Astiana Larasati turun ke ibu kota dengan ilmu bela diri kuno, pengobatan ajaib, dan kemampuan mendengar niat jahat untuk mencari orang tua kandungnya. Berpandukan liontin yang bisa menyala hijau, Astiana menavigasi intrik para elit kota sambil mati-matian menekan kekuatannya demi mematuhi amanat kakek angkatnya untuk hidup rendah hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Suasana malam di kediaman keluarga Darma terasa sangat sunyi dan mencekam.
Astiana sedang duduk bersila di atas kasur empuknya sambil mengatur napas.
Dia sedang mengalirkan tenaga dalam ke seluruh titik sarafnya untuk memulihkan energi.
Tiba-tiba keheningan malam itu pecah oleh suara langkah kaki yang berlari terburu-buru di lorong paviliun.
Brak brak brak.
Pintu kamar Astiana digedor dengan sangat brutal dari luar seolah mau didobrak.
"Nona Astiana, tolong buka pintunya cepat."
Suara Nadin terdengar bergetar hebat diiringi isak tangis yang tertahan.
Ceklek.
Astiana membuka pintunya dengan tenang dan melihat wajah Nadin yang sudah pucat pasi dibasahi air mata.
"Ada apa, Nadin, kenapa kau menangis tersedu-sedu tengah malam begini."
"Tuan Besar, Nona, Tuan Besar tiba-tiba muntah darah banyak sekali."
Nadin langsung menarik tangan Astiana dengan panik tanpa mempedulikan sopan santun lagi.
"Kondisinya sangat kritis dan napasnya sudah putus-putus."
Astiana sama sekali tidak terkejut mendengar laporan mengerikan tersebut.
Dia sudah memprediksi hal ini pasti akan terjadi jika Pak Darma meminum obat biru itu lagi.
"Di mana Tuan Muda Raka sekarang."
"Tuan Muda sedang mengamuk di kamar utama, dia mencoba menelepon Dokter Handoko tapi panggilannya ditolak terus."
Nadin terus menyeret Astiana menyusuri lorong menuju bangunan utama yang kini terang benderang oleh lampu.
Langkah kaki mereka berdua bergema cepat di atas lantai marmer yang dingin.
Dari kejauhan, suara pecahan barang kaca sudah terdengar dari arah kamar tidur utama.
Prang.
Trang.
Astiana mempercepat langkahnya dan segera masuk ke dalam kamar mewah tersebut.
Kondisi kamar itu kini sudah hancur berantakan seperti baru saja dilanda angin topan.
Vas bunga, gelas air, dan lampu meja berserakan di atas karpet tebal.
Raka sedang berdiri mematung di dekat ranjang dengan tangan yang memegang ponsel yang sudah retak layarnya.
Di atas ranjang, Pak Darma terbaring kaku dengan wajah yang membiru dan mulut yang dipenuhi darah hitam.
Tit tit tit.
Suara mesin monitor jantung di samping ranjang berbunyi dengan ritme yang sangat lemah dan melambat.
"Dokter sialan, beraninya dia mematikan ponselnya saat kakekku sedang sekarat."
Raka berteriak frustrasi dan melempar ponselnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping.
Trak.
Pemuda arogan itu tiba-tiba jatuh berlutut di lantai dengan tubuh bergetar hebat.
Air mata penyesalan mulai mengalir deras dari kedua pelupuk matanya.
Dia menatap wajah kakeknya yang semakin pucat dengan tatapan putus asa yang menyayat hati.
"Kakek, bertahanlah, Raka mohon jangan tinggalkan Raka sendirian."
Suara Raka terdengar sangat serak dan menyedihkan tidak seperti tuan muda garang pada siang tadi.
Astiana melangkah pelan menghindari pecahan beling di lantai dan berdiri di belakang Raka.
"Sekarang kau percaya ucapanku tadi siang."
Suara datar Astiana mengagetkan Raka hingga pemuda itu refleks menoleh ke belakang.
Mata Raka yang sembab menatap wajah Astiana yang berdiri menjulang di hadapannya tanpa ekspresi.
"Astiana."
Raka bergumam lirih menyebut nama gadis yang tadi siang dia usir dengan kasar.
"Racun dari ekstrak bunga oleander itu sudah bereaksi memecahkan pembuluh darah halusnya."
Astiana menjelaskan kondisi medis kakeknya dengan nada yang sangat dingin dan objektif.
"Dalam waktu kurang dari lima menit, jantungnya akan berhenti berdetak untuk selamanya."
Mendengar vonis kematian itu, pertahanan ego Raka akhirnya runtuh sepenuhnya.
Harga diri setinggi langit yang selalu dia banggakan kini hancur berkeping-keping.
Srett.
Raka merangkak maju dan langsung mencengkeram ujung celana kulot yang dipakai Astiana.
"Tolong selamatkan kakekku, aku mohon padamu."
Pemuda pewaris tunggal harta triliunan itu kini menangis tersedu-sedu di kaki seorang gadis miskin tanpa identitas.
"Tolong maafkan semua kelancanganku tadi siang, aku memang bodoh dan buta."
"Hukum aku, pukul aku, bunuh aku kalau kau mau, tapi tolong biarkan kakekku hidup."
Suara hati Raka menjeritkan keputusasaan dan penyesalan yang sangat dalam dan tulus.
Astiana bisa merasakan betapa besar rasa sayang pemuda ini pada kakeknya.
Hal itulah yang membuat Astiana menahan diri untuk tidak membalas dendam atas perlakuan kasarnya tadi siang.
"Berdiri dan mundurlah lima langkah dari ranjang ini."
Astiana memberikan perintah mutlak dengan nada suara yang tidak menerima bantahan sedikit pun.
Raka segera melepaskan cengkeramannya dan mundur dengan patuh tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
Dia mengusap air matanya secara kasar dan menatap setiap gerakan Astiana dengan penuh harapan.
Astiana segera naik ke atas ranjang dan duduk di samping tubuh Pak Darma yang sudah tidak merespons.
Dia merogoh saku piyamanya dan mengeluarkan kotak kayu berisi jarum perak andalannya.
Klik.
Kotak itu terbuka dan memantulkan cahaya perak yang sangat menyilaukan mata Raka.
"Nadin, ambilkan baskom besar dan handuk bersih sekarang juga."
"Baik, Nona, saya segera ambilkan."
Nadin berlari ke arah kamar mandi dengan kecepatan penuh.
Astiana mengambil lima buah jarum perak berukuran paling panjang dari dalam kotak tersebut.
Ini bukan prosedur akupunktur biasa untuk melancarkan aliran darah seperti kemarin sore.
Ini adalah teknik pembuangan racun mematikan yang membutuhkan konsentrasi tenaga dalam tingkat tinggi.
Astiana menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan matanya untuk merasakan jalur energi di tubuh Pak Darma.
Sring sring sring.
Tiga jarum pertama meluncur menancap di titik saraf dada kiri, ulu hati, dan pangkal leher dalam satu tarikan napas.
Kecepatan tangan Astiana sama sekali tidak bisa diikuti oleh mata telanjang Raka.
Jleb.
Jarum keempat ditancapkan tepat di tengah ubun-ubun kepala Pak Darma.
Sementara jarum kelima ditancapkan di titik saraf utama yang terletak di bawah pusar.
Kelima jarum itu membentuk sebuah formasi bintang jika dilihat dari atas.
"Hahhh."
Astiana menghembuskan nafas pelan sambil menyalurkan seluruh tenaga dalamnya melalui ujung-ujung jarum perak tersebut.
Suhu udara di dalam kamar utama itu mendadak terasa sedikit lebih hangat dari sebelumnya.
Kulit tubuh Pak Darma yang tadinya membiru perlahan mulai berubah menjadi merah gelap.
"Ini baskomnya, Nona."
Nadin datang membawa baskom perak dan meletakkannya di tepi ranjang.
"Bantu aku memiringkan tubuh kakekmu ke arah baskom ini sekarang juga."
Astiana memberi aba-aba pada Raka yang masih berdiri kaku di sudut ruangan.
Raka langsung berlari mendekat dan memegang bahu kakeknya dengan sangat hati-hati.
Mereka berdua memiringkan tubuh lemas Pak Darma hingga kepalanya menggantung tepat di atas baskom perak.
Astiana mengangkat tangan kanannya dan menepuk punggung Pak Darma dengan telapak tangan terbuka.
Bukk.
Tepukan itu terlihat pelan namun menghasilkan suara berdebum yang cukup keras di dalam dada pria tua itu.
"Uhukk uhukk."
Tubuh Pak Darma tiba-tiba tersentak kencang dan matanya terbuka lebar.
Byurr.
Pria tua itu memuntahkan cairan darah yang sangat kental dan berwarna hitam pekat ke dalam baskom perak tersebut.
Cairan darah hitam itu mengeluarkan bau busuk yang sangat menyengat hidung.
Nadin sampai harus menutup hidungnya karena tidak kuat mencium bau racun tersebut.
"Bagus, racun yang menyumbat katup jantungnya sudah keluar semua."
Astiana mencabut kelima jarum perak itu dari tubuh Pak Darma dengan satu gerakan cepat.
Srett.
Dia mengambil handuk bersih dari tangan Nadin dan mengelap mulut kakek tua itu dengan lembut.
Pak Darma kembali memejamkan matanya namun kali ini napasnya terdengar sangat teratur dan panjang.
Wajahnya sudah kembali merona merah dan tidak sepucat mayat lagi.
Tit tit tit.
Suara mesin monitor jantung kembali berbunyi dengan ritme normal yang menenangkan.
Raka menatap layar monitor itu dengan lutut yang tiba-tiba terasa sangat lemas.
Bruk.
Pemuda itu terduduk di tepi ranjang dan menyandarkan kepalanya ke lengan kakeknya yang sedang tertidur pulas.
"Terima kasih."
Kata itu meluncur dari bibir Raka dengan suara yang sangat pelan hampir seperti bisikan angin.
"Terima kasih banyak sudah menyelamatkan nyawa satu-satunya keluargaku yang tersisa."
Raka menoleh ke arah Astiana dan menatap gadis itu dengan tatapan penuh rasa hormat yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya.
Suara hati pemuda itu kini benar-benar bersih dari segala macam kecurigaan dan arogansi.
"Ternyata dia benar-benar bukan manusia sembarangan."
"Mulai sekarang aku berutang nyawa dan harga diri pada gadis ini."
Astiana tersenyum sangat tipis mendengar perubahan drastis di dalam pikiran Raka.
Dia membersihkan ujung-ujung jarum peraknya dengan tisu alkohol sebelum memasukkannya kembali ke dalam kotak.
"Biarkan kakekmu beristirahat total sampai besok pagi."
Astiana turun dari ranjang dan membetulkan letak piyamanya yang sedikit berantakan.
"Jangan berikan makanan atau minuman apa pun sebelum aku memeriksanya lagi besok."
"Aku mengerti, aku akan menjaganya semalaman suntuk di sini."
Raka menjawab dengan nada patuh layaknya seorang bawahan yang menerima perintah dari atasannya.
Astiana mengangguk pelan dan berbalik berjalan menuju pintu keluar kamar.
Namun sebelum dia melangkah melewati ambang pintu, Raka kembali memanggil namanya.
"Astiana, tunggu sebentar."
Astiana menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit ke arah belakang tanpa membalikkan badannya.
"Tentang Dokter Handoko."
Raka mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku akan mencarinya besok dan membuatnya membayar lunas semua penderitaan kakekku."
"Itu urusan keluargamu, Tuan Muda Raka, aku tidak peduli."
Astiana menjawab santai dan melanjutkan langkahnya keluar dari kamar utama tersebut.
Tugasnya menyelamatkan nyawa sudah selesai untuk malam ini.
Sekarang biarkan pemuda arogan itu belajar membereskan kekacauan dan pengkhianatan di dalam rumahnya sendiri.
Astiana berjalan menyusuri lorong kembali ke paviliunnya dengan perasaan yang jauh lebih lega.
Malam ini dia berhasil menundukkan sang pewaris arogan tanpa perlu menggunakan kekerasan fisik sama sekali.
Jalan untuk mencari informasi tentang asal-usul liontin hijaunya di rumah ini akan menjadi jauh lebih mudah mulai besok.
selamat untuk memperbaiki semua kerusakannya pak manajer 🤣🤣