NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Era Majapahit

Terlempar Ke Era Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Cincin Bermatahari

Sekar bermalam di pertapaan malam itu, tidur di bilik Gandra yang dengan senang hati mengungsi ke serambi demi "tamu kehormatan". Wirabhaya dan Tarub memilih berjaga di bawah pohon kamboja, katanya untuk memastikan tidak ada yang mengintai. Padahal Raka curiga mereka hanya malas turun gunung dalam gelap.

Ketika pertapaan akhirnya senyap, dan pelita di pondok tinggal satu yang menyala, Raka mendapati dirinya duduk berhadapan dengan Mpu Kalandara untuk kesekian kalinya di bawah cahaya redup. Hanya saja kali ini tidak ada teh. Pertapa itu menatap api pelita tanpa berkedip.

"Mpu," kata Raka hati-hati. "Soal cincin Sekar tadi."

"Kau memperhatikan."

"Sulit tidak memperhatikan. Wajah Mpu pucat sekali."

Mpu Kalandara menghela napas panjang, lalu bersandar pada dinding bambu. Untuk beberapa saat ia tak bicara, seakan sedang menimbang seberapa banyak kebenaran yang harus ia bagikan.

"Lambang matahari delapan sinar itu bukan sekadar hiasan," katanya akhirnya. "Kau tahu itu. Itu lambang kerajaan."

"Surya Majapahit. Ya."

"Tetapi tidak semua orang berhak memakainya. Pejabat istana, prajurit, bahkan para bangsawan tinggi, hanya boleh menyandang lambang itu pada pakaian atau panji. Yang boleh mengukirnya pada perhiasan pribadi, pada cincin yang melingkar di tangan..." Ia berhenti sebentar. "Hanya keturunan langsung Raden Wijaya."

Raka merasakan kerongkongannya mengering. "Keluarga raja."

"Darah raja. Anak, cucu, atau cicit dari pendiri kerajaan ini." Mpu Kalandara mengusap wajahnya dengan telapak tangan. "Dan cincin seperti itu hanya diberikan oleh orang tua kepada anaknya sebagai tanda pengenal rahasia. Biasanya untuk anak yang karena suatu sebab tak bisa tinggal di istana."

"Maksud Mpu, Sekar..."

"Aku tak berkata begitu." Suaranya tajam, lalu melunak lagi. "Aku hanya bilang aku tak pernah melihat cincin seperti itu di tangan siapa pun selain pemiliknya yang sah. Mungkin dia pencurinya. Mungkin ayahnya mengambilnya dari seseorang. Mungkin hanya tiruan murah, seperti yang ia katakan."

"Tapi Mpu tidak percaya itu."

"Aku tidak mau percaya itu." Pertapa itu menatap Raka. "Sebab kalau cincin itu asli, maka gadis itu sedang membawa sesuatu yang bisa membuatnya terbunuh."

Raka terdiam. Pelita berkedip pelan.

"Mengapa terbunuh?"

"Karena di Trowulan, ada orang yang tak ingin keturunan tertentu ditemukan." Mpu Kalandara mengusap janggutnya. "Aku tidak punya semua jawabannya. Pada masa Ratu Tribhuwana, ada desas-desus tentang seorang anak dari garis keturunan yang tersisih, yang menghilang pada malam yang sama saat seorang pejabat tinggi dibunuh. Tak ada yang tahu apakah itu benar atau hanya cerita pengantar tidur. Aku sendiri tak pernah menyelidikinya, karena itu bukan urusanku."

"Dan sekarang?"

"Sekarang aku melihat cincin itu di tangan seorang gadis desa yang menyembunyikan buku catatanmu dengan kebohongan paling lihai yang pernah kudengar." Ia tersenyum getir. "Aku tak percaya pada kebetulan lagi, Nak. Tidak setelah jam tiga lewat sepuluh."

Esok paginya, kabut menutupi seluruh lereng, dan udara dingin menusuk tulang. Mpu Kalandara memanggil Sekar duduk di serambi, dan meminta Raka menemani. Gandra, tanpa diminta, membawakan tiga cangkir teh hangat dan segera menyingkir, tapi jelas masih menguping dari balik tirai bambu.

"Nyai Sekar," mulai Mpu Kalandara dengan lembut. "Boleh aku bertanya soal ayahmu?"

Sekar menegakkan punggung. Matanya langsung waspada. "Kenapa Mpu bertanya?"

"Karena aku pernah mengenal beberapa orang yang punya lambang seperti di cincinmu. Aku hanya ingin tahu siapa ayahmu."

"Namanya Ki Dharma." Jawaban itu keluar cepat, seperti hafalan. "Dia juru tulis di balai desa. Dia meninggal ketika aku berusia sembilan tahun."

"Dari mana dia berasal?"

"Dari selatan. Katanya."

"Katanya?"

Sekar menatap cangkirnya. "Dia jarang bercerita. Ibu bilang dia datang ke desa kami waktu terluka parah, dan dirawat oleh Ibu. Mereka menikah beberapa bulan kemudian. Ayah tak pernah menyebut keluarganya, tak pernah menceritakan masa lalunya. Dia hanya bilang... kalau suatu hari ada orang yang menanyakan namanya, aku harus mengatakan aku tak tahu apa-apa."

Raka mengerutkan kening. "Dia bilang begitu padamu?"

"Berkali-kali. Sampai aku hafal." Sekar menegakkan wajah dan menatap Mpu Kalandara langsung. "Mpu, apa yang sebenarnya Mpu ketahui?"

"Belum banyak." Mpu Kalandara tidak mengelak. "Tetapi aku akan berhati-hati dalam setiap hal yang berkaitan denganmu, dan aku minta kau melakukan hal yang sama. Jangan menunjukkan cincin itu pada siapa pun. Jangan menyebutkan nama ayahmu pada orang yang tidak kau percayai."

"Aku sudah melakukannya sepanjang hidupku."

"Bagus. Teruskan."

Sekar mengamati kedua lelaki itu bergantian, lalu tiba-tiba menyunggingkan senyum miring.

"Kalian berdua tampak seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dari cincin."

Raka nyaris tersedak tehnya.

"Kami memang menyembunyikan banyak hal," kata Mpu Kalandara tenang. "Tapi kau akan mengetahuinya ketika waktunya tiba. Aku janji."

Sekar mengamati wajah pertapa itu lama, kemudian mengangguk sekali. "Baiklah. Aku percaya pada Mpu."

"Terima kasih."

"Tapi kalau Mpu berbohong, aku akan memakai sabitku."

"Aku sudah mendengar ancaman itu dari seseorang yang lain," kata Mpu Kalandara sambil melirik Raka dengan senyum tipis. "Aku mulai berpikir sabit itu hanyalah cara bicara khas anak-anak Kalimati."

Hari itu, ketika Sekar sedang membantu Gandra menumbuk jamu di belakang pondok, Bekel Tarub tiba-tiba berlari mendaki jalan setapak dengan wajah merah dan napas tersengal. Di tangannya tergenggam sebuah gulungan lontar yang diikat tali merah.

"Gusti Wirabhaya!" serunya. "Ada utusan dari Trowulan! Mereka membawa ini!"

Wirabhaya, yang sedang berlatih pedang dengan Raka di halaman, langsung menurunkan senjatanya dan meraih gulungan itu. Ia membuka ikatannya, membaca isinya sekilas, dan wajahnya perlahan berubah.

"Apa isinya?" tanya Raka.

Wirabhaya tak menjawab. Ia menatap lontar itu lagi dengan alis berkerut, seakan tak percaya pada matanya sendiri. Lalu ia melangkah cepat menuju pondok.

"Mpu!"

Mpu Kalandara muncul di ambang pintu. "Ada apa, Wira?"

"Surat ini bukan dari Patih." Wirabhaya menyerahkan gulungan itu. "Ini dari lelaki yang mereka sebut Sang Tabib dari Langit."

Mpu Kalandara membuka gulungan itu pelan-pelan. Dalam cahaya matahari pagi, Raka bisa melihat tulisannya: aksara Jawa Kuna yang rapi, tapi dengan gaya yang aneh, kaku dan terlalu presisi, seperti ditulis oleh seseorang yang telah mempelajarinya dari buku, bukan dari kehidupan.

Pertapa itu membaca. Wajahnya memucat sedikit demi sedikit.

"Mpu?" bisik Raka. "Apa yang tertulis?"

Mpu Kalandara tak langsung menjawab. Tangannya yang memegang gulungan itu gemetar.

"Dia mengundangku," katanya akhirnya, nyaris tak terdengar. "Ke Trowulan. Dalam tiga hari."

"Itu... bukan hal yang aneh, bukan? Dia pasti tahu Mpu pertapa terkenal."

"Dia tidak menulis 'Mpu Kalandara'."

Raka menelan ludah. "Lalu?"

Pertapa itu mengangkat wajahnya. Matanya penuh sesuatu yang belum pernah Raka lihat: bukan hanya takut, tapi juga amarah yang tertahan.

"Dia menulis, 'Kepada Kalandaru Wicaksono, dosen filologi, yang kukenal dari buku tahun delapan puluh sembilan.'"

Keheningan jatuh di halaman pertapaan. Burung-burung pun seperti berhenti berkicau.

Orang itu tahu nama asli Mpu Kalandara. Dan lebih dari itu, ia tahu siapa pria itu sebelum menjadi pertapa.

1
mimief
mang sial
pinter bet dia🫣
mimief
ya..mau sebesar apapun jabatan mu
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
mimief
oooooooo....MG
wahhhhhh
mimief
sang ratu bukan?
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
mimief: mungkin beliau yg nyari ya, bagaimana pun ttp darah dari saudara sendiri 🥹
total 2 replies
mimief
tapi kayaknya,kalau bukan sama yg punya
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
Kam1la
Sekar akhirnya bakal menemukan keluarga kandungnya
Kam1la
Hendar punya ambisi yg membahayakan seseorang
Ranti Calvin
👍
mimief
wah....pulang Raka
apakah ada yg kebawa juga🥹
Kam1la
apakah akan terbuka seperti duaan, malam jumat Kliwon..
Kam1la
Sekar diculik. kebakaran modus nya untuk pengalihan saja...
Kam1la
Pernikahan itu akhirnya bakal tetap terjadi...
Kam1la
Raka berhadapan langsung dengan hayam Wuruk....
mimief
apakah Raka akan membawa sekar ke masa depan?
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
mimief
apakah sebenarnya Hayam Wuruk tau keberadaan Sekar
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
mimief
tapi emang pada saat itu
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
mimief
wah ..berat Baginda
kalau aku melarang mu,akankah kau mendengar ku?
mimief
sama...aku juga🫣🤣🤣🤣
mimief
wah...
memang aura pemimpin ga bisa boong ya
pantes dia legenda tak terbantahkan 🥹
mimief
iy bener..
walaupun sejarah tidak menulis kan kita
bukan berarti kita tidak ada,hanya tidak terlalu penting saja untuk dikenang🥹.
tapi...baru beberapa saat ini
ada sebuah jendral besar di China yg tertulis di sejarah sebagai penghianat bangsa .
yg meninggal nya pun tragis karena tubuhnya hancur karena hukuman di tarik kuda.
tapi... ternyata faktanya jendral itu terlalu kuat pengaruh nya karena selalu menang di Medan perang
sampe raja nya pun khawatir akan kekuasaan nya,mknya difitnah sedemikian rupa. hingga sejarah pun menuliskan nya seperti itu🥹🥹.
yg artinya, terkadang sejarah pun belum tentu menuliskan kebenaran.
mereka hanya menulis apa yg orang ingin tulis.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!