Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Dua Minggu untuk Mengejar Ketertinggalan
--
Dua hari setelah sadar, Ervan akhirnya diperbolehkan meninggalkan rumah sakit.
Lima hari.
Tiga hari hilang tanpa kesadaran, dua hari berikutnya dihabiskan untuk observasi.
Ervan berdiri di depan pintu rumah sakit sambil memutar bahu kirinya perlahan.
Masih sakit.
Namun dibandingkan luka yang ia ingat saat BETA menggigit bahunya, rasa nyeri itu hampir tidak masuk akal.
Bekas cakaran di lengannya tinggal garis kemerahan. Luka di pelipis sudah mengering. Telapak tangannya juga hampir pulih.
Dokter tetap melarang aktivitas berat beberapa hari ke depan.
Ervan berniat mematuhinya.
Setidaknya kali ini.
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘱𝘶𝘵𝘢𝘳 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴. 𝘔𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘥𝘶𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪?" Suara 𝗔𝗺𝗺𝘆 datang dari arah lobi, lebih dulu daripada orangnya.
Ammy muncul membawa tas berisi barang-barangnya.
Ervan menghentikan gerakan bahunya.
"𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘧𝘶𝘯𝘨𝘴𝘪," kilah 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. "𝘋𝘶𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘭𝘶, 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘴𝘦𝘳 𝘴𝘦𝘭𝘪𝘮𝘶𝘵 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘪𝘴."
"𝘋𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘭𝘪-𝘬𝘢𝘭𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘳𝘢-𝘱𝘶𝘳𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳," balas 𝗔𝗺𝗺𝘆 sambil memindahkan tas itu ke tangan satunya.
"𝘗𝘦𝘮𝘦𝘳𝘪𝘬𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tanpa sedikit pun rasa bersalah. "𝘋𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘬𝘢𝘯, 𝘢𝘬𝘶."
Ammy menatapnya datar.
"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯," kata 𝗔𝗺𝗺𝘆. "𝘛𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪 𝘳𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘯𝘵𝘢𝘩."
"𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘰𝘯𝘥𝘪𝘴𝘪𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘪𝘬." Sudut bibir 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 terangkat. "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘪𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵, 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘺𝘢."
"𝘚𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘯𝘺𝘢." 𝗔𝗺𝗺𝘆 mendengus, tapi matanya sempat turun ke bahu kiri 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sebelum ia buru-buru membuang muka.
Dari depan mereka terdengar ketukan tongkat.
Rosaline sudah berdiri beberapa meter jauhnya.
"𝘒𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘰𝘣𝘳𝘰𝘭 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘵𝘶𝘵𝘶𝘱?" Suara 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 tidak keras, tapi cukup untuk membuat keduanya berhenti. "𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘦𝘣𝘢𝘵, 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯."
"𝘐𝘺𝘢, 𝘕𝘦𝘬. 𝘒𝘢𝘮𝘪 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 cepat, persis seperti anak kecil yang ketahuan pulang lewat jam malam.
Ervan mengambil tas dari tangan Ammy sebelum gadis itu sempat menolak.
Mereka berjalan menuju kendaraan.
Dalam perjalanan pulang, Ervan lebih banyak diam sambil melihat kota dari balik jendela.
Aktivitas orang berjalan normal.
Kendaraan melintas.
Beberapa layar informasi publik menampilkan berita tentang patroli Hunter dan peningkatan pengamanan kawasan industri.
Seolah lima hari terakhir tidak berarti apa-apa bagi dunia.
Namun bagi Ervan, lima hari terasa sangat mahal.
Ia menghitungnya lagi.
Seleksi semakin dekat.
Waktu latihannya yang sejak awal sangat sedikit telah berkurang hampir satu minggu.
Ervan menghela napas.
"𝘓𝘪𝘮𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪…" gumam 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 pada kaca jendela.
Rosaline yang duduk di sebelahnya menoleh.
"𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢? 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘪𝘣𝘪𝘳𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘵𝘶𝘯𝘨 𝘶𝘵𝘢𝘯𝘨," tanya 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲.
"𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪, 𝘕𝘦𝘬." Jemari 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengetuk lutut, seolah angkanya masih bisa dihitung ulang. "𝘚𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘥𝘶𝘳 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵."
Tongkat Rosaline mengetuk lantai kendaraan sekali.
Ervan langsung mengetahui jawaban seperti apa yang akan datang.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘴𝘶𝘱𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘵𝘪 𝘬𝘰𝘯𝘺𝘰𝘭, 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨." 𝗥𝗼𝘀𝗮𝗹𝗶𝗻𝗲 tetap memandang lurus ke depan. "𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪."
Ervan membuka mulut.
Lalu menutupnya kembali.
Tidak ada argumen yang cukup bagus untuk membantah itu.
Ammy yang duduk di depan terkekeh kecil.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘒𝘢𝘬 𝘼𝙢𝙢𝙮 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨?" protes 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, mencondongkan badan ke arah kursi depan.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘱𝘢-𝘢𝘱𝘢," sahut 𝗔𝗺𝗺𝘆 tanpa menoleh, meski bahunya masih sedikit berguncang.
"𝘞𝘢𝘫𝘢𝘩𝘮𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘤𝘢 𝘴𝘱𝘪𝘰𝘯," balas 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
Ammy berbalik.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩𝘬𝘶. 𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘰𝘵𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢, 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯𝘮𝘶," tukas 𝗔𝗺𝗺𝘆, lalu kembali menghadap ke depan sebelum 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sempat membalas.
Ervan tersenyum kecil.
Setidaknya perjalanan pulang terasa sedikit lebih ringan.
---
Sore itu, Ervan duduk di meja kecil dalam kamarnya.
Jurnal latihan terbuka di hadapannya.
Beberapa halaman sebelumnya dipenuhi catatan tentang jogging, repetisi, waktu recovery, pola tidur, dan perubahan kondisi tubuh.
Semuanya pernah terasa sangat penting.
Namun halaman terakhir sekarang jauh lebih menarik perhatiannya.
COMBAT — PRIORITAS BARU
Di bawahnya terdapat daftar yang ia tulis setelah pertarungan.
Stance.
Guard.
Footwork.
Dodge.
Blocking.
Timing.
Counter.
Kontrol jarak.
Refleks.
Membaca gerakan lawan.
Penggunaan lingkungan.
Battle IQ dasar.
Ervan mengambil pena.
Sebelum melawan BETA, daftar itu hanya kumpulan istilah.
Sekarang ia tahu konsekuensi dari tidak memahami masing-masingnya.
Guard buruk berarti rahang terbuka.
Footwork buruk berarti kehilangan keseimbangan.
Kontrol jarak buruk berarti membiarkan rahang BETA mencapai bahunya.
Ervan membuka ponsel.
Puluhan video Basic Combat sudah disimpan sejak sebelum dirinya masuk rumah sakit.
Ia memainkan salah satunya.
Seorang instruktur memperagakan stance dasar.
Ervan berdiri.
Kaki kiri di depan.
Kaki kanan sedikit ke belakang.
Tangan naik.
Ia mencoba mengikuti.
Lalu berhenti.
Apakah jaraknya benar?
Berat badan harus lebih banyak di kaki depan atau belakang?
Sikunya terlalu terbuka atau tidak?
Pusat gravitasinya sudah cukup rendah?
Ia tidak tahu.
Video dapat menunjukkan bentuk.
Video tidak bisa berdiri di depannya dan berkata bahwa bentuk itu salah.
Ervan kembali duduk.
Ia menatap daftar panjang tersebut.
Kalau belajar sendiri, ia mungkin bisa meniru gerakan.
Namun meniru bukan berarti memahami.
Ia membutuhkan seseorang yang bisa mengoreksi.
Mengawasi.
Menyerangnya balik.
Dan menunjukkan kesalahan yang tidak dapat ia lihat sendiri.
Ervan mengambil ponselnya.
Hanya ada satu nama yang langsung muncul dalam pikirannya.
---
Panggilan tersambung setelah beberapa detik.
"𝘈𝘱𝘢? 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘣𝘶𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵," sambar 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 begitu panggilan diangkat.
Suara Sebastian terdengar sedikit berisik dari seberang.
"𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵. 𝘙𝘦𝘴𝘮𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘣𝘶𝘳," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. "𝘋𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘳𝘢𝘵 𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶."
"𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵. 𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘪𝘯𝘪," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. "𝘑𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘥𝘦𝘴𝘢𝘪𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪."
𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menatap daftar di jurnalnya sejenak. "𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘶𝘵𝘶𝘩 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘢𝘯."
Hening sebentar.
Nada Sebastian berubah.
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢? 𝘈𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪?" Keramaian di belakang 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 perlahan menjauh, seperti ia sengaja pindah ke tempat yang lebih sepi.
"𝘈𝘫𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘉𝘢𝘴𝘪𝘤 𝘊𝘰𝘮𝘣𝘢𝘵." Ujung pena di tangan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertekan ke halaman jurnal, meninggalkan satu titik tinta.
Hening lagi.
Kali ini jauh lebih lama.
Ervan menjauhkan ponsel untuk memastikan panggilan belum terputus.
"𝙎𝙚𝙗? 𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢?"
"𝘔𝘢𝘢𝘧. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳," jawab 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 akhirnya. "𝘒𝘶𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘰𝘣𝘢𝘵 𝘣𝘪𝘶𝘴𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴."
"𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳. 𝘒𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘫𝘦𝘳𝘯𝘪𝘩, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬𝘢𝘯."
"𝙀𝙧𝙫𝙖𝙣." 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 menyebut namanya pelan dan datar, dengan nada yang biasa dipakai orang untuk membujuk anak kecil menjauh dari jalan raya.
"𝘠𝘢?" sahut 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.
"𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵. 𝘏𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻, menekankan setiap kata.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶."
"𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘩𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘉𝘌𝘛𝘈. 𝘚𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘵𝘪𝘨𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪," lanjut 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻, seperti sedang membacakan dakwaan.
"𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘵𝘢𝘩𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘯𝘢," balas 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 datar.
"𝘋𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳, 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘭𝘦𝘱𝘰𝘯𝘬𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨?" Suara 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 naik setengah nada.
"𝘉𝘦𝘵𝘶𝘭. 𝘑𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘭𝘦𝘱𝘰𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘥𝘦𝘱𝘢𝘯," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tanpa ragu.
Sebastian mengembuskan napas panjang.
"𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘱𝘢𝘩𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘕𝘦𝘯𝘦𝘬 𝙍𝙤𝙨𝙖𝙡𝙞𝙣𝙚 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘶𝘢," keluh 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
Ervan mengabaikannya.
"𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴, 𝙎𝙚𝙗." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menegakkan punggung, seolah 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 bisa melihatnya dari seberang.
"𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴," balas 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
Suara Sebastian tidak lagi bercanda.
"𝙑𝙖𝙣, 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘶𝘬𝘶𝘯𝘨𝘮𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘉𝘢𝘴𝘪𝘤 𝘊𝘰𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘦𝘳𝘪 𝘶𝘫𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘵𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮."
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 memutar pena di antara jari-jarinya.
"𝘈𝘯𝘢𝘬-𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘫𝘢𝘭𝘶𝘳 𝘏𝘶𝘯𝘵𝘦𝘳 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭. 𝘈𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘴𝘢𝘯𝘨 𝘊𝘖𝘙𝘌 𝘶𝘮𝘶𝘳 𝘭𝘪𝘮𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘦𝘭𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯. 𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘰𝘭𝘢𝘩," lanjut 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻, tidak memberi celah. "𝘔𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘳𝘢𝘴 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘱𝘶𝘯."
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶." Pena di tangan 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 berhenti berputar.
"𝘚𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘋𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘴𝘦𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘥𝘪 𝘳𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵."
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶," ulang 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, lebih lirih.
Sebastian berhenti.
"𝘔𝘢𝘶 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 '𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶'? 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘴𝘪𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣," tanya 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
Ervan menatap jurnalnya.
"𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘪𝘢𝘱." Kalimat itu keluar lebih pelan daripada yang 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 rencanakan.
Tidak ada jawaban dari seberang.
Ervan melanjutkan.
"𝘈𝘬𝘶 𝘬𝘪𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘧𝘪𝘴𝘪𝘬𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘦𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢. 𝘓𝘢𝘳𝘪 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘫𝘢𝘶𝘩, 𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘵, 𝘱𝘶𝘭𝘪𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵. 𝘒𝘶𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯." 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 tertawa pendek, tanpa humor sedikit pun. "𝘛𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩."
Tangannya tanpa sadar menyentuh bekas luka di bahu.
"𝘞𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘪𝘵𝘶, 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘪𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘱𝘢𝘯𝘪𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘵𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭."
"𝙑𝙖𝙣…" Suara 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 melunak.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘮𝘢𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶𝘯," potong 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 sebelum 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 sempat menghibur.
Ervan menatap daftar di depannya.
"𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩𝘬𝘶." Ujung pena 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 mengetuk satu kata di daftar itu, lalu kata berikutnya. Guard. Footwork. Kontrol jarak.
Sebastian tetap diam.
Ervan menarik napas.
"𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘪𝘢𝘱."
Kali ini ia tidak merasa malu mengatakannya.
"𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘢𝘯𝘮𝘶. 𝘒𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘵𝘶-𝘴𝘢𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘬𝘢𝘭 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘱𝘢 𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵-𝘳𝘦𝘱𝘰𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘱𝘦𝘳𝘩𝘢𝘭𝘶𝘴𝘯𝘺𝘢."
Beberapa detik berlalu.
Kemudian terdengar helaan napas pasrah.
"𝘋𝘶𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 akhirnya.
Ervan mengerutkan dahi.
"𝘈𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘶𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶?" tanya 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘬𝘪𝘵𝘢𝘳 𝘥𝘶𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘦 𝘚𝘎𝘈. 𝘚𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶, 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘭𝘢𝘨𝘪," jelas 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
Ervan langsung duduk lebih tegak.
"𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘢𝘶?" Suara 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 naik sebelum ia sempat menahannya.
"𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘵," potong 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. "𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘭𝘶."
"𝘛𝘦𝘮𝘣𝘢𝘬. 𝘈𝘱𝘢 𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘶𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 cepat.
"𝘗𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢, 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘳𝘶𝘬𝘴𝘪𝘬𝘶. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢. 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵𝘮𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘭."
"𝘖𝘬𝘦," sahut 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. "𝘐𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘭."
"𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻, mengabaikan leluconnya.
Ervan diam.
"𝘒𝘦𝘥𝘶𝘢, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘢𝘮-𝘥𝘪𝘢𝘮 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘢𝘳, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘱𝘶𝘯."
Ervan sedikit mengernyit.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘫𝘰𝘨𝘨𝘪𝘯𝘨 𝘳𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯—"
"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬," potong 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
"𝘚𝘵𝘳𝘦𝘵𝘤𝘩𝘪𝘯𝘨?" tawar 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, belum mau menyerah.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘻𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯."
Ervan mendecakkan lidah.
Sebastian melanjutkan tanpa peduli.
"𝘒𝘦𝘵𝘪𝘨𝘢, 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘱𝘶𝘴𝘩-𝘶𝘱 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘳𝘦𝘱𝘦𝘵𝘪𝘴𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘳𝘶𝘴𝘢𝘬. 𝘚𝘦𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴 𝘳𝘦𝘱𝘦𝘵𝘪𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘵𝘪𝘩 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩𝘮𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯."
Ervan teringat dirinya yang pernah ambruk akibat overtraining.
"𝘉𝘢𝘪𝘬," jawab 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, lebih pelan dari sebelumnya.
"𝘒𝘦𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵, 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪, 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘢𝘸𝘢𝘳-𝘮𝘦𝘯𝘢𝘸𝘢𝘳, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 '𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘵 𝘭𝘢𝘨𝘪'."
"𝘖𝘬𝘦. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘶𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢."
"𝘒𝘦𝘭𝘪𝘮𝘢."
Sebastian sengaja berhenti.
"𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘦𝘬𝘯𝘪𝘬 𝘬𝘦𝘳𝘦𝘯."
"𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢," protes 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘈𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘭 𝘬𝘢𝘶, 𝙑𝙖𝙣."
"𝘈𝘱𝘢 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢?"
"𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘱𝘦 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘶𝘵𝘰𝘳𝘪𝘢𝘭 𝘫𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘣𝘰𝘴 𝘢𝘯𝘪𝘮𝘦," jawab 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. Dari nadanya saja, 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 bisa membayangkan cengiran di wajah sahabatnya itu.
Ervan mengusap wajah.
"𝙎𝙚𝙗𝙖𝙨𝙩𝙞𝙖𝙣."
"𝘐𝘯𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳. 𝘒𝘰𝘯𝘵𝘳𝘰𝘭 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩, 𝘬𝘦𝘴𝘦𝘪𝘮𝘣𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘨𝘶𝘢𝘳𝘥, 𝘧𝘰𝘰𝘵𝘸𝘰𝘳𝘬. 𝘒𝘦𝘬𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘬𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯." Nada 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 kembali serius.
Ervan melihat jurnalnya.
"𝘚𝘦𝘵𝘶𝘫𝘶. 𝘜𝘳𝘶𝘵𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘵𝘶𝘭𝘪𝘴 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘉𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘉𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘭𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢," balas 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. "𝘉𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩𝘬𝘶. 𝘚𝘢𝘳𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘶𝘭𝘶, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘱𝘪𝘯𝘨𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘪 𝘮𝘢𝘵𝘳𝘢𝘴𝘬𝘶."
Panggilan berakhir beberapa saat kemudian.
Ervan menatap layar ponsel.
Empat belas hari.
Tidak panjang.
Namun untuk pertama kalinya, ia tidak berniat menggunakan waktu itu untuk mengejar ketertinggalan secara membabi buta.
---
Keesokan paginya, Ervan tiba di kediaman keluarga Greyad.
Sebastian membawanya menuju ruang latihan pribadi keluarga.
Saat pintu dibuka, langkah Ervan otomatis berhenti.
Ruangan itu jauh lebih lengkap daripada tempat latihan umum yang pernah ia lihat.
Area matras memenuhi bagian tengah. Punching bag berjajar di satu sisi. Barbel, dumbbell, resistance band, medicine ball, treadmill, pull-up station, serta berbagai target reaksi tersusun rapi.
Di bagian lain terdapat perlengkapan sparring.
Dan di sebuah rak terkunci, Ervan melihat beberapa Regalia latihan.
Tatapannya bertahan di sana.
Sebastian langsung menunjuk matras.
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘪𝘵𝘶. 𝘔𝘢𝘵𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘦 𝘴𝘪𝘯𝘪," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
"𝘈𝘬𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵," kilah 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, meski matanya masih tertahan sedetik lebih lama di rak itu.
"𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩 𝘙𝘦𝘨𝘢𝘭𝘪𝘢."
"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢?" tanya 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. "𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘬𝘴𝘪 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪—"
Sebastian menatapnya seolah jawabannya sudah jelas.
"𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳."
Ervan hendak protes.
Lalu mengingat BETA.
Protes itu hilang sendiri.
Sebastian berjalan ke tengah matras.
"𝘚𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
Ia mengangkat kedua tangannya.
"𝘊𝘰𝘣𝘢 𝘴𝘵𝘢𝘯𝘤𝘦. 𝘗𝘰𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘪𝘵𝘶."
Ervan mengambil posisi.
Sebastian hanya membutuhkan tiga detik.
"𝘉𝘶𝘳𝘶𝘬," vonis 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
Ervan menatapnya.
"𝘊𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬," protes 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻.
"𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩. 𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩."
Sebastian mendekat dan menunjuk satu per satu.
"𝘚𝘵𝘢𝘯𝘤𝘦 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘪. 𝘎𝘶𝘢𝘳𝘥 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢. 𝘚𝘪𝘬𝘶 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳. 𝘒𝘢𝘬𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘫𝘢𝘶𝘩." Setiap kalimat diiringi satu tunjukan jari 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. "𝘉𝘦𝘳𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘥𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘫𝘦𝘭𝘦𝘬. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘮𝘱𝘶𝘬 𝘥𝘪 𝘵𝘶𝘮𝘪𝘵."
Ia mendorong bahu Ervan sedikit.
Tubuh Ervan langsung kehilangan keseimbangan setengah langkah.
"𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵? 𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘥𝘰𝘳𝘰𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭, 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩. 𝘉𝘌𝘛𝘈 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘰𝘳𝘰𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘭𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶."
Ervan terdiam.
"𝘚𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘬𝘶𝘭 𝘢𝘬𝘶," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. Ia mundur selangkah dan menurunkan kedua tangannya, seolah sama sekali tidak butuh pertahanan. "𝘚𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢. 𝘉𝘢𝘩𝘶 𝘬𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘪𝘢𝘱 𝘥𝘪𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘴𝘦𝘳𝘪𝘶𝘴."
Ervan mengatur napas.
Telapak kakinya berdecit pelan di atas matras.
Ia melepaskan pukulan lurus dengan tangan kanan.
Sebastian hanya memiringkan kepala ke kiri. Kepalan Ervan lewat sejengkal dari telinganya dan menghantam udara kosong. Sebelum lengan itu sempat ditarik pulang, punggung tangan Sebastian sudah menepuk rusuk kanan Ervan yang terbuka.
Pelan.
Tapi tepat.
"𝘓𝘦𝘣𝘢𝘳," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. "𝘗𝘶𝘬𝘶𝘭𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘶𝘵𝘢𝘳 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪. 𝘈𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘣𝘢𝘩𝘶𝘮𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘦𝘳𝘢𝘬."
Ervan menggertakkan gigi.
Pukulan kedua keluar lebih cepat. Lebih keras. Seluruh kekesalan lima hari terakhir ikut terdorong di belakangnya.
Kali ini Sebastian bahkan tidak repot menghindar jauh. Ia hanya menggeser kaki setengah langkah ke kiri dan membiarkan tenaga itu menghantam ruang kosong.
Tubuh Ervan terseret oleh pukulannya sendiri. Satu langkah. Dua langkah. Ujung kakinya nyaris tergelincir di tepi matras.
Sebuah telapak tangan mendarat ringan di tengkuknya.
"𝘛𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘨𝘢." Suara 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 terdengar tepat di belakang telinganya. "𝘒𝘶𝘣𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘵𝘦𝘯𝘨𝘢𝘩. 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘉𝘌𝘛𝘈, 𝘭𝘦𝘩𝘦𝘳𝘮𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘮𝘶𝘭𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢."
Ervan berbalik dengan napas memburu.
Bahu kirinya berdenyut. Nyeri tumpul merambat sampai ke tulang belikat.
Ia mengabaikannya.
Pukulan ketiga datang dari kiri, lebih pendek dan lebih rapat.
Namun di tengah jalan, nyeri di bahunya menyentak. Lengannya tersendat sepersekian detik. Bahu kirinya terangkat terlalu tinggi dan membuka seluruh sisi wajahnya.
Sebastian menunduk ke kiri. Dua jarinya sudah menempel di rahang Ervan sebelum pukulan itu selesai.
"𝘉𝘢𝘩𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘶𝘬𝘢." Kali ini 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 tidak sekadar menilai; ada teguran di dalam suaranya. "𝘋𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘭𝘶. 𝘈𝘬𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘣𝘢𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯."
Ervan mundur dua langkah.
Kali ini ia tidak langsung menyerang.
Ia memperhatikan.
Tiga kali Sebastian menghindar, tiga kali ke arah yang sama. Kepala miring ke kiri, kaki bergeser ke kiri, lalu balasan datang dari sisi itu.
Pola.
Ervan menghentakkan bahu kanannya, pukulan palsu yang hanya cukup untuk memancing gerakan. Lalu tinju kanannya melesat ke titik kosong di sebelah kiri kepala Sebastian, tempat yang seharusnya akan diisi kepala itu.
Sebastian tidak bergerak ke kiri.
Ia bergerak ke kanan.
Pukulan Ervan menembus udara. Lengannya masih menggantung di depan, terlalu lama untuk kembali menutup wajah, ketika buku-buku jari Sebastian berhenti satu senti dari pelipisnya. Tepat di bekas luka yang baru saja mengering.
Hening.
Hanya napas Ervan yang terdengar di ruangan itu.
"𝘓𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪 𝘬𝘦 𝘨𝘶𝘢𝘳𝘥," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 pelan sambil menarik tangannya. "𝘐𝘥𝘦𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘶𝘴. 𝘒𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘱𝘰𝘭𝘢𝘬𝘶. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘱𝘰𝘭𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘨𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘤𝘢 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘳𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯."
Ervan menurunkan tangan.
Baru beberapa menit.
Sebastian sudah menemukan lebih banyak masalah daripada yang Ervan sadari selama berminggu-minggu latihan sendiri.
Sebastian berdiri di depannya.
"𝘒𝘢𝘶 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘪𝘭𝘢𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘫𝘶𝘳?" tanya 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻.
"𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩?" 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻 menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan. "𝘚𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵, 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘩."
"𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮. 𝘛𝘢𝘥𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘥𝘢𝘧𝘵𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯."
Ervan mengangkat alis.
Sebastian menyilangkan tangan.
"𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨, 𝙑𝙖𝙣."
Tidak ada nada mengejek.
"𝘒𝘢𝘶 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘧𝘪𝘴𝘪𝘬 𝘭𝘶𝘮𝘢𝘺𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘉𝘌𝘛𝘈. 𝘐𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭," lanjut 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. "𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘴𝘦𝘣𝘶𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘳𝘶𝘯𝘨."
Beberapa minggu lalu, mungkin kalimat itu akan menyengat harga dirinya.
Sekarang tidak.
Ervan melihat matras di bawah kakinya.
Kemudian teringat aspal dingin tempat dirinya ambruk.
Dia masih hidup karena banyak hal.
Insting.
Adrenalin.
Lingkungan.
Keberuntungan.
Tapi bukan teknik.
"𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶," kata 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻, mengangkat pandangan dari matras, "𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘢?"
Sebastian tersenyum tipis.
Sebuah sarung tangan latihan terbang ke arahnya.
Ervan menangkapnya.
"𝘔𝘶𝘭𝘢𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘯𝘰𝘭," kata 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻. Dulu kata itu selalu terdengar seperti ejekan di telinga 𝗘𝗿𝘃𝗮𝗻. Pagi ini, entah kenapa, kedengarannya seperti garis start.
Ia memasang sarung tangan itu.
Sebastian menunjuk posisi kakinya.
"𝘗𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢…" 𝗦𝗲𝗯𝗮𝘀𝘁𝗶𝗮𝗻 sengaja menggantung kalimatnya.
Ervan mengikuti arah jarinya.
"…𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘣𝘦𝘳𝘥𝘪𝘳𝘪."
Untuk pertama kalinya, Ervan menyadari bahwa mengejar para calon Hunter yang sudah berlatih bertahun-tahun tidak dimulai dengan berlari lebih cepat.
Ia harus belajar bagaimana caranya tidak jatuh.
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊