NovelToon NovelToon
Alunar Baya: Garis Batas Jantung

Alunar Baya: Garis Batas Jantung

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Bagi dr. Alunar Abya Manggala (23 tahun), bertugas di pedalaman Kalimantan adalah pembuktian lepas dari nama besar ayahnya, Komjen Pol. Faza Idam Manggala. Namun, idealisme dokternya diuji saat ia nekat ingin menerobos jalur merah perbatasan demi menyelamatkan warga yang kritis.

Bagi Kapten Infanteri Sagara Danendra (28 tahun), aturan lapangan adalah harga mati. Mengemban tanggung jawab berat sebagai Danki Satgas sekaligus Danposkotis di Nunukan.

"Tugas saya menyelamatkan nyawa, Kapten!" protes Alunar sengit.

"Dan tugas saya memastikan Anda tetap hidup untuk melakukan tugas itu, Dokter Alunar! Di sini, Anda ikuti aturan main saya,” balas Sagara tidak kalah sengit.

Ketegangan makin memuncak ketika jalur perbatasan memanas oleh jaringan kriminal internasional yang sedang diburu lembaga yang dipimpin ayah sang gadis, yang tidak lain sosok laki-laki paling dibenci Sagara. Laki-laki yang menyebabkan ayah Sagara meninggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 Blank Spot

Setelah melewati jalanan berlumpur dan menyempit. Akhirnya Mobil double cabin yang membawa rombongan Sagara beserta tim tiba juga di hutan. 

“Kita sudah sampai. Ayo turun!” 

Penuturan dari Sagara langsung membuat Alunar mengawasi sekitar. Mencari pintu masuk hutan yang sama sekali tidak terlihat. 

“Mau sampai kapan Anda tetap duduk, dokter?” 

Tanpa menanggapi ucapan Sagara. Alunar bersiap turun dari kendaraan. Mengabaikan uluran tangan Sagara yang ingin membantunya. Hingga membuat Maruli menahan senyum melihat pemandangan langka komandannya.

“Jaga pandangan, Pratu Maruli!” 

“Siap, Ndan.” 

Bruk…!

Setelah menutup kencang pintu mobil meluapkan rasa kesal yang melingkupi. Kini pandangan mata tajam mengawasi seluruh anak buahnya. 

“Langit sudah mulai gelap. Pastikan semua indra kalian bekerja!” 

“Siap, Ndan!” jawab serempak.

“Ingat, apapun pergerakan yang terjadi. Pastikan kalian tidak keluar dari formasi.” 

“Siap, Ndan!”

Sesuai arahan Sagara, semua tim beserta Alunar dan Jaya mulai masuk ke hutan. 

Sagara dan Jaya berjalan paling depan, Alunar dan Oka ada di bagian tengah. Sedangkan tim lainnya ada di barisan belakang mengunci. Kini, ada 8 nyawa menjadi tanggung jawab Sagara. 

“Bergerak senyap.”

“Siap, Ndan.”

Lampu senter senjata mulai menyala kuning menembus kegelapan hutan. 

Krik…

Kruuuk…

Suara jangkrik dan suara burung hantu yang saling bersahutan. Menyisakan kegelapan dan kelembaban menyelimuti. 

“Padahal masih sore. Tapi, cahaya matahari sama sekali tidak bisa menembus rapatnya hutan. Benar-benar berbeda saat aku dan ayah naik gunung,” gumam Alunar sambil mengawasi sekitar. 

Alunar jelas tidak pernah menyangka dirinya masuk ke tengah hutan lebat yang cahaya matahari saja tidak mampu menembus. 

Hurff…

Nafas Alunar mulai pendek, ketika langkah kakinya mulai masuk semakin dalam.

“Semangat Alunar. Kamu pasti bisa. Ada nyawa seseorang yang harus kamu selamatkan,” batin Alunar menyemangati dirinya. 

Entah karena rasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Langkah kaki alunar mulai tidak stabil. Pandangan matanya pun juga mulai tidak fokus. Hingga kakinya tergelincir saat menginjak tanah rawa yang licin. 

Sreeet...

“Ah...”

“Hati-hati, dokter Aluna!” 

Oka angsung menahan lengan Alunar. Sedangkan Alunar menggapai apapun yang bisa digunakan sebagai pegangan agar kakinya tidak semakin dalam masuk ke tanah rawa yang menghisap kakinya. 

“Siap, terima kasih banyak, Sertu Oka.”

“Jangan sembarangan memegang sesuatu, dok!  Karena di hutan ini tidak semua yang terlihat seperti pohon aman untuk disentuh,” ucap penuh peringatan Oka.

“Bisa jadi itu binatang yang pintar berkamuflase atau justru tanaman beracun. Jika disentuh akan menimbulkan rasa gatal dan terbakar hebat berhari-hari,” ucap Oka pelan mengingatkan tentang bahaya nyata berada di tengah hutan belantara.

“Siap, terima kasih informasinya, Sertu Oka.”

Sagara hanya melirik sekilas ke arah Alunar. Tangannya yang ingin menggapai lengan Alunar. Justru kembali ia tarik untuk melanjutkan perjalanan.  

Selangkah demi selangkah, hingga tak terasa sudah dua jam waktu berlalu. Langkah Alunar semakin berat, nafasnya kembang kempis. Namun, penampakan kampung hulu belum jiga terlihat. 

“Bisa lebih cepat, dokter? Langkah Anda memperlambat ritme regu.”

Sindiran yang keluar dari mulut Sagara bagaikan pecut untuk Alunar. Tenaga yang sebelumnya hampir habis karena kelelahan. Kini kembali lagi dengan rasa jengkel menyelimuti. 

"Siap, saya sangat bisa, Kapten. Saya tidak akan pernah menjadi beben tim Anda. Jadi, Anda tidak perlu khawatir," jawab Alunar ketus.

“Lanjut kembali!” 

“Siap, Ndan.” 

Dengan penuh semangat Alunar menyeka keringat di keningnya. Kini, tenaganya kembali pulih. Justru paling semangat diantara yang lain.

“Siap, kita harus sampai dan kembali tepat waktu.” 

Sagara hanya menatap sekilas Alunar. Lalu kembali melanjutkan perjalanan. 

Semangat yang kembali meningkat untuk melanjutkan perjalananan. Justru berbanding terbalik saat Sagara tiba-tiba mengangkat tangannya. Membuat semua anggota tim berhenti sejenak. 

“Aduh, ada apa Sertu Oka? Apakah ada hal tidak beres terjadi?” tanya Alunar penasaran saat keningnya kejedot punggung Oka yang berhenti mendadak. 

Sssst

Isyarat jari Oka di depan mulut. Menandakan jika telah terjadi sesuatu. Sesuai dengan perintah Sagara, Alunar menajamkan seluruh indera miliknya. 

“Kita cari posisi berlindung, dokter. Ada pergerakan tidak beres di hutan ini,” bisik Oka sambil memberikan isyarat Alunar berlindung di pohon besar di sekitar mereka. 

Tidak hanya Alunar dan Oka yang mencari perlindungan. Hal sama juga dilakukan anak buah Sagara. 

Klek… klek

Suara senjata dalam posisi siap. Mampu membuat detak jantung Alunar tak karuan. Ini kali pertama dirinya berada di tengah hutan yang buta informasi. 

“Apa yang harus kita lakukan? tanya Alunar bingung kepada Oka. 

“Menunggu perintah komandan, dokter,” jawab Oka sambil mengawasi sekitar. 

“Siap.”

Kini yang terlihat di mata Alunar adalah aktivitas Sagara yang sedang menghubungi seseorang dengan HT. Wajah tegang Sagara sudah menggambarkan jika posisi mereka sedang tidak aman. 

"Kotis, disini Sagara. Lapor posisi di sektor hulu. Ganti."

Krrrrsssk... shhh…

Tidak ada jawaban dari laporan yang diberikan Sagara. Hanya suara desisan tidak jelas saling bersahutan. 

Tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan. Sagara memberikan kode pada Serda Anis sebagai operator radio untuk mencari penyebab hilangnya komunikasi dengan Arisandhi di Poskotis. 

“Izin lapor, Komandan,” bisik Anis sambil tiarap mendekati Sagara. 

“Katakan.” 

“Hilangnya sinyal secara tiba-tiba bukan karena masalah terhalang bukit atau lebatnya hutan, Komandan. Frekuensi kita tidak kosong. Hanya seperti menabrak dinding keras yang langsung membuat kacau komunikasi.” 

“Berarti saat ini sinyal kita di-jamming dengan sengaja?” 

“Siap benar, Komandan.” 

Suara yang tertekan menandakan ada amarah siap meledak. Sebab, hutan tempat dirinya berada bukan wilayah sembarangan. Melainkan hutan lebat dengan 

“Sial, berarti ada pergerakan misterius dan ilegal terjadi di hutan ini.” 

“Benar, Komandan. Ada interferensi aktif berskala militer di radius kita. Seseorang sengaja mematikan seluruh komunikasi di sektor hulu ini. Bertujuan sengaja mengacaukan atau memblokir jalur kita.” 

“Berarti kita dalam posisi bahaya.” 

“Siap benar, Komandan.” 

Jujur, apa yang terjadi kali ini diluar pemikirannya. Niat hati ingin mengobati kepala suku. Justru mendapatkan pergerakan ilegal secara militer di Poskotis wilayahnya.

“Semuanya dalam posisi siaga.”

“Siap, Komandan.” 

Saat tahu keadaan diluar prediksinya. Sagara memandang Alunar yang masih dalam posisi bersembunyi. 

Ada dua warga sipil yang dirinya bawa. Jaya yang merupakan suku asli Kalimantan dan juga Alunar. Namun, fokus Sagara hanya pada Alunar. 

Sagara memang sangat benci dengan Komjen Faza. Namun, membiarkan Alunar di hutan dalam keadaan bahaya. Jelas jauh benget dengan prinsipnya. 

“Dokter Alunar, dengarkan aku baik-baik!” 

“Baik.” 

Sama halnya dengan Sagara. Kini Alunar membuang jauh-jauh rasa kesalnya. Sebab, saat ini bukan waktu memperdebatkan masalah yang terjadi di masa lalu.

"Sekarang kita berada di bawah intaian dan tanpa komunikasi dengan Arisandhi di Poskotis. Jika sampai terjadi sesuatu seperti kontak senjata. Pastikan Anda tetap berada di belakang punggung saya.” 

“Siap.” 

“Jangan kemana-mana! Apalagi keluar atau menjauh dari rombongan. Jika sampai hal itu terjadi. Maka, Anda akan menambah beban tim saya.” 

Ucapan Sagara memang terdengar sangat kasar dan tidak sopan. Namun, entah kenapa untuk saat ini Alunar benar-benar mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut laki-laki itu. 

“Paham?”

"Paham, Kapten," bisik Alunar yang suaranya hampir hilang.

“Kita lanjutkan perjalanan. Pastikan semua indera berfungsi dengan maksimal,” perintah Sagara mengulangi ucapannya saat pertama kali masuk ke hutan. 

“Siap.”

Dalam keadaan posisi siaga penuh. Tim Sagara bersama Alunar dan Jaya kembali melakukan gerak senyap untuk melanjutkan perjalanan. Semua tim saling menjaga satu sama lain. 

“Apakah masih jauh rumah kepala desa, Jaya?” tanya Sagara pelan memastikan. Sebab, sudah 3 jam perjalanan sudah berlalu. 

“Lumayan dekat, Kapten. Cahaya lampu yang tersorot di ujung itu adalah tempat desa kami berada,” jawab Jaya sambil menunjuk ke arah cahaya yang tampak sangat kecil. 

Cahaya lampu yang mulai terlihat. Nyatanya jarak yang harus ditempuh Sagara bersama tim keseluruhan membutuhkan waktu satu jam perjalanan. Benar-benar menguras tenaga dan pikiran. 

“Masih semangatkah, dokter?” tanya Oka tidak tega melihat Alunar yang suara nafasnya mulai kembang kempis. 

“Tentu saja masih semangat. Apalagi cahaya lampu tempat tinggal kepala desa sudah mulai terlihat,” jawab Alunar penuh semangat. 

1
ika
dredeg aku....
syora
alhamdulillah alunan slamat
ya allah saga harga dr anda bnr" ya ckckcj
Danny Muliawati
jangan terlalu benci nanti cinta loh 😜
Danny Muliawati
pasti jodoh ini mah 😄
ika
who is?
musuh siapa ini?
ika
akhir nya update juga...
semangat ya Thor...
di tggu update selanjutnya...
Cichio23: siap kakak
total 1 replies
ika
hahaha....

kasian sekali kamu Sagara 🤭🤭🤭
ika
ga sabar nunggu mereka jadian 🤭🤭🤭
ika
jreng jreng jreng....

silahkan berusaha Sagara 😄🤣🤣
syora
benci bd tipis sm cinta
aplikasi klau smpai luna th ms lalu ayah saga yg jg bertindak kurang baik ke ayah faza dl
ingt saga ada tour tunai,jgn slh lngkh hnya krna ego yg blm tentu bar knyataannya
ika
wes ta lah ...
benci jadi cinta iku....
nikmati saja, buang dendam nya Sagara ...
alunar gadis baik, dari klrga baik jg...
syora: setujuuuuu pkai👍👍👍👍👍tar klau alunan bnr" bnci blik
habis dah saga
total 1 replies
ika
lanjut kan saja Sagara...
mpe kpn kamu seperti itu???
syora
setuju posisi blh kapten tp klau nggak bs profesional buat apa
Fatimah Zubaedah
duh Sagara...Awas nanti jatuh cinta,cinta kepada alunar
ika
ayahmu yg jahat Sagara, kamu ga tau kan cerita nya?
ak loch dah baca . ..
🤭🤭🤭
Cichio23: Masa sih, Kak? Othor loh belum tahu🤭😄
total 1 replies
syora
padahal kamu blm tahu almarhum ayah dl seperti apa
lanjut sj egomu gara
hingga penyesalan
bikin pingin ngetik kalau aja nih ank
ika
tegang cuy....
Fatimah Zubaedah
tahan nafas thorr bacanya😄
syora
aduhhh kapten saga jgn trlalu menuruti ego
lg pl ada crita knpa,ayah km dimutasi
ika
ngeri ya....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!