NovelToon NovelToon
Bulan Merah Dari Timur

Bulan Merah Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Biruwarna

Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.

Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.

Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7 : Penunggu Hutan Agung

Rencana merangkak lewat lubang anjing di tengah malam batal total. Setelah dipikir-pikir ulang secara logis oleh Shen Yuan, risiko tertangkap patroli malam Tetua Pertama jauh lebih besar daripada risiko kelaparan di asrama. Sebagai gantinya, mereka memilih jalan pintas yang jauh lebih licik, namun sepuluh kali lipat lebih tidak nyaman.

Pagi itu, sebelum matahari terbit sempurna, ketiganya sudah meringkuk layaknya ikan asin di dalam tumpukan karung gandum di bagian belakang kereta kuda Sekte Cang Yue. Kereta ini biasanya membawa pelayan sekte turun gunung untuk membeli persediaan dapur.

Di bawah terpal kanvas yang bau apak, suasana sangat pengap. Shen Rui berdesakan di antara karung beras dan lutut Shen Yuan, sementara Lin Yue terselip di sisi kanan Rui, asyik memakan kuaci yang entah dari mana ia dapatkan.

"Sst! Kau bisa berhenti mengunyah tidak?" bisik Yuan garang, matanya melotot ke arah Lin Yue di dalam kegelapan terpal. "Suara gigitanmu itu lebih keras dari derap tapak kuda! Kalau Paman Lao si kusir dengar, kita akan tamat!"

"Ini kuaci rasa madu plum, Kak Yuan. Sayang kalau didiamkan sampai melempem," bisik Lin Yue tanpa dosa, kembali memecah kulit kuaci dengan gigi depannya. Krek.

Yuan memijat pelipisnya. Tekanan darahnya sudah naik sejak ayam jantan berkokok. Namun, penderitaannya belum seberapa dibandingkan Shen Rui yang tiba-tiba menegang. Wajah pemuda berelemen es itu pucat pasi, matanya melotot lebar seakan baru saja melihat iblis pencabut nyawa.

"Yuan..." bisik Rui dengan suara bergetar yang terdengar sangat menyedihkan. "Yuan, tolong aku..."

"Apa lagi sekarang, Rui? Kau mau buang air? Tahan sampai kita tiba di alun-alun kota!"

"Bukan!" Rui menggeliat pelan, wajahnya berkerut menahan siksaan luar biasa. "Ada... ada semut. Semut hutan merah berukuran raksasa. Binatang jahanam itu baru saja masuk ke balik celanaku dan menggigit paha kiriku! Gatal! Panas! Yuan, aku harus menggaruknya! Aku tidak tahan!"

Rui baru saja hendak memasukkan tangannya ke balik jubah, tapi Yuan langsung mencengkeram pergelangan tangan adiknya itu sekuat tenaga.

"Tahan, bodoh!" desis Yuan setengah mati. "Kalau kau bergerak sembarangan, karung-karung ini akan bergeser! Jangan sampai terpalnya terbuka! Kalau kau berani menggaruknya, aku sendiri yang akan membekukan tanganmu!"

"Kau jahat sekali pada adik sedarahmu! Ini gatalnya seperti digigit naga kecil! Bagaimana kalau semut ini bertelur di dalam sana?!" protes Rui sambil menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Wajahnya merah padam menahan sensasi gatal dan perih yang menjalar. Ia mencoba menggosok-gosokkan pahanya ke karung beras, membuat kereta sedikit bergoyang.

Di tengah pergulatan konyol antara dua bersaudara yang saling menahan tangan itu, roda kereta kuda tiba-tiba menghantam batu besar di jalanan berlubang.

GUBRAK!

Kereta terguncang hebat ke atas. Lin Yue yang sedang asyik memegang segenggam kuaci terlempar dari posisinya. Gadis itu terjerembab ke depan, dan karena ruang yang sangat sempit, tubuhnya jatuh tepat menimpa Shen Rui.

Rui yang sedang menahan gatal terkesiap. Napasnya tercekat ketika wajah Lin Yue mendarat hanya beberapa inci dari wajahnya. Hidung mereka nyaris bersentuhan. Di bawah cahaya remang-remang yang menembus celah terpal, Rui bisa melihat dengan jelas sepasang mata bulat gadis itu yang mengerjap polos, serta aroma samar bunga teratai dan manisnya kuaci madu plum dari napasnya.

Waktu seakan berhenti berdetak di dalam tumpukan karung gandum itu. Jantung Rui mendadak berdebar tidak karuan, melupakan sepenuhnya rasa gatal semut merah pembawa petaka di pahanya. Lin Yue membalas tatapan itu, matanya yang biasa ceria kini tampak sedikit terkejut, namun ia tidak segera menyingkir. Ada keheningan aneh yang mendadak menyelimuti keduanya.

Rui menelan ludah. 'Cantik juga anak ini kalau sedang diam,' batinnya tanpa sadar.

Namun, momen romantis layaknya lukisan sepasang kekasih dari novel murahan ibu kota itu harus hancur berkeping-keping hanya dalam waktu tiga detik.

"Ehem."

Suara dehaman Shen Yuan terdengar sangat keras, berat, dan sarat akan ancaman pembunuhan. "Bisa kalian tidak melakukan adegan drama romantis di atas tumpukan sayur kol dan karung beras? Pindah sekarang, sebelum aku melempar kalian berdua keluar dari kereta ini."

Lin Yue langsung tersadar. Ia tertawa pelan tanpa merasa bersalah dan buru-buru merangkak mundur ke tempat asalnya. Rui memalingkan wajahnya yang mendadak terasa sedikit panas, pura-pura membersihkan debu di dadanya dengan canggung.

Tepat pada saat itu, kereta kuda berhenti mendadak. Terdengar suara kuda yang meringkik kaget, ditarik paksa.

"Apakah kita sudah sampai di pasar festival?" bisik Lin Yue dengan mata berbinar.

Yuan menempelkan telinganya ke dinding kereta. "Belum. Ini masih terlalu pagi untuk sampai ke pusat kota." Ia lalu perlahan menggeser sedikit lubang di kanvas terpal, mengintip ke luar. Matanya langsung menyipit tajam. "Oh, kita6 celaka."

Rui ikut mengintip dari celah di bawah siku kakaknya. Di depan kereta mereka, jalan tanah yang dikelilingi hutan bambu lebat telah diblokir oleh sebatang pohon tumbang. Di sana berdiri empat orang pria bertubuh besar, berwajah kasar, dan memegang golok tebal yang berkilat di bawah sinar matahari pagi. Preman gunung perbatasan.

"Turun! Serahkan semua uang, barang berharga, dan kuda ini!" bentak pria berkepala plontos dengan bekas luka melintang di matanya. Ia menodongkan goloknya ke arah Paman Lao yang gemetar ketakutan di kursi kusir.

Di sebelah Paman Lao, duduk seorang gadis pelayan muda berpakaian hijau yang menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat sebuah tas kain berisi uang belanja sekte.

Rui membelalak. "Hei, itu kan Xiao Cui! Pelayan dapur asrama utara!"

"Benar," geram Yuan pelan. "Pelayan malang yang pakaian gantinya pernah kau curi saat dia sedang mandi di sungai belakang asrama bulan lalu."

"Aku tidak mencurinya! Aku hanya menggunakan energi esku untuk menerbangkannya ke atas dahan pohon tertinggi untuk menguji seberapa bagus refleks lompatannya! Itu pelatihan fisik, Yuan!" bela Rui tidak mau disalahkan.

Di luar, pemimpin preman itu menarik paksa tas dari pelukan Xiao Cui hingga pelayan itu terjatuh ke tanah. "Hanya segini?! Mana lagi?! Kalian dari Sekte Cang Yue pasti punya pil spiritual atau batu roh! Cepat serahkan sebelum kupotong telinga kalian!"

Yuan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Angin spiritual mulai berkumpul tipis di buku-buku jarinya. Insting keadilannya sebagai seorang kultivator memberontak. "Kita tidak bisa diam saja, Rui. Preman rendahan itu sudah berani mengancam nyawa orang sekte kita."

"Tunggu, Yuan!" tahan Rui, menarik sabuk kakaknya ke bawah. "Pikir pakai otakmu yang brilian itu. Kalau kau keluar sekarang, Paman Lao dan Xiao Cui akan melihat kita! Begitu sampai di sekte, Xiao Cui pasti akan menangis melapor pada Tetua Pertama bahwa kita kabur dari asrama di tengah hukuman! Kau mau kita dikubur hidup-hidup jadi pupuk kebun obat?!"

Yuan menggertakkan giginya frustrasi. Kata-kata adiknya yang malas itu benar-benar masuk akal. Jika mereka bertindak, identitas pelarian mereka terbongkar lebih cepat.

Tanpa mereka berdua sadari, Lin Yue yang meringkuk di belakang mereka justru sedang tersenyum lebar. Matanya menyipit penuh intrik. Gadis yang selama ini dianggap hanya memikirkan makanan itu perlahan mengeluarkan tangan kanannya dari balik lengan jubah. Dengan tenang dan nyaris tanpa fluktuasi Qi yang bisa dirasakan, dua jari Lin Yue bergerak lincah menari di udara, membentuk segel tak kasat mata.

ZRAAT!

Tiba-tiba, tanpa ada angin kencang, sebuah batu kerikil seukuran kepalan tangan melesat liar dari tanah dan melayang dengan kecepatan tinggi.

PLETTAK!

"ADUH!" Pemimpin preman plontos itu menjerit keras. Goloknya terlepas. Ia memegangi belakang kepalanya yang mendadak benjol besar, berdarah akibat hantaman batu yang sangat besar.

"Siapa itu?! Siapa yang melempar batu?!" teriak si preman panik, mengayunkan goloknya ke udara kosong di sekeliling hutan bambu.

Rui dan Yuan di dalam kereta saling berpandangan dengan wajah kebingungan. Mereka sama sekali tidak merasakan energi spiritual siapa pun.

Lin Yue menahan tawanya dengan menggigit bibir bawah. Dua jarinya kembali bergerak, kali ini membentuk pola seperti gunting yang saling mengapit. Ia mengarahkan jarinya ke arah dahan pohon besar yang menjulur tepat di atas kepala para preman itu. Di sana, menggantung sebuah sarang lebah hutan beracun berukuran raksasa.

KRAK.

Seakan ada gunting sihir tak kasat mata yang memotong dahan tersebut, sarang lebah itu putus seketika dan jatuh tegak lurus menembus dedaunan.

PLAAAK!

Sarang itu mendarat tepat menimpa wajah si pemimpin preman, pecah berantakan dan menumpahkan madu lengket beserta ribuan lebah hitam yang mengamuk hebat.

"NGUUNGGG!!!"

Suara dengungan mengerikan memenuhi jalanan.

"LEBAHHH! AAAARGHHHH! MATAKU! MATAKU DISENGAT!"

Keempat preman bertubuh kekar itu membuang senjata mereka dan lari terbirit-birit menembus semak berduri sambil memukul-mukul kepala mereka sendiri yang dikerubungi awan lebah hitam. Mereka menjerit histeris hingga suaranya hilang di kejauhan hutan.

Xiao Cui dan Paman Lao, yang anehnya tidak diserang seekor lebah pun, buru-buru mengambil kembali tas uang mereka yang terjatuh. Paman Lao langsung memecut kuda, menjalankan kereta secepat kilat menjauhi lokasi terkutuk itu.

Di dalam gerobak, Yuan dan Rui masih terpaku melihat kejadian aneh barusan melalui celah terpal.

"Yuan..." bisik Rui merinding. "Apa kau melihat itu? Batu melayang... dahan patah sendiri... Siapa yang melakukannya?"

Yuan mengangguk kaku, wajahnya tak kalah takjub. "Hutan pinggiran ini... ternyata dijaga oleh penunggu roh alam yang sangat kuat. Tidak ada jejak Qi sedikit pun. Sungguh makhluk spiritual purba yang luar biasa."

Lin Yue, yang sudah memasukkan kembali tangannya ke dalam jubah, bertepuk tangan pelan dengan wajah kelewat polos. "Wah! Roh hutannya baik sekali! Dia pasti tahu Xiao Cui mau membelikan kita banyak sayuran. Kita harus berterima kasih padanya nanti!"

Rui mengangguk mantap, menangkupkan kedua tangannya ke arah hutan yang perlahan menjauh. "Benar. Lain kali aku lewat sini, aku akan meninggalkan lima bakpao daging terbaik sebagai sesajen untuk Tuan Penunggu Hutan yang agung."

Yuan hanya bisa menghela napas lega, sama sekali tidak menyadari bahwa 'Tuan Penunggu Hutan Agung' yang sangat menakutkan itu sedang duduk tepat di sebelahnya, tersenyum lebar sambil memecah kulit kuaci madu plum lagi.

***

Likeeeeee aku butuh Likeeeeee

1
Tai
kapan selesai nya pakai sikat gigi😭
Tai
cukup aku tertawa 😭
Tai
yuan tega🤣
Tai
Rui😭😭😭
Tai
bisa bisanya 😭dasar anak nakal
Tai
ngakak membayangkan nya😭
Tai
😭😭😭
Tai
aku membayangkan perannya anak sd😭
Tai
iya es buah emang enak Rui 😭
Tai
ada es buah juga 😭
Biru
🤭
Tai
gara gara lucu,😭
Tai
pink
Tai
suka pertama 😭
Tai
panik sendiri jadinya🤣
Tai
ngakak bagian ini😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!