"Mo Ling'er! Kau berjanji memberiku tiga tahun!" raungnya seperti harimau yang terluka. "Sekarang baru dua tahun! Kenapa kau lakukan ini padaku! Kenapa?!"
Mo Ling'er menyeringai, tersenyum penuh penghinaan.
"Menunggumu? Hmmph!
"Kau tidak pantas!"
Kalimat itu menghantam arena seperti petir.
"Aku dulu buta karena menganggapmu istimewa," kata Mo Ling'er sengaja lantang, biar semua orang mendengar.
"Kau memang Tuan Muda Ketiga Keluarga Feng, tapi selama enam belas tahun apa yang kau raih?"
"Jiwa Bela Diriku Peringkat Enam! Aku jenius Keluarga Mo, sekaligus jenius nomor satu di antara rekan-rekan di Kota Wushuang! Sementara kau hanya Peringkat Dua, apa hakmu menyuruhku menunggu?
"Hari ini, kau juga hanya sanggup membangkitkan Jiwa Bela Diri diperingkat Dua. Perempuan saja bahkan lebih baik darimu!"
"Dasar sampah!"
Seketika hati Feng Wuchen terasa seperti ditusuk ribuan pisau.
Enam belas tahun kenangan indah mereka terlintas di benaknya. Tawa, senda gurau, janji, kebersamaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Naik Tingkat Lagi
Alam Penempaan Tubuh Tingkat Delapan mengalahkan Alam Pengumpulan Qi Tingkat Satu.
Bahkan hanya dengan satu pukulan.
Fakta itu membuat banyak murid Akademi Tianyan masih sulit mempercayai apa yang baru saja mereka dengar.
Bukankah seharusnya hasilnya terbalik?
Seorang kultivator Alam Pengumpulan Qi sudah mampu menggunakan Qi Sejati, sedangkan Alam Penempaan Tubuh masih mengandalkan kekuatan fisik.
Namun Feng Wuchen justru melanggar batas yang selama ini mereka anggap mutlak.
“Yang Tiansen benar-benar dikalahkan dengan satu pukulan?”
Huangfu Qing menggeleng keras.
“Mustahil! Pasti ada sesuatu yang dia lakukan.”
Mentor Li menatapnya sekilas.
“Tidak ada tipu daya.”
“Feng Wuchen menang dengan kekuatannya sendiri.”
Ia berhenti sejenak.
“Memang benar Yang Tiansen meremehkan lawannya. Namun bahkan tanpa kesalahan itu, hasil pertarungannya belum tentu berubah.”
Ucapan tersebut kembali membuat para murid gaduh.
“Jiwa Bertarung Tingkat Dua benar-benar bisa sehebat itu?”
“Dia monster!”
“Dia bahkan belum bisa menggunakan Qi Sejati!”
“Kalau kecepatan kultivasinya terus seperti ini, bukankah dia bisa melampaui seluruh murid berbakat di akademi?”
Pandangan para murid kepada Feng Wuchen telah berubah.
Ejekan sebelumnya menghilang.
Digantikan rasa iri.
Kagum.
Bahkan sedikit pemujaan.
Akademi Tianyan memang mengumpulkan banyak jenius dari seluruh Kekaisaran Api.
Namun bahkan di sini, Jiwa Bertarung Tingkat Tujuh sudah dianggap sangat langka.
Murid dengan Jiwa Bertarung Tingkat Lima atau Enam merupakan mayoritas jenius akademi.
Sedangkan Tingkat Tujuh ke atas—
mereka benar-benar merupakan bibit utama yang mendapat perhatian besar.
Itulah sebabnya Mo Ling'er, yang membangkitkan Jiwa Bertarung Tingkat Enam, dianggap sangat berbakat ketika pertama kali masuk.
Namun sekarang muncul Feng Wuchen.
Jiwa Bertarung Tingkat Dua.
Tetapi kecepatan kultivasinya justru melampaui hampir semua orang.
Mo Ling'er masih berdiri di tempatnya.
Wajahnya pucat.
Ucapan Mentor Li terus bergema di pikirannya.
Empat tingkat dalam satu bulan.
Mengalahkan Yang Tiansen yang sudah mencapai Alam Pengumpulan Qi.
Dengan satu pukulan.
Mo Ling'er menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya, kenangan di panggung Kota Wushuang terasa seperti sebuah tamparan bagi dirinya sendiri.
Dialah yang mengatakan Feng Wuchen tidak memiliki masa depan.
Dialah yang menyebutnya sampah.
Dialah yang menghancurkan harga dirinya di depan seluruh kota.
Sekarang...
siapa sebenarnya yang sedang mempermalukan siapa?
"Apakah aku benar-benar salah menilainya?"
Mo Ling'er menggigit bibir.
Atau mungkin—
"Selama ini kau memang menyembunyikan semuanya dariku?"
Namun bahkan jika kemungkinan itu benar, pertanyaan berikutnya jauh lebih menyakitkan.
Apakah dirinya mampu naik dua tingkat dalam tiga hari?
Tidak.
Apakah dirinya sanggup naik empat tingkat dalam satu bulan?
Mustahil.
Bahkan dengan Cairan Spiritual dan pil terbaik yang bisa diberikan akademi, Mo Ling'er tidak yakin mampu melakukannya.
Ia tertawa pahit.
“Benar-benar menggelikan...”
Tidak tahu apakah ia sedang menertawakan Feng Wuchen—
atau dirinya sendiri.
Di gerbang Akademi Tianyan, Burung Darah Merah sudah menunggu.
Mentor Li kembali mengantar Feng Wuchen dan Ling Xiaoxiao menuju Kota Wushuang.
Perjalanan Feng Wuchen ke Akademi Tianyan berakhir jauh lebih sederhana daripada yang dibayangkan banyak orang.
Ia datang.
Menyembuhkan Tetua Su.
Mendapat tawaran luar biasa dari Pemimpin Akademi.
Menolaknya.
Lalu meninggalkan akademi dengan status khusus sebagai Murid Kehormatan.
Di atas Burung Darah Merah, Ling Xiaoxiao menatap Feng Wuchen.
“Kakak Feng.”
“Hm?”
“Mo Ling'er pasti akan menyesal.”
Feng Wuchen tetap menatap hamparan awan di depan.
“Itu urusannya.”
Ling Xiaoxiao tersenyum tipis.
“Kakak Feng tidak sedih?”
Feng Wuchen diam beberapa saat.
“Dulu mungkin.”
“Tapi sekarang tidak.”
Ia menatap ke kejauhan.
“Aku hanya berharap Klan Mo tidak ikut menjadi musuh Klan Feng.”
Ling Xiaoxiao sedikit terkejut.
“Kalau mereka tetap memusuhi Klan Feng?”
Tatapan Feng Wuchen berubah dingin.
“Aku masih bisa mengingat hubungan masa lalu.”
“Tapi bukan berarti aku akan membiarkan mereka menyentuh keluargaku.”
Ia tidak berniat menghancurkan Klan Mo hanya karena pengkhianatan Mo Ling'er.
Bagaimanapun juga, mereka pernah tumbuh bersama.
Kenangan enam belas tahun tidak mungkin hilang begitu saja.
Namun jika Klan Mo memilih berdiri sebagai musuh—
maka Feng Wuchen juga tidak akan menunjukkan belas kasihan.
Ling Xiaoxiao memandang wajahnya dari samping.
Lalu diam-diam tersenyum.
"Mo Ling'er..."
"Terima kasih karena dulu kau memilih meninggalkan Kakak Feng."
"Kalau tidak..."
Matanya melengkung bahagia.
"...mungkin aku tidak akan pernah mendapat kesempatan ini."
Setelah kembali ke Kota Wushuang, Feng Wuchen segera menyadari satu hal.
Tatapan orang-orang telah berubah.
Dulu, setiap kali ia berjalan melewati jalan utama, bisikan mengejek selalu terdengar.
Sampah.
Jiwa Bertarung Tingkat Dua.
Tidak pantas untuk Mo Ling'er.
Namun sekarang—
“Tuan Muda Feng!”
“Salam, Tuan Muda Feng!”
“Pertarungan kemarin sungguh luar biasa!”
Orang-orang bahkan sengaja tersenyum ramah ketika melihatnya.
Feng Wuchen hanya membalas seperlunya.
Dalam hati, ia semakin memahami hukum dunia ini.
Kekuatan.
Selama seseorang cukup kuat, penghinaan bisa berubah menjadi pujian dalam semalam.
Orang yang kemarin menginjakmu—
besok mungkin akan membungkuk di hadapanmu.
Feng Wuchen tidak terlalu memikirkannya.
Ia mampir ke toko Klan Feng untuk mengambil beberapa botol Cairan Spiritual Tujuh Warna.
Kemudian langsung pulang.
Baginya, perhatian orang lain tidak penting.
Yang lebih penting adalah—
menjadi semakin kuat.
Di Akademi Tianyan, Tetua Agung Zhen Yuntian sedang menangani luka Yang Tiansen.
Beruntung pemuda itu dibawa cukup cepat.
Tulang yang patah masih bisa disambungkan.
Namun untuk pulih sepenuhnya, dibutuhkan beberapa bulan.
Bisa jadi bahkan setengah tahun.
Zhen Yuntian mengusap janggutnya.
“Feng Wuchen benar-benar tidak berbelas kasihan."
Tetua Su tertawa kecil.
“Tapi bocah itu memang punya kemampuan.”
“Alam Penempaan Tubuh Tingkat Delapan mengalahkan Alam Pengumpulan Qi Tingkat Satu.”
Pemimpin Akademi Xing Tianfeng mengangguk perlahan.
“Feng Wuchen memang tidak sederhana.”
Tetua Su kemudian teringat sesuatu.
“Pemimpin Akademi.”
“Syarat yang Anda tawarkan kepadanya tadi... benar-benar serius?”
Xing Tianfeng meliriknya.
“Tentu.”
Ia berjalan perlahan menuju jendela aula.
“Pemuda itu baru berusia enam belas tahun.”
“Namun bahkan aku sulit melihat batasnya.”
Ia berhenti.
“Yang paling membuatku tertarik bukan hanya kecepatan kultivasinya.”
Ketiga tetua menatapnya.
“Teknik yang dia gunakan untuk mengeluarkan Racun Dingin.”
Xing Tianfeng menyipitkan mata.
“Tidak membutuhkan Qi Sejati.”
“Tidak membutuhkan pil.”
“Bahkan tidak membutuhkan bantuan alat.”
Zhen Yuntian langsung memahami arah pembicaraannya.
Wajahnya berubah.
“Pemimpin Akademi bermaksud...”
“Racun Api.”
Aula langsung sunyi.
Zhen Yuntian adalah seorang Alkemis Tingkat Empat.
Ia tahu lebih baik daripada siapa pun betapa mengerikannya dua kata tersebut.
Racun Api merupakan masalah yang hampir tidak mungkin dihindari oleh alkemis.
Semakin tinggi tingkat alkimia seseorang, semakin lama ia berhubungan dengan api dan bahan obat.
Semakin besar pula Racun Api yang mungkin menumpuk di tubuh.
“Jika Feng Wuchen juga mampu mengeluarkan Racun Api...”
Tetua Su menarik napas.
Xing Tianfeng tersenyum.
“Maka bukan hanya Akademi Tianyan yang akan menginginkannya.”
“Para alkemis di seluruh benua mungkin akan datang mencarinya.”
Zhen Yuntian terdiam.
Semakin dipikirkan—
semakin menakutkan kemungkinan tersebut.
Seorang pemuda yang mampu membuat alkemis kuat berutang nyawa kepadanya...
akan memiliki jaringan kekuatan sebesar apa suatu hari nanti?
“Pantas saja dia tidak tertarik dengan hadiah akademi,” gumam Liu Changfeng.
Xing Tianfeng tertawa kecil.
“Dia tahu nilai dirinya sendiri.”
“Dan kurasa...”
Tatapannya menjadi dalam.
“Tujuan bocah itu tidak pernah hanya sebatas Kekaisaran Api.”
Tiga hari berlalu.
Di dalam kamar Klan Feng, Feng Wuchen duduk bersila.
Energi spiritual terus mengalir ke tubuhnya.
Seni Dewa Naga Tertinggi berputar semakin cepat.
Tubuhnya seperti lubang tanpa dasar yang terus menelan energi dari sekeliling.
Kemudian—
Boom!
Sebuah penghalang di dalam tubuhnya pecah.
Aura Feng Wuchen melonjak.
Ia perlahan membuka mata.
“Tingkat Sembilan Alam Penempaan Tubuh.”
Senyum langsung muncul di wajahnya.
Tiga hari.
Ia naik tingkat lagi.
Feng Wuchen mengepalkan tangan.
Kekuatan yang terkandung dalam tubuhnya terasa jauh lebih besar daripada sebelumnya.
“Kalau sekarang aku melawan Yang Tiansen lagi...”
Ia tersenyum dingin.
“Aku bahkan tidak perlu memberinya kesempatan bertahan.”
Namun bukan itu yang paling membuatnya gembira.
Ia kini hanya terpisah satu langkah dari Alam Pengumpulan Qi.
Begitu berhasil menembusnya—
Qi Sejati akan lahir.
Dan ketika itu terjadi, berbagai jurus bela diri dari ingatan Dewa Naga Jahat akhirnya bisa ia gunakan secara nyata.
“Tidak lama lagi.”
Feng Wuchen menarik napas.
“Begitu memasuki Alam Pengumpulan Qi...”
Tatapannya bersinar penuh antusias.
“Daya tempurku akan berubah sepenuhnya.”
Ia baru saja bangkit dari ranjang ketika suara ceria terdengar dari luar.
“Kakak Feng!”
Ling Xiaoxiao.
“Cepat keluar!”
Feng Wuchen membuka pintu.
“Ada apa?”
Ling Xiaoxiao langsung menggandeng lengannya.
“Paviliun Wanbao mengirim kabar.”
“Hari ini mereka mengadakan pelelangan.”
“Pelelangan?”
Feng Wuchen sedikit tertarik.
“Barang apa?”
Ling Xiaoxiao menggeleng.
“Aku tidak tahu. Tapi Paman Feng terlihat sangat bersemangat. Sepertinya ada barang bagus.”
“Kalau begitu kita lihat.”
Ling Xiaoxiao baru hendak menariknya pergi ketika tiba-tiba berhenti.
Ia menatap Feng Wuchen beberapa saat.
“Kakak Feng...”
“Hm?”
“Kau naik tingkat lagi?”
Feng Wuchen menatapnya heran.
“Kau bisa melihatnya?”
Ling Xiaoxiao hanya tersenyum manis.
Tidak menjawab.
Feng Wuchen semakin penasaran terhadap gadis ini.
Bahkan anggota keluarganya sendiri belum tentu bisa langsung melihat perubahan kultivasinya.
Namun Ling Xiaoxiao selalu tahu.
"Rahasiamu benar-benar banyak, Xiaoxiao."
Tak lama kemudian, teriakan Feng Zhan terdengar dari aula.
“Adik Ketiga!”
“Cepat sedikit!”
“Kita akan terlambat!”
“Baiklah aku datang!”
Feng Wuchen menjawab keras.
Beberapa saat kemudian, tiga bersaudara Klan Feng berjalan keluar bersama Ling Xiaoxiao.
Kota Wushuang jauh lebih ramai dari biasanya.
Banyak keluarga dari kota-kota sekitar sengaja datang setelah mendengar kabar pelelangan Paviliun Wanbao.
Paviliun sebesar itu tidak mungkin mengadakan pelelangan untuk barang biasa.
Jika sampai dilelang—
berarti barang tersebut benar-benar bernilai.
Di sepanjang jalan, orang-orang yang melihat Feng Wuchen segera menyapa dengan sopan.
“Tuan Muda Feng!”
“Salam, Tuan Muda Feng!”
Feng Zhan melirik adiknya sambil tertawa.
“Sekarang kau benar-benar terkenal.”
Feng Wuchen hanya menggeleng.
Lalu ia teringat sesuatu.
“Kakak.”
“Hm?”
“Palu yang kubeli dari Paviliun Wanbao waktu itu sudah dilebur?”
Feng Yuan langsung tersenyum.
“Sudah.”
“Dan kau benar.”
“Itu benar-benar mengandung Besi Murni Xuan.”
Mata Feng Wuchen sedikit berbinar.
Feng Yuan tertawa.
“Ayah sampai terkejut ketika melihatnya.”
Kemudian ekspresinya berubah penuh semangat.
“Oh iya.”
“Aku dengar salah satu barang yang dilelang hari ini adalah pedang Alat Pusaka Kualitas Menengah.”
“Begitu Ayah mendengar kabar itu...”
Feng Yuan menggeleng sambil tertawa.
“...dia langsung berangkat lebih dulu ke Paviliun Wanbao.”
Feng Wuchen tersenyum tipis.
Pedang Alat Pusaka Kualitas Menengah?
Kalau hanya itu—
belum tentu cukup menarik perhatiannya.
Namun sebuah pelelangan yang mampu mendatangkan keluarga-keluarga dari berbagai kota...
mungkin menyimpan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sebuah pedang.
......................
Bersambung...
Tolong baca juga karyaku yang lain, dijamin pasti lebih SERU!
#KAISAR KEHIDUPAN DAN KEMATIAN
#AKULAH SANG PENGUASA JIWA
#DEWA PEDANG TANPA TANDING
#AKULAH SANG PEMAKAN TAKDIR