Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.
Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.
Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.
Dunia mengira ia kehilangan segalanya.
Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bah 2
Gerbang besi mansion Nugroho menutup di belakangnya dengan bunyi berat. Elang tidak menoleh.
Jalan masuk yang tadi dipadati mobil tamu kini lengang. Lampu taman menyorot rumput yang dipangkas rapi, dan dari kejauhan musik ballroom masih terdengar samar, seakan tidak ada yang baru saja terjadi.
Ia berhenti di bawah sebuah lampu jalan, lalu menyingkap lengan jasnya. Sarung tangan hitam itu masih seperti biasa, licin di bagian buku jari, kusam di pergelangan. Kulit tangannya sudah terlalu lama berbagi suhu dengan benda itu.
'Sepuluh tahun lebih.'
Ibu jarinya mencari tonjolan kecil di punggung sarung tangan, tepat di bawah buku jari tengah. Ia menekannya tanpa melihat, sebagaimana orang lain menyalakan ponsel.
"Sistem."
Cahaya biru pucat merembes dari sela jahitan, naik ke udara, lalu menyusun sebuah panel setinggi dada tanpa suara sedikit pun.
[Host: Elang Nugroho]
[Permintaan harian: 1/1]
Hanya itu. Dua baris, sama seperti yang ia lihat sepuluh tahun lalu, sama seperti kemarin, sama seperti tadi pagi sebelum ia mengikat dasi untuk pesta pembagian warisan.
Elang menatap angka satu itu dengan sudut bibir turun.
"Tetap pelit," gumamnya.
Hari pertama SMA, seorang kakek renta duduk bersila di trotoar depan gerbang sekolah. Kain lusuh di hadapannya penuh barang yang tak jelas gunanya: kunci berkarat, jam tanpa jarum, dan sebuah sarung tangan hitam. Hanya sebelah.
Ray berhenti lebih dulu. Seragamnya masih licin, tasnya masih berbau toko.
"Anak muda, lihat sebentar..." Si kakek mengangkat sarung tangan itu dengan dua tangan yang bergetar.
Sepatu Ray menghantam kain itu. Kunci, jam, dan sarung tangan terlempar ke selokan kering.
"Minggir, Kek. Jangan jual sampah di depan sekolah orang." Ray mengibas lengan seragamnya dan masuk gerbang tanpa menoleh.
Elang memungut sarung tangan itu dari tanah. Debunya ia tepuk di paha celana. Lalu ia menarik selembar uang merah dari dompet, satu-satunya uang jajan untuk seminggu.
"Ambil." Ia menaruhnya di telapak tangan si kakek. "Aku gak butuh barangmu. Ini bukan belas kasihan. Aku cuma mau kasih."
Si kakek menatap uang itu lama. Senyumnya tidak punya pamrih. Ia menerimanya dengan dua tangan, lalu mendorong sarung tangan hitam itu kembali ke dada Elang.
"Tidak adil kalau aku terima begitu saja, Nak. Pakai ini."
Elang menghela napas. Ia menyarungkannya ke tangan kanan, persis di depan mata si kakek, lalu menggerakkan jarinya dua kali. Pas. Pas sekali, seolah dijahit untuk ukurannya.
Ia berjalan pergi tanpa berterima kasih.
Sorenya, ruang keluarga berbau cendana dan teh panas. Ayahnya mengangkat sebatang emas kecil, sepanjang jari, lalu meletakkannya di telapak Ray.
"Delapan puluh lima. Pas KKM, tapi gak remedial. Ayah bangga."
Ibunya bertepuk pelan. Ray tersenyum sambil memutar-mutar emas itu di bawah lampu.
Elang berdiri di ambang pintu. Kertas ulangan di tangannya bertuliskan angka seratus dengan tinta merah. Tidak ada yang menoleh.
Ia merobek kertas itu jadi dua. Empat. Delapan. Serpihannya jatuh ke karpet. Ibunya sempat melirik serpihan itu, lalu kembali pada Ray.
Elang melangkah masuk. Tangan kanannya yang bersarung menutup di atas emas di telapak Ray.
"Aku mau emas ini."
Jari-jari Ray terbuka sendiri. Wajahnya kosong, seperti orang yang baru dibangunkan.
"Ray, kasih adikmu," kata ibunya. Nadanya datar, seolah itu hal paling wajar sedunia.
Ayahnya mengangguk setuju.
Elang menimang emas itu dengan alis berkerut. Di depan matanya, huruf-huruf biru berkedip sekali, dan hanya ia yang melihatnya.
[Sistem Permintaan]
[Host dapat meminta benda dengan menyentuhnya menggunakan sarung tangan.]
'Hah? Sistem' batinnya 'ini cuman mimpi, kan?'
...----...
Malam itu ia tidak tidur. Besoknya ia mencoba lagi pada sebuah pulpen milik teman sebangku, dan pulpen itu ikut menjadi miliknya. Lusa, pada sebotol minuman dingin di kantin. Sistem itu tidak pernah menolak. Ia juga tidak pernah memberi lebih.
Satu permintaan sehari. Tidak ada misi, tidak ada peringkat, tidak ada pintu lain. Hari demi hari, tahun demi tahun, panel itu tetap dua baris. Elang akhirnya berhenti berharap ada yang bertambah, dan memakainya hanya untuk barang-barang kecil yang tidak akan dicari siapa pun.
Satu permintaan tidak cukup untuk menantang sebuah mansion. Itu pun ia tahu.
...-----...
Elang menurunkan pandangan ke panel dua baris itu, dan sebelum ia sempat menutupnya, teksnya bergetar.
Hurufnya berganti sendiri.
[Misi: Melepaskan Ikatan dari Keluarga Nugroho]
[Persyaratan: Menyelesaikan keputusan pemutusan hubungan dengan keluarga.]
[Status: Selesai.]
[Hadiah: Satu Hak Permintaan Benda.]
Ia berhenti bernapas sebentar.
Sepuluh tahun lebih, panel itu tidak pernah mengetik apa pun yang tidak ia minta.
[Sistem ditingkatkan.]
[Host kini memperoleh 5 permintaan setiap hari.]
[Ruang Sistem terbuka. Host siap dimasukkan.]
Elang membaca sampai baris terakhir. Ujung bibirnya terangkat, hanya sedikit.
"Sepuluh tahun," katanya pada udara kosong. "Dan yang bikin kau bangun ternyata ini."
Ia tidak marah. Ia hanya mendengus, seperti orang yang akhirnya menerima kembalian dari utang lama.
"Bagus. Bawa aku masuk."
Cahaya putih meledak. Lampu jalan, aspal, dan pagar menguap sekaligus.
Ketika sol sepatunya menyentuh sesuatu lagi, lantainya licin dan dingin seperti kaca. Tidak ada dinding. Tidak ada langit-langit. Hanya putih yang membentang ke segala arah, dan di kejauhan, bayangan rak-rak cahaya yang menggantung tanpa penyangga.
Elang memutar tubuh pelan, kedua tangan masuk ke saku celana. Ia tidak tampak terkejut. Ia lebih mirip tamu yang sedang menilai lobi hotel.
[Silakan memilih benda dari Ruang Sistem.]