Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Kak, belakangan ini aku sedang sibuk-sibuknya kuliah. Mungkin setelah ini aku tidak bisa menjenguk Kakak setiap hari lagi," ucap Olivia, raut wajah cemprengnya mendadak berubah agak lesu saat menatapku.
Aku tersenyum lembut, lalu mengelus punggung tangannya yang hangat. "Tidak apa-apa, Olivia. Kamu fokus saja pada kuliahmu. Belajarlah yang rajin agar nilaimu bagus, jadi kamu bisa membanggakan keluarga dan dirimu sendiri."
"Terima kasih banyak, ya, Kak Bella!" Wajah Olivia seketika kembali cerah. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah brankarku dengan binar mata penuh semangat. "Oh iya, Kak! Sini, aku kasih tahu sesuatu. Hari ini di kampus ada pentas seni besar, dan aku terpilih jadi penari utamanya, loh!"
Aku mendengarkan penuturannya dengan saksama, ikut merasakan kebahagiaan yang meluap-luap dari adik kecilku.
"Semua orang di kampus memuji tarianku!" lanjut Olivia berapi-api, suaranya naik satu oktav karena terlalu antusias. "Katanya tarianku sangat bagus. Bahkan, teman-teman semua mengatakan kalau aku terlihat cantik seperti Cinderella malam ini!"
Untuk memperagakan kekerenannya, Olivia bangkit dari kursi besi. Ia memutar-mutar tubuhnya dengan anggun di tengah ruang rawat yang sempit, seolah-olah ia sedang mengenakan gaun dansa yang megah di bawah lampu pesta, bukan di dalam ruangan rumah sakit yang putih dan sunyi.
Melihat tingkahnya yang begitu menggemaskan, dadaku terasa begitu penuh oleh rasa bangga. "Bagus ... tarianmu sangat bagus, Olivia," pujiku tulus sembari bertepuk tangan kecil dari atas tempat tidur.
"Oh iya, Kak! Tadi teman sekelas ku memberikan pena yang sangat bagus. Kakak mau tidak? Bisa dipakai untuk menulis sesuatu," tawar Olivia penuh semangat sembari merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah pena elegan berlarik perak.
Aku tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Tidak usah, Olivia. Untuk kamu saja, pakai pena itu untuk kuliahmu."
Olivia mengerucutkan bibirnya, menatap pena di tangannya dengan kening berkerut. "Kenapa Kakak tidak mau? Apa pena ini kurang bagus?"
Aku mengembuskan napas pendek. Rasa sesak yang teramat asing kembali menghimpit dadaku saat memori belasan tahun lalu mendadak melintas. "Bukan begitu, Olivia ... Kakak sejak umur sepuluh tahun sudah tidak sekolah lagi. Dan ... Kakak sudah sangat lama tidak pernah menulis apa pun."
Mendengar pengakuanku, gerakan tangan Olivia seketika membeku. Sepasang matanya melebar, memancarkan rasa iba dan keterkejutan yang teramat sangat. Ia baru tersadar bahwa di saat dirinya menikmati fasilitas sekolah elit dan kehidupan kampus yang mewah, aku justru mendekam di kegelapan gudang lantai tiga, kehilangan hak dasar untuk belajar dan menulis sejak usia belia.
Namun, Olivia segera menguasai diri. Ia menggenggam erat telapak tangan kiriku, menatapku dengan binar mata yang penuh tekad. "Tidak apa-apa! Nanti Olivia yang akan ajari Kakak. Nanti kalau Kakak mau membaca, aku akan meminjamkan semua buku kuliahku untuk Kakak!"
Aku menatap wajah tulus adik kecilku dengan mata yang mendadak berkaca-kaca. Kasih sayangnya yang begitu murni terasa bagai oase di gurun yang gersang. Namun, aku tahu fisikku sudah di ambang batas, dan sisa waktuku di dunia ini tidak akan cukup untuk mempelajari semua buku itu.
"Tidak usah, Olivia ...," jawabku dengan nada suara yang teramat lirih, menyembunyikan rasa perih di dalam dadaku.
Mendengar penolakan lirihku, senyuman di wajah Olivia perlahan memudar. Ia menatapku lekat-lekat, lalu sedetik kemudian, pandangannya beralih menatap pena perak di genggamannya. Kesadaran akan betapa kejamnya nasib yang kupikul selama belasan tahun ini tampak menghantam batin adik kecilku dengan telak.
Prang.
Olivia menjatuhkan pena itu begitu saja ke atas meja nakas. Air matanya yang sejak tadi ditahan kini tumpah, mengalir deras membasahi pipinya yang kemerahan. Tanpa aba-aba, ia langsung mencondongkan tubuhnya ke depan dan memelukku dengan teramat erat.
"Maafkan Olivia, Kak ... Maafkan Olivia ...," isak Olivia tergugu, menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku. Kedua tangan kecilnya meremas sweter tipis yang kukenakan, seolah ia ingin menyerap seluruh rasa sakit yang kutanggung sendirian selama ini.
Aku tertegun di atas tempat tidur, membiarkan tubuh ringkihku didekap oleh kehangatan murni adik bungsu kami. Air mata yang sejak tadi sekuat tenaga kubendung akhirnya ikut luruh, membasahi pundak seragam kuliahnya.
"Kenapa dunia ini tidak adil sekali pada Kak Bella? Kenapa hanya aku yang boleh sekolah tinggi dan hidup mewah, sementara Kakak dikurung di atas sana tanpa tahu cara menulis?!" ratap Olivia di sela-sela tangisnya yang kian histeris. Rasa bersalah yang amat sangat terdengar jelas dari setiap suku kata yang diucapkannya. "Seharusnya... seharusnya dari dulu Olivia melawan Kak Ethan dan Kak Charles untuk membebaskan Kakak!"
"Sudah, Olivia ... jangan menangis lagi," bisikku lembut sembari mengulurkan tangan kanan-ku untuk mengusap punggungnya yang berguncang hebat. "Ini bukan salahmu. Sama sekali bukan salahmu, Dek."
Di dalam ruang rawat yang sunyi dan serba putih ini, tangisan penyesalan Olivia terasa begitu menyayat batin, tetapi sekaligus menjadi penawar paling mujarab bagi jiwaku yang sempat mati. Selama bertahun-tahun dianggap sebagai iblis pembawa petaka oleh jajaran kakak laki-lakiku, pelukan tulus dari adik kecilku malam ini menjadi bukti paling nyata bahwa aku masih berharga. Aku memejamkan mata erat-erat, mendekap balik tubuh Olivia dengan sisa kekuatan yang kupunya, membiarkan air mata kami menyatu dalam sebuah pengampunan bisu yang teramat dalam.
Setelah tangisnya berangsur mereda, Olivia perlahan melepaskan pelukannya. Ia menghapus sisa-sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu buru-buru mengalihkan pembicaraan agar suasana haru di antara kami tidak semakin berlarut-larut. Ia tidak ingin membuatku kembali bersedih.
"Ah, Kak Bella ... Kakak pasti lapar, kan? Sini, biar Olivia kupaskan buah-buahan yang lain lagi," ucap Olivia, mencoba mengembalikan nada suaranya yang ceria meski sisa serak akibat menangis masih terdengar jelas.
Ia memutar tubuhnya menghadap meja nakas, mengambil beberapa buah jeruk dan apel dari dalam keranjang parcel yang dibawa Kak Ethan kemarin.
"Olivia permisi mencuci buahnya dulu ke kamar mandi ya, Kak. Biar bersih dan segar saat Kakak makan nanti," pamit Olivia penuh perhatian.
Aku hanya bisa tersenyum lembut sambil mengangguk samar. "Iya, Olivia. Terima kasih banyak, ya."
Olivia menjinjing buah-buahan tersebut dengan langkah yang kembali riang, lalu melangkah lebar menuju kamar mandi yang berada di sudut ruang rawatku. Begitu pintu toilet tertutup, keheningan perlahan-lahan kembali menyelimuti kamar rawat yang serba putih ini.
Aku menyandarkan punggungku pada bantal brankar, menatap ke arah pintu kamar mandi dengan dada yang terasa kian menghangat. Kebohongan kecil dan sikap protektif yang saling kami tunjukkan malam ini membuktikan bahwa di balik dinding kebencian keluarga Adipta, ikatan darahku dengan adik bungsu kecilku ini tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh kutukan ghaib mana pun.
Kecrekkk…
Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat, senyuman ceria yang sejak tadi dipaksakan oleh Olivia seketika runtuh tanpa sisa. Tubuhnya melemas. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu kayu yang dingin, membiarkan beberapa buah apel dan jeruk yang dibawanya diletakkan begitu saja di dalam wastafel porselen putih.
Olivia menyalakan keran air. Suara gemercik air yang mengalir deras sengaja ia besarkan, murni untuk menyamarkan suara isak tangisnya agar tidak menembus keluar dan terdengar oleh Kak Bella di atas brankar.
Jemari halusnya mulai menggosok permukaan kulit buah di bawah kucuran air, tetapi pandangannya sama sekali tidak fokus ke sana. Matanya buram, tertutup oleh lapisan air mata baru yang mengalir semakin deras membasahi pipinya yang memerah.
"Kenapa ... kenapa semuanya harus sekejam ini?" bisik Olivia lirih, suaranya bergetar hebat menahan sesak yang seolah meremas dadanya.
Setiap gosokan pada buah itu seolah membakar memorinya tentang pengakuan Kak Bella beberapa menit lalu. Kalimat “Kakak sejak umur sepuluh tahun sudah tidak sekolah lagi ...” terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak, terasa jauh lebih tajam daripada belati mana pun.
Olivia mencengkeram pinggiran wastafel dengan kuat hingga kuku-kukunya memutih. Rasa bersalah yang teramat sangat menghimpit nuraninya. Selama belasan tahun ini, ia hidup bagai seorang putri yang dipuja di lantai dua, menikmati pakaian bermerek, lemari kaca mewah, dan pendidikan di sekolah elit yang mahal. Sementara itu, tepat satu lantai di atas kepalanya, Kak Bella membusuk di dalam gudang lantai tiga yang pengap, dingin, dan bocor—bahkan kehilangan hak paling mendasar untuk sekadar belajar menulis.
Olivia mendongak, menatap bayangan dirinya sendiri di cermin wastafel. Wajahnya tampak kacau dengan mata yang bengkak dan memerah.Ia membenci ketidakberdayaan masa kecilnya yang tidak tahu apa-apa.
Ia membenci sikap dingin Kak Ethan, Kak Aaron, dan Kak Charles yang selama ini mendoktrin dirinya bahwa Kak Bella adalah anak pembawa sial yang harus dijauhi. Ketakutan ghaib macam apa yang membuat ketiga kakak laki-lakinya tega mengorbankan nyawa dan masa depan Kak Bella demi takhayul masa lalu?
Olivia mematikan keran air. Ia buru-buru menyeka air matanya dengan tisu, lalu menarik napas dalam-dalam berulang kali untuk menetralkan dadanya yang naik-turun akibat sesengukan. Ia menepuk-nepuk kedua pipinya dengan pelan, memaksa otot-otot wajahnya untuk kembali mengukir senyuman ceria yang manis.
Ia tidak boleh terlihat lemah. Mulai hari ini, jika ketiga kakak laki-lakinya menolak untuk menjadi pelindung bagi Kak Bella, maka dialah yang akan berdiri paling depan untuk menjaga kakak perempuannya itu, apa pun risikonya.
Setelah memastikan tidak ada lagi jejak air mata yang tertinggal, Olivia mengambil kembali buah-buahan yang sudah bersih, lalu perlahan memutar gagang pintu untuk kembali menemui Bella.
Di sisi lain, di atas brankar yang dingin, aku hanya bisa menatap nanar ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Keheningan ruangan ini kembali memaksaku untuk berpikir realistis. Rasa sayang murni yang dialirkan oleh Olivia malam ini memang terasa begitu hangat, tetapi sekaligus memicu ketakutan terbesar yang selama belasan tahun ini kupendam sendirian.
Bagaimanapun juga ... aku tidak boleh terlalu dekat dengan Olivia, batinku pilu, mencengkeram lipatan selimut putih rumah sakit dengan jemari yang bergetar. Kutukan di tangan kiriku ini tidak pernah salah. Kalau aku membiarkan diriku terlalu dekat dengannya, takdir ghaib itu pasti akan kembali bereaksi. Dan jika itu terjadi, akulah yang akan menderita dan menanggung siksaan rasa sakitnya duluan sebelum tanda itu merembet padanya.
Aku memalingkan wajah sekilas, menepis ego kecilku yang mendambakan kehangatan. Aku harus membentengi diriku sendiri demi keselamatan adik bungsu yang teramat kusayangi ini.
Beberapa menit kemudian, suara engsel pintu terdengar bergerak. Olivia melangkah masuk kembali ke dalam ruangan dengan senyuman ceria yang sudah kembali terukir di wajah polosnya. Ia membawa sepiring buah yang basah dan segar, lalu mendudukkan diri di kursi besi samping tempat tidurku.
"Kak, coba deh. Buahnya manis tidak?" tanya Olivia penuh semangat, menyodorkan sepotong buah yang baru dicucinya tepat di hadapanku.
Aku tersentak sedikit dari lamunan kelamku. Aku memaksakan segaris senyuman tipis untuk menyambut perhatiannya, menahan sekuat tenaga segala gejolak ketakutan yang baru saja berkecamuk di dalam dadaku
Setelah beberapa menit kami mengobrol dan menghabiskan sisa buah di piring, Olivia perlahan bangkit dari kursi besi. Ia melirik jam tangan digitalnya, lalu menatapku dengan raut wajah yang tampak berat.
"Kak, Olivia pamit pulang dulu, ya. Aku harus mengerjakan tugas kampus yang harus dikumpulkan besok pagi," ucap Olivia dengan nada sesal yang tersirat jelas.
Aku tersenyum lembut, lalu mengangguk kecil. "Iya, Olivia. Pulanglah, ganti bajumu dan istirahat."
Aku hanya bisa mengiyakan kepamitannya dengan lapang dada. Bagaimanapun juga, tugas kampus dan pendidikan adikku jauh lebih utama daripada menemaniku di ruangan serba putih yang membosankan ini. Olivia memiliki masa depan yang cerah yang harus ia kejar, sangat kontras dengan diriku yang selama belasan tahun ini terperangkap dalam kegelapan gudang lantai tiga.
"Nanti kalau tugasku sudah selesai, besok aku ke sini lagi ya, Kak!" seru Olivia kembali ceria sembari menyandang tas ransel sekolahnya. Ia melambaikan tangan dengan riang sebelum akhirnya melangkah keluar dari kamar rawatku.
Begitu pintu kaca tertutup rapat dan siluet tubuhnya menghilang di balik koridor, keheningan total kembali merayap, menguasai setiap sudut ruangan. Aku menyandarkan punggungku pada bantal brankar, mengembuskan napas panjang yang terasa begitu hampa.
Meskipun kesepian kembali menyergap, di dalam lubuk hatiku yang terdalam, ada rasa lega yang membubung hangat. Jarak yang kembali tercipta di antara kami adalah hal terbaik. Dengan begini, aku bisa memastikan bahwa kutukan garis kematian di telapak tangan kiriku tidak akan pernah meleset atau berbalik menyakiti bintang keberuntungan keluarga kami.
Keesokan harinya, seberkas sinar matahari pagi kembali menerobos masuk melalui celah gorden, mengusir sisa-sisa udara dingin di dalam kamar rawatku. Tepat saat aku sedang membetulkan posisi duduk, pintu kaca terdorong terbuka. Sosok Kak Ethan melangkah masuk dengan setelan kemeja kerjanya yang rapi.
Ia langsung berjalan mendekati brankarku, menatapku dengan mata elangnya yang kini pancarannya tidak lagi sedingin dulu.
"Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa ada terjadi sesuatu pada tubuhmu?" tanya Kak Ethan dengan nada suara yang berat dan sarat akan perhatian yang terselubung.
Aku memaksakan sebuah senyuman tipis yang hangat. "Aku baik-baik saja, Kak," jawabku tulus, mencoba meyakinkannya bahwa kondisiku sudah jauh lebih membaik dari kemarin.
Kak Ethan mengangguk samar, lalu meletakkan sebuah wadah makanan hangat di atas meja nakas. "Makanlah, ini sarapan untukmu. Tadi Kakak sengaja meminta tolong pelayan di rumah untuk memasak makanan khusus yang ramah untuk lambungmu."
"Terima kasih banyak, Kak," ucapku pelan sembari menerima mangkuk sarapan itu dari tangannya. Rasa hangat dari wadah tersebut perlahan merembes ke telapak tangan kiriku, mengalirkan setitik kebahagiaan yang amat asing di dalam dadaku.
Kak Ethan tidak membalas dengan banyak kata. Ia hanya mengangguk pelan, lalu berbalik dan berjalan menuju sofa di sudut ruangan. Pria itu mendudukkan dirinya di sana, mengeluarkan laptop dari dalam tas kerja, lalu mulai fokus memeriksa beberapa dokumen perusahaan yang sempat tertunda.
Aku menyendok sarapanku dalam diam sembari memperhatikannya dari atas tempat tidur. Rutinitas baru ini perlahan-lahan mulai terbentuk. Di pagi hari, Kak Ethan sengaja tidak langsung pergi ke kantor pribadinya. Ia khusus datang ke rumah sakit ini terlebih dahulu untuk menjagaku sambil menyelesaikan pekerjaannya dari laptop, baru setelah siang hari menjelang, ia akan beranjak pergi menuju ke kantor.
Melihat bagaimana sosok pria yang selama belasan tahun mengurungku di gudang lantai tiga itu kini rela membagi waktu sibuknya demi menemaniku, membuat sudut mataku mendadak terasa sedikit panas. Jarak belasan tahun yang membeku di antara kami kini benar-benar perlahan mulai terkikis oleh kehangatan kecil yang konstan ini.
Suara klak-klik dari papan ketik laptop Kak Ethan mendadak terhenti. Di sudut ruangan, pria itu menegakkan posisi duduknya, lalu mengalihkan pandangan tajamnya langsung ke arahku.
"Oh iya, soal tulisan tanggal yang ada di telapak tanganmu itu ... apa beneran?" tanya Kak Ethan dengan nada suara yang mendadak berubah berat dan penuh penekanan.
Gerakan sendokku yang hendak menyuap sarapan seketika membeku di udara. Aku menurunkan pandangan, menatap telapak tangan kiriku yang kini telah bersih dari guratan pekat, meski sisa bekas kemerahan samar seperti luka bakar itu masih tersisa di sana. Aku menarik napas lambat untuk meredakan gemuruh di dadaku, lalu mendongak menatap mata elangnya.
"Kalau aku mengatakan kalau ini beneran ... apa Kak Ethan akan percaya?" tanyaku balik dengan suara yang bergetar samar.
Kak Ethan terdiam sesaat. Sorot matanya menyiratkan kilasan trauma masa lalu yang teramat pekat. "Dulu kamu mengatakan hal yang sama tentang Papa, Mama, dan juga Kakek. Dan setelah itu ... mereka semua benar-benar meninggal tepat pada tanggal yang kamu sebutkan."
Pria itu menjeda kalimatnya, menutup laptopnya perlahan, lalu bangkit berdiri dari sofa. Ia melangkah lebar menghampiri sisi brankarku, condong ke depan untuk mengunci tatapanku. Guratan panik dan rasa khawatir yang teramat besar tercetak jelas di dahinya yang berkerut dalam.
"Tapi tanda itu sekarang juga ada pada dirimu, Bella," tanya Kak Ethan lagi, suaranya mendadak berubah parau dan dipenuhi ketakutan yang luar biasa. "Bagaimana denganmu? Apa tanggal 20 Juni kemarin itu ... benar-benar seharusnya menjadi tanggal kematianmu sendiri?"
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~