Pangeran berdegup kencang. Dengan melihat buku itu berada di meja kerja pribadi sang Penyihir Agung, Pangeran seketika sadar sepenuhnya bahwa Han Seol ternyata sudah mengetahui seluruh rencana gila Jin Wu mengenai bencana kekeringan sejak lama. Han Seol tidak sebodoh yang Jin Wu kira.
Srett...
Suara gesekan kain jubah memecah keheningan. Sesosok pria berjubah hitam melangkah masuk dari pintu samping. Itu Han Seol. Ia menatap kehadiran sang Pangeran dengan pandangan datar bin dingin yang tak bersahabat seperti biasanya.
"Yang Mulia Pangeran," ucap Han Seol datar, menyandarkan tubuhnya pada pilar kayu ruangan. "Kau datang berkunjung secara mendadak. Aku mengira kau datang untuk membawakanku imbalan emas seperti biasanya."