NovelToon NovelToon
Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:938
Nilai: 5
Nama Author: Cristaal

Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Pelukan Aletha.

Raungan mesin Ducati hitam milik Langit perlahan merendah saat motor sport mewah itu memasuki kawasan kompleks perumahan Aletha yang sudah sepi senyap. Begitu motor berhenti tepat di depan pagar besi rumah Aletha, Langit segera mematikan mesin.

Keheningan malam langsung menyergap, menyisakan suara deru napas mereka yang samar-samar dan detak jantung yang mendadak berpacu tidak keruan.

Namun, tidak ada yang bergerak selama beberapa detik.

Aletha masih memeluk erat pinggang Langit dari belakang. Wajahnya masih terbenam di punggung tegap cowok itu, seolah enggan melepaskan satu-satunya sumber kehangatan di tengah dinginnya angin malam.

Di depan, Langit membeku di atas jok motornya. Kedua tangannya masih mencengkeram stang motor dengan kuat. Urat-urat di punggung tangannya menegang, bukan karena lelah berkendara, melainkan karena menahan gejolak aneh di dalam dadanya.

Sepanjang perjalanan pulang dari Jalan Baru, jantung Langit berdetak jauh lebih cepat daripada saat ia memacu motornya di kecepatan seratus lima puluh kilometer per jam tadi. Sentuhan tangan Aletha di pinggangnya dan hembusan napas gadis itu yang terasa samar di punggungnya sukses membuat pertahanan dingin seorang Langit runtuh tak bersisa.

"Ehem."

Langit berdehem pelan, memecah keheningan yang mendadak terasa mencekik.

"Sampai kapan lo mau meluk gue, Kurcaci? Motornya udah berhenti dari tadi." Suara bariton Langit yang memantul di dalam helm langsung menyentak kesadaran Aletha.

Gadis itu terlonjak kaget. Ia buru-buru menarik kedua tangannya dari pinggang Langit seolah-olah baru saja menyentuh bara api.

"E-eh? Udah sampai, ya?" gumam Aletha kikuk dari balik helm putihnya. Ia segera turun dari jok belakang yang tinggi dengan gerakan terburu-buru, hampir saja tersandung kakinya sendiri kalau saja ia tidak cepat menyeimbangkan tubuh.

Aletha melepas helm putihnya dengan canggung, membiarkan rambut panjangnya tergerai berantakan diterpa angin malam. Wajahnya yang semula pucat karena panik kini mendadak merona merah di bawah temaram lampu jalan. Ia menunduk, tidak berani menatap langsung ke arah Langit yang kini juga sudah melepas helm hitamnya.

Langit turun dari motor, menyampirkan helmnya di spion, lalu melangkah mendekati Aletha. Jaket kulit hitamnya yang terbuka sedikit memperlihatkan kaos hitam di dalamnya. Ia berhenti tepat di depan Aletha, membuat gadis itu otomatis berada di bawah bayangan tubuh tingginya.

"Mana helmnya?" pinta Langit, mengulurkan tangan kanan.

"Ini," Aletha menyodorkan helm putih itu dengan gerakan kaku.

Saat proses serah terima itu, jari-jari hangat Langit tidak sengaja bersentuhan dengan kulit tangan Aletha. Sentuhan minimalis itu mendadak memberikan sengatan halus yang membuat dada Aletha kembali berdesir aneh. Aletha buru-buru menarik tangannya kembali dan menyembunyikannya di dalam saku jaket hoodie-nya yang kebesaran.

Suasana di antara mereka mendadak berubah menjadi sangat canggung. Ke mana perginya dua orang rival yang biasanya selalu adu mulut bagai Tom and Jerry setiap kali bertemu di koridor sekolah? Malam ini, atmosfer di depan pagar rumah itu terasa begitu berbeda.

Aletha meremas jemarinya di dalam saku jaket. Ia melirik sekilas ke arah sudut bibir Langit yang masih menyisakan bekas luka lebam dari pukulan Tommy tadi pagi.

Mengingat bagaimana cara cowok dingin ini pasang badan melindunginya, menantang maut di atas aspal demi dirinya, dan dengan tegas membungkam kesombongan Tommy di depan semua orang... ada sepercik perasaan baru yang menyelinap di hati Aletha.

Kebencian yang selama tiga tahun ini ia pupuk dengan subur, mendadak goyah. Di balik sikap arogan dan mulut pedasnya yang minta dicolok itu, Aletha harus mengakui meski hanya sedikit di dalam batinnya bahwa Langit, cowok yang dimatanya selalu menyebalkan malam ini terlihat sangat... mengagumkan.

"Soal yang tadi..." Aletha membuka suara lebih dulu, suaranya cicitan pelan, sangat kontras dengan lengkingan burung pipitnya yang biasa.

"...makasih, ya."

Langit yang sedang menaruh helm putih di atas tangki motor tertegun sesaat. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Aletha dengan sepasang mata hazel-nya yang kini tidak lagi sedingin es, melainkan tampak lebih lembut di bawah cahaya lampu merkuri.

"Makasih buat apa?" tanya Langit datar, meski sebenarnya ia tahu arah pembicaraan ini.

"Ya... buat semuanya. Buat luka di bibir lo gara-gara Tommy, buat balapan tadi, dan... karena udah ngebawa gue pulang dengan selamat," tutur Aletha jujur, matanya menatap ujung sepatu bot Langit karena terlalu malu untuk mendongak.

Langit diam beberapa saat, memperhatikan puncak kepala Aletha yang bergerak gelisah. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk senyuman tipis yang kali ini sama sekali tidak mengandung unsur ejekan atau sarkasme. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, memangkas jarak yang tersisa di antara mereka.

"Gue udah bilang kan di belakang gedung olahraga tadi," ucap Langit dengan suara rendah yang terdengar begitu tenang dan hangat di indra pendengaran Aletha.

Ia mengulurkan tangannya, lalu dengan gerakan lembut yang tak terduga, jemari panjangnya menyelipkan beberapa helai rambut Aletha yang berantakan ke belakang daun telinganya.

Aletha menahan napas. Jantungnya berdentum hebat bagai genderang perang. Sentuhan jari Langit yang hangat di kulit pipinya membuat wajahnya semakin terasa terbakar.

"Gue nggak akan pernah membiarkan apa yang udah jadi milik gue diinjak-injak orang lain," lanjut Langit, tatapan mata hazel-nya mengunci manik mata Aletha yang kini mendongak menatapnya penuh kepasrahan.

"Termasuk lo, Kurcaci. Meskipun status kita cuma kerja sama pura-pura, di mata hukum keluarga dan di mata gue... lo tetap tunangan gue."

Aletha menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa sangat kering. "T-tapi lo... lo kok bisa se jago itu bawa motor balap? Lo kan... anak olimpiade."

Langit terkekeh pendek, sebuah suara tawa renyah yang baru pertama kali Aletha dengar selama tiga tahun ini.

"Lo pikir dunia gue cuma sebatas buku pelajaran sama studio foto? Ada banyak hal tentang gue yang belum lo tahu, Aletha. Dan lo punya sisa waktu seumur hidup lo buat cari tahu."

Kalimat ambigu itu sukses membuat pertahanan ego Aletha runtuh total. Ia memalingkan wajahnya cepat ke arah pagar rumah, berusaha menyembunyikan senyuman kecil yang mendadak ingin terbit di bibirnya.

"Udah ah, ngomong sama lo malah bikin pusing! Gue mau masuk, udah ngantuk!" seru Aletha dengan nada galak yang dibuat-buat demi menutupi salah tingkahnya yang sudah stadium empat.

"Masuk sana. Jangan lupa kunci pintu kamar lo," sahut Langit, kembali ke mode datarnya, namun matanya tetap mengawal pergerakan Aletha.

Aletha membuka pintu pagar kecil dengan terburu-buru. Namun sebelum ia melangkah masuk ke halaman rumah, ia menghentikan langkahnya sejenak. Gadis itu menoleh ke belakang, menatap Langit yang masih berdiri tegap di samping motor Ducati hitamnya.

"Langit," panggil Aletha pelan.

"Apa?"

"Luka di bibir lo... nanti jangan lupa diobatin. Kelihatan jelek tahu," ucap Aletha cepat, lalu tanpa menunggu jawaban dari Langit, ia langsung berlari masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan dengan bunyi klik yang cukup keras.

Langit berdiri sendirian di luar pagar, menatap pintu rumah yang sudah tertutup rapat. Tangannya perlahan bergerak menyentuh sudut bibirnya yang terluka, lalu beralih menyentuh dadanya sendiri. Di sana, di balik jaket kulit hitamnya, jantungnya masih berdetak dengan ritme yang teramat cepat.

Langit tersenyum tipis, kali ini sebuah senyuman tulus yang sangat tampan.

"Gila. Cewek itu bener-bener bisa bikin gue kehilangan kendali," gumamnya pelan pada keheningan malam.

Langit memakai kembali helm hitamnya, naik ke atas jok Ducati, lalu menyalakan mesin. Motor mewah itu melesat pergi meninggalkan kompleks perumahan, membelah malam dengan sisa-sisa kehangatan pelukan Aletha yang masih tertinggal di pinggangnya.

Hubungan musuh bebuyutan itu malam ini resmi berubah arah, menuju sebuah labirin baru yang jauh lebih mendebarkan.

1
Fiya
🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!