Nadia tak suka dengan perjodohan yang orang tuanya berikan padanya dengan Jayden Mahendra.
Jayden san Nadia kini resmi menjadi suami istri, tapi pernikahan mereka masih harus di sembunyikan sampai mereka lulus sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smarrr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Tak ada pilihan lain lagi, jay membuka pntu mbilnya dan melompat keluar saat mobil dalam keadaan kecepatan yang tinggi.
Membuat badan Jay berguling di jalanan aspal, mobil jay menabrak sebuah tiang listrik besar hingga hancur, untungnya nyawa Jay masih bisa terselamatkan walau ia harus mengalami lecet di sekujur badanya karena berguling di jalanan.
Bahkan kepala Jay nyaris terbentur batu yang ada di pinggir jalan.
"Jams, gue tau ini ulah lo," desis Jay menahan sakit."
Udah dua jamm lagi, ahhh... sia lan, Nadia pasti marah sama gue," bahkan dalam kondisi seperti ini jay masih memikirkan Nadia.
"Uhukkk... uhuk..." Jay terbatuk, dan dadanya terasa sesak.
jay mencoba merogoh sakunya dan mengambil ponselnya untuk menelepon Arnold. cowok itu dengan susah payah menyandarkan badanya di salah satu pohon yang ada di sana.
"Jay! Lo dimana anjir? gue telepon dari tadi nggak di angkat- angkat!" teriak Arnold karena ia khawatir.
"Berisik potong gaji! jemput gue sekarang, gue kecelakaan di jalan darmawan."
"Kan, udah gue duga, lo tunggu ue di sana, jangan kemana mana."
Tut.
Arnold mnutuskan teleponya, dan tak mau banyak bicara, karena menrutnya kali ini keselamatan Jay lebih penting dari appaun.
Jay berggeas mengendarai mobil orang yang ia pinjam di area sirkuit itu, ia juga tak mau sembarangan mengendarai mobilnya sendiri karena ia takut jika mobilnya juga kan di sabetase.
"Dia pergi dengan mobil lain bos," bisik seseorang pada Jams.
"Ternyata dia tak bodoh seperti yang gue kira, ya udah biarin aja, yang penting kita udah sukses mencela kakan Jay, gue yakin dia sekarang di antara hidup dan mati," Jams tertawa kencang.
Sementara di rumah Jay
"Udah dua jam lewatya, dan lo nggak balik - balik Jay! liat aja besok! gue nggak akan mau ngomong sama lo!" decih Nadia kesal.
Nadia meraa teah do bohongi oleh Jayden. Pikiran Nadia membayangkan bahwa jayden menang dalam pertandingan dan kini tengah bersenang-senang dengan teman-temanya ang lain,
"Pasti lagi minum dan banyak vewek di sekitar dia, emang dasar cowok! semua sama aja!" dumelnya lagi.
Nadia mwncoba memejamkan matanya untuk tidur, sayangnya hatinya jadi gelisah dan gundah gulana, walaupun dia sedang kesal dengan Jay, tapi tal bisa di pungkiri bahwa Nadia merasa cemas dan khawatir pada jay, ia takut jika sesuat hal yang buruk terjadi menimpa Jayden.
"Gimana kalau dia lagi nggak pesta dan malah lagi kenapa- kebnapa? kan tadi gue juga denegr kalau dia ke sirkuit, otomatis dia pasi balapan kan? kalau tiba-tiba remnya blong gimana? duh kan... gue jadi khawatir gini," monolog Nadia
Cewek itu mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Jayden, namun sayangnya batrei Jay habis setelah ia menelpon Arnold tadi, alhasil panggilan Nadia tak bisa tersambung karena ponsel Jay yang mati.
"Hp-nya nggak aktif, sekarang gue harus berpikir apa?
harusnkah gue menenagkan pikran gue bahwa jay baik-baik aja dan lagi pesta merayaakan kemenangan dia dan naggak mau di ganggu atau Hp jay nggak aktif karena terjadi sesuatu sama Jay?"
"AAAaaaaa....."" teriak Nadia frustasi dengan mengacak rambutnya sendiri.
Nadia mencobaemnacri perantara di dalam kamarJay, namun ia jga tak menemukan hal apapun di dalam sana.
Nadia semakin frustasi, tapi dia juga tak bisa melakukan apa- paa untu sekarang.
Di jalan raya.
Arnold baru saja sampai di mana jJay tengah bersandar lemah, pria itu dengan buru-buruturun dari mobil dan menhampiri Jay.
"Lo ngak apa-apa kan?" tanya Arnoldyang juga tampak khawatir.
Dengan cepat dan tanpa betanya lagi, Arnold mengendong badan Jay masuk ke dlaam mobil Jay yang sudah terlihat lemas hanya bisa pasrah dan tak bisa berkata apa - apa lagi.
"Anterin gue pulag," desisnya yang hampir tak terdengar oleh Arnold.
"Kenapa?" tanya Arnold lagi.
"Anterin gue pulang, Nadia pasti lagi nyariin gue dan nunggu gue di rumah," lirih Jay.
"Udah diem aja lo, gue mau baw akemana lo itu urusan gue sekarang!" tegas Arnold yang kemudian menyalakan mesin mobilnya dan bergegas membawa Jay ke rumah sakit.
Tak lama kemudian, mobil Arnold berhenti di rumah sakit milik Arga, cowok itulangusng menelpon Arga untuk menyusulnya ke rumah sakit lagi dan memebritahu kejadian yang sebenarnya, begitu juga dengan Jesica kekasihnya.
Arnold senagja belum memberitahu Nadia malam ini, karena takut Nadia akan syok dengan keadaan Jay yang dengan luka di badanya.
Walau tak begitu parah, kejadian Jay malam ini membuat tiga sahabatnya merasa semakin kasihan dengan Jay yang selalu mendpaatkan perlikau yang tidak adil dari keluarganya yang tak berperasaan.
"Nadia mana?" tanya Jay yang baru saja mendapatkan penangan dari dokter.
"Udah mending lo istirahat jaa dulu, besok gue jemput Nadia, sekarang juga udah malam, gue takut dia makin khawatir nanti." tukas Arnold.
"Lo bego apa tolil sih? dengan gue sekarag nggak pulang aja pasti dia khawatir bego! tadi gue janji sama dia cuma dua jam ninggalin dia, tapi sekarang apa? udah empat jam anjir"
"Iya iya iya!!! gue jemput gue jemput!" kesal Arnold yang mau tak mau menjemput Nadia.
"Aku temenin," Jesica pergi bersama Arnold untuk menjemput Nadia.
Sementara Arga menemani Jay di rumah sakit.
"Lo jadi ke sirkuit?" Tanya Arga membuka obrolan.
"Jadi."
"Terus lo menang?"
"Menurut lo? Ya kali gue di kalahin," timbalnya yang masih saja sombong.
"Dan lo pulang karena lo pengen cepet-cepet pengen ketemuan Nadia lagi, tanpa mikir ada yang salah sama mobil lo?"
"Hem..." Jay yakin pasti Arga mulai menceramahi dirinya.
"Dari sekian kejadian dan lo masih aja bego? Harusnya lo banyi mobil! Seperti yang Arnold lakuin tadi, bisa bisanya lo masih aja bego!" Kan kan dj ceramahin kan?
"Bukan bego ya gue, namanua juga pengen cepet-cepet ketemu sama istri, mana kepikiran sampai sana?"
"Iya karena lo ceroboh!"
"Iya iya, gue lagi sakit juga malah kena omel, harusnya di elus di sayang dengan lembut," letus Jay yang memilih memejamkan matanya sembari menunggu kedatangan Arnold dan Jesica yang menjemput Nadia.
Arga menghembuska nafasnya panjang, ia sebenarnya merasa iba dengan Jay yang selalu tersakiti sejak kecil, entah mengapa Jodi tak menyukai Jay. Padahal cowok yang sedang terbaring di atas brankar itu bukan cowok yang pembangkang.
Sejak kevil Jay selalu menuruti semua keinginan dan kemauan papanya, sementara Jams adalah anaknyang pembangkang sejak kecil, anehnya Jams masih saja selalu di sayang oleh Jodi.
Tak lama kemudian Arnold datang bersam Jesica dan juga Nadia dengan langkah yang tergesa-gesa.
Netra Nadia langsung tertuju pada Jay yang tengah memejamkan matanya dengan pulas.
"Baru aja tidur, terserah lo mau di bangunin atau enggak," kata Arga dan Nadia mengerti.
Nadia menatap nanar pada luka di badan Jay. Walah hanya lecet, tapi itu dapat membuat hati Nadia teriris nyeri.
"Siapa yang ngelakuin ini?" Tanya Nadia dan ketiga sahabat Jay terdiam.
Mereka merasa itu byka kapasitas mereka untum menjawab.
"Sorry Nadia, tapi gue rasa itu bukan kapasitas kita buat ngejawab, kalian bicarain nanti baik-baik aja ya." Tukas Jesica mencoba memberi penjelasan.
"Oke, sorry juga, mungkin gue terlalu khawatir."
"Kita ngerti kok, kalau gitu kita tinggal keluar ya, kita nggak kemana-mana kok, panggil aja kita kalau ada apa-apa." Kata Jesica lagi dan Nadia mengangguk.
"Makasih, kalian baik banget sama Jay."
Ketiganya hanya bisa tersenyum lalu keluar dari ruangan Jay. Memberikan waktu untuk Nadia dan Jay berduaan.
Perlahan Nadia mendekati brankar di mana Jay masih memejamkan matanya. Tangannya terulur, merapikan anak rambut Jay yang menutupi wajah tampanya itu.
"Kayaknya gue lebih seneng lo ngerayain pesta dwri pada harus begini deh, hati gue sakit anjir!" Gumam Nadia membelai lembut garuis wajah Jay.
"Euughh...." Jay terbangun, membuka mata dengan perlahan.
"Sayang, ini beneran kamu kan yang dateng?" Lirih Jay dengan tatapan yang masih sayu.
"Iya ini aku! Mau pilih tangan kiri atau tangan kanan?" Tukasnya sedikit ketus.
"Sayang, aku lagi sakit, kalian pada galakin aku sih? Sedih ahh."
"Kalian?" Heran Nadia juga bingung.
"Iya, tadi Arga. Arnold, sekarang kamu juga galakin aku," rengek Jay.
"Haisshh.... Punya suami kalau di luar sangar tapi giliran sama gue kenapa modelanya begini sih?" Geritu Nadia gemas.
basi. "Siapa yang ngelakuin ini?" Tanya Nadia tanpa basa-
"Aku nggak tahu sayang, yang aku tahu tadi aku buru-buru pengen pulang setelah semua selesai, tapi sayangnya rem mobil aku blong, terus aku nekat keluar dari mobil."
Nadia menghembuskan nafasnya panjang, "terus mobilnya sekarang gimana?" Tanya Nadia sengaja tak memperhatikan Jayden.
"Sayang, mobil kan bisa di beli lagi, malah nanyain mobilnya sih? Aku yang sakit loh!"
"Siapa yang nekat keluar rumah tadi? Siapa yang bilang kurang dua jam sampe rumah? Kalau kurang dua jam kamu nggak sampe rumah aku bisa ngelakuin apa aja kan ke kamu?
Jangan lupa deh."
"Aku." Jayden lemah banget dah kalah di depan Nadia.
"Jadi aku boleh kan ngelakuin apa aja sekarang?"
Tegasnya lagi dan Jay hanya manggut-manggut.
"Iya boleh," jawabnya lirih.