Bagi Kirana Putri, rumah megah milik Orang tuanya adalah museum kaku yang sunyi. Hidup di bawah bayang-bayang prestasi kakaknya, Kanaya, membuat Kirana harus selalu tampil sempurna dan pendiam. Satu-satunya tempat ia bisa menjadi gadis riuh penuh tawa adalah saat bersama ketiga sahabatnya di sekolah.
Dunia sunyi Kirana mendadak terusik oleh kehadiran Keenan Abimara, si genius rebel dari kelas MIPA-1. Berbeda total dengan Kirana, Keenan hidup di tengah keluarga kaya yang super santai bersama Ayah Abimara dan Ibu Karina. Meski hobi melanggar aturan sekolah bersama geng cowoknya, Keenan perlahan membawa warna baru yang hangat ke hidup Kirana lewat perhatian kecil dan investasi susu cokelatnya.
Namun, kedekatan dua juara umum ini memicu badai gosip anonim di mading sekolah yang menuduh Keenan mendekati Kirana hanya demi taruhan murahan dua minggu. Diuji oleh aturan kaku rumah dan kepercayaan yang goyah, mereka harus bekerja sama membongkar kebenaran lewat rekaman CCTV sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda Whyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skenario Di Meja Makan
Ketegangan di ruang makan kediaman Baskara malam itu terasa berlipat ganda bagi Kirana. Di atas meja marmer, tersaji sup ayam jamur dan ikan gurame bakar yang harum. Namun bagi Kirana, makanan mewah itu terasa hambar. Jemarinya mencengkeram erat garpu di tangan bawah meja, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang dia rancang bersama Raina, Alya, dan Windy pagi tadi.
Di seberang meja, Ibu Saraswati mengunyah makanannya dengan gerakan anggun yang kaku, sementara Ayah Baskara sesekali menyeka bibirnya dengan serbet kain sembari menatap tablet kerja yang menampilkan grafik saham. Di sebelah Kirana, Kak Kanaya duduk dengan tenang, sesekali memberikan lirikan mata penuh semangat, tanda bahwa sang kakak siap menjadi tameng pelindung malam ini.
Kirana berdeham pelan, meletakkan sendoknya dengan pelan agar tidak menimbulkan bunyi berdenting yang bisa memicu teguran. "Ayah... Ibu... Kirana mau menyampaikan sesuatu."
Ibu Saraswati mendongak, melipat tangannya di atas meja. "Ada apa, Kirana? Soal nilai latihan Fisika kamu lagi?"
"Bukan, Bu," Kirana menarik napas sedalam mungkin. "Minggu depan kan ada seleksi Olimpiade Sains tingkat kota. Bu Endang menunjuk Kirana sebagai ketua tim perwakilan sekolah. Untuk efisiensi waktu, Bu Endang menyarankan agar kami melakukan belajar kelompok intensif di luar jam sekolah."
Ayah Baskara meletakkan tabletnya, tatapannya menajam. "Belajar kelompok? Di mana? Dan dengan siapa saja?"
"Di rumah salah satu anggota tim, Yah. Bersama perwakilan dari kelas MIPA-1," jawab Kirana, sengaja tidak menyebut nama Keenan untuk menghindari kecurigaan. "Pihak sekolah yang memfasilitasi modulnya. Karena materi tahun ini cukup berat, kami butuh ruang belajar yang tenang dan fokus."
Ibu Saraswati mengernyitkan dahi, gurat tidak suka langsung tercetak di wajah perfeksionisnya. "Kenapa harus di rumah orang lain? Kenapa tidak di perpustakaan sekolah saja? Ibu tidak suka kamu bepergian ke rumah anak yang tidak Ibu kenal asal-usul keluarganya, Kirana. Fokus kamu bisa terpecah."
Mendengar penolakan yang sudah diprediksi itu, mental Kirana sempat agak goyah. Namun sebelum sudut sunyinya kembali mengambil alih, Kak Kanaya langsung mengetuk gelasnya pelan, mengalihkan perhatian orang tua mereka.
"Bu, Yah, menurut Naya itu kesempatan bagus buat Kirana," sela Kanaya dengan nada suara yang sangat dewasa, tenang, dan tertata—tipe suara yang selalu dipercayai oleh kedua orang tua mereka. "Seleksi tahun ini kan skalanya kota kalua lolos langsung ke nasional, kalau Kirana menang, sertifikatnya bisa dipakai buat jalur undangan Universitas Indonesia atau Unpad nanti. Dulu pas Naya mau masuk Kedokteran, Naya juga sering belajar kelompok di rumah temen, kan? Lagian, perwakilan MIPA-1 yang bareng Kirana itu anak berprestasi, gak mungkin macem-macem."
Ibu Saraswati melirik Ayah Baskara, tampak menimbang-nimbang kata-kata putri sulung kebanggaannya. Nama "Universitas Indonesia" selalu berhasil menjadi mantra pelunak bagi ego kedua orang tua mereka.
"Siapa nama anak MIPA-1 itu?" tanya Ayah Baskara memastikan, nadanya masih menyelidik.
Jantung Kirana berdegup dua kali lebih cepat. "Keenan, Yah. Keenan Abimara."
Ayah Baskara terdiam sejenak, dahinya berkerut mencoba mengingat sesuatu. "Abimara? Apakah dia anak dari Arvin Abimara, pemilik Abimara Group yang bergerak di bidang properti?"
Kirana tertegun. Dia sendiri tidak tahu detail bisnis keluarga Keenan, dia hanya tahu dari cerita Keenan bahwa ayahnya bernama Ayah Abimara dan keluarganya sangat santai. "Iya... sepertinya benar, Yah."
Mendengar nama "Abimara Group", ketegangan di wajah Ayah Baskara mendadak mencair, digantikan oleh anggukan kecil penuh wibawa. Di dunia bisnis, nama keluarga Abimara adalah jaminan kelas sosial atas yang sangat terpandang.
"Oh, kalau keluarga Abimara, Ayah tahu betul. Kolega bisnis Ayah sering memuji kedisiplinan dan kesuksesan Arvin Abimara," ucap Ayah Baskara, menoleh ke arah Ibu Saraswati. "Kalau begitu, Ibu izinkan saja. Bergaul dengan anak dari keluarga terpandang seperti itu setidaknya bisa memberikan relasi yang bagus untuk masa depan Kirana."
Ibu Saraswati akhirnya mengembuskan napas panjang, lalu mengangguk kaku ke arah Kirana. "Ya sudah. Ibu izinkan. Tapi ingat, Kirana, fokus utama kamu tetap belajar dan mempertahankan nilai. Jangan memalukan nama keluarga kita di rumah orang lain. Pulang harus tepat waktu begitu belajar kelompok selesai."
"Baik, Bu. Terima kasih, Ayah, Ibu," jawab Kirana dengan senyuman tulus yang sangat lega.
Di bawah meja makan, Kak Kanaya diam-diam menyenggol kaki Kirana sambil mengedipkan sebelah matanya jahil. Operasi Izin Rumah yang dirancang di meja pojok kelas bersama para sahabat, dan dibantu oleh taktik cerdas Kak Kanaya, akhirnya sukses besar tanpa cela.
Malam itu, saat kembali ke kamarnya, Kirana langsung membuka ponselnya. Sebuah pesan singkat dia ketik untuk dikirimkan ke nomor si genius rebel dari kelas MIPA-1:
‘Keenan,. Sabtu ini gue diizinkan belajar kelompok ke rumah lo.’
Hanya butuh waktu satu menit sampai ponsel Kirana bergetar membalas, menampilkan pesan dengan gaya ketikan yang selalu berhasil membuat dadanya riuh:
‘Sempurna! Ibu udah gue kabarin dan beliau langsung sibuk nyari resep pancake paling enak se-Indonesia buat menyambut Tuan Putri. Sabtu ini, siap-siap denger keriuhan rumah gue ya, Kir!’
Kirana memeluk ponselnya di dada, menatap langit-langit kamar dengan senyuman manis yang tak bisa pudar. Benteng sunyi di rumahnya malam ini berhasil dilewati, dan Sabtu nanti, dia siap melangkah masuk ke dalam dunia riuh Keenan yang penuh dengan kehangatan baru.