Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.
Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.
Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA BELAS
Tok... Tok... Tok...
"Erin... buka Erin! Kamu ada di dalam kan? Buka dong, penting ini! Erin... Buka!!"
Pagi masih dibalut remang ketika Yunda mengetok pintu kamar kosan Erin dengan tidak sabaran. Sejak semalam, perasaannya benar-benar tidak tenang. Ada rasa cemas yang terus menggerogoti dadanya bagai sengatan lebah.
Erin membuka pintu kamar kosannya dengan raut wajah gusar, menguap lebar-lebar sembari mengucek matanya yang masih sembap.
"Ada apa sih, Yunda? Pagi-pagi begini sudah menggedor pintu seperti ada kebakaran saja!" omel Erin jengkel.
Yunda menerobos masuk dengan wajah pucat pasi. "Erin, Amara hilang! Semalam dia menghilang dari lokasi pesta perpisahan kampus dan ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi!"
Erin memutar matanya malas, menyandarkan tubuh di daun pintu. "Aduh, Yunda, Amara itu sudah besar. Dia bukan anak kecil lagi. Paling dia langsung pulang ke rumahnya atau ponselnya kehabisan daya. Kamu ini berlebihan sekali."
"Bukan begitu, Erin!" potong Yunda dengan suara bergetar dan napas memburu. "Semalam... aku sempat menitipkan dua gelas minuman di meja. Tapi saat aku kembali, minumannya cuma tersisa satu gelas dan Amara sudah tidak ada di sana. Aku yakin sekali Amara meminum gelas satunya!"
Erin tertawa kecil, menatap sahabatnya itu dengan pandangan polos tanpa curiga. "Cuma segelas minuman, kenapa kamu sampai sepanik ini sih? Kan kamu tinggal ambil minum lagi di bar. Jangan pelit begitu dengan teman sendiri, Yunda."
Yunda memajukan tubuhnya, mencengkeram lengan Erin lalu membisikkan sesuatu dengan nada panik dan terengah-engah. "Minuman yang diminum Amara itu... sudah dicampur obat gairah oleh ku!"
"Apa?" Erin berteriak histeris, rasa kantuknya menguap seketika. "Kamu gila, Yunda!!! Kenapa kamu campurkan obat seperti itu di minuman itu! Bagaimana kalau Amara mabuk lalu dibawa oleh pria tidak dikenal dan mereka..."
Seketika Erin dan Yunda dilanda kepanikan yang teramat sangat. Keduanya saling pandang dengan tubuh gemetar, tidak sanggup membayangkan nasib buruk yang mungkin menimpa sahabat mereka malam itu.
Guna menenangkan pikirannya yang kalut, Yunda memutuskan untuk keluar membeli sarapan di depan gang kosan. Langkah kakinya gontai, kepalanya tertunduk penuh rasa bersalah dan ketakutan.
Namun, di sudut jalan yang remang, sebuah mobil SUV berwarna hitam mematung diam. Dua orang pria berbadan tegap memperhatikan setiap pergerakan Yunda dari balik kaca mobil yang gelap, mengawasi situasi sekitar yang masih sangat sepi.
"Itu benar gadis yang dimaksud oleh Bos Jaya?" tanya pria di kursi kemudi.
Pria di sebelahnya mencocokkan wajah Yunda dengan foto di layar ponselnya. "Iya, benar. Ayo kita eksekusi sekarang. lakukan dengan sangat rapi jangan sampai meninggalkan saksi mata."
Saat Yunda berjalan tanpa memperhatikan kondisi di sekitarnya, kedua pria itu melangkah keluar secara senyap. Tanpa memberi kesempatan untuk berteriak, salah satu pria merangkul leher Yunda dari belakang, menyergap hidungnya dengan kain yang telah dibubuhi cairan pembius.
"Eeeemmmpppp.... Eeeemmmpppp."
Tubuh Yunda melemas dalam hitungan detik. Keduanya dengan cepat menggotong tubuh Yunda masuk ke dalam mobil hitam, lalu memacu kendaraan tersebut menuju lokasi rahasia sesuai perintah Jaya.
Di kamar utama kediaman Alfatih, Amara mulai mengerjap-erjapkan matanya perlahan. Penglihatannya masih dikerumuni kabut buram, namun bau harum aroma kayu cendana yang khas membuatnya sadar sepenuhnya, ini bukan kamar pribadinya, melainkan kamar milik Kak Zain, suaminya.
Kepala Amara rasanya berdenyut menyengat, sementara seluruh persendian tubuhnya terasa remuk dan pegal, seolah-olah ia baru saja dijatuhkan dari gedung tinggi.
"Apa yang terjadi... semalam?" bisik Amara parau.
Ia berusaha merangkai ingatan semalam, namun yang melintas di benaknya hanyalah bayangan samar wajah Zain yang terkunci rapat di atas tubuhnya, mencium bibirnya dengan amat lembut dan dalam.
Apakah itu semua hanya mimpi atau kenyataan? Kenapa aku bisa berada di ranjang Kak Zain?
Kandung kemih Amara terasa penuh menyiksa, mendesaknya untuk segera pergi ke kamar mandi. Namun, saat ia memiringkan tubuh dan menurunkannya dari atas ranjang, rasa sakit yang membakar mendadak menyengat di area selangkangannya.
"Ssssh... Sakit!" Amara meringis menahan perih, matanya berkaca-kaca. Sensasi nyeri dan berdenyut ini terasa sangat asing namun sekaligus membangkitkan ingatan yang memalukan.
Amara memaksakan diri untuk berdiri. Namun baru saja kakinya menapak di atas lantai, lututnya lemas kehilangan tumpuan.
Brugh!
"Aawww! Sakit sekali!" jerit Amara pelan ketika bokongnya berbenturan keras dengan lantai keramik yang dingin.
Pintu kamar mendadak terbuka lebar. Zain yang baru saja kembali masuk seketika diserang kepanikan luar biasa saat melihat istrinya tergeletak di lantai.
"Amara!" Zain melompat maju, dengan sigap merengkuh dan mengangkat tubuh Amara kembali ke atas ranjang. Namun, begitu Amara terduduk aman, Zain buru-buru menarik diri dan melangkah mundur dua langkah.
Pria itu berdiri tegap dengan raut wajah yang sangat dingin, kaku, dan tak tersentuh. Tatapan matanya lurus memandang dinding di belakang Amara, tanpa ekspresi sedikit pun.
Akan tetapi, detik itu juga, sebuah gema suara yang sangat jernih dan bergetar mendadak meledak di dalam kepala Amara.
’Sial! Apa Amara akan marah padaku? Bagaimana kalau Amara semakin membenciku karena tindakanku yang terlewat batas semalam? Tolol sekali kamu, Zain!’
Amara membelalakkan matanya, terpaku menatap suaminya. Mulut Zain teratup rapat, bibir tipis pria itu sama sekali tidak bergerak. Namun, Amara mendengarnya secara sangat nyata.
"Kak Zain... tadi bicara apa?" tanya Amara bingung.
Zain menaikkan sebelah alisnya, merapikan kacamata yang membalut wajah tampannya. "Aku? Bicara? Aku tidak bicara apa-apa sejak tadi," sahut Zain datar, tajam, dan penuh keangkuhan.
Padahal di saat yang bersamaan, gema batin Zain kembali mengaung kencang di benak Amara.
’Sialan! Kancing baju tidur Mara terbuka! Kulit dadanya mulus sekali... Apa Amara bakal sadar kalau bercak kemerahan di dadanya itu gara-gara gigitanku semalam? Sial, sial, sial! Kenapa aku ingin menciumnya lagi sekarang? Kenapa isi kepalaku jadi sangat mesum begini saat melihatnya?'
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣