NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...

​Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.

Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.

​Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.

​Bagaimana kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Selasa, 1 November 2016.

Arthur Sterling mengawali pagi dengan dua cangkir kopi yang sebenarnya tidak ia butuhkan.

Cangkir pertama berada di samping laptopnya, sementara cangkir kedua masih berada di tangannya ketika ia menyadari bahwa ia telah membuat kopi terlalu banyak.

Ia menatap kedua cangkir tersebut selama beberapa detik.

"Sepertinya kemampuan mengelola kerajaan bisnis tidak mencakup kemampuan membuat kopi dalam jumlah yang tepat," gumamnya.

Tidak ada yang menjawab.

Apartemen kecilnya masih sunyi. Daniel belum mengirim pesan, Clara belum memberikan kabar mengenai jadwal pertemuan mereka, dan tidak ada surel baru dari Richard Coleman.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, Arthur memiliki waktu untuk memikirkan sesuatu yang tidak berhubungan langsung dengan uang.

Clara.

Sejak pertemuan mereka di halte bus, Arthur semakin menyadari bahwa perempuan itu sedang menghadapi tekanan yang tidak ingin dibicarakannya secara terbuka.

Ia mengingat pria berpenampilan rapi yang menemuinya di kampus. Pria itu berbicara seolah-olah keputusan Clara bukan sepenuhnya miliknya. Ia juga mengatakan akan melaporkan bahwa Clara belum memberikan jawaban.

Kepada siapa laporan itu akan disampaikan?

Keputusan seperti apa yang sedang ditunggu?

Dan mengapa Clara terlihat begitu lelah setiap kali pembicaraan mengenai keluarganya muncul?

Arthur memiliki banyak pertanyaan, tetapi tidak satu pun memberinya hak untuk menuntut jawaban.

Dalam kehidupan pertamanya, ia pernah kehilangan Clara karena terlalu lama membiarkan ketakutannya sendiri menentukan tindakan. Ia mengira bahwa menjaga jarak akan melindunginya dari penolakan, padahal pada akhirnya ia hanya kehilangan kesempatan untuk mengenal perempuan itu lebih dekat.

Kali ini, ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Namun, ia juga tidak ingin berubah menjadi seseorang yang menganggap cinta sebagai alasan untuk mengendalikan kehidupan orang lain.

Arthur menghabiskan kopinya, kemudian kembali menatap laptop.

Ia masih memiliki banyak pekerjaan.

Jika ingin membantu Clara suatu hari nanti, ia harus membangun kehidupan yang memberinya kemampuan untuk benar-benar berguna. Niat baik saja tidak cukup. Ia membutuhkan pengetahuan, sumber daya, dan kemampuan mengambil keputusan yang tidak merugikan orang lain.

Karena itu, ia mengalihkan perhatian pada dokumen yang sedang disiapkannya untuk forum diskusi Meridian Financial Advisory.

Kasus perusahaan ritel tersebut menarik karena masalahnya tidak memiliki satu jawaban sederhana.

Arthur membagi analisisnya menjadi empat bagian: tren penjualan, biaya operasional, perubahan perilaku pelanggan, dan persaingan.

Ia tidak berusaha memperkirakan hasil masa depan perusahaan itu. Ia bahkan belum mengetahui seluruh informasi yang diperlukan.

Sebaliknya, ia menyiapkan pertanyaan yang menurutnya harus dijawab sebelum seseorang berani merekomendasikan perubahan strategi.

Setelah selesai, ia menyimpan dokumen tersebut.

Hari ini, ia akan menyelesaikan tugas kuliah dan memeriksa perkembangan bisnis bersama Daniel.

Besok, ia akan bertemu Clara.

Arthur berharap perempuan itu akan merasa cukup nyaman untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Namun, ia tidak akan memaksanya.

Menjelang pukul sebelas, Arthur tiba di kampus dan menemukan Daniel Brooks sedang berbicara dengan seorang mahasiswa di dekat mesin penjual minuman.

Daniel melambaikan tangan ketika melihatnya.

"Arthur! Kemarilah. Aku ingin memperkenalkan seseorang."

Arthur mendekat.

Mahasiswa yang berdiri di samping Daniel mengenakan jaket biru tua dan membawa tas selempang. Ia tampak berusia sekitar dua puluh satu tahun, dengan rambut cokelat pendek dan wajah yang mudah tersenyum.

"Ini Ethan Parker," kata Daniel. "Dia sedang mengambil beberapa kelas pemrograman dan pernah membantu usaha pamannya memperbaiki sistem pemesanan."

Ethan mengulurkan tangan.

"Daniel bercerita bahwa kalian sedang mencoba membangun usaha pemasaran digital."

Arthur menjabat tangannya.

"Benar. Kami masih kecil, jadi saat ini kami menangani semuanya sendiri."

"Bagaimana pembagian pekerjaannya?"

"Daniel lebih banyak mengurus bagian teknis. Aku menangani strategi, komunikasi dengan pelanggan, dan analisis kebutuhan bisnis."

Ethan mengangguk.

"Aku pernah mencoba membuat situs untuk usaha pamanku. Masalahnya, pemilik usaha sering tidak tahu apa yang mereka butuhkan. Mereka hanya bilang ingin situs yang terlihat modern."

Daniel tertawa.

"Selamat datang di dunia kami."

Ethan tersenyum.

"Pamanku pernah meminta situs yang terlihat seperti perusahaan teknologi besar, padahal yang dia jual adalah perlengkapan kebun."

Arthur tertawa kecil.

"Masalahnya bukan pada keinginannya. Masalahnya adalah apakah tampilan itu membantu pelanggan menemukan barang yang mereka cari."

"Persis!" Ethan tampak senang karena Arthur memahami maksudnya.

Mereka berbincang selama beberapa menit mengenai pengalaman menghadapi pelanggan yang memiliki keinginan berbeda dari kebutuhan bisnis mereka.

Arthur mendengarkan dengan saksama.

Ethan belum memiliki pengalaman profesional yang luas, tetapi ia tampak memahami bahwa teknologi seharusnya menyelesaikan masalah, bukan sekadar menjadi hiasan.

Setelah percakapan berakhir, Ethan berpamitan untuk menghadiri kelas.

Daniel menoleh kepada Arthur.

"Menurutmu bagaimana?"

"Dia tampaknya cukup memahami kebutuhan pengguna."

"Aku berpikir mungkin suatu hari kita bisa bekerja sama dengannya."

Arthur tidak langsung menjawab.

"Suatu hari mungkin. Tetapi sekarang kita belum memiliki cukup banyak pekerjaan untuk membenarkan penambahan orang."

Daniel mengangguk.

"Aku tahu. Aku hanya ingin mulai mengenal orang-orang yang mungkin bisa membantu ketika usaha kita berkembang."

"Itu ide yang bagus. Kita bisa membangun jaringan tanpa terburu-buru merekrut siapa pun."

Arthur menyukai cara Daniel berpikir.

Temannya itu mulai melihat bahwa membangun perusahaan bukan hanya tentang mendapatkan pelanggan. Mereka juga perlu mengenal orang-orang yang memiliki kemampuan berbeda dan memahami bagaimana kemampuan tersebut dapat digunakan pada waktu yang tepat.

Namun, Arthur tidak ingin mengulang kesalahan banyak pengusaha pemula yang menganggap setiap orang berbakat harus segera dijadikan pegawai.

Untuk saat ini, mereka masih harus memastikan bahwa bisnis mereka dapat menghasilkan pendapatan yang cukup dan pekerjaan yang stabil.

Barulah setelah itu mereka dapat mempertimbangkan langkah berikutnya.

Siang harinya, Arthur dan Daniel memeriksa perkembangan proyek Lawson Market.

Peter Lawson telah mengirimkan beberapa catatan tambahan. Data tersebut menunjukkan bahwa sejumlah barang yang tidak tersedia memang beberapa kali ditanyakan pelanggan, tetapi belum cukup untuk menentukan berapa banyak penjualan yang hilang akibat masalah tersebut.

Mereka juga melihat bahwa jumlah transaksi pada sore hari berbeda-beda dari satu hari ke hari lainnya.

Arthur menandai beberapa pertanyaan yang perlu diajukan kepada Peter.

"Apakah pemasok terlambat mengirim barang pada hari-hari tertentu?"

"Apakah ada perbedaan antara hari kerja dan akhir pekan?"

"Apakah jumlah transaksi turun secara konsisten setelah pukul empat, atau hanya pada hari tertentu?"

Daniel membaca daftar itu.

"Kita perlu meminta Peter mencatat lebih banyak informasi."

"Ya, tetapi jangan sampai catatannya terlalu rumit. Kalau dia harus menghabiskan setengah jam setiap hari hanya untuk mengisi formulir kita, kemungkinan besar dia akan berhenti."

Daniel menambahkan kolom sederhana untuk mencatat waktu, jenis barang yang tidak tersedia, dan alasan persediaan kosong jika diketahui.

Mereka kemudian memeriksa halaman promosi.

Daniel telah memperbaiki tampilan ponsel dan memastikan bahwa tombol telepon berfungsi. Arthur memeriksa kembali informasi alamat, jam operasional, serta deskripsi toko.

Tidak ada perubahan besar yang dapat mereka klaim sebagai keberhasilan.

Namun, pekerjaan mereka mulai memiliki bentuk yang lebih jelas.

"Kita sebaiknya menyelesaikan halaman ini besok," kata Daniel. "Setelah itu, kita bisa menyerahkannya kepada Peter untuk diperiksa."

Arthur mengangguk.

"Dan kita harus menjelaskan bahwa halaman tersebut hanya satu bagian dari proyek. Kita masih perlu mengevaluasi hasilnya setelah informasi diperbarui."

Daniel menutup laptop.

"Baiklah. Aku akan menyelesaikan bagian teknis malam ini."

"Jangan bekerja sampai terlalu larut."

Daniel menatapnya dengan curiga.

"Sejak kapan kau menjadi orang yang menyuruhku beristirahat?"

Arthur hampir tertawa.

Ia tidak bisa menjelaskan bahwa dalam kehidupan pertamanya, ia telah melihat bagaimana kebiasaan mengabaikan kesehatan demi pekerjaan dapat merusak kehidupan seseorang secara perlahan.

"Aku hanya tidak ingin kau membuat kesalahan pada situs karena terlalu lelah."

Daniel mengangguk seolah-olah menerima penjelasan itu.

"Alasan yang masuk akal. Aku akan berhenti setelah selesai memeriksa tautan."

Arthur tidak memperpanjang percakapan.

Ia tahu bahwa mengubah kebiasaan seseorang membutuhkan lebih dari satu nasihat.

Untuk saat ini, ia hanya bisa memastikan bahwa mereka membangun bisnis dengan cara yang lebih sehat daripada cara yang pernah ia jalani sendiri.

Sore itu, Arthur menerima surel dari Thomas Miller, pemilik Miller's Corner Café.

Thomas berterima kasih atas proposal yang dikirimkan sehari sebelumnya. Ia tertarik memperbarui informasi kedainya, tetapi ingin mengetahui apakah pekerjaan tersebut dapat dimulai dengan ruang lingkup yang lebih kecil.

Arthur membaca pesan itu dengan teliti.

Thomas tidak menolak.

Ia hanya ingin mengurangi risiko pengeluaran karena kondisi bisnisnya belum stabil.

Arthur memahami alasan tersebut.

Ia membalas bahwa mereka dapat memulai dengan memperbarui jam operasional, nomor telepon, alamat, serta beberapa foto terbaru. Setelah itu, mereka dapat membicarakan pekerjaan tambahan jika Thomas merasa hasil awalnya bermanfaat.

Namun, Arthur juga menjelaskan bahwa mereka perlu menyesuaikan harga dengan ruang lingkup yang dipilih dan tidak bisa menjanjikan peningkatan penjualan.

Setelah mengirimkan balasan, ia memberi tahu Daniel.

Daniel menjawab beberapa menit kemudian.

Ini berarti kita mungkin mendapatkan pelanggan baru.

Arthur membalas:

Mungkin. Tunggu sampai dia menyetujui ruang lingkup dan harga secara tertulis.

Daniel mengirimkan simbol jempol.

Arthur tersenyum.

Dalam kehidupan pertamanya, ia pernah melihat perusahaan kehilangan uang karena menganggap minat pelanggan sebagai kontrak yang sudah pasti. Ia tidak ingin membangun bisnis berdasarkan harapan.

Ia ingin setiap kesepakatan memiliki batas yang jelas.

Pekerjaan yang dilakukan.

Biaya yang dibayarkan.

Waktu penyelesaian.

Dan hasil yang dapat dievaluasi.

Sederhana, tetapi penting.

Rabu, 2 November 2016.

Arthur tiba di perpustakaan kampus sedikit lebih awal dari jadwal pertemuannya dengan Clara.

Ia memilih meja dekat jendela, mengeluarkan buku catatan, lalu mencoba membaca beberapa halaman materi kuliah.

Namun, perhatiannya sesekali beralih ke pintu masuk.

Ia tidak ingin mengakui bahwa dirinya gugup.

Setelah puluhan tahun menjalani kehidupan pertama, ia pernah berbicara dengan para pemimpin perusahaan, pejabat pemerintah, dan investor yang mengelola kekayaan luar biasa besar.

Tetapi duduk menunggu Clara ternyata menimbulkan perasaan yang jauh lebih sulit dijelaskan.

Ia menghela napas, kemudian kembali membaca.

Beberapa menit kemudian, Clara muncul di pintu perpustakaan.

Ketika melihat Arthur, ia melambaikan tangan kecil dan berjalan menuju meja.

"Maaf membuatmu menunggu."

"Kau tidak terlambat. Aku baru datang."

Clara duduk dan meletakkan tasnya di kursi sebelah.

Untuk beberapa saat, ia tampak ragu hendak memulai dari mana.

Arthur menutup bukunya.

"Kau bilang ingin membicarakan sesuatu. Aku mendengarkan."

Clara menatap permukaan meja.

"Aku ingin bertanya tentang sesuatu, tetapi aku tidak yakin apakah aku seharusnya membicarakannya denganmu."

Arthur tidak langsung menjawab.

"Kau tidak harus menceritakan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman. Kita bisa membicarakan bagian yang ingin kau bicarakan saja."

Clara mengangguk perlahan.

"Ini tentang keluargaku."

Arthur tetap diam, memberikan kesempatan kepadanya untuk melanjutkan.

"Sejak kecil, aku selalu diberi tahu bahwa ada keputusan tertentu yang harus diambil demi kepentingan keluarga. Pendidikan, kegiatan yang kuikuti, orang-orang yang harus kukenal... semuanya seolah-olah sudah memiliki jalurnya sendiri."

Ia berhenti sejenak.

"Aku tahu keluargaku ingin yang terbaik untukku. Aku juga tahu bahwa mereka memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak daripada aku. Tetapi akhir-akhir ini, aku merasa bahwa mereka tidak benar-benar bertanya apa yang kuinginkan."

Arthur merasakan dadanya mengencang.

Ia teringat kembali pria yang pernah menemuinya di kampus.

Namun, ia tidak menyela.

Clara melanjutkan, suaranya lebih pelan.

"Ada sebuah rencana yang sudah dibicarakan keluarga selama beberapa waktu. Mereka menganggap aku hanya perlu menyetujuinya. Ketika aku meminta waktu, mereka mulai memperlakukanku seolah-olah aku sedang membuat masalah."

"Apakah kau sudah mengatakan dengan jelas mengapa kau membutuhkan waktu?" tanya Arthur.

Clara mengangguk.

"Sudah. Tetapi mereka mengatakan bahwa aku terlalu banyak berpikir."

Arthur menimbang jawabannya dengan hati-hati.

"Aku tidak tahu seluruh keadaan keluargamu, jadi aku tidak bisa mengatakan apakah rencana mereka baik atau buruk. Tetapi menurutku, meminta waktu untuk memahami sebuah keputusan besar bukanlah sesuatu yang salah."

Clara menatapnya.

"Bagaimana kalau keputusan itu sebenarnya menguntungkan semua orang?"

"Kalau memang begitu, mereka seharusnya bisa menjelaskan alasannya dan memberimu kesempatan untuk memahaminya. Keputusan yang menguntungkan banyak orang belum tentu berarti tidak ada konsekuensi bagi dirimu."

Clara terdiam.

Arthur melanjutkan dengan suara tenang.

"Kau boleh mempertimbangkan kepentingan keluarga. Kau juga boleh mendengarkan orang yang lebih berpengalaman. Tetapi jika keputusan itu akan memengaruhi hidupmu, menurutku perasaan dan keinginanmu sendiri tetap perlu diperhitungkan."

Clara menunduk, memainkan ujung lengan mantelnya.

"Aku takut jika aku menolak, semuanya akan berubah."

Arthur memahami ketakutan itu.

Ia tidak tahu seberapa besar pengaruh keluarga Clara, tetapi ia dapat membayangkan bahwa menolak harapan orang-orang terdekat bukanlah perkara mudah.

"Perubahan memang menakutkan," katanya. "Terutama kalau kita belum tahu apa yang akan terjadi setelahnya."

Ia berhenti sejenak.

"Tapi kau tidak harus memilih antara menyetujui semuanya sekarang atau memutuskan hubungan dengan keluargamu. Mungkin ada hal-hal yang masih bisa dibicarakan. Mungkin ada waktu untuk mencari pilihan lain. Aku tidak tahu apakah itu akan berhasil, tetapi kau berhak mempertimbangkannya."

Clara mengangkat wajah.

"Kau tidak akan menyuruhku melawan mereka?"

Arthur menggeleng.

"Itu keputusanmu, Clara. Aku bisa mendengarkan, membantu memikirkan pilihan yang tersedia, atau sekadar menemanimu jika kau membutuhkannya. Tetapi aku tidak ingin mengambil keputusan untukmu."

Untuk beberapa detik, Clara hanya menatapnya.

Kemudian, sesuatu dalam ekspresinya tampak melunak.

"Terima kasih," katanya lirih. "Aku tidak tahu kenapa, tetapi berbicara denganmu membuatku merasa sedikit lebih tenang."

Arthur tersenyum tipis.

"Aku senang kalau itu membantu."

Ia ingin mengatakan lebih banyak.

Ia ingin mengatakan bahwa dalam kehidupan lain, ia telah kehilangan kesempatan untuk mengenal Clara dengan baik. Ia ingin berjanji bahwa ia akan melakukan apa pun untuk memastikan perempuan itu tidak mengalami penderitaan yang sama seperti yang pernah ia dengar dalam kisah masa lalu.

Namun, semua itu akan menjadi beban yang tidak seharusnya diletakkan di pundak Clara.

Ia belum mengetahui seluruh kebenaran.

Dan Clara belum mengenalnya sedalam itu.

Jadi, Arthur memilih untuk tetap berada di sisinya sebagai seseorang yang bersedia mendengarkan.

Setelah beberapa saat, Clara mengeluarkan ponselnya dan memeriksa waktu.

"Aku harus pergi. Ada urusan yang perlu kuselesaikan sebelum malam."

Arthur mengangguk.

"Baik. Kalau kau ingin berbicara lagi, kau bisa menghubungiku."

Clara berdiri, lalu berhenti sejenak.

"Arthur?"

"Ya?"

"Jangan berubah menjadi orang yang selalu merasa harus menyelesaikan masalah semua orang."

Arthur terkejut.

Clara tersenyum kecil.

"Kau terlihat seperti seseorang yang selalu ingin memastikan semuanya berjalan dengan benar. Itu bagus, tetapi kau juga tidak bisa mengendalikan semuanya."

Arthur tertawa pelan.

"Kau baru saja menggunakan nasihatku untuk menasihatiku kembali."

"Mungkin karena nasihatmu memang masuk akal."

Clara melambaikan tangan sebelum berjalan meninggalkan perpustakaan.

Arthur memperhatikannya sampai perempuan itu menghilang di balik pintu.

Ia kemudian duduk kembali.

Perbincangan tadi tidak memberinya seluruh jawaban yang ia cari. Ia masih tidak tahu rencana apa yang sedang dipaksakan kepada Clara, siapa pria yang menemui perempuan itu, atau bagaimana keluarganya akan bereaksi jika Clara terus menolak.

Namun, ia mengetahui satu hal penting.

Clara tidak membutuhkan seseorang yang datang untuk mengambil alih hidupnya.

Ia membutuhkan kesempatan untuk membuat keputusan sendiri.

Dan jika Arthur ingin menjadi bagian dari kehidupannya, ia harus belajar menghormati hal itu.

Malam harinya, Arthur menghadiri forum diskusi di kantor Meridian Financial Advisory.

Ruang pertemuan itu tidak terlalu besar. Ada sekitar dua belas peserta, sebagian mahasiswa, sebagian analis muda, dan beberapa pegawai perusahaan yang bertugas memandu diskusi.

Nathan Brooks menyambut Arthur di pintu.

"Senang kau bisa datang," katanya. "Aku sudah membaca beberapa catatanmu tentang perusahaan ritel itu."

Arthur berjabat tangan dengannya.

"Aku masih belum yakin apakah pertanyaanku sudah mencakup seluruh masalah yang ada."

"Itulah gunanya diskusi."

Nathan memperkenalkan Arthur kepada beberapa peserta lain, kemudian mereka mengambil tempat duduk.

Seorang analis senior bernama Laura Bennett memimpin pembahasan. Ia menjelaskan bahwa tujuan diskusi bukan mencari satu jawaban yang pasti benar, melainkan menguji asumsi dan memahami informasi yang masih kurang.

Arthur menyukai pendekatan tersebut.

Para peserta mulai membahas perusahaan ritel yang menghadapi perlambatan pertumbuhan. Beberapa orang berpendapat bahwa perusahaan harus mengurangi biaya operasional. Yang lain menyarankan agar perusahaan meningkatkan belanja pemasaran dan memperluas layanan digital.

Ketika tiba gilirannya, Arthur menyampaikan pandangannya.

"Saya kira kita perlu membedakan masalah pendapatan dan masalah biaya sebelum merekomendasikan tindakan. Jika penurunan penjualan terkonsentrasi pada beberapa cabang, memperbaiki seluruh jaringan mungkin tidak efisien. Tetapi jika pelanggan meninggalkan perusahaan karena pengalaman belanja yang lebih buruk dibandingkan pesaing, pemotongan biaya secara menyeluruh justru bisa memperparah keadaan."

Laura mengangguk.

"Bagaimana Anda akan menentukan cabang mana yang perlu diperbaiki?"

"Saya akan membandingkan tren penjualan, jumlah transaksi, nilai pembelian rata-rata, dan margin setiap cabang. Setelah itu, saya akan memeriksa apakah perbedaan kinerja berkaitan dengan lokasi, ketersediaan barang, atau perubahan perilaku pelanggan."

"Dan jika data tersebut tidak tersedia?"

Arthur menjawab tanpa ragu.

"Saya akan menyebutkannya sebagai keterbatasan analisis. Kita bisa membuat hipotesis, tetapi saya tidak akan menyajikannya sebagai kesimpulan yang sudah terbukti."

Beberapa peserta mengangguk.

Diskusi berlanjut selama hampir satu jam. Arthur tidak selalu setuju dengan pendapat orang lain, tetapi ia berusaha memahami dasar pemikiran mereka sebelum memberikan tanggapan.

Pada akhir acara, Laura menghampirinya.

"Anda mahasiswa tahun kedua?"

"Benar."

"Anda cukup terstruktur dalam menyusun pertanyaan. Apakah Anda pernah bekerja di perusahaan konsultasi?"

"Belum. Saya hanya membantu beberapa usaha kecil bersama teman saya."

Laura tampak tertarik.

"Menarik. Pengalaman langsung dengan usaha kecil terkadang mengajarkan hal-hal yang tidak kita temukan dalam laporan perusahaan besar."

Arthur tersenyum.

"Saya masih belajar."

"Bagus. Jangan kehilangan kebiasaan itu."

Laura kemudian menjelaskan bahwa Meridian sesekali mengadakan diskusi serupa. Ia tidak menawarkan pekerjaan, tetapi mengatakan Arthur dapat menghubunginya jika ingin menghadiri pertemuan berikutnya.

Arthur mengucapkan terima kasih dan mencatat alamat surel profesionalnya.

Ketika meninggalkan gedung, ia menyadari bahwa hari itu telah memberinya dua pelajaran yang berbeda.

Clara mengingatkannya bahwa kepedulian tidak berarti mengambil alih keputusan orang lain.

Sementara itu, forum Meridian mengingatkannya bahwa pengetahuan tidak berarti seseorang memiliki semua jawaban.

Kedua hal tersebut terdengar sederhana.

Namun, Arthur tahu bahwa ia harus mengingatnya jika ingin membangun kehidupan yang berbeda dari masa lalunya.

Ia berjalan menuju stasiun kereta, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket, lalu menatap jalanan Manhattan yang dipenuhi cahaya.

Masa depannya masih jauh dari pasti.

Tetapi untuk pertama kalinya, ketidakpastian itu tidak hanya terasa seperti ancaman.

Ia juga mulai melihatnya sebagai ruang untuk memilih.

1
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
saras
keren siiib ceritanya👍👍👍
saras
👍
saras
semangaaaaaat💪💪💪💪💪👍
saras
ssemangat tor
saras
🙏🙏💪
saras
👍
saras
👍💪
saras
👍
saras
novel yang bagus. lanjutkan tor semangat bikin cerita yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!