Selama menikah, Gia menyamar jadi istri polos yang cuma tahu urusan dapur. Tapi Aldo sang suami, malah menceraikannya demi cewek lain yang katanya anak direktur. Gia cuma tersenyum dan langsung tanda tangan. Lagipula, cape berpura-pura miskin!
Keesokan harinya, Aldo dengan sombong menghadiri rapat sebagai manajer baru di perusahaan raksasa VK Group. Dia berniat pamer demi bikin Gia menyesal.
Tapi saat pintu rapat terbuka, Komisaris Utama sekaligus pemilik saham terbesar masuk dengan anggun.
Itu Gia!
Gia tersenyum manis menatap mantan suaminya yang pucat pasi. "Manajer Aldo, buatkan saya kopi. Jangan lambat, gajimu saya yang bayar sekarang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13. Keterlaluan
"Apa apaan ini semua?" Gumam Gia.
"Kenapa sayang?" Tepuk Elkan dari belakang.
'Hapus kata sayang itu. Selalu saja begitu.. " Jawab Gia.
"Ah jangan malu begitu..Baiklah.. Kenapa kayaknya kaget gitu?"
"Enggak papa.. Cuma chat aneh.."
"Ya sudah.. Ayo masuk lagi.."
***
Malam harinya,
Di ruang ganti, Gia merasakan hal aneh pada gaun nya, namun dia hiraukan dan tetap memakai gaun itu. Setelah beberapa lama, elkan muncul dan mereka pun pergi bersama menuju ke hall pesta tersebut. Namun tiba-tiba saja, gaun yang di pakai Gia melorot hingga terlihat punggung Gia yang mulus dan putih. Namun untung saja elkan dengan sigap mencengkram gaun nya.
"Kenapa gaun nona gia melorot? Kau lihat itu tadi?" Ucap salah seorang tamu.
"Iya aku lihat itu.. Wah.."
Sepasang mata licik menatap kepuasan akan kejadian itu. Kini seluruh tamu melihat nya dan membicarakan nya.
"Bagus..." Ucap Nico pada orang itu yaitu Clara.
"Elkan.. Gaun ku.." Ucap Gia.
"Tidak papa, ayo ke ruang ganti dulu." Ucap Elkan lalu berpura-pura merangkul Gia dan mengantar Gia ke dalam ruang ganti. ELkan dengan sigap menelpon assisten nya untuk membawakan gaun baru dan sekaligus menangkap pelaku nya.
Selepas Gia berganti gaun, Dia berdecak kesal karena teringat chat ancaman itu.
"Jadi, kemarin ada ancaman gaun rusak dari nomor anonim?" Tanya Elkan.
"Iya.. Aku kira itu tidak mungkin, tapi aku tidak membayangkan kalau rencana liciknya akan benar."
Tiba-tiba muncul assisten Elkan dan memberitau bahwa pelaku kerusakan gaun Gia sudah ketemu. Elkan dan gia yang melihat video cctv itu.
"Claraaa.." Ucap Gia kesal.
"Kamu tenang saja gia.. Ini tayangkan rencana jahat mereka di pesta sekarang."
"Baik.."
Di aula pesta, Seluruh tamu undangan langsung terperanjat. Suasana aula pesta yang tadinya hangat dan penuh kemewahan, mendadak berubah jadi riuh panas. Apalagi setelah tiba-tiba saja video cctv itu ditayangkan. Ratusan pasang mata, lengkap dengan sorotan kamera wartawan yang berkilat tanpa henti, seketika berpindah menembak tepat ke arah Clara dan Nico yang berdiri mematung di sudut ruangan.
Suara kasak-kusuk penonton langsung meledak serentak.
"Itu bukannya Clara? Dia yang nyuruh merusak gaunnya Gia?"
"Astaga, murahan banget triknya! Sampai nyogok staf kebersihan demi nyabotase acara!"
"Lihat tuh si Nico! Udah bukan bagian dari perusahaan, malah nyusup masuk buat bikin ulah!"
Wajah Clara langsung pucat pasi bagaikan mayat. Gelas sampanye di tangannya terlepas dan jatuh membentur lantai marble. Ppyyaarrr! Air matanya mendadak meluncur deras, bukan karena menyesal, tapi karena rasa malu yang teramat sangat di depan ratusan pengusaha kelas atas dan kejaran kamera media.
"N-nggak... ini fitnah! Ini video editan!" jerit Clara histeris sambil menutupi wajahnya yang kini disorot puluhan kamera secara serentak. "Elkan, tolong aku! Ini bukan aku!"
Sementara Nico, rahangnya mengetat keras. Matanya berkilat penuh dendam saat melihat Gia dan Elkan yang masih berdiri tenang di tengah lantai dansa, menatapnya dengan pandangan paling merendahkan.
"Bangs*t...!" maki Nico pelan. Ia langsung berbalik hendak melarikan diri menerobos kerumunan tamu.
Namun, sebelum Nico berhasil melangkah lima pijakan menuju pintu keluar, empat pengawal berbadan tegap berseragam serba hitam bawahan pribadi Nyonya Laras sudah mencegat jalurnya. Tanpa memberi ampun, dua di antaranya langsung mengunci kedua lengan Nico ke belakang hingga pria itu meringis kesakitan.
"Lepasin gue! Gue tamu di sini!" berontak Nico murka, kakinya menendang udara secara liar. "Gue Presdir Nico Corp! Kalian nggak berhak perlakuin gue kayak gini!"
Gia melangkah anggun menghampiri keributan itu, diikuti Elkan yang berjalan di sampingnya bagaikan seorang pelindung tak tertembus. Gaun marun berlapis benang emas murni milik Gia berkilau makin mewah di bawah sorotan lampu, membuat langkah kakinya memancarkan aura intimidasi yang luar biasa.
"Presdir Nico Corp?" Gia terkekeh pelan, sebuah kekeh dingin yang sanggup membuat bulu kuduk berdiri. Ia berhenti tepat satu langkah di depan Nico. "Bukannya baru sejam yang lalu Kirana Group resmi mengakuisisi seluruh saham perusahaanmu? Kamu sekarang cuma mantan Presdir yang bangkrut dan berutang banyak."
Nico melotot tajam, napasnya tersengal-sengal penuh kebencian. "Gia! Lu cuma cewek sialan yang cuma bisa ngandelin harta nyokap lu! Jangan berlagak paling hebat di depan gue!"
Plak!
Sebuah tamparan keras memotong ucapan kasar Nico. Bukan dari Gia, melainkan dari Elkan yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya. Suara tamparan itu bergema nyaring di dalam aula yang mendadak hening.
"Jaga mulutmu kalau masih mau bernapas besok pagi," bisik Elkan dengan suara dalam yang sangat mematikan. Matanya menatap Nico seolah siap mencabik-cabik pria itu di tempat.
Elkan kemudian memberi isyarat pada tim keamanan VK Group. "Serahkan Nico dan Clara ke pihak kepolisian sekarang juga. Bawa semua bukti video sabotase ini beserta kasus pencemaran nama baik."
"Siap, Pak Elkan!"
Clara meraung-raung hysteris saat dua petugas keamanan menyeretnya keluar dari aula. "Elkan! Aku mohon! Tolong aku! Aku melakukan ini karena aku cinta sama kamu! Aku nggak mau dipenjara!"
Tangisan Clara dan makian Nico perlahan menghilang saat pintu gerbang utama aula ditutup rapat.
Atmosfer pesta yang sempat tegang perlahan melunak kembali. Elkan mengambil mik dari atas panggung utama, lalu berdiri di samping Gia.
"Maaf atas ketidaknyamanannya, Bapak dan Ibu sekalian," ucap Elkan tegas dan berwibawa melalui mik. "Drama kecil tadi sudah selesai. Malam ini, mari kita rayakan kemenangan dan pengambilalihan penuh saham VK Group oleh konsorsium Kirana!"
Tepuk tangan meriah dan riuh gemuruh tamu undangan mendadak memecahkan keheningan. Semua investor tersenyum puas, menyadari bahwa di bawah kendali Gia dan Elkan, posisi VK Group kini benar-benar tak tersentuh.
Setelah acara resmi selesai dan para tamu mulai menikmati hidangan malam, Elkan menarik tangan Gia pelan menuju ke balkon luar lantai lima puluh. Angin malam yang dingin berembus lembut, membelai gaun marun Gia dan membawa aroma wangi bunga malam.
Gia menyandarkan sikunya di pembatas balkon, menatap pemandangan gemerlap lampu kota di bawah sana. "Terima kasih, Elkan. Untuk semuanya malam ini."
Elkan melangkah makin dekat, berdiri di sebelah Gia hingga bahu mereka bersentuhan. Pria itu menyandarkan tubuhnya, menatap lekat profil wajah ayu Gia dari samping.
"Aku nggak butuh ucapan terima kasih," kata Elkan halus, suara bass-nya terdengar begitu hangat di antara deru angin malam.
Gia menoleh sedikit, menaikkan sebelah alisnya. "Terus kamu butuh apa? Jangan bilang... janji pengakuan yang kamu sebutin pas berdansa tadi?"
Elkan tersenyum tipis, tatapan matanya berubah begitu dalam dan intens, seolah mengunci seluruh perhatian Gia hanya untuknya. Tangannya terulur lembut, menyelipkan helai rambut Gia ke belakang telinganya.
"Setiap kali aku menatap kamu, Gia..." bisik Elkan dengan nada rendah yang bergetar penuh kejujuran. "Aku makin yakin. Semua drama dan luka yang kamu lewati di masa lalu... cuma jalan yang nuntun kamu buat ketemu sama aku."
Jantung Gia seketika berdegup kencang secara tidak teratur. Desir hangat mendadak memenuhi dadanya, meruntuhkan seluruh pertahanan dingin yang selama ini ia bangun rapat-rapat.
"Elkan, aku..." suara Gia tertahan di tenggorokan.
Elkan meraih kedua tangan Gia, menggenggam jemari lentik itu dengan erat. "Aku nggak mau jadi rekan bisnis kamu aja, Gia. Aku mau jadi pria yang berdiri di samping kamu, melindungi kamu, dan mencintai kamu seumur hidupku. Maukah kamu buka hati kamu buat aku?"
Gia menatap dalam-dalam ke dalam mata cokelat gelap milik Elkan. Di sana tidak ada kebohongan, tidak ada manipulasi seperti yang pernah diberikan Aldo di masa lalu. Yang ada hanyalah ketulusan mutlak yang membuat pertahanan hati Gia benar-benar runtuh.
Gia tersenyum sangat manis, sebuah senyuman paling tulus yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun. "Aku rasa... hatiku udah kebuka buat kamu dari lama, Elkan."
Elkan tertegun sejenak, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Wajah tampannya mendadak berbinar bahagia. Tanpa ragu lagi, Elkan menarik tubuh Gia pelan ke dalam pelukannya, merengkuh wanita itu erat-erat di bawah pijar bintang malam. Gia membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya di dada kokoh Elkan yang berdetak sama kencangnya.
Namun, di tengah momen hangat yang begitu sempurna itu, ponsel di dalam saku jas Elkan mendadak berdering nyaring. Dering khusus yang menandakan panggilan darurat tingkat tinggi!
Elkan terpaksa melepaskan pelukannya dengan enggan. Ia merogoh ponselnya, dan raut wajah bahagianya seketika berubah kaku saat melihat nama pemanggil di layar.
"Ada apa?" tanya Gia heran melihat perubahan drastis pada wajah Elkan.
Elkan menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Halo?"
Suara napas terengah-engah dari seorang pria di seberang telepon terdengar sangat panik, bercampur dengan suara sirine yang meraung-raung nyaring.
"Pak Elkan! Gawat, Pak!"* teriak suara dari telepon itu. "Ibu Laras... Nyonya Laras mengalami kecelakaan beruntun di jalan tol saat perjalanan pulang dari acara pesta! Mobil beliau masuk ke jurang setelah ditabrak truk kontainer tanpa pelat!"
Deg!
Gia yang berdiri cukup dekat bisa mendengar jelas setiap kata yang keluar dari speaker telepon Elkan.
Wajah Gia mendadak kehilangan seluruh warna darahnya. Papan jalan di tangannya terlepas, menghantam lantai balkon dengan suara nyaring.
"Dan Pak..." lanjut suara di telepon dengan nada makin gemetar. "Di lokasi kejadian, polisi menemukan pesan tercoret darah di kap mobil... bertuliskan nama kamu dan Aldo!"