NovelToon NovelToon
Lentera Terakhir Sang Kultivator

Lentera Terakhir Sang Kultivator

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.

Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.

Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.

Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Tabib Shu

Tenda pasien berat berbau cuka dan juga keringat. Lampu minyak digantung rendah di tiang tengah itu, dan di sepanjang dinding kain, dua belas dipan berjajar dengan tubuh-tubuh yang menggigil di bawah selimut tipis. Dua tabib muda sedang menyeka dahi pasien. Tabib Kepala Rong berdiri di sudut sambil mencatat sesuatu dengan wajah yang jauh lebih lelah dari kemarin.

Jian Chen masuk dengan langkah pelan, masih membawa bau asap dan kapur di bajunya. Ia berhenti di depan dipan paling ujung.

Tabib Shu terbaring dengan mata setengah terpejam. Napasnya pendek dan berat. Bercak-bercak gelap di leher dan lengannya sudah menyebar. Lin Xue duduk di samping dipan, memegang mangkuk ramuan yang sudah dingin.

"Dia menolak minum," kata Lin Xue pelan. "Dia ingin bicara denganmu dulu."

Jian Chen duduk di bangku kecil. "Tabib Shu."

Kelopak mata lelaki tua itu bergerak. Pelan-pelan matanya terbuka dan menemukan wajahnya. Senyum tipis muncul di bibir yang pecah-pecah. "Kau datang."

"Aku datang."

"Tadi pagi kau pergi. Ke mana?"

"Ke hulu. Kami menemukan sumber penyakitnya. Bangkai kerbau, tiga puluh dua ekor. Sudah dibakar."

"Hm." Tabib Shu mengangguk lemah. "Aku curiga itu. Tapi aku terlalu tua untuk memanjat ngarai." Ia terbatuk, dan Lin Xue cepat-cepat menyeka mulutnya dengan kain. "Terima kasih. Kau menyelamatkan banyak orang."

"Belum cukup."

"Tidak ada yang cukup, anak muda." Tabib Shu menatap langit-langit tenda. "Aku sudah tujuh puluh satu tahun. Aku sudah menguburkan lebih banyak orang daripada yang bisa kuingat namanya. Kau tahu apa yang kupelajari?"

"Apa?"

"Bahwa yang bisa kita lakukan hanya sampai pada batas tertentu. Setelah itu kita hanya bisa duduk di samping orang dan menemani mereka." Ia menoleh perlahan. "Itu bukan kekalahan. Itu bagian dari pekerjaan."

Jian Chen tidak menjawab. Ia menatap tangan lelaki tua itu yang berbaring di atas selimut, kurus dan penuh bintik tua. Dalam hidup pertamanya, ia tidak pernah sempat duduk di sini.

"Apa yang kauinginkan, setelah semua ini selesai?" tanya Tabib Shu tiba-tiba.

Jian Chen terkejut. "Aku?"

"Kau. Orang yang bekerja sekeras itu pasti sedang mengejar sesuatu."

Jian Chen terdiam lama. Ia belum pernah ditanya seperti itu, dan jawabannya keluar sebelum ia sempat menyaring. "Hidup biasa. Tanpa ada yang harus kuselamatkan."

"Itu keinginan paling sulit," kata Tabib Shu. Ia tertawa kecil dan terbatuk lagi. "Orang yang terbiasa menolong tidak pernah tahu cara berhenti."

"Aku akan belajar."

"Belajarlah dengan seseorang di sampingmu." Tabib Shu melirik ke arah Lin Xue sekilas, lalu kembali pada Jian Chen. "Aku punya satu permintaan."

"Apa pun."

"Di bawah dipanku ada tas kulit. Ambil."

Jian Chen membungkuk, meraba bawah dipan, dan menarik keluar sebuah tas kulit tua yang sudah retak di tepinya. Lin Xue membantu membukakan talinya. Di dalamnya ada selembar kain bersih, dua toples kecil berisi biji, dan sebuah buku tipis dengan sampul robek.

Mata Jian Chen melebar.

"Catatan Tanaman Gunung," gumam Lin Xue sambil memandang buku itu. "Ini buku yang ada di perpustakaan luar."

"Itu salinannya." Tabib Shu tersenyum geli. "Yang asli di sini. Aku menulisnya waktu muda, empat puluh tahun lalu. Sampulnya robek karena seekor kucing yang kupelihara. Perpustakaan sekte menyalinnya waktu aku menjual satu naskah kepada mereka, tapi mereka tidak menyalin catatan pinggirku itu."

"Catatan pinggir?" tanya Jian Chen.

"Tulisan kecil di tepi halaman. Tentang tanaman yang tidak masuk buku. Tentang akar, bunga, dan sesuatu yang disebut Akar Embun Perak." Tabib Shu menatapnya dengan tajam. "Kau sudah tahu tentang akar itu."

Jian Chen terdiam. Tidak ada kebohongan yang masuk akal. "Ya."

"Aku sudah menduga. Murid luar yang bisa membedakan Sutra Racun dari Selaput Hitam tidak mungkin belajar dari buku saja." Tabib Shu terkekeh dan batuk lagi. "Dengar. Aku tidak peduli kau dapat dari mana. Tapi buku ini milikmu sekarang. Pelajari catatan pinggirnya. Ada halaman terakhir yang aku tulis tentang ramuan untuk demam yang sedang kita hadapi ini. Gunakan itu. Untuk mereka yang masih bisa diselamatkan."

"Aku akan menggunakannya."

"Dan satu lagi." Tabib Shu mengangkat tangannya sedikit dan mencengkeram pergelangan Jian Chen dengan sisa tenaganya. "Orang yang kau sayangi. Jangan tunggu sampai terlambat untuk mengatakannya."

Jian Chen menelan ludah. Tanpa sadar, matanya melirik Lin Xue yang duduk diam di sampingnya, menunduk, bahunya sedikit terasa tegang.

"Aku akan mengingatnya," katanya.

"Bagus." Tabib Shu melepaskan genggamannya. Napasnya melambat. "Lin Xue."

"Ya, Tabib?"

"Anak ini tidak punya gelar apa pun, tapi dia lebih tahu daripada separuh tabib di sekte. Jangan sia-siakan dia."

"Aku tidak akan," jawab Lin Xue. Suaranya sedikit bergetar.

"Dan kau," kata Tabib Shu kepada Jian Chen. Matanya mulai menutup. "Terima kasih telah datang."

"Terima kasih telah menunggu," bisik Jian Chen, dan ia tidak tahu kenapa ia mengatakannya.

Lelaki tua itu tersenyum untuk terakhir kali. Napasnya berhenti beberapa saat kemudian, tanpa suara, seperti lilin yang kehabisan sumbu.

Tidak ada yang bergerak. Lin Xue menaruh mangkuk ramuan di lantai dan menutup mata lelaki tua itu dengan dua jari. Tabib Kepala Rong berhenti mencatat dan menundukkan kepala di sudut tenda. Jian Chen tetap duduk dengan tas kulit di pangkuannya, memegang buku tua itu dengan kedua tangan.

"Kau tidak menangis," kata Lin Xue pelan.

"Aku belum bisa."

"Itu tidak apa-apa."

"Aku sudah mencoba menyelamatkannya," kata Jian Chen. Suaranya datar, terlalu datar. "Aku sudah berusaha."

"Aku tahu."

"Dan tetap saja dia meninggal."

"Ya." Lin Xue menatapnya. "Kau tidak bisa menyelamatkan semua orang, Jian Chen. Tidak ada yang bisa."

"Aku tahu," kata Jian Chen. "Aku hanya belum berhenti berharap."

Tabib Kepala Rong berjalan menghampiri dipan itu. Wajahnya lebih lembut dari biasanya. "Tabib Shu adalah guruku sewaktu aku muda," katanya pelan. "Aku tidak tahu ia ada di desa ini. Kalau tahu, aku akan datang lebih cepat."

"Tabib," kata Jian Chen. "Ia meninggalkan resep untuk demam ini. Aku akan menyerahkannya."

"Berikan padaku." Tabib Kepala Rong mengulurkan tangan. "Dan Jian Chen."

"Ya?"

"Aku salah soal air." Ia mengatakannya tanpa menatap. "Aku tidak akan mengatakannya dua kali."

Jian Chen mengangguk. Ia menyerahkan halaman terakhir yang disobek dengan sangat hati-hati, lalu menyimpan sisa buku di dalam bajunya. Di luar, malam sudah turun penuh, dan dari tenda-tenda lain terdengar batuk, erangan, dan bunyi langkah tabib yang masih bekerja. Wabah belum selesai. Masih banyak yang bisa diselamatkan.

1
Paw_chan🐾
bagus🤟
Uranenantios: Makasih 😺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!