NovelToon NovelToon
Jatuhkan Talakmu, Gus

Jatuhkan Talakmu, Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:141.1k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Satu tahun aku menjaga kehormatan pernikahan ini. Satu tahun aku bersabar menanti kesiapanmu menyentuhku. Namun, di hari jadi pernikahan kita, Allah justru menyentakku dengan kebenaran yang mengoyak dada. Kau tidak menyentuhku bukan karena belum siap, Gus...tapi karena hatimu telah kau habiskan untuk santrimu sendiri."
Demi menjadi istri berbakti bagi Gus Reyhan, Adskhania Nayara melepas impian besarnya menjadi seorang dokter psikiater. Dia mengabdi di pesantren, dicintai mertua, dan dihormati para santri. Namun, predikat 'Ning' ternyata hanya mahkota berduri. Tepat di usia pernikahan yang pertama, Naya mendapati fakta bahwa suaminya telah menikah siri dengan seorang santriwati.
Di hadapan Sang Mertua yang menangis menahan malu atas kelakuan putranya, Naya berdiri tegak dengan sisa-sisa harga dirinya yang hancur. Tidak ada lagi air mata untuk penolakan yang sia-sia.
Dengan lantang, di atas kesuciannya yang masih utuh, Naya bersuara: "Di depan Abi dan Umi, jatuhkan talakmu, Gus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

(Flashback ke awal pertemuan Reyhan dan Rani)

Dua tahun lalu. Pagi itu, udara Pacet yang biasanya lembap diguyur gerimis tipis terasa menusuk tulang. Rani muda—yang kala itu baru menginjak usia delapan belas tahun dan berstatus mahasiswi semester awal—berlari tergesa-gesa menyusuri bahu jalan raya. Gamis tuanya berkibar diterpa angin pagi. Sepatunya yang tipis terus menjejak genangan air. Ia sudah terlambat mengikuti ujian pertama di kampusnya, sementara angkutan umum yang biasa melintas di dekat gapura pesantren tak kunjung kelihatan.

Dalam kepanikan yang membuncah, Rani melangkah terlalu ke tengah jalan tanpa memperhatikan arah tikungan.

Sreeekkk!

Decit rem mobil menyayat heningnya jalanan pegunungan. Sebuah sedan putih berhenti mendadak, hanya beberapa senti sebelum menyenggol tubuh Rani. Kaget yang teramat sangat membuat keseimbangan gadis itu runtuh. Ia jatuh terduduk di aspal yang basah. Lutut dan pergelangan kakinya menghantam permukaan kasar, menimbulkan rasa nyeri yang merambat cepat ke paha.

"Astagfirullahal'adzim!"

Pintu depan mobil terbuka cepat. Kang Ma'ruf, pengemudi setia keluarga ndalem, keluar dengan wajah panik. 

"Mbak! Mbak tidak apa-apa?"

Belum sempat Rani menjawab, pintu penumpang depan mengayun terbuka. Dari sana, melangkah keluar seorang pria muda berpakaian koko putih bersih dan peci hitam yang bertengger rapi. Posturnya tinggi, perawakannya tegap, dan garis wajahnya memancarkan aura ketampanan khas Timur Tengah yang dipadu kesederhanaan pesantren. Itu adalah kepulangan pertamanya ke Indonesia setelah menyelesaikan semester akhir di Universitas Al-Azhar, Kairo.

Pria itu mendekat dengan langkah tenang namun guratan cemas terpancar dari matanya. "Kang Ma'ruf, bagaimana keadaan gadis ini?"

Rani mendongak perlahan. Saat matanya beradu dengan tatapan tajam nan tenang milik pria di hadapannya, dada Rani berdesir hebat. Jantungnya berdegup tak beraturan, bagai ditabuh drum tanpa henti.

Siapa santriwati Al-Anwar yang tidak mengenal nama Muhammad Reyhan Al-Fatih? Putra tunggal Kyai Ahmad yang menjadi sosok idola tersembunyi bagi hampir seluruh santri putri. Cerdas, lulusan Mesir, bertubuh gagah, dan bergaris keturunan ulama terpandang. 

Selama ini Rani hanya bisa melihat sosoknya dari jauh melalui foto-foto kegiatan alumni atau cerita para ustadzah. Hari itu, sosok imajiner yang dipuji-puji banyak orang berdiri hanya satu meter di depannya.

"Kakiku... cuma sedikit terkilir, Kang," cicit Rani parau. Ia tergesa merapikan bagian bawah gamisnya, meremas jemarinya yang dingin karena canggung dan terpesona.

Reyhan merendahkan pandangannya, menjaga batasan mata agar tidak terlalu lama menatap gadis asing itu. Namun, ia melihat gumpalan darah tipis yang mulai merembes dari balik kaos kaki cokelat Rani.

"Tidak bisa ditinggal begitu saja. Lukanya harus dibersihkan di klinik," ujar Reyhan tegas. Suaranya terdengar berat dan hangat, tipe suara yang dengan mudah membuai siapa pun yang mendengarnya. "Kang Ma'ruf, bantu bawa barang-barangnya ke dalam mobil. Kita mampir ke klinik terdekat sebelum pulang ke ndalem."

"Jangan, Gus... saya bisa jalan sendiri. Saya ada ujian di kampus," tolak Rani memohon, bibirnya gemetar. Wajahnya yang tampak rapuh dan kepolosannya yang tak terbiasa berhadapan dengan lawan jenis seketika memantik insting alami Reyhan—seorang pria muda yang merasa berkuasa dan ingin menjadi pahlawan.

"Kuliahmu bisa menunggu sebentar, tapi luka terinfeksi tidak bisa," pangkas Reyhan tanpa bantahan, walau nadanya tetap mengayun halus. "Masuklah ke kursi belakang."

Selama perjalanan menuju klinik kecil di kawasan Trawas, Rani hanya menundukkan kepala dalam-dalam di kursi belakang. Isak pelan beberapa kali lolos dari bibirnya, lebih karena rasa tidak percaya dan gejolak asing di dadanya daripada sakit di kakinya.

Dari kaca spion tengah, Reyhan sesekali mencuri pandang. Melihat bahu mungil gadis di belakangnya yang berguncang pelan, timbul rasa iba yang aneh di hatinya.

"Mbak ini asli mana?" tanya Kang Ma'ruf memecah keheningan mobil yang kaku.

"K-Kediri, Kang," jawab Rani pelan, tetap menunduk. "Saya... saya santriwati kompleks Marwah di Al-Anwar."

Reyhan yang sedang mengamati deretan pohon pinus di luar jendela seketika menoleh ke arah Kang Ma'ruf, lalu matanya bergulir menatap bayangan Rani di kaca spion. Ada sedikit kilat keterkejutan di manik matanya.

"Santri Al-Anwar?" bisik Reyhan halus, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang tak terlihat oleh siapa pun. "Ternyata santrinya Abi."

Pertemuan tak sengaja di jalanan dingin Pacet pagi itu menjadi benih tak kasatmata. Bagi Reyhan, Rani adalah manifestasi dari kepolosan, kepatuhan, dan rasa kagum tanpa batas—sesuatu yang nantinya tidak ia temukan dalam hubungan perjodohannya yang teratur dan penuh kesetaraan bersama Naya. Sedangkan bagi Rani, sapuan perhatian pertama dari sang putra mahkota adalah pintu masuk menuju obsesi terselubung untuk memiliki posisi di ndalem utama, apa pun taruhannya.

**

Aroma kayu jati tua dan rempah wangi yang biasanya menenangkan di ndalem utama, sore itu justru terasa asing dan menekan dada Rani. Angin dingin dari lereng Gunung Welirang menyelusup melalui celah jendela kaca berukir, membawa hawa membeku yang membuat jemari tangannya tak berhenti gemetar.

Rani berdiri kaku di tengah kamar barunya. Di atas dipan ukir bersepuh cokelat tua itu, sprei linen putih tertata rapi tanpa cela. Namun, tidak ada hangat kehidupan di sana. Ruangan itu terasa begitu dingin, sunyi, dan hampa, persis seperti tatapan mata Reyhan sewaktu menyuruhnya memindahkan barang-barang dari asrama Marwah beberapa jam yang lalu.

Reyhan tidak mengantarnya melangkah masuk. Pria itu memilih memutar haluan, berjalan tergesa menuju ndalem timur dengan bahu merosot dan wajah nanar yang dipenuhi kekacauan batin. Reyhan membiarkan Rani melangkah sendirian melintasi lorong tengah ndalem, membawa tas pakaian dan beban tatapan heran dari para abdi dalem.

Tidak ada sambutan hangat. Tidak ada hamparan karpet merah atau senyum pimpinan pesantren yang memberkahi ikatan mereka. Kyai Ahmad sedang berada di kompleks santri putra, menyibukkan diri dalam deretan kitab dan majelis agar tak perlu menatap wajah putranya yang telah mencoreng kehormatan keluarga. Bu Nyai Khadijah memilih bertahan di pendopo samping, memimpin sema'an Al-Qur'an bersama para santriwati junior dengan suara parau yang menahan duka.

Hanya Mbak Zaenab—pengurus ndalem paling senior—yang membukakan pintu kamar ini. Perempuan itu menyerahkan kunci tanpa mengumbar kata, hanya memberikan satu tatapan dingin yang sarat kekecewaan sebelum berbalik memunggungi Rani.

Rani melangkah pelan mendekati meja rias kayu di sudut kamar. Di atas permukaan kaca yang bersih berseri, ia menemukan sebuah wadah porselen kecil berisi minyak aroma terapi lavender yang masih menyisa wangi lembut. Itu milik Naya. Jejak keanggunan dan keberadaan wanita berpendidikan itu masih tertinggal utuh di setiap sudut ruangan, seolah mempertegas status Rani yang hanya seorang penyusup di dalam rumah ini.

Rani meremas kain gamisnya. Kemenangan yang selama sebelas bulan ini ia impikan—menjadi bagian dari ndalem utama, disandingkan secara terbuka bersama putra mahkota Al-Anwar—ternyata terasa begitu hambar dan menakutkan.

Rasa percaya dirinya yang dulu membumbung tinggi saat menerima janji-janji manis Reyhan di balik dinding mushola kini runtuh. Bagaimana ia harus berhadapan dengan Bu Nyai yang menyayanginya sebagai santri berprestasi namun kini memandangnya sebagai penghancur kebahagiaan menantu kesayangannya? Bagaimana ia bisa menatap mata Kyai Ahmad tanpa rasa bersalah yang menggerogoti jiwanya?

Isak pelan lolos dari bibir Rani. Ia melangkah menuju jendela, menatap ke arah pelataran depan.

***

1
enungdedy
heleh...gak jelas nih si reyhan
klo gk cinta knp gk dilepas aja sekalian rani
malah dijemput sruh kembali..kesenengan kan tuh sih rani jadinya..
enungdedy
trus hub rani sm reyhan gmn tuh?msih sah suami istti belum?krn rani pergi tnpa ada kata talak dri reyhan
enungdedy
knp gk dilepasin aja sih rani klo emg gak cinta gus
Anonim
Baper aku
enungdedy
kpn gak ditalak aja si rani klo emg reyhan mau mempertahannkan naya
enungdedy
dri kmrin maju mundur mau baca novel.ini..gk taunya bagus bgt🤭
Mundri Astuti
klo ibarat kata...si Rayhan jiwa" playboy, nah klo zeyad laki" sejati
Agnezz
btw knapa judul2 bab dihilangkan? padahal memudahkan untuk ingin membaca bagian tertentu.
bibuk Hannan & Afnan
pantesan mau mau aja dijadikan kedua secara siri, agresif

emang bener ya pelakor itu tdk harus cantik semok yg penting menggatal
Agnezz
Zeyad bener2 memperlakukan Naya dengan gentle ya, tidak memaksakan Naya untuk menerima dirinya, selalu memberikan ruang untuk Naya bisa menata hatinya. Zeyad menanti Naya dengan sabar. Beda sekali dengan Rayhan. Karena Rayhan merasa perjodohan masa kecilnya adalah bentuk pasungan atas kebebasannya ( bab 11) maka dia menyambut wanita pilihan orang tuanya dengan dingin. Padahal wanita pilihan orang tua adalah yg terbaik yg sepadan dengan Rayhan.
bibuk Hannan & Afnan
gak sopan si Rani gak mau sowan dulu, minimal baik sikapmu lah setelah apa yg kalian perbuat perbaiki akhlak kalian muhasabah diri
bibuk Hannan & Afnan
serendah-rendahnya seorang pelac*r lebih rendah lg wanita yg merusak rumah tangga orang lain, itulah wanita macam jin Dasim, sebelum menerima ikrar ijab qobul dr Gus Reyhan seharusnya kamu menolak Rani kan kamu sudah tau klo Gus Reyhan baru sebulan melangsungkan akad serta pesta pernikahan dgn Naya tp kamu tetap menerima mau mau saja dijadikan yg kedua siri pula, TDK punya harga diri sekali jd wanita, mencintai karena Allah konon pret lah 😄😄

jd inget artis penyanyi religi yg itu jd istri siri selama dua tahun baru terungkap, giliran terungkap jawaban klise khilaf pret lah khilaf apa doyan masa khilaf smpe dua tahun😄😄😄
dyah EkaPratiwi
zeyad😍
Sri Murtini
calon suami ist the best yg bisa memahmi 😍😍😍😍
Mamah'e Andhika Rizky
👍👍👍👍👍💝💝💝💝💝💝
Uyen Uyen
hati hati kau Rani walaupun Raihan seorang anak kyai dia cuma manusia biasa Naya saja bisa diselingkuhinya jelas jelas seorang yang terpelajar apa lg kamu yang hanya mantan santriwati, sekali laki laki berselingkuh tidak menutup kemungkinan dia akan mengulangnya lagi
bibuk Hannan & Afnan
Naya wanita yg elegan berkelas bermartabat tinggi,👍
Arin
Ternyata dunia selebar daun kelor😁😁😁 Naya pergi ke Dubai untuk melanjutkan studynya bertemu dengan Zeyad. Gak taunya malah teman Reyhan
Ikah Haryati
ga bisa terang "an nolak perjodohan kaya yg patuh pada ke dua orang tua
tapi nusuk dari belakang
dengan penghianatan sama dengan nginjek"harga diri Bu nyai dan pa kiai
bibuk Hannan & Afnan
harusnya kamu bangga beristrikan seorang Naya wanita yg cerdas berpendidikan tinggi dan menghormati suami, tp malah menyianyiakannya, sesal kan skrg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!