"Kamu menghancurkan mimpiku demi ambisimu, dr. Naya. Sekarang, giliran aku yang akan menghancurkan segalanya darimu."
Tujuh tahun lalu, Aksa Dirgantara dibuang secara tak hormat dari fakultas kedokteran akibat sebuah skandal kelam. Ia kehilangan masa depan, harga diri, dan wanita yang paling dicintainya, Naya—yang ia yakini telah memfitnahnya demi merebut satu-satunya kuota beasiswa spesialis bedah ke luar negeri.
Kini, Aksa kembali. Bukan lagi sebagai pria yang bermimpi memakai jas putih, melainkan sebagai CEO miliarder dingin dan tak kenal ampun yang baru saja mengakuisisi rumah sakit tempat Naya bekerja. Niat Aksa hanya satu: menghancurkan karir gemilang Naya yang kini telah sukses menjabat sebagai Kepala Bedah, dan memaksanya berlutut di bawah kakinya.
Siksaan demi siksaan diberikan. Aksa mencekiknya dengan jadwal operasi yang mustahil, tekanan dari para direksi, dan hinaan yang menggores harga diri. Namun, betapapun kerasnya Aksa menyiksa, Naya tetap berdiri tegak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.Kehampaan Sang CEO
"Silakan pergi keluar! Pintu rumah sakit ini terbuka sangat lebar untuk dokter cacat yang tidak becus sepertimu!" ejek Bima dengan suara lantang memecah keheningan.
Naya sama sekali tidak menoleh. Tubuh mungilnya berjalan gontai, perlahan menghilang di balik pintu kayu ruang rapat komite. Bunyi pintu yang tertutup rapat menjadi penanda pahit berakhirnya karir gemilang sang Kepala Bedah Umum.
Ruangan kembali sunyi senyap. Dokter Hendra dan beberapa dokter senior lain hanya bisa menunduk dalam-dalam. Wajah mereka pucat pasi dan dipenuhi rasa bersalah. Tidak ada satu pun yang berani bersuara untuk sekadar membela atau menahan kepergian Naya.
"Nah, Pak Aksa," ucap Bima dengan senyum lebar, menggosok kedua telapak tangannya dengan sangat puas. "Masalah benalu di rumah sakit ini sudah selesai tuntas. Sebentar lagi aku akan langsung menyuruh HRD membuka lowongan untuk mencari Kepala Bedah Umum yang baru. Kita butuh orang yang lebih penurut dan tentu saja lebih kompeten."
Namun, Aksa sama sekali tidak menjawab.
Tatapan mata pria tinggi besar itu terkunci rapat pada jas putih snelli yang teronggok pasrah di tengah meja kayu. Jas kebanggaan Naya yang dilempar begitu saja lengkap dengan kartu nama yang tergeletak di sampingnya.
Noda darah segar di kain putih itu terlihat sangat kontras dan mengerikan. Darah itu menetes pelan ke atas meja, membentuk genangan kecil berwarna merah pekat.
Itu darah Naya. Darah wanita yang dulu pernah ia cintai setengah mati. Wanita yang mati-matian ia hancurkan hari ini dengan kedua tangannya sendiri.
Aksa merasa napasnya tertahan di tenggorokan. Ia sudah merencanakan momen balas dendam ini berbulan-bulan lamanya. Ia membayangkan Naya akan menangis histeris, berlutut memohon ampun di kakinya, hancur lebur tanpa sisa. Namun, saat kemenangan telak itu benar-benar terjadi tepat di depan matanya, dada Aksa justru terasa kosong melompong. Kekosongan yang menyiksa dan mencekik paru-parunya.
Naya tidak memohon belas kasihan. Wanita itu justru menatapnya dengan kekecewaan yang sukses membuat nyali Aksa ciut sesaat. Dan darah sebanyak ini... apakah pergelangan tangan Naya benar-benar hancur permanen?
Insting bisnis dan ketajaman Aksa yang biasa ia gunakan untuk memimpin perusahaan besar mendadak berteriak nyaring memperingatkannya. Ada sesuatu yang sangat tidak beres. Sorot mata Naya tadi menyiratkan kejujuran yang menyakitkan, murni dari rasa putus asa. Itu bukan kebohongan dari orang yang sedang panik mencari alasan.
"Bima," panggil Aksa dengan suara berat dan sangat dingin, memotong tawa pelan pria buncit itu.
"Siap, Pak Aksa?" sahut Bima cepat.
Aksa mengalihkan pandangannya dari jas putih itu, menatap lurus ke arah Bima. Sorot matanya setajam silet yang siap menguliti mangsanya. "Kamu bilang Naya merusak alat bedah itu karena panik?"
"Be-benar, Pak Aksa. Alat pembuka tulang dada itu sangat kuat, mustahil patah kalau tidak dipaksa dengan tenaga gila-gilaan," jawab Bima sedikit gugup melihat perubahan raut wajah sang bos.
Aksa merogoh saku dalam jas mahalnya, mengeluarkan ponsel dan menekan satu tombol panggilan cepat. "Dimas, masuk ke ruang rapat komite sekarang juga. Jangan buang waktu."
Kurang dari sepuluh detik, pintu terbuka. Asisten pribadi Aksa yang berwajah tegas dan memakai setelan jas hitam rapi melangkah masuk dengan langkah cepat.
"Ada perintah, Pak Aksa?" tanya Dimas sigap.
"Kerahkan tim keamanan internal perusahaan kita dari kantor pusat. Jangan pakai satpam rumah sakit," perintah Aksa tajam tanpa basa-basi. "Segel ketat ruang operasi VVIP tempat Menteri Wijaya ditangani tadi. Sita paksa semua rekaman CCTV di lorong ruang bedah, ruang sterilisasi, sampai area gudang farmasi. Bawa semua sisa alat medis dan mesin anestesi yang dipakai Naya ke laboratorium independen hari ini juga."
Bima langsung membelalakkan matanya ngeri. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras di pelipisnya.
"Tunggu dulu, Pak Aksa! Untuk apa repot-repot melakukan itu semua?" protes Bima panik. "Kasusnya sudah sangat jelas. Naya yang bersalah total. Kalau Bapak menyegel paksa ruang operasi, jadwal bedah dokter lain bisa berantakan!"
Aksa berdiri perlahan dari kursinya. Postur tubuhnya memancarkan aura intimidasi yang luar biasa pekat, membuat Bima otomatis mundur selangkah ketakutan.
"Aku tidak butuh saran dan pendapatmu, Bima," desis Aksa sangat tajam. "Kalau memang Naya yang bersalah, penyelidikan independen ini hanya akan memperkuat buktinya. Tapi kalau sampai aku menemukan ada tikus kotor yang berani bermain di belakang punggungku dan menipuku mentah-mentah..."
Aksa sengaja membiarkan kalimatnya menggantung di udara, namun ancaman mematikan dari kilat matanya sudah cukup membuat lutut Bima gemetar tak bertulang. Pria buncit itu menelan ludah susah payah, wajahnya memucat seperti mayat hidup.
"Laksanakan perintahku sekarang, Dimas. Jangan biarkan siapa pun menyentuh barang bukti itu. Siapa pun," tegas Aksa melirik Bima dengan tatapan menguliti.
"Siap, laksanakan!" Dimas langsung berbalik cepat meninggalkan ruangan untuk menjalankan eksekusi pembuktian tersebut.
Ruang komite kembali dilanda ketegangan yang sangat menyesakkan dada. Para dokter senior saling bertukar pandang dengan cemas. Departemen bedah sedang kacau balau karena kehilangan Naya secara tiba-tiba, dan kini sang CEO bertingkah seperti predator yang sedang mengendus bau darah mangsa barunya.
Aksa kembali menunduk menatap jas putih berdarah di atas meja. Tangannya terulur pelan, menyentuh kain kasar itu. Ujung jarinya menempel pada noda darah merah yang mulai mengering.
Udara di sekitarnya terasa semakin menipis. Bayangan wajah Naya yang memucat menahan sakit luar biasa terus berputar-putar di dalam kepalanya seperti kaset rusak yang menyiksa batin.
Apa yang sebenarnya sudah aku lakukan? batin Aksa berkecamuk hebat.
Waktu terus berjalan lambat seolah sengaja menyiksa semua orang di sana. Aksa menolak beranjak dari ruangan itu. Pria itu duduk kembali di kursinya seperti patung bernyawa. Sementara Bima dan para dokter komite lain terkurung dalam ketakutan, sama sekali tidak berani pamit keluar meninggalkan bos besar mereka yang sedang memancarkan hawa membunuh.
Satu jam penuh berlalu dalam keheningan yang sangat menyiksa.
Pintu ruang rapat akhirnya didorong terbuka kembali dengan tergesa-gesa. Dimas melangkah masuk setengah berlari. Napas asisten pribadi itu memburu pelan. Namun, yang membuat Aksa langsung berdiri dari kursinya adalah raut wajah sang asisten.
Wajah Dimas terlihat sangat pucat pasi dan tegang, seolah baru saja melihat setan di siang bolong. Ia membawa sebuah tablet digital di tangan kirinya dan kantong plastik bening berisi patahan logam berdarah di tangan kanannya.
Dimas berjalan cepat mendekati Aksa, sama sekali mengabaikan tatapan panik Bima yang terus mengawasinya.
"Pak Aksa," panggil Dimas dengan suara bergetar tertahan.
Aksa mengerutkan kening tajam. "Katakan padaku apa yang berhasil kamu temukan, Dimas. Jangan buang waktuku."
Dimas menelan ludah kasar. Asisten itu menatap bosnya dengan sorot mata penuh ketakutan sebelum memberikan laporan fatal tersebut.
"Pak, alat bedah itu memang murni cacat produksi. Bahan logamnya sangat rapuh dan dicampur dengan material rongsokan," ucap Dimas terbata-bata. "Dan yang lebih parah... rekaman kamera tersembunyi menunjukkan ada orang yang sengaja merusak katup oksigen mesin anestesi dari dalam, tepat sebelum Dokter Naya masuk ke ruang operasi."
semoga km bisa sembuh kembali ,, rasa sakit ini akan terbayar dg kembali ny tangan mu yg berfungsi dg normal
si bima jgn sampe kluar lagi dr penjara ,, biarin bocah tantrum tu duduk manis di penjara selama-lamanya 😏
koq gx ngundang2🤔
pijat aja semua...obatin aja...kalo perlu operasi jg sendiri...dokter lain mah cm remahan peyek...serah lu dah...gw yg cm baca tapi pengen nyakar lu Aksa 😤
mau liat Naya cepat sembuh gx ,, cemburu ny simpan dlu di kantong celana pak bos ,,
..yg bikin kek gini sapa cobak??? trus skrg butuh tenaga fisioterapi msh jg dicemburuin??? mau kau apa Bambang???😤😤😤
cerita ny seruuu ,,
semoga Naya bisa sembuh lgi tangan ny ,,
lanjuuut kak