Jarinya dipotong. Adiknya mati. Tabungannya dirampas.
Dibuang seperti bangkai oleh bos kasino tempatnya mengabdi selama lima tahun, mantan bandar bernama Sora membangkitkan satu-satunya senjata yang tersisa yakni sistem yang memanipulasi probabilitas kenyataan.
Pisau yang harusnya menancap di dada? 0,01% peluang kena. Brankas yang harusnya terkunci rapat? 99,99% terbuka. Sekarang, meja taruhan sudah terbalik. Dan rumah kasino yang selalu menang akan ia beli sendiri.
Peringatan Konten: Cerita ini mengandung kekerasan fisik ekstrem, adegan penyiksaan berdarah, tema kriminalitas (judi, pemerasan, pencucian uang), trauma psikologis gelap, serta bahasa kasar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Matahari senja tenggelam perlahan di balik garis pantai Pesisir Tiram, menumpahkan semburat warna tembaga kemerahan ke permukaan air muara yang keruh berbusa. Angin laut bertiup kencang dari arah barat, mengguncang dinding papan rapuh di kamar kontrakan lantai dua tempat Sora berdiri mematung.
Kamar sempit berukuran tiga kali tiga meter itu beralaskan tikar pandan yang terkelupas di bagian tepi. Tidak ada perabotan mewah di sana; hanya kasur lipat kapuk kempes di sudut lantai, meja kayu kecil tempat cermin cukur retak bersandar, dan paku payung di dinding tempat sehelai syal rajut wol warna biru kusam tergantung rapi.
Sora menatap bayangan dirinya di cermin retak itu.
Kemeja katun abu-abu berlengan panjang membalut tubuhnya yang kurus. Kancing pergelangan tangan kirinya dikaitkan kencang, menutupi lilitan perban elastis hitam yang membungkus rapat pangkal kelingkingnya yang hilang. Di kepalanya, topi pet kain kanvas warna cokelat tanah terpasang miring ke depan, menaungi dahinya hingga bayangan tudungnya menutupi separuh alis dan bekas jahitan di pelipis kanan.
Ia mengambil kacamata berbingkai kawat tembaga pinjaman Dok Han dari atas meja, lalu memasangnya di pangkal hidung. Lensa kaca bening itu sedikit membiaskan pantulan cahaya lampu teplok di dinding, mengubah siluet wajahnya yang biasanya tegas menjadi tampak seperti seorang juru tulis pelabuhan rendahan yang lelah dan tidak mencolok.
Sebuah penyamaran sederhana, namun cukup untuk mengelabui tatapan sekilas para pengawas lantai yang terbiasa mencari sosok buronan berbadan kekar.
Klek.
Pintu papan kontrakan berderit membuka. Gani melangkah masuk seraya menyeka peluh di lehernya dengan ujung kaus. Di belakangnya, Maya menyusul dengan langkah cepat, ransel hitam berisi laptop dan pemancar radio tersampir di bahunya.
Gani merogoh saku jaket kerjanya, mengeluarkan sebuah kotak remote kecil seukuran pemantik api gas berbahan plastik hitam dengan dua tombol silikon di permukaannya.
“Uji frekuensi ketiga beres, Sor,” bisik Gani seraya menyerahkan remote saku itu ke telapak tangan kanan Sora. “Tombol merah buat aktifkan pulsa penolak angka nol, tombol putih buat membalik polaritas stator ke sektor angka hitam genap. Radius jangkauannya sepuluh meter. Baterainya baru saya pasang sore tadi, tahan buat tiga puluh kali klik.”
Sora merasakan permukaan tombol silikon itu di bawah ibu jarinya. “Respon modul di kolong meja bagaimana?”
“Lancar,” sahut Gani sambil mengulum tusuk giginya dengan gugup. “Tadi jam lima sore pas petugas kebersihan membersihkan karpet lantai dua, sinyalnya menyambung tanpa gangguan. Tapi ingat, Sor… jangan tekan tombol lebih dari dua detik tiap putaran. Kalau koilnya kepanasan, kumparan dinamo bisa berasap, dan pengawas meja bakal curiga.”
Sora mengangguk pelan, lalu menyelipkan remote silikon itu ke dalam saku celana kain kanannya, di samping dua juta rupiah uang tunai pecahan seratus ribu yang ia siapkan untuk modal awal penukaran cip.
Maya meletakkan laptopnya di atas meja kayu kecil, membukanya dengan gerakan cepat. Layar monitor retaknya menampilkan peta jaringan lalu lintas dan siaran kamera pengawas lampu merah perempatan jalan utama Zona Tengah.
“Konsorsium Puri Naga sudah mulai bergerak,” lapor Maya seraya meniup permen karetnya hingga pecah dengan bunyi pletuk pelan. Jarinya menunjuk iring-iringan tiga sedan hitam yang melaju lambat melintasi jembatan kanal menuju ruko Tiga Naga. “Tuan Ronald sendiri yang memimpin tim audit tahunan malam ini. Jam sembilan tepat, mereka bakal naik ke ruang VIP lantai tiga buat memeriksa pembukuan kas Jerry.”
Maya menoleh ke arah Sora, sorot matanya yang bulat tampak tegang di bawah keremangan lampu teplok.
Sora merogoh syal biru Mila di dinding, melipatnya perlahan, lalu membenamkannya ke dalam saku jaket parkanya.
“Waktunya masuk meja,” kata Sora.