NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:158.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Sebelum Keberangkatan

Udara pagi masih terasa segar ketika Levia dan Bram Gultom keluar dari halaman rumah.

Bram beberapa kali melirik putrinya, seolah masih belum percaya Levia benar-benar mengajaknya berjalan pagi.

Mereka melangkah santai menyusuri jalan kompleks.

Beberapa warga yang sedang menyiram tanaman atau berolahraga langsung menoleh.

"Itu Levia, 'kan?"

"Iya."

"Kemarin bukannya dia baru nyemplung ke sungai?"

"Kok sekarang malah jalan pagi?"

"Kelihatannya baik-baik aja."

"Bahkan senyum-senyum."

Bisik-bisik itu terdengar samar. Namun Levia sama sekali tidak memedulikannya. Justru ia menghirup udara pagi dalam-dalam.

"Enak juga...."

Bram tersenyum kecil. "Biasanya jam segini kamu masih tidur."

Levia ikut tersenyum. "Mungkin aku selama ini terlalu banyak nyia-nyiain pagi."

Bram kembali menatap putrinya. Rasanya masih sulit percaya kalimat itu keluar dari mulut Levia.

Beberapa langkah kemudian, Levia tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Yah."

"Iya?"

Levia menundukkan kepala sesaat. "Maaf."

Bram mengernyit. "Maaf buat apa?"

"Aku selama ini terlalu egois." Suaranya lirih. "Aku cuma mikirin diri sendiri. Aku sibuk ngejar orang yang bahkan gak pernah ngelihat aku."

Dadanya terasa sesak mengingat semua kenangan pemilik tubuh ini.

"Padahal..." Levia mengangkat wajahnya. "...orang yang paling sayang sama aku justru selalu ada di rumah."

Bram membeku.

"Ayah." Levia menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Maafin aku."

Bram tidak langsung menjawab. Tangannya gemetar pelan. Selama bertahun-tahun, ia menunggu satu kalimat itu. Namun tak pernah sekalipun ia membayangkan akan mendengarnya.

Perlahan ia mengangkat tangan, mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih. "Gak ada yang perlu dimaafin."

"Tapi aku udah sering bikin Ayah sedih."

"Namanya juga anak."

Jawaban sederhana itu justru membuat mata Levia memanas.

"Orang tua mana yang gak pernah sedih karena anaknya?"

Levia tersenyum tipis. "Tapi mulai sekarang aku mau berubah."

Ia kembali berjalan di samping Bram. "Oh ya, Yah."

"Hm?"

"Ayah suka makan apa?"

Bram berkedip. "Lho?"

"Terus... Ayah hobinya apa?"

Bram malah tertawa kecil. "Kamu lagi wawancara Ayah?"

Levia ikut tertawa. "Anggap aja begitu." Ia menatap wajah pria di sampingnya. "Selama ini aku sadar... ternyata aku gak tahu apa-apa soal Ayah."

Kalimat itu membuat Bram kembali terdiam. Memang benar. Levia selalu hafal jadwal dinas Vandra. Hafal makanan kesukaan Vandra. Hafal tanggal lahir Vandra. Bahkan hafal ukuran sepatu Vandra.

Namun putrinya sendiri tidak pernah tahu makanan favorit ayahnya. Tidak pernah bertanya penyakit yang dideritanya. Tidak pernah peduli kapan ulang tahunnya.

Bram mengembuskan napas pelan. "Kamu beneran pengen tahu?"

"Iya."

"Kenapa?"

Levia tersenyum hangat. "Karena mulai sekarang aku pengen kenal lebih dekat sama ayahku sendiri."

Langkah Bram mendadak berhenti. Matanya memerah. Beberapa kali ia membuka mulut, tetapi tak satu kata pun keluar.

Akhirnya ia hanya mengusap sudut matanya sambil tertawa kecil. "Aduh..."

"Ayah kenapa?"

"Tunggu sebentar." Bram menarik napas panjang. "Ayah takut ini cuma mimpi."

Levia ikut menghentikan langkah. Kalimat itu membuat dadanya ikut terasa sesak.

Tanpa berkata apa-apa, ia meraih lengan Bram dan mencubitnya pelan.

"Aduh!"

"Nah." Levia tersenyum jail. "Kalau sakit berarti bukan mimpi."

Bram memandang putrinya beberapa detik, lalu tawa kecil keluar dari bibirnya. Tawa yang sudah lama tak pernah terdengar.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian tahun, ayah dan anak itu berjalan berdampingan tanpa ada nama Arvandra Jayasena di antara mereka.

***

Pagi itu, Kapten Arvandra Jayasena baru saja selesai memimpin latihan ketika seorang bintara menghampirinya.

"Lapor, Kapten. Komandan memanggil ke ruangannya."

"Baik."

Tanpa banyak bertanya, Vandra segera menuju ruang komandan.

Tok. Tok.

"Masuk."

Vandra membuka pintu, lalu memberi hormat. "Kapten Arvandra Jayasena melapor."

Komandan membalas hormat singkat. "Duduk."

Vandra menurut.

Di atas meja sudah tergeletak sebuah map berlogo Garuda dan lambang Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Komandan mendorong map itu ke hadapannya. "Selamat."

Vandra mengernyit. "Selamat?"

"Namamu lolos seleksi sebagai salah satu personel Satgas Garuda untuk misi perdamaian PBB."

Beberapa detik Vandra hanya memandangi map itu. "Misi... PBB?"

Komandan mengangguk. "Kamu akan diberangkatkan ke Lebanon bersama kontingen berikutnya."

Vandra membuka map tersebut. Matanya membaca setiap lembar surat penugasan.

"Masa penugasan sekitar satu tahun."

Dadanya mendadak terasa jauh lebih ringan. "Siap, Komandan."

"Persiapan dimulai minggu ini. Manfaatkan waktu yang ada untuk mengurus semua keperluan pribadimu."

"Siap."

Komandan tersenyum tipis. "Saya yakin kamu bisa menjalankan tugas ini dengan baik."

"Terima kasih atas kepercayaannya."

Setelah memberi hormat, Vandra keluar dari ruangan.

Begitu pintu tertutup, dua rekannya yang sejak tadi menunggu di luar langsung menghampiri.

"Eh, gimana?"

"Lolos?"

Vandra mengangguk pelan. "Satu tahun."

Kedua sahabatnya langsung bersorak. "Wah, selamat!"

Salah satunya menepuk bahu Vandra cukup keras. "Gila, Bro. Ini kesempatan emas."

Vandra mengangkat sebelah alis. "Kesempatan apa?"

"Ya kesempatan buat napas."

Vandra mendengus pelan.

"Kamu tahu sendiri selama ini setiap kamu mau ngurus perceraian, istrimu selalu bikin ulah."

Rekan lainnya ikut menyahut.

"Pisau, ngiris tangan, benturin kepala, sampai kemarin lompat ke sungai." Ia menggeleng pelan. "Jujur aja, aku yang dengernya ikut capek."

Vandra mengembuskan napas panjang. "Aku juga."

"Sekarang enak." Rekannya tersenyum lebar. "Kamu tinggal berangkat."

"Selama setahun fokus sama tugas."

"Gak usah pusing mikirin drama."

"Kalau beruntung, pulang-pulang dia udah capek sendiri."

Vandra terdiam sesaat. Entah kenapa, bayangan Levia yang ditemuinya di tepi sungai kembali terlintas.

Tatapan itu berbeda. Namun ia segera mengusir pikiran tersebut. "Semoga."

Rekannya terkekeh.

"Minimal selama setahun kamu bisa hidup tenang."

Vandra memandang langit biru di atas markas. "Memang itu yang aku harapkan."

Baginya, penugasan itu bukan sekadar kehormatan sebagai prajurit. Melainkan kesempatan untuk menjauh dari pernikahan yang selama ini terasa seperti kurungan.

***

Sore itu...

Vandra membuka pintu rumah dengan langkah ringan. "Bu!"

Ratih yang baru muncul dari dapur sehabis mencuci piring menoleh. "Udah pulang?"

Vandra mengangguk. Senyum yang sudah lama tak terlihat akhirnya menghiasi wajahnya. "Ada kabar baik."

Ratih ikut tersenyum. "Kabar apa?"

"Aku lolos seleksi Satgas Garuda."

Ratih tampak terkejut. "Satgas Garuda?"

"Iya, Bu." Vandra menyerahkan map berisi surat penugasan.

Ratih membacanya perlahan. "Misi perdamaian PBB..." Ia mengangkat wajahnya. "Selamat, Nak."

"Terima kasih, Bu."

"Satu tahun?" Ratih kembali melihat surat itu.

"Iya." Vandra mengangguk. "Ini kesempatan yang jarang datang, Bu." Tatapannya tampak berbinar. "Selama ini aku memang pengen ikut misi kayak gini."

Ratih tersenyum bangga. "Ibu ikut bangga."

Beberapa saat kemudian senyum itu perlahan memudar. Ratih menutup map tersebut. "Kapan berangkat?"

"Dua minggu lagi."

Ratih mengangguk pelan. "Kalau begitu..." Ia menatap putranya dalam-dalam. "...sebelum berangkat, pamitlah sama istri dan mertuamu."

Senyum di wajah Vandra langsung menghilang.

 

...✨"Ada perjalanan yang membawa seseorang semakin jauh dari rumah, tetapi belum tentu mampu menjauhkannya dari takdir yang menunggu."...

..."Kadang, kebahagiaan bukan datang karena menemukan tempat baru, melainkan karena akhirnya menghargai orang yang sejak awal tak pernah pergi."...

..."Saat seseorang merasa akhirnya bebas, takdir sering kali mulai menuliskan babak yang sama sekali tak pernah ia bayangkan."✨...

.

To be continued

1
Anitha
Pramono kamu itu srorang Jendral tahukan arti tanggung jawab dan hukum ..

good Vandra tetap dengan Pendiriannya tidak akan mundur
Anitha
Dih si Jendral malah suruh anaknya jangan mengakui kesalahannya yang telah di buat,dan mau menekan Vandra..dasar anak sama Bapak sama saja..

Bagus Vandra dan Levia jangan pernah mundur hadapi bersama💪
anonim
Bram dan Levia sudah meninggalkan meja makan.

Ninis, Bu Sari, juga Herman mencicipi ayam panggang masakan Levia.

Baru percaya bagaimana rasa masakan Levia.
anonim
Bram bilang, ini salah satu masakan terenak yang pernah dia makan.

Levia tertawa mendengarnya.

Bram jadi teringat istrinya yang suka masak untuknya.

Kalau Ayahnya suka, mulai sekarang Levia yang akan masak. Bram terharu mendengarnya.
anonim
Bram penasaran dengan rasa masakan putrinya. Mulailah Bram menyendok sedikit sup beserta potongan ikan.

Suapan pertama mata Bram membulat. Enak rupanya, masih belum percaya Levia yang masak.

Untuk suapan kedua Bram mengambil lebih banyak. Setelah menelan suapan kedua, Bram menggeleng pelan sambil tersenyum.

Bram memuji rasa masakan dan cara penyajiannya yang cantik.

Mendengar pujian Bram untuk putrinya, Bu Sari sampai melongo, Ninis masih sirik berpikir negatif.

Bram menikmati makan malamnya, menambah nasi setengah porsi.
Uthie
Bagus Vandra...tegas 👍👍😡
anonim
Makan malam sudah tersaji beberapa hidangan di meja yang sama sekali berbeda dari biasanya.

Makanan sehat hasil masakan Levia sudah tertata rapi, warnanya terlihat cerah, aroma masakan menggugah selera siapapun yang menciumnya.

Bram tertegun melihat hidangan di depannya dengan menu beda banget. Sampai mengira ada kedatangan tamu penting dan bertanya pada Bu Sari.

Mendengar Ninis mengatakan yang masak Levia, Bram seperti tak percaya.

Bahkan Bram masih belum percaya ketika Bu Sari mengatakan - Levia yang memasak semuanya.

Bram masih serasa mimpi melihat makanan yang terhidang apa beli dari restoran atau pesan katering.
anonim
Tuh kan Levia sudah tidak percaya sama Ninis yang sok perhatian tapi jelas menjerumuskan.

Levia mau masak sendiri makanan sehat. Bu Sari juru masak keluarga dan Ninis hari ini jadi asistennya.

Bu Sari mengambil semua bahan yang diminta Levia.

Levia mencuci sayuran sendiri. Memotong bahan-bahan masakan dengan ukuran yang sama.

Bu Sari dan Ninis pada heran melihat yang dikerjakan Levia.

Levia dengan dibantu dua asistennya, akhirnya masakan selesai.

Levia sendiri yang menata hasil masakannya. Potongan ayam, sayuran, kentang tumbuk disusun dengan sangat rapi.
Puji Hastuti
apa yang akan di lakukan oleh Pramono?
Siska Sutartini
dih enak aja, mentang anak jendral bisa bebas gitu. udahlah mengancam, mencelakai, ada bukti yg memberatkan juga. dahlah jendral harusnya kau mendidik anakmu dg benar. bukan ngandalin jabatan doang, tapi moral ga ada
Kadek Sri
lanjut
anonim
Vandra jadi kepikiran dengan perubahan yang terjadi pada Levia. Harusnya senang sesuai keinginannya, Levia sudah tidak bikin Vandra merasa tertekan.

Ninis masih mencoba mempengaruhi Levia. Levia yang sekarang sepertinya sudah tidak mau menuruti kemauan Ninis yang terlihat perhatian tapi menjerumuskan.
Anitha
Jabatan yang tinggi tidak berarti apa²,,kalo sudah seperti ini apa mau di kata bukti sudah jelas dari VIDIO yang menunjukan wajah Risa dan Ninis sedang menyusun rencana untuk mencelakai Levia...

Penjarakan saja biar jera,,Ayahnya ikut terseret
lin sya
penasaran klo pramono smkin bodoh dan smkin menghalalkan segala cara bisa bikin risa bebas gk ya, tp smga bukti yg diberikan vandra gk bsa dibeli sm uang, lgian siapa tau jabatan anak dan bpk bsa copot biar mikir klo gk pnya apa2 msih bsa sombong gk
Septi Wijaya
sebaiknya jangan cari jalan keluar dg cara kotor pak... nanti bukan cuma Risa yg ditahan... Anda pun bisa jd tersangka
Kadek Sri
lanjut
Siska Sutartini
tuh kan, masa si ninis dibiarin gitu dikasih pesangon lg. baiklah saatnya memperkarakan mereka. itu vancdra sempat merekam gak ya?
Siska Sutartini
risa oh risa itu namanya obsesi udah bukan cinta lagi. lagian lu buta apa gimana sih, org mau baikan sama bininya sendiri. lah elu siapa? orang luar. mentang2 bapaknya jendral dikira bisa seenak jidat gitu? sekalipun dipaksakan ga bakal berbuah manis
mery harwati
Minum kopi dulu aahh sambil menikmati akhir dari sang Jendral di dunia novel 😍
mery harwati
Apakah kasus hukum di novel ini akan sama dengan kasus² hukum di Negeri Naruto? 🤭
Negeri Naruto tercinta sudah terlalu sesak, mual, pening, muntah dan berakhir mentah oleh kasus² hukum yang menguap bagai uap air yang mendidih & akhirnya air itu dingin dengan sendirinya atw dingin karena dibekukan
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!