Lyana Shaqiera, mahasiswi fakultas hukum.
Di tahun keduanya menempuh pendidikan, Qiera justru mendapat gelar baru. Bukan gelar Sarjana Hukum, melainkan "istri" dari dosennya, tepatnya dosennya yang sangat menyebalkan, Ravian Aryasatya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syshy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAL23. Takut Kehilangan
“Karena...” Qiera terdiam, mencari jawaban yang tidak membuatnya terdengar terlalu sentimental. “Karena aku istrinya Mas.”Kalimat itu keluar begitu saja.
Keduanya terdiam setelahnya.
Qiera baru menyadari apa yang dikatakannya ketika melihat senyum kecil di wajah Ravi. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, sibuk membereskan kapas dan plester yang sebenarnya sudah tertata rapi.
Ravi tidak menggoda. Ia hanya memperhatikan perempuan itu dengan tatapan hangat yang menyimpan jauh lebih banyak perasaan daripada yang berani diucapkannya.
“Iya,” jawabnya pelan. “Kamu istri saya.”
Entah mengapa, mendengar Ravi mengulang kalimat itu membuat pipi Qiera semakin panas.
...🌃🌃🌃...
Malam turun perlahan ketika mereka akhirnya masuk ke kamar. Setelah makan malam sederhana dan memastikan Ravi meminum obatnya, Qiera memaksa suaminya beristirahat lebih awal. Ia bahkan mengambil buku yang sempat hendak dibaca Ravi dan meletakkannya di meja, jauh dari jangkauan pria itu.
“Mas tidur saja. Jangan membaca terlalu lama.”
“Baik.”
“Kalau ada yang terasa sakit, langsung bilang.”
“Iya.”
“Jangan berusaha bangun sendiri kalau membutuhkan sesuatu.”
“Baik, Bu Dokterr.”
Qiera mengerutkan hidung. “Mas masih sempat bercanda.”
“Kalau saya tidak bercanda, kamu akan terus memasang wajah seperti itu.”
“Wajah seperti apa?”
“Seperti ingin memanggil dokter setiap lima menit.”
Qiera hampir membalas, tetapi akhirnya tertawa kecil. Ia membantu Ravi membaringkan tubuh dengan posisi yang tidak membebani punggungnya, kemudian memastikan bantalnya cukup nyaman. Setelah itu, ia duduk di tepi ranjang dan memperhatikan wajah suaminya yang perlahan terlihat lebih rileks.
“Sudah nyaman?” tanyanya.
“Sudah.”
“Benar?”
Ravi membuka sebelah mata. “Lily, kalau saya menjawab belum, apakah kamu akan memindahkan seluruh isi kamar sampai menemukan posisi yang sempurna?”
Qiera berpikir sebentar. “Mungkin.”
Ravi tertawa pelan. “Kalau begitu, sudah nyaman.”
Qiera tersenyum puas, lalu hendak berdiri untuk mengambil ponselnya ketika Ravi menyentuh ujung tangannya.
“Temani saya sebentar.”
Langkah Qiera terhenti. Ia menoleh, mendapati Ravi sedang menatapnya dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya. Tidak ada senyum jahil, tidak ada nada menggoda. Hanya permintaan sederhana yang membuat Qiera kesulitan menemukan alasan untuk menolak.
“Mas belum mengantuk?”
“Belum.”
“Kalau begitu, aku duduk di sini dulu.”
Qiera kembali duduk, kali ini bersandar pada kepala ranjang dengan jarak yang cukup agar Ravi tetap nyaman. Mereka berbicara mengenai hal-hal ringan, mulai dari kuliah Qiera yang tertinggal hingga kebiasaan Ravi membaca buku sebelum tidur.
Sesekali Ravi bertanya tentang kegiatan BEM, dan Qiera menjawab sambil bercerita tentang rapat yang harus diikutinya keesokan hari.
Ketika nama Arga disebut, Ravi hanya mengangguk tanpa komentar. Qiera sempat meliriknya, mengingat kecemburuan yang disangkal habis-habisan pria itu beberapa hari lalu, tetapi ia memilih tidak menggodanya kali ini.
Ada sesuatu yang membuatnya ingin menjaga ketenangan malam itu.
Setelah percakapan mereka mereda, Qiera memperhatikan balutan di punggung Ravi sekali lagi. “Mas, kalau masih terasa sakit, bilang, ya.”
Ravi menoleh kepadanya. “Kamu khawatir sekali.”
“Ya jelas. Mas terluka karena melindungiku.”
“Saya tidak menyesal melakukannya.”
Qiera menunduk. “Aku tahu. Tapi aku tetap tidak suka melihat Mas kesakitan.”
Ravi terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Kalau begitu, biarkan saya juga melakukan hal yang sama untuk kamu.”
Qiera mengangkat wajah. “Maksudnya?”
“Kalau kamu sedang kesulitan, kalau kamu takut, atau kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, jangan merasa harus menghadapinya sendiri. Kamu boleh cerita kepada saya.”
Kata-kata itu sederhana, tetapi membuat sesuatu di dalam dada Qiera terasa menghangat. Selama ini, ia selalu menganggap Ravi sebagai pria yang menyebalkan, terlalu kritis, dan gemar membuatnya kehilangan kesabaran.
Namun, ketika berada di rumah, pria itu sering kali menunjukkan perhatian dengan cara yang tidak pernah ia duga.
Ravi tidak memaksanya bercerita. Tidak menuntutnya membalas perhatian. Ia hanya menawarkan tempat untuk bersandar, lalu membiarkan Qiera menentukan sendiri apakah ia ingin menerimanya.
“Aku akan ingat,” jawab Qiera akhirnya.
Ravi mengangguk. “Bagus.”
Tanpa benar-benar menyadari kapan tepatnya ia bergerak, Qiera kemudian merebahkan diri di sisi ranjang yang kosong. Begitu dekat dengan Ravi, hingga akhirnya ia berbaring pada punggung Ravi dengan jarak yang cukup aman dari lukanya, menopang kepala dengan satu tangan.
Pria itu menoleh sedikit, tampak terkejut melihat perubahan posisi istrinya. Untuk pertama kalinya, gadis itu memilih sendiri kedekatan antara mereka berdua.

“Kenapa berbaring di situ?”
“Capek,” jawab Qiera singkat.
“Kalau begitu, tidur saja.”
“Aku belum mengantuk.”
Ravi tersenyum. “Tadi kamu menyuruh saya tidur.”
“Karena Mas pasien.”
“Dan kamu?”
“Aku pengawas pasien.”
Ravi tertawa pelan. “Jabatan yang sangat penting.”
“Tentu saja.”
Qiera menggeser bantalnya sedikit, lalu menatap Ravi dengan wajah yang perlahan kehilangan keceriaan. Dalam cahaya lampu kamar yang redup, ia bisa melihat kelelahan yang masih tertinggal di wajah suaminya.
Ia juga menyadari bahwa sejak kejadian di kampus, dirinya tidak pernah benar-benar berhenti memikirkan kemungkinan buruk yang bisa terjadi ketika Ravi melindunginya.
“Mas,” panggilnya lirih.
“Ya, Lily?”
“Waktu di kampus itu... Mas benar-benar tidak takut?”
Ravi memahami apa yang dimaksudnya. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menatap langit-langit kamar sejenak sebelum kembali memandang Qiera.
“Saya tidak punya banyak waktu untuk berpikir saat itu.”
“Tapi Mas bisa terluka lebih parah.”
“Saya tahu.”
Qiera menggigit bibirnya. “Kalau sampai terjadi sesuatu sama Mas, aku—”
Ia berhenti sebelum menyelesaikan kalimatnya.
Ravi menunggu, tetapi Qiera hanya menggeleng kecil. Ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaan yang muncul setiap kali mengingat kejadian itu.
Ketakutannya terlalu besar untuk dianggap sekadar rasa bersalah, tetapi ia belum cukup berani menyebutnya sesuatu yang lebih dalam.
Ravi tidak memaksanya melanjutkan.
Sebaliknya, ia mengulurkan tangan dan menyentuh jemari Qiera dengan lembut. “Saya masih di sini, Lily.”
Qiera menatap tangan mereka yang saling bersentuhan. Beberapa saat kemudian, ia membalas genggaman itu.
“Iya,” bisiknya. “Mas masih di sini.”
...🌖🌖🌖...
Beberapa menit kemudian, Qiera yang semula bersikeras belum mengantuk akhirnya mulai kehilangan kesadaran. Ia tertidur dengan posisi menghadap Ravi, tangannya masih berada dekat tangan suaminya. Napasnya perlahan teratur, sementara wajahnya tampak jauh lebih tenang dibandingkan sepanjang hari.
Ravi belum tidur.
Ia memperhatikan Qiera dalam diam, memastikan posisi perempuan itu tidak membuatnya kesulitan bernapas atau terbangun dengan leher pegal.
Sebuah dorongan datang untuk merapikan rambut yang jatuh di dekat wajah istrinya, tetapi ia berhenti sejenak, tidak ingin membangunkannya. Pada akhirnya, ia hanya menggeser selimut agar menutupi tubuh Qiera dengan nyaman.
“Selalu mengkhawatirkan orang lain,” gumamnya pelan. “Padahal kamu juga perlu istirahat.”
Qiera tidak menjawab. Ia hanya bergerak sedikit dalam tidurnya, membuat Ravi tersenyum tipis.
Pria itu kemudian menatap langit-langit kamar. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya membayangkan kehidupan yang lebih jauh bersama perempuan yang kini tidur di sampingnya.
Bukan sekadar tinggal bersama karena pernikahan, bukan hanya berbagi kamar atau menjalankan tanggung jawab keluarga, melainkan benar-benar menjadi pasangan yang saling memilih.
Ia ingin menjadi orang pertama yang dicari Qiera ketika harinya buruk. Ia ingin mendengar cerita-cerita kecil yang tidak pernah dianggap penting oleh orang lain. Ia ingin menjadi tempat perempuan itu pulang tanpa harus merasa takut dihakimi.
Dan lebih dari semuanya, ia ingin suatu hari nanti Qiera menatapnya bukan sebagai dosen yang menyebalkan, bukan pula sebagai suami yang dipilihkan keluarga, melainkan sebagai pria yang memang ingin berada di sisinya.
Namun, Ravi tahu bahwa keinginan itu tidak bisa dipaksakan. Jadi, ia memilih menunggu.
Tangannya kembali bergerak, merapikan ujung selimut yang sedikit terlipat. Qiera menggumam pelan dalam tidurnya, lalu tanpa sadar mendekat sedikit. Ravi menahan napas sesaat, khawatir gerakan itu akan membuat punggungnya tertarik, tetapi ternyata posisi mereka tetap nyaman.
Ia tersenyum kecil.
“Selamat tidur, Lily.”
Ravi baru saja hendak memejamkan mata ketika terdengar bunyi getaran dari meja di samping ranjang. Ponsel Qiera menyala, menampilkan notifikasi pesan baru dari nomor yang sama seperti sebelumnya.
Ravi sempat melirik layar, awalnya mengira itu hanya pesan biasa. Namun, sebelum layar kembali gelap, matanya menangkap beberapa kata yang membuat senyumnya menghilang.
📲Jangan berpura-pura semuanya baik-baik saja, Qiera.
📲Besok, tanyakan kepada suamimu apa yang sebenarnya terjadi sembilan tahun lalu.
Ravi menatap layar ponsel itu tanpa bergerak.
Sembilan tahun lalu.
Wajahnya berubah serius, dan untuk beberapa saat ia hanya bisa mendengar detak jam di dinding kamar. Ada sesuatu tentang pesan itu yang terasa terlalu spesifik untuk dianggap sebagai ancaman kosong.
Seseorang bukan hanya mengetahui pernikahan mereka, tetapi juga berusaha menarik masa lalu ke dalam kehidupan Qiera.
Ravi menoleh kepada istrinya yang masih tertidur. Ia tidak ingin membangunkannya, tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan pesan tersebut.
Dengan hati-hati, ia mengambil ponselnya sendiri dan memotret layar notifikasi tanpa membuka pesan itu lebih jauh. Setelah memastikan Qiera tetap terlelap, ia menyandarkan kepala kembali ke bantal, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.
Siapa pengirim pesan itu?
Apa yang terjadi sembilan tahun lalu?
Dan mengapa orang itu ingin Qiera menanyakannya kepada Ravi?
Untuk pertama kalinya di malam itu, Ravi menyadari bahwa rahasia yang mereka jaga bukan lagi sekadar tentang pernikahan.
Ada sesuatu dari masa lalu yang mulai mendekati mereka. Dan seseorang tampaknya tidak ingin rahasia itu tetap terkubur.
.
.
To be continued
See you🍀
saling support yuk,
biar semangat nulisnya😊