Lin Muchen, seorang pengawal tangguh yang tak pernah kalah, dipaksa menerima tugas melindungi Gu Shiyu — seorang CEO muda yang cantik namun tegas. Di tengah tugas itu, ia terkejut menyadari bahwa wanita yang dijaganya adalah cinta pertamanya di masa kecil. Saat rahasia kelam keluarganya perlahan terbongkar dan dendam lama yang terpendam terungkap, Lin Muchen yang dulu tak terkalahkan kini jatuh hancur. Dari keterpurukan itu, ia bangkit bukan lagi untuk melindungi, melainkan untuk menuntut keadilan dan membalas dendam yang lama dinanti
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Di Balik Tabir Kepercayaan yang Patah
Mobil melaju membelah jalanan yang makin sepi, menjauh dari pusat kota menuju kawasan perbukitan yang tertutup kabut tipis. Lin Muchen menyetir dengan tenang, namun matanya tak lepas dari kaca spion, memastikan tidak ada kendaraan yang mengikuti dari belakang. Tangan kanannya sesekali meremas setir erat — tanda pertarungan batin yang belum usai. Di sebelahnya, Gu Shiyu duduk memeluk lutut, menatap lurus ke arah kegelapan di luar jendela, genggaman tangannya di lengan baju Lin Muchen tak pernah kendur sedetik pun.
“Kita ke mana?” suaranya terdengar kecil, hampir hilang ditelan deru mesin.
“Ke tempat yang dulu pernah kuberi tahu hanya pada satu orang,” jawab Lin Muchen pelan, menoleh sekilas. “Gubuk tua di pinggir hutan kecil, di kaki bukit sebelah utara. Ayahku dulu membangunnya sebagai tempat istirahat. Hampir tidak ada orang yang tahu jalan ke sana.”
Gu Shiyu mengangguk pelan. Ia ingat cerita itu — tentang sebuah tempat tersembunyi tempat mereka bisa bermain tanpa gangguan, tempat di mana dua anak kecil berjanji akan membangun dunia mereka sendiri. Tak pernah ia sanggai janji itu akan dibawa ke sini, di saat segalanya terasa runtuh.
Perjalanan memakan waktu hampir dua jam. Saat mobil akhirnya berhenti di depan bangunan kayu sederhana yang masih berdiri kokoh meski mulai dimakan usia, langit sudah menjelang dini hari. Kabut makin tebal, menyelimuti pepohonan di sekeliling, menciptakan suasana sunyi yang nyaris menyentuh tulang.
Mereka turun bersama. Lin Muchen membukakan pintu kayu yang berderit pelan, menyalakan lampu minyak yang tersimpan di rak dinding. Cahaya kuning lembut menyebar perlahan, memperlihatkan ruangan yang sederhana — satu meja kayu panjang, dua kursi, rak buku yang sudah berdebu, dan dua tempat tidur yang terpisah di sudut ruangan. Aroma kayu tua dan kenangan masa lalu menyambut mereka, membuat napas terasa tertahan di tenggorokan.
“Di sini aman untuk sementara waktu,” ucap Lin Muchen menutup pintu dan menguncinya rapat. “Tidak ada yang akan menemukan kita dengan mudah.”
Gu Shiyu melangkah masuk perlahan, menyentuh permukaan meja yang penuh goresan halus. Matanya membelalak saat melihat salah satu sudut meja — ada gambar dua orang anak yang berpegangan tangan, diukir kasar namun jelas. Di bawahnya tertulis dua nama: Muchen & Shiyu. Jemarinya mengusap tulisan itu pelan, lalu air mata jatuh tanpa terasa.
“Kau… kau melakukannya?” suaranya bergetar.
Lin Muchen mengangguk, menunduk sedikit. “Hari sebelum keluargamu pindah. Aku datang ke sini sendirian, mengukirnya dengan pisau kecil. Kupikir jika kita tidak bisa bersama lagi, setidaknya nama kita akan tetap berdampingan di sini.” Ia mendekat, berdiri di sampingnya, menatap ukiran yang sama. “Aku tidak pernah menyangka akan berdiri di sini bersamamu sungguhan.”
Gu Shiyu menoleh, menatapnya lekat-lekat. Di bawah cahaya lampu yang redup, wajah pria itu terlihat lelah namun teguh — sama seperti anak laki-laki yang dulu melindunginya dari kegelapan. “Mengapa semua ini terjadi, Muchen? Mengapa keluarga kita harus terpisah? Siapa yang memulai semua ini?”
Lin Muchen menarik napas panjang, duduk di tepi meja, menyentuh foto tua yang tersimpan di saku bagian dalam — foto yang menjadi awal dari segala pertanyaan ini. Ia menyerahkannya pada Gu Shiyu.
“Lihatlah ini,” ucapnya pelan.
Gu Shiyu menerima foto itu dengan kedua tangan. Matanya melebar saat melihat gambar dua keluarga berdiri bersama — ayahnya yang tersenyum lebar, di sampingnya berdiri ayah Lin Muchen, dan di belakang mereka, tersenyum sopan namun dingin, berdiri sosok yang dikenalnya sejak kecil. “Pak Zhang Hua…” bisiknya.
“Perhatikan sudut bawahnya,” tunjuk Lin Muchen.
Gu Shiyu memiringkan foto ke arah cahaya, menyipitkan mata. Goresan tinta yang samar itu terbaca perlahan, membuat darahnya terasa membeku: “Janji dibayar dengan pengkhianatan. Utang dilunasi dengan nyawa.”
“Siapa yang menulis ini?” tanyanya dengan suara gemetar.
“Aku tidak tahu,” jawab Lin Muchen. “Tapi ayahku pernah berkata sebelum meninggal — ada orang yang kita percaya, yang justru menusuk dari belakang. Saat itu aku belum mengerti siapa. Namun pertemuan dengan Zhang Hua kemarin… kata-katanya… caranya menatapku… ia seolah sudah menantikan saat aku mengetahui semuanya.” Ia berhenti sejenak, menelan ludah. “Shiyu, aku takut. Aku takut ayahmu terlibat. Aku takut kebenaran itu akan menyakitimu lebih dari apa pun.”
Gu Shiyu terdiam, jemarinya meremas pinggiran foto itu. Bayangan ayahnya yang lembut, yang selalu memeluknya pulang sekolah, yang membacakan dongeng sebelum tidur, bertabrakan dengan tulisan mengerikan di kertas usang itu. “Ayahku… tidak mungkin…” ucapnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Dia baik. Dia selalu menolong orang lain.”
“Aku tahu,” Lin Muchen mendekat, meletakkan tangan di bahunya. “Aku juga berharap tidak demikian. Tapi kita harus tahu yang sebenarnya. Jika bukan ayahmu, maka siapa? Mengapa ayahku jatuh sakit tak lama setelah mereka berpisah? Mengapa keluargamu pergi tanpa pamit? Mengapa Zhang Hua sekarang berusaha menutup semua jejak?”
Gu Shiyu menunduk, air mata menetes ke permukaan foto. “Aku ingat sesuatu…” suaranya nyaris tak terdengar. “Sebelum ayahku meninggal, dia sering menatap foto ini sendirian di ruang kerjanya. Suatu malam aku mendengarnya berbicara sendiri… berkata maaf, berulang-ulang. Maaf pada seseorang yang namanya tidak ia sebutkan. Lalu dia berkata: ‘Aku tidak punya pilihan lain, Muchen’.”
Lin Muchen tertegun. Namanya disebut ayahnya? Bertahun-tahun lalu? “Apa maksudnya?”
“Aku tidak tahu,” Gu Shiyu mengangkat wajah, matanya basah namun teguh. “Tapi ada satu tempat yang mungkin menyimpan jawabannya. Ruang kerja pribadi ayahku. Dia selalu menguncinya, bahkan saat sakit. Dia berpesan, jika sesuatu terjadi padanya, aku tidak boleh membukanya sampai aku siap mengetahui kebenaran yang menyakitkan.” Ia menarik napas dalam-dalam. “Sekarang aku siap.”
“Tapi itu berarti kembali ke rumahmu,” Lin Muchen mengernyit. “Mereka mungkin sudah mengawasinya.”
“Kalau tidak sekarang, kapan?” tatapannya tak berkedip. “Mereka sudah mengambil uang perusahaan, mengusir kita, mencoba menutup akses ke bukti. Jika kita menunggu, semua jejak akan hilang.”
Lin Muchen menatapnya lama. Ia tahu wanita itu benar. Namun risikonya nyata — sekali mereka kembali, tidak ada jalan mundur. Ia meraih kedua tangan Gu Shiyu, menggenggamnya erat.
“Baik. Kita pergi. Tapi kau harus berjanji padaku — apa pun yang kita temukan di sana, apa pun kebenarannya, jangan sendirian menanggungnya. Kita hadapi bersama.”
Gu Shiyu mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. “Bersama.”
Rencana disusun dengan cepat. Mereka akan kembali saat dini hari menjelang fajar — saat kewaspadaan biasanya menurun. Lin Muchen memeriksa segala sesuatu, memastikan tidak ada jejak yang tertinggal di gubuk itu, sementara Gu Shiyu duduk diam menatap foto di tangannya, seolah mencoba membaca kembali setiap senyum, setiap tatapan di dalamnya.
Saat fajar mulai menyingsing, mereka melangkah keluar. Kabut masih tebal, menyembunyikan mobil mereka di balik bayangan pohon. Perjalanan pulang terasa lebih berat — setiap jengkal jalan mengingatkan pada bahaya yang menanti. Lin Muchen menyetir dengan sangat hati-hati, menghindari jalan utama, mengambil jalur tikus yang lebih panjang namun lebih aman.
Sesampainya di kediaman Gu Shiyu, suasana tampak sunyi namun tidak sepi. Ada mobil parkir di ujung jalan — kendaraan yang tidak dikenali. Lin Muchen segera mematikan lampu, memarkir mobil di balik rimbunan pohon besar.
“Mereka ada di dalam,” bisiknya.
Gu Shiyu menatap pintu rumahnya sendiri dengan perasaan asing. “Kunci cadangan ada di jendela samping ruang makan. Tidak ada alarm di bagian belakang.”
Mereka bergerak senyap. Angin pagi berhembus pelan, menyembunyikan suara langkah kaki mereka. Melalui celah jendela, Gu Shiyu melihat bayangan orang bergerak di ruang tengah — berbicara dengan suara tinggi, menyusun tumpukan dokumen ke dalam kotak.
“Mereka mengambil semuanya,” desisnya pelan, matanya memanas.
“Kita harus cepat,” Lin Muchen meraih tangannya. “Ruang kerja pribadi ayahmu — di mana?”
“Lantai dua, ujung lorong sebelah kiri.”
Mereka menyelinap masuk lewat jendela yang terbuka. Suara langkah kaki di lantai bawah terdengar jelas, memaksa mereka berhenti sesekali, menahan napas hingga keheningan kembali menyapa. Saat akhirnya mereka sampai di depan pintu ruang kerja itu, tangan Gu Shiyu gemetar memegang kunci. Kunci itu sudah ada di tasnya selama setahun, menunggu hari ini.
Pintu terbuka perlahan. Ruangan itu masih sama persis — rak buku yang penuh, meja kayu besar, kursi kulit yang sudah mulai retak, dan lemari besi yang berdiri diam di sudut ruangan. Aroma tembakau kesukaan ayahnya masih tersisa di udara, membuat dadanya sesak.
“Kombinasi kuncinya…” Gu Shiyu mendekat ke lemari besi, jari-jarinya menyentuh tombol angka pelan-pelan. “Tanggal ulang tahun pertamaku… dan hari pertamaku bertemu dengannya.”
Terdengar bunyi klik lembut. Pintu lemari terbuka. Di dalamnya tersimpan beberapa dokumen tebal, sebuah buku harian bersampul kulit cokelat tua, dan sebuah amplop cokelat yang tersegel rapi, tertuju nama: Kepada Gu Shiyu — jika kau sudah siap.
Gu Shiyu mengambil amplop itu dengan tangan gemetar. Saat ia hendak membukanya, suara pintu ruangan terbuka di belakang mereka.
“Sudah lama menunggu kalian membukanya,” suara itu berat, tenang, dan penuh kemenangan.
Zhang Hua berdiri di ambang pintu, tersenyum tipis, diikuti dua orang pria berbadan besar yang menghalangi jalan keluar.
“Akhirnya,” ucapnya pelan, melangkah masuk perlahan. “Kebenaran memang selalu menemukan jalannya. Hanya saja, datang terlambat.”
Lin Muchen melangkah ke depan Gu Shiyu, berdiri tegak menghadang. Tangan kanannya meraba pinggang, mencari sesuatu yang bisa dijadikan senjata. “Kau tidak akan pergi dari sini.”
Zhang Hua tertawa pelan. “Anak muda yang sombong. Ayahmu juga pernah berkata hal yang sama. Lihatlah apa yang terjadi padanya.” Ia menatap Gu Shiyu yang masih memegang amplop itu erat. “Bukalah. Bacalah. Biarkan kau tahu siapa yang sebenarnya menghancurkan kehidupan keluargamu — dan siapa yang sebenarnya menyelamatkanmu.”
Gu Shiyu menatap amplop di tangannya, lalu menatap Zhang Hua, lalu ke arah Lin Muchen yang berdiri di sampingnya. Napasnya memburu. Ia menyobek segel amplop itu perlahan, mengeluarkan kertas yang sudah menguning.
Dan saat mata membaca baris pertama, seluruh dunia yang ia kenal perlahan runtuh