NovelToon NovelToon
Aura Clarissa

Aura Clarissa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:682
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.

Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.

Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Perempuan Bermulut Racun

Darrel bangkit perlahan, mengusap lelehan darah di ujung bibirnya dengan lengan kemeja. Ia melangkah maju satu tapak, menyamakan posisi tubuhnya dengan sang kakak.

"Kita lihat saja nanti... siapa perusak nama besar Gorge yang sebenarnya," desis Darrel dingin, lalu melangkah lebar meninggalkan Daffa yang terpaku kaku di koridor.

Darrel bergegas menuju ruang perawatan Kakek Robert. Tepat saat jemarinya hendak menjangkau gagang pintu, gelak tawa pelan nan renyah terdengar dari dalam. Lyora sedang berada di dalam, menjenguk kakeknya.

Klek.

Pintu terdorong terbuka. Lyora serta-merta menoleh ke arah asal suara. Begitu manik matanya menangkap sosok Darrel, senyuman manis nan memikat langsung terulas di bibirnya—jenis senyuman yang sanggup menyihir siapa pun yang memandangnya.

Lyora adalah sosok wanita yang selalu dikagumi Darrel sejak masa sekolah—cantik, cerdas, dan berhati tulus. Darrel tak pernah membuka hatinya untuk wanita lain selain Lyora, hingga perpisahan membentang di antara mereka tatkala Lyora melanjutkan pendidikan tinggi ke luar negeri.

Sejak saat itu, hubungan mereka merenggang. Darrel tak pernah sempat mengutarakan perasaannya, meski Lyora tahu betul bahwa pria itu pernah menaruh hati padanya.

Kini, usai hampir tujuh tahun tak bertatap muka secara langsung, Darrel tetap mengagumi sosok Lyora. Namun entah mengapa... getaran berdesir di dadanya tak lagi sama seperti dulu.

"Lyora..." sapa Darrel lirih.

"Kakek sangat senang kalau kamu kembali dekat dengan Lyora. Umur Kakek tidak ada yang tahu, Darrel... Kakek ingin kalian segera bertunangan," ujar Kakek Robert dengan suara serak namun penuh penekanan.

Lyora mengulas senyum canggung. "Kek, bukankah Darrel sudah punya calon—"

"Cukup, Lyora! Kakek tidak suka kalau kamu menyebut nama wanita itu lagi di depan Kakek!" potong Kakek Robert cepat dan tajam.

Darrel melangkah mendekat, membungkukkan tubuhnya di sisi ranjang Kakek Robert. "Kek, Darrel sudah dewasa. Darrel berhak—"

"DASAR ANAK KURANG AJAR! KALAU DIBILANG TIDAK, YA TIDAK!" bentak Kakek Robert murka. Napas pria tua itu mendadak terengah-engah hebat seraya jemarinya mencengkeram dadanya yang sesak.

Darrel panik setengah mati dan segera memanggil tim medis. Tak berselang lama, dokter serta perawat menerobos masuk dan meminta mereka semua menunggu di luar. Raut cemas membendung wajah Darrel saat pintu ruang rawat tertutup rapat.

"Darrel, Kakek pasti akan baik-baik saja..." bisik Lyora lembut seraya mengusap pelan bahu Darrel.

Namun Darrel membisu, berjalan mondar-mandir menahan kecemasan yang menggulung dadanya. Permintaan kakeknya terasa sangat sulit untuk dituruti.

Lyora menatap punggung Darrel lekat-lekat. Kilau kecemasan di mata wanita itu sejatinya tidak tertuju pada kondisi Kakek Robert, melainkan pada kebingungan yang tengah melingkupi pria di hadapannya.

.

.

.

"Mbak Santi..." panggil Aura lirih.

Kepalanya masih terasa seberat batu. Selang infus yang tertancap di punggung tangannya menjadi bukti bahwa fisiknya sedang tidak baik-baik saja. Aura mencoba memutar kembali ingatan di kepalanya, namun berkali-kali pula ia gagal memungut memori beberapa jam yang lalu.

"Ra... kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Santi cemas seraya menepuk pelan pundak Aura.

Aura tersentak kecil, menatap editornya dengan raut linglung. "Mbak... aku kok bisa ada di sini, ya?"

Santi terkekeh pelan. "Lagi sakit begini masih sempat-sempatnya bercanda kamu, Ra."

"Beneran, Mbak... aku benar-benar tidak ingat apa pun."

Melihat raut polos temannya, Santi merogoh ponsel dari dalam tas lalu memperlihatkan layar obrolannya kepada Aura. "Nih, lihat chat dari calon suamimu."

Deg!

Saat frasa calon suami terucap dari bibir Santi, dada Aura mendadak berdesir hening. Aura menyipitkan mata menatap barisan teks di layar ponsel Santi, pandangannya agak kabur karena ia tidak mengenakan lensa kontak.

"Di... di mana dia sekarang, Mbak?"

Santi mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, mungkin sedang sibuk."

Tanpa ketukan terlebih dahulu, pintu kamar rawat Aura mendadak terdorong kasar. Santi dan Aura terperanjat kaget. Suara ketukan high heels yang tegas berdenting nyaring di atas lantai keramik rumah sakit.

Langkah kaki bermotif elegan itu terhenti kaku di samping tempat tidur medis Aura. Seorang wanita anggun mengenakan kacamata hitam seraya menenteng tas branded berdiri menatap mereka.

Sofie melepas kacamata hitamnya perlahan. "Aura Clarissa... penulis tanpa nama," gumamnya sinis seraya terkekeh merendahkan.

"Asal kamu tahu, Darrel akan menikah dengan Lyora. SECEPATNYA!" tegas Sofie, memperjelas kata terakhirnya dengan intonasi beracun.

Santi mendadak maju pasang badan. "Siapa sih, pagi-pagi datang bikin ribut saja? Orang lagi sakit malah—"

"Heh, orang miskin! Kamu tahu tidak, wanita di atas ranjang ini adalah perebut suami orang? Jalang sialan yang mau menguras harta Darrel Gorge!" potong Sofie tajam seraya menunjuk wajah Aura dengan gagang kacamatanya.

"Ibu Sofie... saya sudah pernah bilang, saya bukan perebut suami orang!" balas Aura, dadanya terasa sesak hebat menahan deraan hinaan itu.

Meski tubuhnya lemas dan bergetar, Aura memaksakan diri merosot turun dari ranjang, memegangi dadanya yang terasa ditindih beban berat. "Saya bukan jalang! Saya bukan wanita murahan!"

Sofie tertawa menyemburkan ejekan. "Dasar wanita gila! Tidak sudi saya berdebat dengan wanita rendahan seperti kamu!"

Sofie melangkah makin mendekati Aura, namun Santi dengan sigap memeluk dan menyembunyikan tubuh Aura di balik punggungnya.

"Jaga baik-baik jalang sialan ini! Jangan pernah berani mendekati keluarga Gorge lagi, atau aku tidak akan segan-segan menyebarkan skandal busukmu ke seluruh media!" ancam Sofie penuh penekanan sebelum berbalik pergi memutar heels-nya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!